Ketegaran Hati Raisya

Ketegaran Hati Raisya
Kebahagiaan yang lengkap (Tamat)


__ADS_3

Saat ini kami sedang melaksanakan ibadah umroh. Sungguh hal ini yang sangat aku impikan dari dulu. Beribadah dengan pasangan halalku. Namun Allah memberi bonus, kami beribadah bukan hanya berdua, tapi juga dengan kedua buah hati kami. Suatu saat nanti jika Allah mengijinkan, kami akan kembali mengajak Raka dan Riky.


Di setiap kesempatan, Salwa dan Salman sangat antusias mengikuti kami berdo'a. Mereka sama sekali tidak rewel. Selama di Makkah, bayang-bayang Raka dan Riky selalu ada di mata. Setiap saat menghubungi orang rumah menanyakan keadaan mereka.


Dua minggu berlalu, kami-pun pulang ke tanah air dengan Selamat. Semua keluarga menyambut kami dengan bahagia. Dalam beberapa hari, banyak keluarga dan tetangga yang datang untuk bersilaturrahmi kepada kami.


...----------------...


Lima Tahun kemudian.


Saat ini Salwa dan Salman sudah masuk Sekolah Dasar. Raka dan Riky sudah masuk sekolah TK. Dua tahun yang lalu aku melahirkan lagi seorang anak perempuan yang mungkin akan menjadi anak bungsu, namanya Ayuni Nanda Haris. Saat melahirkan Ayuni, aku mengalami pendarahan hebat. Sehingga Mas Haris sangat takut jika aku melahirkan lagi. Hanya Ayuni yang memiliki wajah mirip denganku.


Suster Aan dan Suster Nina masih bekerja denganku, mereka membantu menjaga Raka dan Riky. Sedangkan Ayuni, aku yang merawat sendiri.


Sekolah duo S dan duo R dalam nauangan yayasan yang sama. Jadi Mas Haris tidak perlu repot mengantar mereka. Hanya saja ketika pulang, Mas Haris harus balik dua kali. Atau Mas Haris minta tolong Pak Diro untuk menjemput mereka. Mas Haris memang memperjuangkan supir untuk membantunya, sejak anak-anak sekolah dya tahun yang lalu.


Jam 8 Mas Haris sudah pulang ke rumah setelah mengantar anak-anak sekolah.


"Kok sudah pulang, Yah? Nggak ke kantor pemasaran?"


"Nggak, Bund! Lagi males!"


"Kok gitu?"


"Ya nggak pa-pa! Lagian kan aku bosnya! Hehe..."


"Ayu mana, Bund?"


"Ayu dibawa Cus Aan main ke komplek sebelah."


"Oh.. jadi ini waktunya kita berdua dong, Bund!" Mas Haris menyeringai.


"Iya waktunya kita berdua nonton TV."


"Olahraga dong, Bund!"


"Aku capek, males olahraga."


"Olahraga di ranjang, Bund!" Mas Haris berbisik di telingaku.


"Aku lagi dapet, barusan!" Aku membalas berbisik di telinganya.


"Yah... zonk!" Mas Haris menepuk dahinya.


"Mas, akuariumnya belum dikuras tuh! Udah satu bulan lho, nanti lumutan! Kalau ikannya mati, bisa-bisa Salman ngamuk."


"Ah, anak itu! Selalu saja begitu!"


"Gen-mu Mas!"


"Ya-ya..."


Jam 09.30 waktunya Mas Haris menjemput Raka dan Riky.


"Bund, aku berangkat dulu! Kamu mau nitip apa?"


"Nitip beliin pemba*ut, boleh?"


"Apa sih yang tidak boleh untukmu?Kamu foto merknya ya, nggak mungkin dong aku bawa bungkusnya!"


"Terima kasih, Yah! Kamu yang terbaik." Aku mencium pipi kanannya.


"Kok cuma sebelah? Yang satunya juga dong!"


"Ah, iya-iya!" Aku mencium pipi kirinya. Mas Haris tersenyum sumringah sebelum akhirnya dia masuk ke mobil dan meninggalkan rumah untuk menjemput duo R ke sekolah.


30 menit kemudian, Mas Haris dan anak-anak datang.


"Assalamu'alaikum." Ucap mereka bersamaan.


"Wa'alaikum salam." Jawabku yang kini sedang berada di depan rumah. Mereka mencium punggung tanganku.

__ADS_1


"Mbak sama Kakak kok udah pulang juga? Tanyaku kepada Salwa dan Salman.


"Ada rapat, Bund! Jadi kami pulang lebih cepat." Jawab Salwa.


"Salman tidak nakal kan tadi di sekolah?"


"Adek genit Bund! Masa dia mau duduk sama murid cewek baru!"


"Aku cuma kasian aja, Mbak! Kan Naila jadi duduk sendiri, hehe..." Jawab Salman dengan gaya tengilnya.


"Alasan kamu, dek!"


"Sudah-sudah, jangan ribut! Yang namanya Naila cantik ya Kak?" Tanya sang Ayah.


"Cantik, Yah! Kalau senyum kayak Bunda." Jawab Salman dengan antusias.


"Haha... kamu itu, kecil-kecil udah tahu cewek cantik! Awas jangan jail ya!"


Ya Tuhan... kenapa Salman kelakuannya mirip dengan Ayahnya?


Aku hanya geleng kepala menyaksikan perdebatan mereka.


"Raka dan Riky, tadi belajar apa di sekolah?"


"Mewarnai kodok, Bund."


"Kalau kodok warnanya apa?"


"Ijo..." Jawab mereka kompak.


"Pinter! Ya sudah ayo ganti bajunya dulu!"


Raka dan Riky dibantu susternya untuk ganti baju. Salwa dan Salman sudah busa ganti baju sendiri dan memilih baju sendiri yang mau mereka pakai.


