Ketegaran Hati Raisya

Ketegaran Hati Raisya
Bukan Pangeran berkuda


__ADS_3

Aku masih mematung menatap orang yang memegang kamera di depan sana.


"Ganteng banget ya, Bu?" Pertanyaan Bu Hesti membuyarkan lamunanku.


"Em... Iya, Bu. Awas jaga pandangan,Bu! Kasian yang di rumah."


"Haha... Bu Raisa bisa saja! Yang di rumah cinta mati. Yang ini hanya bayangan semu. Siapa dia ya, Bu? Apa mungkin anaknya Pak Rudi?" Bu Hesti berbisik.


"Entahlah, saya juga nggak tahu." Bisikku kembali.


"Sudah anak-anak nikmati pemandangan di sini, waktunya 30 menit. Jadi nanti jam 10 kalian harus kembali ke Bus." Pak Anton mengintruksi.


Kami para guru berpencar dengan arah masing-masing, begitu pula para siswa yang punya kelompok ataupun pertemanan masing-masing. Aku dan Bu Hesti duduk di bangku taman sambil browsing Filosofi Dewa Siwa. Saat Oak Roni lewat, Bu Hesti menyapanya.


" Pak Roni, fotoin kami berdua dong!"


"Monggo Bu, jangan lupa jastipnya. Haha...."


"Serius ini, yang benar Pak?"


"Nggak Bu, bercanda. Ayo kalau mau difoto!"


Pak Roni mengambil beberapa gambar kami, dengan pose arahannya.


"Terimakasih ya, Pak!" Ucap kami berdua.


"Iya Bu, sama-sama. Kalau sudah jadi nanti saya masukkan Majalah sekolah."


"Jangan, Pak! Malu-maluin, wajah buronan kita mah!" Ujar Bu Hesti.


"Cantik- cantik gini ngaku buronan. Bu Hesti ini ada-ada saja."


Pak Roni pamit meninggalkan kami berdua.


"Eh Pak.. Pak Roni!" Bu Hesti menghentikan langkah Pak Roni.


"Ada apa lagi, Bu? Masih kurang fotonya?"


"Saya mau tanya, Pak. Tadi yang gantiin Pak Roni jadi tukang foto siapa?"


"Wah Bu Hesti ini, ganti-ganti nama profesi. Fotografer gitu! Masa' jadi tukang foto! Tukang bangunan sekalian bu. Haha..."


"Iya-iya, Maaf Pak! Kan saya cari yang gampang diucapkan. Hehe... Eh pertanyaannya belum dijawab, Pak?"


"Oh itu cowok tadi? kenapa, Bu Hesti naksir?"


"Pak, ditanya kok malah nanya sih! Kalau saya naksir, berarti saya normal, Pak."


"Beneran juga ya... " Pak Roni menggaruk kepalanya yang botak.


"Itu anaknya Pak Rudi, namanya aku lupa. Kalau mau tahu kenalan saja sendiri, Bu! Saya ke sana dulu ya, Bu?"


"Baik, Pak! Silahkan!"


Setelah kepergian Pak Roni.


"Tuh kan benar dugaanku, Bu! Itu tadi anaknya Pak Rudi. Kata guru-guru emang ganteng banget. Aku sih yes!"


"Yes apa nih?"


"Setuju kalau memang ganteng banget maksudku Bu. Hehe..."


"Ganteng mana sama calonmu, Bu?"


"Wah jangan salah Bu! Yang itu tiada duanya. Limited edition, hitam manis. Haha... Yang di sini buat Ibu saja, gimana?" Bu Hesti menatapku sambil menarik turunkan alisnya.


"Aku sadar diri, Bu. Lagian belum tentu dianya masih jomblo dan mau sama aku! hehe..."


Saat ini sudah jam 10, Semua siswa dan guru mulai merapat ke Bus. Setelah ini tujuan kami ke Taman Nasional Bali Barat. Di dalam Bus, sebagian ada yang tertidur, ada yang ngemil sambil nonton TV. Dan ada juga yang ngobrol. Aku dan Bu Hesti menikmati keripik kentang dan es teh yang kami beli di luar Taman Siwa tadi.

