Ketegaran Hati Raisya

Ketegaran Hati Raisya
Kehamilan simpatik


__ADS_3

Saat ini kami sampai di rumah Abah. Seperti biasa Mas Haris membukakakn pintu mobil untukku.


"Pelan-pelan, Sayang. Awas kesandung!"


"Ini sudah pelan, Mas. Jangan menggandengku! Nanti dikira aku sakit parah sama Ummi dan Abah."


"Kan aku takut kamu kenapa-kenapa, Sayang."


"Insyaallah aku akan berhati-hati, Mas."


Duh suamiku mulai over protective ini! Busa-bisa tidur-pun dia jaga.


Ummi dan Abah menunggu kami di ruang keluarga.


"Gimana, Rai?"


"Alhamdulillah, Rai positif, Ummi! Ummi akan punya cucu kembar!"


Bukan aku yang menjawab tapi Mas Haris. Dia menjawab dengan sangat antusias.


"Masyaallah, Alhamdulillah! beneran, Rai?


"Iya, Ummi. Tadi kami sudah USG."


"Akhirnya, do'a kita dikabulkan. Semoga sehat semua sampai lahiran nanti."


"Amiin..." Ucap kami bersamaan.


Keesokan harinya, saat kami sarapan bersama. Mas Haris tiba-tiba mual.


"Kamu kenapa, Mas? Masuk angin?"


"Tidak, aku tidak merasakan meriang. Hanya saja mencium bau sambal terasi itu, aku jadi mual. Maaf Ummi, Abah, bukan maksudku tidak sopan. Tapi ini benar-benar tidak enak di penciumanku."


"Tidak biasanya kamu begitu, Mas?"


"Uek uek..." Mas Haris lari ke kamar mandi. Aku mengikutinya, dan memijat tengkuknya.


"Badan kamu biasa saja, Mas. Tidak panas atau dingin." Aku meraba keningnya.


"Iya, sayang! Aku ini tidak apa-apa! Nggak tahu kenapa tiba-tiba pingin muntah, nyium bau sambal terasi. Duh jadi nggak enak nih sama Ummi dan Abah."


"Ya sudah ayo makan di kamar saja, aku ambilkan piringnya."


Mas Haris kembali ke dalam kamar. Aku kembali ke meja makan mengambil piringku dan piring Mas Haris.


"Gimana, Rai?"


"Nggak apa, Ummi. Mas Haris cuma gk bisa nyium bau terasi saja, tapi kok tumben gitu ya? Padahal biasanya dia suka banget.'


"Oh gitu...? Itu brarti dia lagi ngidam Rai."


"Rai baru ingat, Ummi. Berarti Mas Haris mengalami kehamilan simpatik."


"Nah iya, mungkin itu maksudnya. Itu bisa terjadi mungkin karena Haris terlalu mengkhawatirkanmu."


"Ya sudah, Rai mau anterin makan dulu ke Mas Haris."


Aku meninggalkan Ummi dan Abah yang baru selesai sarapan.


"Ini, Mas. Sudah aku buang sambalnya, ayo dimakan!"


"Suapin, sayang."


"Manja banget sih, Mas!"


"Lagi pingin dimanja."


Aku tidak protes lagi, karena urusannya akan panjang jika dilanjutkan.


"Mas, kamu mual itu karena ngidam."


"Bisa gitu ya, sayang?"


"Iya bisa, itu namanya kehamilan simpatik. Mungkin karena Mas terlalu khawatir."


"Kalau begitu,ending aku yang merasakan mual! Kasian kamu, sayang! Udah berat menampung dua benihku! Kalah bisa nanti mau lahiran-pun biar aku yang sakit perut."

__ADS_1


"Ada-ada saja kamu, Mas."


Setelah sarapan, aku berangkat ke sekolah diantar Mas Haris. UmJadi sampai usia kandunganku 4 bulan Mas Haris melarang naik motor meski hanya dibonceng. Dia akan mengantarku dengan mobil setiap hari.


Di dalam mobil, aku tertidur dengan nyenyak. Sampai tiba di depan gerbang sekolah, barulah Mas Haris membangunkan aku.


"Sayang, kalau ngantuk nggak usah ngajar. Nanti muridmu kau ajarkan rumus iler!"


Aku terbangun mendengar ocehannya.


Aku medip-ngedipkan mataku, dan mengumpulkan kesadaranku.


"Daritadi sampainya, Mas?"


"Baru dua menit yang lalu, kamu nyenyak banget! Pulang aja yuk, nggak usah ngajar!"


"E eh... jangan!"


"Nanti kamu kecapean, Sayang! Kasian Upin Ipin yang di perut ikut capek."


"Dih, kok Upin Ipin sih, Mas! Nggak ada yang lain itu perumpamaannya?"


"Hehe... soalnya si kembar yang viral itu, sayang!"


Aku hanya menggeleng kepala.


"Ya sudah, ini mau bel masuk lho! Kamu belum turun juga!"


"iya aku ngajar dulu, Mas! Assalamu'alaikum."


"W'alaikum salam."


Aku mencium punggung tangannya. Dan Mas Harus mengecup keningku. Kemudian Mas Haris turun dari mobil dan membukakan pintu untukku.


Di kantor sekolah Bu Hesti mengintograsiku.


"Bu Raisya! Auramu nampak berbeda, sepwrtinya kamu sedang hamil, benar tidak tebakanku?"


"Oya? Kelihatannya begitu ya, Bu?"


"Iya, aku yakin kali ini! Apa Nindi akan punya adik baru nih?"


"Kalau begitu aku tidak bisa menutupinya! Iya Bu, saat ini aku sedang hamil."