"Ayah, titipannya Bunda mana?"


"Ini, aku sampai lupa, Bund! Tak kira ini sa*i roti, hehe..."


Sore Harinya,


Saat ini sedang duduk di dekat kolam renang, menunggu Mas Haris yang sedang berenang.


"Bund! Ayo berenang!"


"Nggak ah, belum bisa!"


"Aku ajarin! Masa kalah sama duo R?"


"Biarin!"


"Ayolah, Sayang!"


"Aku kan lagi Palang Merah, Yah! Nanti airnya jadi merah, gimana?"


"Oh iya, lupa aku."


"Bu, itu guru ngajinya anak-anak sudah datang."


"Oh, iya! Terima kasih Bi Leha."


"Iya, sama-sama Bu."


"Aku ke depan dulu, Yah!"


Aku meninggalkan Mas Haris, dan pergi ke ruang tamu menemui Ustadzah Laila. Beliau sudah berusia 45 tahun. Aku mempercayakan keempat anakku untuk diajari ngaji olehnya. Meski tidak muda, Beliau orangnya telaten dan sabar. Kami sengaja memanggil guru ngaji ke rumah, agar anak-anak lebih intens belajar mengaji. Untuk hari libur ngaji, biasanya hari kamis dan Jum'at.Mas Haris punya rencana akan membangun Musholla bulan depan di area komplek perumahan ini, dan mendatangkan guru ngaji. Agar orang tua di perumahan ini tidak kesulitan untuk mencari tempat mengaji. Karena tidak semua orang tua mampu memberikan didikan agama kepada anaknya.


"Anak-anak sudah siap, Ustadzah. Monggo ke musholla."


"Iya, Bu Raisya, Saya mohon ijin."


"Silahkan, Ustadzah."

__ADS_1


Aku meninggalkan mereka dengan Ustadzah Laila.


"Ayu, sini gendong Ayah! Bundamu pasti capek!"


"Unda, apek?" Ayuni bertanya kepadaku dengan muka gemasnya.


"Iya Sayang, Bunda capek sekali! Ayuni gendong Ayah dulu ya?"


"Oce!" Ayuni mengacungkan jempolnya


"Sini anak cantik." Mas Haris mengambil Ayuni dari gendonganku.


"Aku mau bikin minum dulu untuk Ustadzah Laila, Yah!"


"Kan ada Bi Leha atau Mbak Jum, Bund?"


"Kasihan mereka sudah capek bekerja seharian, aku nggak bakal capek kalau cuma bikin minuman, Yah! Titip Ayuni sebentar ya? Awas jangan dibikin nangis! Biasanya kamu iseng sama Ayuni!"


"Iya... iya, tenang saja, Bund!"


Aku pergi ke dapur untuk membuat minuman wedang jahe untuk Ustadzah Laila.


Setelah selesai Shalat Maghrib Ustadzah Laila pulang, biasanya dijemput suami atau putranya.


"Ustadzah, terima kasih." Aku menyalami amplop yang berisi beberapa lembar uang merah untu bisyaroh (honor) yang biasa,aku beri tiap minggu.


"Terima kasih, Bu! Semoga berkah."


"Amiin.. sama-sama Ustadzah."


"Hua..hua...." Suara Ayuni menangis sangat kencang, aku langsung menghampirinya.


"Lho, kenapa Nak?Cup... cup..."


"Ayah akal, Unda." Ayuni menunjuk Ayahnya, sedangkan Ayahnya pura-pura tidak tahu.


"Diapain sama Ayah, Nak?"


"Ditium, dicini, cini, cini!" Ujar Ayuni menunjuk mukanya."


"Kan Ayah cuma cium, Nak? Berarti Ayah sayang sama Ayuni."


"Ayu ndak suka ditium di cini! Geli...Ayah ada tumis." Ayuni menunjuk pipinya."


"Oh iya..iya, nanti biar Bunda yang bilangin Ayah." Aku melirik Mas Haris, mengkodenya untuk minta maaf.


Mas Harus mendekat, dan mensejajarkan diri dengan Ayuni.


"Ayah minta maaf ya, Sayang? Mau ya, maafin Ayah? Ayuni boleh deh bales cium Ayang."


"Maaasss..."


"Eh maksud Ayah, nanti Ayah cukur kumis Ayah. Gimana? Ayuni mau kan maafin Ayah?"


"Anji, Yah?"


"Iya Ayah janji, kalau Ayah bohong nanti gigi Ayah ompong." Mereka menautkan jari kelingkingnya.


"Syukurin! coba aja aku yang suruh cukur, pasti nggak mau!" Aku berbisik lirih di telinga Mas Haris.


"Kalau dicukur habis, nggak ada geli-gelinya kalau lagi bercinta, Bund."Mas Haris balik berbisik kepadaku. Sontak aku memukul pundaknya. Namun Mas Haris malah menggelitikku.


Ayuni bertepuk tangan melihat kelakuan kami. Sepertinya dia berpotensi seperti Kakaknya Salman dan Ayahnya juga tentunya.


Ya Allah.. terima kasih. Engkau telah memberi kami kebahagiaan hingga detik ini. Menjadi keluarga yang lengkap dan materi yang cukup. Semoga kelak anak-anakku menjadi irang yang sukses dunia dan akhurat, serta mendapatkan kehidupan yang beruntung.


...****************...


Novel ini sudah Tamat kakak. Terima kasih sudah menjadi pembaca setiaku. Selalu mensupport dan mengoreksi kesalahanku. Jangan lupa mampir di novel yang baru ya?


I Love sekebon buat kalian๐Ÿ˜๐Ÿ˜˜๐Ÿ˜˜

__ADS_1


__ADS_2