__ADS_1


Akhirnya kami sampai di di Taman Nasional Bali Barat tepat jam 10.30. Kami turun dari Bus dan masuk ke dalam. Di sini selain bisa menikmati pemandangan yang indah, kita bisa menambah pengetahuan tentang pelestarian flora dan fauna. Salah satu tujuan Taman Nasional Bali Barat ini adalah perlindungan populasi Jalak Bali beserta ekosistem lain, seperti ekosistem terumbu karang, ekosistem mangrove, ekosistem hutan pantai, dan ekosistem hutan daratan rendah sampai pegunungan sebagai ekosistem penyangga kehidupan terutama ditujukan untuk menjaga keaslian, keutuhan dan keragaman suksesi alam. Ada sekitar 160 spesies hewan dan tumbuhan yang dilindungi. Hewan-hewan seperti Banteng, Rusa, lutung, kalong dan aneka burung. Taman Nasional Bali Barat merupakan tempat terakhir untuk menemukan satu-satunya endemik Bali yang hampir punah, Jalak Bali di habitat aslinya.


Kami melihat hewa-hewan yang ada di sini. Tidak lupa kami mengabadikan dengan mengambil gambar. Anak-anak sangat antusias melihat dan mencatat.


"Tempatnya keren ya, Bu?"


"Iya Bu, anak-anak bisa menambah wawasan di sini."


"Ayo Bu! Kita ke sebelah sana!" Bu Hesti menunjuk arah hutan bakau yang ada di taman ini.


"Tunggu sebentar, Bu! Sepertinya aku ingin ke kamar kecil."


"Aku juga, Bu. Kalau begitu kita ke toilet dulu, ya?


"Ayo Bu!"


Kami-pun menuju toilet. Setelah selesai buang hajat, kami cuci muka.


"Pakai bedak dulu, Bu. Lipstiknya tambahin dikit."Ujar Bu Hesti.


"Harus ya, Bu?"


"Harus dong! Biar fresh kalau mau foto lagi." Aku hanya menanggapi dengan senyuman.


Kami keluar dari toilet. Tiba-tiba HP-ku berdering. Segera aku ambil dari dalam tas.


"Assalamu'alaikum, Rai. Kamu sudah makan, Rai?"


"Iya mi Wa'alaikum salam, Tadi Rai sudah sarapan."


"Syukur kalau begitu, kamu suka lupa makan soalnya. Sekarang lagi di mana?"


"Ini kami sedang di Taman Nasional Bali. Aba sama Ummi mau dibawakan oleh-oleh apa?"


"Oleh-oleh mantu kalau ada."


"Hmm...mulai deh! Ya sudah Rai mau foto-foto dulu, Ummi! Assalamu'alaikum."


Saat ini aku dan Bu Hesti sedang berfoto di dekat hutan bakau. Yang lain juga tidak membuang kesempatan mengambil gambar di sini.


Anggap saja ini foto Bu Hesti, karena Raisya tidak pernah pakai celana, yapi Rok atau gamis.



Sekarang kami sudah berkumpul masuk ke dalam Bus masing-masing. Sudah waktunya kami melanjutkan perjalanan. Kami akan makan siang di rumah makan yang dekat dengan Pantai Selat Bali.


Sampai di rumah makan yang sederhana. Kami turun dari Bus untuk makan. Menunya disana ratakan, karena kami sudah pesan via telpon dari sejak kemarin.


"Bu, dompetku ketinggalan, nggak ada. Perasaan tadi aku bawa." Ujarku saat mencari tisyu di dalam tas.


"Iya Bu, tadi aku lihat sendiri udah masuk ke tasnya. Mungkin jatuh di dalam Bus."


"Aku sudah selesai makannya. Aku balik ke Bus dulu ya, Bu. Mau cari dompet.


"Iya Bu, semoga ketemu."


Aku berlari kecil menuju Bus. Aku bongkar tas yang berisi camilan, aku lihat di bawah kursi-pun tidak ada. Isinya tidak seberapa, tapi di situ sda KTP, SIM, dan tiga kartu ATM.


Ya Allah... kemana ta? Perasaan tadi masih di dalam tas.


Aku keluar dari Bus, dan mencoba mencari di sekitar.


"Maaf, apa anda sedang mencari ini?" Seseorang menunjukkan dompet.Suara itu membuatku mendongak.


"Ah iya, Alhamdulillah...." Aku mengambil dompetku dari tangannya."Terima kasih, kalau boleh tahu anda menemukannya di mana?"


"Tadi di depan toilet, waktu di Taman Nusantara." Aku terkejut mendengarnya.


"Oh iya, mungkin tadi jatuh saat saya ambil HP. Lalu bagaimana anda tahu kalau ini punya saya?"

__ADS_1


"Bu Raisya Azkiya, Lahir tanggal 6 Juli, pekerjaan Pegawai Negeri Sipil, status sudah kawin. KTP anda ada di dalamnya." Di berkata sambil tersenyum.