"Alhamdulillah, selamat ya Bu. Aku ikut senang mendengarnya, semoga sehat sampai lahiran nanti."


"Amin, terima kasih."


"Iya sama-sama, Bu. Eh tapi ngomong-ngomong Bu Raisya merasakan mau tidak?"


"Tidak, Bu. Malah suamiku yang mual."


"Wah Pak Haris mengalami kehamilan simpatik itu, Bu! Mungkin karena dia bucin, haha..."


"Mungkin, hehe..."


Kabar kehamilanku sudah terdengar di telinga keluarga besar Mas Haris. Mereka ikut bahagia karena ajan mendapatkan keluarga baru. Apa lagi saat tahu calon anak kami kembar.


...----------------...


Hari demi hari kami lewati, masa kehamilanku aku lewati dengan penuh suka cita. Mas Haris yang mual muntah sampai kini usia kandungan sudah 16 minggu. Perutku sudah sangat kelihantan, karena isinya dua. Mas Haris akan mual dengan bau-bau tertentu. Aku yang masih hamil kebo, maunya disuruh terus dan males ngpa-ngpain. Untung saja aku masih tinggal bersama orang tuaku, yang selalu siaga dan masih memanjakan aku.


Pembangunan rumah kami sudah mencapai 75%. Rencananya saat usia kandungan 7 bulan nanti kami ingin pindah sekaligus mengadakan tasyakkuran 7 bulanan dan pindahan rumah baru. Ummi dan Abah masih sangat berat melepas kami, karena mereka hanya akan tinggal berdua di rumah. Sebenarnya aku juga berat untuk meninggalkan mereka, tapi ini sudah menjadi konsekwensi memiliki anak perempuan. Jadi mereka harus siap melepas kami dengan pasangan kami dan menjalankan rumah tangga kami secara mandiri.


Saat ini aku dan Mas Haris sedang ada di penjual rujak. Mas Haris pingin makan rujak buah yang berbumbu petis. Selama hamil aku belum ngidam apapun.


"Buahnya mau apa saja, Neng?" Tanya Ibu penjual rujak.


"Mangga muda, nanas, sama kedongdong, Bu."


"Kalau hamil jangan makan nanas, Neng! Nanti panas perutnya."


"Bukan untuk saya, Bu! Tapi suami saya."


"Owalah, suaminya toh yang ngidam!"


Rujak yang kami beli, kami minta dibungkus dan dibawa pulang.

__ADS_1


"Sayang tolong sambil suapin rujaknya!"


"Tapi kamu lagi nyetir, Mas!"


"Nggak pa-pa, aku akan tetap fokus. Aku sudah nggak tahan ini, ngiler banget!"


"Oke oke."


Aku menyuapi Mas Haris rujak buah.


"Mantap, Sayang! Kamu nggak mau?"


"Nggak deh!"


Aku melihat keringat Mas Haris bercucuran, mungkin dia kepedasa. Aku mengelap keringatnya dengan tisu.


"Makasih, Sayang!"


Kami melanjutkan perjalanan pulang ke rumah. Kami sampai di rumah jam 5 sore. Aku memberikan rujak buah yang kami beli kepada Ummi. Karena kami memang beli dua porsi.


"Kamu jangan makan nanas, Rai!"


"Nggak kok, Ummi. Rai nggak makan rujaknya! Yang ngidam kan Mas Haris!"


"Oh, ya sudah!"


Malam harinya, di dalam kamar.


"Sayang, mereka lagi ngapain?"


"Lagi tidur mungkin."


"Masa sih?"


"Mana aku tahu, Mas? Yang jelas kadang aku merasa kedutan di perut bagian bawah."


"Awas saja kalau mereka nakal!"


"Mau diapain?"


"Mau aku tengok, haha..."


"Mass..."


"Sayang, kalau dihitung-hitung sudah dua satu bulan aku menahannya, sejak perutmu kram waktu lalu, aku tidak pernah menengok mereka. Malam ini aku mau menengoknya, boleh ya?"


"Hem.. gimana ya?"


"Boleh dong? Anak-anakku pasti merindukan Ayahnya." Nas Haris memainkan kedua alisnya. Muka tengilnya bikin aku tak bisa menahan tawa.


"Mas, jangan sampai anak kita tengil kayak kamu ya!"


"Biar tengil aku ini ngangenin, sayang. Baik hati, tidak sombong dan bonusnya setia. Kamu masih meragukannya, Sayang?"


"Tidak, sejak kamu mengikrarkan janji suci di depan penghulu, sejak saat itu pula aku sudah menanamkan kepercayaan padamu."


"Ah so sweet sekali Ibunya Upin Ipin ini!


"Ish, Mas...." Belum aku tuntaskan protesku, tapi Mas Haris sudah membungkam bibirku dengan bibirnya. Dia terus mencumbuku sampai akhirnya kami sama-sama terlena. Dan terjadilah apa yang seharusnya terjadi. Lama menahan hasrat sehingga Mas Haris melakukannya berkali-kali, namun dengan pelan dan sangat berhati-hati.


"Makasih, Sayang. Anak-anak kita senang banget lho! Udah ditengokin sama Ayahnya."


"Oya? mereka bilang apa?"


"Ayah, besok tengok kami lagi ya! Gitu katanya."


"Dih! Itu sih maumu, Mas!"


"Hahaha..."


Terima kasih ya Allah, Engkau telah mengirimkan pasangan yang sangat mencintai dan menghargai aku. Memberikan kebahagiaan yang sangat luar biasa kepada kami. Begini rasanya diratukan oleh suami sendiri.Semoga ke depannya kami bisa menghadapi segala cobaan hidup.


Bersambung


...****************...


Terima kasih atas support kakak🤗😘

__ADS_1


See you again...


__ADS_2