
Saat ini aku sedang di kamar, setelah makan aku minum obat sakit kepala. Mbak Rindi menghampiriku.
"Em.. Rai! Ada Ical di depan."
"uhuk.. uhuk..."aku tersedak minuman.
"Pelan-pelan minumnya, Rai!"
"Aku tidak ingin bertemu siapa-pun, Mbak."
"Huft.. Mbak tahu kamu sangat terpukul saat ini. Tapi masalah itu harus diselesaikan, Rai! Bukan dihindari. Ical sudah bela-belain pulang langsung mampir ke sini, karena dia sangat ingin bertemu denganmu."
"Aku masih pusing, Mbak."
"Ya sudah, kamu istirahat dulu. Kalau sudah mendingan, temui Ical! Dia tidak akan pulang sebelum bertemu denganmu, katanya." Mbak Rindi keluar dari kamar.
Aku duduk di atas tempat tidur, menyandarkan tubuh di kepala ranjang.
Ya, Allah... ujian apa lagi ini. Apa aku masih sanggup melewatinya. Aku sudah tak mungkin lagi melanjutkan hubunganku dengan Mas Ical. Rasanya bukan hanya sakit, tapi lukaku menganga lagi. sudah hampir tiga tahun aku membuang rasa sakit ini. Tapi di saat aku akan memulai lagi, kenapa harus seperti ini. Batinku dalam hati.
Satu jam berlalu, Mbak Rindi masuk lagi ke kamar.
"Gimana Rai, apa sudah baikan?"
Aku masih diam, dan pandanganku lurus ke depan seakan tidak menyadari kehadiran Mbak Rindi.
"Rai, kok ngelamun sih!"
"Ah, iya! Ada apa Mbak?"
"Itu, Ical masih nunggu kamu. Gimana, Rai? Katanya dia mau ngomong penting banget. Besok orang tuanya mau melamarmu, katanya."
deg!
Jantungku berpacu dengan cepat. Bukan senang yang aku rasa tapi dilema. Di sisi lain tentu aku sudah mulai memiliki rasa kepada Mas Faisal. Dan aku ingin hidup bahagia dengannya. Namun di sisi lain, aku tidak sanggup menerima kenyataan kalau aku harus punya Ipar Septi dan Mas Firman. Aku paling tidak suka berusan dengan masa lalu. Kalau Abi tahu, tentu beliau juga tidak akan setuju.
"Oke, Mbak. Aku akan ke depan.Tunggu sebentar, aku mau cuci muka dulu."
Aku ke kamar mandi untuk cuci muka. Aku memakai pensil mata, agar mataku tang sembab tidak terlalu kelihatan. Aku keluar ke ruang tamu untuk menemui Mas Faisal. Saat mengetahui aku keluar, Mas Faisal tersenyum.
Apakah aku tega menghapus senyum itu?
"Rai, kamu pusing?"
"Em iya, Mas. Tapi sudah mendingan."
"Rai, maafkan atas sikap Septi kemarin. Aku tahu dia terkejut. Tapi tidak seharusnya dia berkata kasar kepadamu. Semalam, aku dan keluarga sudah membicarakan tentang kelanjutan hubungan kita."
Aku hanya mendengarkan perkataan Mas Faisal. Dia sangat antusias, dan kelihatan bahagia.
__ADS_1
"Kamu jangan khawatir, Rai! Aku akan tetap melanjutkan niat baikku. Ayah sudah memberi keputusan, besok kami akan datang menemui orang tuamu. Aku akan melamarmu, Rai. Kamu senang, kan?" Sekali lagi dia tersenyum.
Ya Allah, apa aku mampu mematahkan harapannya.
"Kenapa Mas masih ingin melanjutkan hubungan kita?"
"Rai, aku sudah pernah bilang! Aku tidak perduli dengan masa lalumu! Aku sudah terlanjur cinta sama kamu. Bukan karena paras mu tapi hati dan kepribadianmu yang membuat aku tersentuh."
"Tapi, masa laluku sangat dekat denganmu, Mas! Benar kata Septi, apa kata orang nantinya kalau tahu bahwa istri Mas Faisal adalah mantan istri Ipar Mas sendiri!" Mataku mulai berkaca-kaca.
Tiba-tiba Mbak Rindi ikut nimbrung dalam pembicaraan kami "Tidak Rai, kamu belum tersentuh oleh Firman! Kamu bukan bekasnya! Dia bahkan tak pernah menganggapmu istri!" Mbak Rindi keceplosan. Mas Faisal terkejut mendengar ucapan Mbak Rindi.
"Mbak Rindi!" Aku menggelengkan kepala, memberi kode agar Mbak Rindi tidak melanjutkan perkataannya.
"Biarin, Rai! Aku sudah tidak tahan. Seharusnya dari kemarin Mbak bilang di depan Firman dan Septi!"
"Tolong jelaskan, Rin!" Pinta Mas Faisal.
"Raisya memang jandanya Firman. Tapi Firman tidak pernah menyentuhnya! Firman hanya merubah status Raisya! Dia laki-laki pengecut yang tidak tahu diri. Kenapa dia harus menikahi Raisya jika dia mencintai Septi! Kalau alasannya orng tua, kenapa dia tidak mencoba menerima Raisya? Apa kurangnya Raisya? Septi bahkan hadir dan menangis di hari resepsi mereka. Raisya hanya disia-siakan. Dia hancur saat itu Cal! Tapi karena imannya kuat, dia masih bisa bertahan."