"Maaf tadi saya lancang baca KTP-nya, karena saya harus tahu pemiliknya. Untung saya masih bisa mengenali foto di KTP-nya. Tadinya mau segera saya kembalikan, tapi waktunya sangat mepet. Keburu Busnya berangkat.


"Kalau begitu saya sangat berterima kasih." Aku menangkupkan kedua telapak tanganku.


"Coba dicek dulu, Bu. Mungkin ada yang hilang."


"Alhamdulillah masih lengkap, Pak!Eh Kak. Maaf saya harus panggil anda siapa?" Jawabku dengan senyuman.


"Nama saya Haris Dwi Ahmad, terserah mau panggil saya apa. Yang penting jangan panggil sayang, Bu. Nanti suaminya marah!"


"Deg"


Rupanya dia menyangka aku masih bersuami.


"Baik Kak Haris, sekali lagi terima kasih." Aku memanggil Kakak, karena kelihatannya dia lebih tua dariku.


"Serasa punya adik lagi, kalau dipanggil Kakak." Dia tersenyum lagi."Iya sama-sama, Bu. Saya kembali ke Bus dulu!"


Tidak lama kemudian anak-anak dan guru-guru kembali ke Bus. Dan kami-pun melanjutkan perjalanan. Aku menceritakan kejadian tadi kepada Bu Hesti.


"Oh namanya Haris ya, Bu? Cie cie... udah kenalan saja!".


"Apaan sih, Bu! Cuma begitu saja kok!."


Jam 1 siang kami sampai di Pantai Selat Bali. Semua berhamburan menikmati pasir dan air laut. Pak Rudi memesan kelapa muda untuk para guru. Saat ini kami sedang berada di sebuah warung tepi pantai. Pak Rudi dan istrinya masih terlihat romantis di usianya yang sudah tidak muda lagi.


"Pak Rudi so sweet banget ya, Bu?"


"Iya, Bu."


"Aku yakin, anaknya bakal sama kayak Pak Rudi.


"Hem...mulai deh."


"Eh eh yang diomongin datang, Bu! Masyaallah... gantengnya jodoh orang." Ujar Bu Hesti memuji Haris, matanya tidak berkedip


"Oh iya Bapak-bapak dan Ibu-ibu sekalian, mungkin ada yang belum kenal dengan putra saya. Dia sudah 1 tahun merantau di luar Negeri, beberapa hari yang lalu dia baru pulang. Kalau yang sudah lama mengajar mungkin sudah kenal ya. Ini Haris, anak kedua saya. Usianya sudah 30 tahun tapi masih sendiri. Mungkin ada yang mau cariin mantu untuk saya. Atau mau jadi mantu saya. haha...


"Ayah, kok ngomongnya gitu, nanti dikira anak kita nggak laku." Bu Rida, Istri Pak Rudi mrnimpali. Haris hanya tersenyum menanggapi.


"Ya namanya juga lagi usaha, Bu! Siapa tahu kan dapat jodoh pelantara dari guru-guru di sini. Lha Haris-nya minta dicariin, katanya udah bosen cari sendiri. Disakitin terus katanya." Ujar Pak Rudi kepada istrinya.


"Jangan jauh-jauh Pak, di sini yang single juga ada, langsung japri saja." Pak Anton menyahuti, dan melirik ke arahku dan Bu Hesti.


Saat melihat ke depan, tak sengaja pandanganku bertemu dengan pandangan Kak Haris. Aku langsung menundukkan pandangan.


-


Saat ini kami sedang berada di Pantai Karang Sewu. Panitia sengaja mengambil lokasi ini untuk perjalanan terakhir hari ini, karena dekat dengan penginapan.Kami akan menikmati matahari tenggelam di sini.


MasyaAllah sungguh indah ciptaanMu.



"Andai ada pangeran berkuda datang menghampiri, dan membawaku ke seberang sana. Ah... ngayal kan jadinya, Bu."


"Indah ya, Bu?" Suara seseorang mengagetkanku. Kenapa suara ini yang selalu terngiang di telinga. Aku pernah mendengarkan suara inu kala itu, tapi lupa waktu dan tempatnya.


"Kak Haris?"Aku menoleh ke samping.Aku tidak sadar kalau Bu Hesti sudah tidak di sampingku.


"Iya saya, Haris. Bukan pangeran berkuda." Ujarnya tersenyum lebar.


Bersambung......


...----------------...


Terima kasih sudah support Kakak.

__ADS_1


Maaf kalau kurang puas dengan ceritanya. Di oart ini lebih banyak pengetahuannya ya kak. Author lagi capek banget, nget nget. maklum kalau masih ada typo ya.


See you again.😍😘


__ADS_2