"Astaghfirullah...!" Mas Faisal menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya. "Aku tidak menyangka, semua ini gara-gara adikku." Mata Mas Faisal merah, dan berkaca-kaca.
"Maaf Mas, aku tidak akan menyalahkan siapa-siapa. Ini sudah qodarullah. Ini ujian hidupku. Aku sudah belajar mengikhlaskan, meski rasanya sakit." Aku membuka suara. "Dan maaf Mas, aku tidak bisa melanjutkan hubungan kita. Bukan karena aku tidak bisa berdamai dengan masa laluku. Tapi keadaannya akan berbeda nanti. Aku tidak mau Mas Ical akan menjadi bulan-bulanan orang dan keluarga Mas."
"Tidak Rai! Kamu tidak seburuk yang mereka kira! Mereka tidak tahu masalah yang sebenarnya."
"Tetap saja Mas, di mata orang aku ini janda. Dan kita tidak bisa menutup mulut mereka, Mas." Aku tidak bisa membendung air mataku lagi. Begitu pula Mas Faisal, yang kini sedang mencoba menahan emosinya.
"Aku sudah memaafkannya Mas. Semoga Septi dibukakan pintu hatinya."
"Terbuat dari apa hatimu, Rai! Firman, lelaki bodoh! Dia tidak melihat bidadari di depan matanya."
"Kami sudah tidak berjodoh Mas, Allah yang sudah mengatur."
"Aku tidak sanggup menampakkan mukaku de depanmu Rai! Aku malu dengan perbuatan adikku."
"Kamu laki-laki baik, Mas. Allah sudah menyiapkan jodoh yang terbaik untukmu, dan sepertinya itu bukan aku. Rai minta maaf sudah membuat Mas kecewa. Rai tidak bisa melanjutkan hubungan kita. Carilah perempuan yang jauh lebih baik dariku."
"Aku ingin sekali memaksamu untuk tetap bersamaku, Rai. Tapi setelah mendengar apa yang Firman dan Septi lakukan, aku tidak sanggup untuk memohon Rai. Aku tidak mau mereka melukaimu lagi."
"Aku akan berdo'a, semoga Mas mendapatkan jodoh yang baik, yang mencintai dan menghargai Mas. Maaf jika selama kita dekat, Rai pernah membuat Mas Ical marah atau sakit hati." Buliran putih bening mrnetes kembali. Aku tidak kuasa untuk menahannya. Mbak Rindi memberiku tisyu untuk mrnghapusnya.
"Terima kasih, Rai. Aku juga akan mendo'akanmu. Aku akan tetap berharap kita berjodoh. Tolong sampaikan maafku dan keluargaku kepada orang tuamu."
"Iya, mas. Sampaikan juga maafku kepada keluargamu, Mas."
"Rai, aku harap kita masih bisa menjadi teman."
"Insyaallah, Mas."
__ADS_1
Akhirnya Mas Faisal pamit pergi dari rumah Mbak Rindi. Aku melihat raut wajah kecewa dan sedih di matanya. Setelah kepergiannya aku kembali ke kamar. Kudengar nada dering dari HP-ku berbunyi.
Gapai semua jemariku
Rangkul aku dalam bahagiamu
Ku ingin selalu berdua selamanya
Jika kubuka mata ini
Ku ingin selalu ada dirimu
Dalam kelemahan hati ini
Bersamamu.... aku tegar.
Saat kulihat, ternyata notif telpon dari Sofi. Tapi aku tidak mengangkatnya. Karena saat ini aku masih enggan ingin bicara. Aku silent HP-ku. Sudah lelah menangis, ditambah sakit perut yang masih tersisa. Aku-pun tertidur lagi di kamar itu.
Jam 15.30 aku terbangun. Aku ingat kalau sore ini aku harus pulang ke rumah. Buru-buru aku ke kamar mandi, untuk cuci muka. Aku tidak mandi, karena rasanya masih demam. Beruntung pusingnya sudah hilang. Aku segera bersiap untuk pulang.
"Ra, kamu yakin mau pulang?"
"Iya, Mbak! Aku tidak mau Ummi dan Abi khawatir."
"Tapi kamu sudah sehat, kan?"
"Demam dikit, tapi sudah tidak pusing."
"Aku pulang dulu ya! Terima kasih ya Mbak, sampaikan juga ke Mas Rendy kalau sudah pulang nanti."
"Rai, kami sudah menganggapmu adik sendiri. Tidak perlu sungkan Kamu ingat itu!"
"Iya aku tahu."
"Ingat bawa motornya hati-hati. Jangan ngelamun."
"Iya, Mbak. Assalamu'alaikum!"
"Wa'alaikum salam."
Aku pulang dengan si putih. Kemarin saat mau berangkat ke rumah Mas Faisal aku memang naik si putih ke rumah Mbak Rindi, agar Mbak Rindi tidak perlu menjemput. Karena akan memakan waktu lama jika harus balik arah.
...****************...
Nantikan kelanjutannya kakak.
Maaf kalau masih ada typo kakak.
Terima kasih, masih setia di karyaku yang masih acak adul ini😁
__ADS_1
See you again....