Ketegaran Hati Raisya

Ketegaran Hati Raisya
Positif


__ADS_3

Tiba di kediaman kami


Aku mulai bersin-bersin, seperti biasa flu-ku kambuh. Aku memang punya alergi dingin, kalau sudah di tempat yang dingin atau minum yang terlalu dingin, aku sering langsung flu. Dan kalu sudah flu begini aku jarang minum obat, yang kulakukan minum air hangat, dan memasang minyak angin di sekitar leher dan hidung.


Keesokan harinya, aku pergi ke kampus untuk menghadap dosen pembimbing bersama dengan Putri. Tak lupa aku memberikan oleh-oleh dari kota M kepadanya. Aku membeli keripik tempe, keripik nangka, keripik apel, buah apel, buah stowbery, dan tempe khas kota M.


"Widih! Banyak banget Rai, Ibuku pasti suka ini! Terima kasih ya."


"Iya sama-sama"


Aku bersyukur skripsi sudah tidak perlu revisi lagi. Sudah ditandatangani oleh Bu Intan. Begitu juga dengan punya Putri, sepertinya kami akan wisuda bareng tahun ini. Kita tinggal menunggu waktu sidang skripsi.


...****************...


Tiga minggu berlalu dari pernikahan Sofi. Pagi ini aku mendengar suara mual-mual dari lantai atas."huek..huek..."


Aku keluar dari kamar untuk meyakinkan pendengaranku. Ummi juga keluar dari kamar, sepertinya karena mendengar hal yang sama.


"Suara Sofi itu Rai!"


"Sepertinya iya Ummi."


Tak lama kemudian yang kami bicarakan turun dari lantai atas.


"Kamu kenapa Sof?"


"Mual Ummi, nggak kuat cium bau parfum Mas Irfan."


"Kamu telat Sof?"


"Mas Irfan yang telat mau ketemu customernya tuh! Sampai nggak mau sarapan katanya." Irfan berpamitan kepada Sofi untuk berangkat.


"Sini duduk Sof! Ummi mengajak Sofi untuk duduk di kursi ruang keluarga. "Bukan itu maksud ummi! kamu telat datang bulan?"


"Oh iya, seharusnya kemarin mi. Memangngnya kenapa Ummi?


"Bisa jadi kamu hamil."


"Apa? secepat itu? Aku kan baru telat sehari Ummi."


"Iya Ummi tahu, tapi waktu nikah kemarin kamu baru selesai suci dari haid. Itu masa subur, kemungkinan akan cepat hamil."


"Ummi... Sofi belum siap." Sofi merengek seperti anak kecil.


"Huss! Nggak baik berkata begitu, kalau sudah jadi istri ya harus siap jadi Ibu."


"Hmm.. maaf Ummi. Terus ini Sofi harus gimana Mi?

__ADS_1


"Kamu coba beli tespeck, pakai besok baru bangun pagi.


"Iya Ummi, nanti aku akan telpon Mas Irfan untuk beli tespeck di apotik. Ummi akhirnya pergi ke dapur meninggalkan aku dan Sofi.


Sofi mendekat dan berbisik kepadaku.


"Mbak, gimana ini kalau aku hamil beneran?"


"Itu amanah dik, kalau memang benar kamu harus bersyukur. Banyak orang di luar sana menginginkan anak , tapi susah mereka dapat.


"Benar juga katamu Mbak! Aku bukan tidak mau Mbak, tapi belum siap. Kuliahku gimana?"


"Siap, tidak siap, ya harus siap! Banyak kok teman Mbak yang hamil sambil kuliah. Dibawa enjoy saja. Kamu bisa ambil cuti melahirkan nanti, dan kejar SKS."


"Ya ya! Insyaallah, aku akan menerima dengan lapang dada."


Semoga saja kamu hamil dik, Ummi dan Abi pasti senang menimang cucu.


Malam hari, saat kami makan bersama tiba-tiba Sofi mual lagi seperti tadi pagi. Sofi lari ke kamar mandi diikuti oleh suaminya.


Sepertinya memang benar dugaan kami. Tinggal menunggu hasilnya besok pagi.


Setelah makan malam aku masuk ke dalam kamar. Biasanya Sofi akan nimbrung ke kamarku. Tapi sejak menikah, Sofi syda tidak pernah ke kamarku untuk nimbrung . Aku memakluminya, karena keadaannya sudah berbeda.


Malam ini sulit bagiku memejamkan mata. Aku jadi ingat kemarin sore waktu pulang dari kampus, saat aku mampir di bakso langgananku.


Aku memarkirkan motorku di tempat parkir biasanya. Tukang parkir sampai kenal, karena aku sering datang ke sini. Aky pun masuk ke dalam dan memesan mie ayam bakso dan minuman jeruk hangat. Aku memang datang seorang diri. Saat aku sedang asyik menyantap pesananku, ada yang memanggil namaku.


"Rai!" Suara itu seperti sangat aku kenal.


Aku menoleh, dan benar saja aku sangat mengenal orang yang menyapaku. Aku belum menjawabnya, aku bingung harus bagaimana menghadapi orang ini. Tapi dia berjalan menghampiriku.


"Hai, kamu sendirian Rai?" Sebutan dek itu sudah hilang, dia menyebut namaku seperti saat pertama kenal.


"I-iya." Bibirku rasanya kelu. Pertemuan ini tidak pernah aku inginkan. Bukan karena aku belum bisa move-on. Tapi aku paling anti berhubungan dengan masa lalu.


"Rai maafkan aku, tolong jangan benci kepadaku." Mas Andi duduk di kursi yang berharap denganku. Aku hanya menundukkan muka.


"Kenapa aku harus membuang tenaga untuk membencimu! Kamu berhak memilih yang terbaik."


"Tapi kenapa kamu tidak hadir? Padahal aku sudah mengundangmu!"


Aduh nih orang! Punya malu nggak sih? Hallo!! Ini hati bukan rengginang.


"Iya maaf." Jawabku singkat, karena tidak ingin ngobrol lebih lama lagi. Aku tidak enak dilihat orang, karena statusnya yang sudah menjadi suami orang. Mungkin di sini tidak ada yang mengenali dia, tapi kita harus tetap waspada.


"Ya sudah aku mau pesan bakso dulu, istriku lagi ngidam. Aku tahu dari kamu kalau di sini bakso yang paling enak."

__ADS_1


Aku nggak nanya! Batinku.


"Kamu belum bayar kan? biar aku bayar sekalian!" Dia bertanya lagi.


"Oh sudah kok, tadi aku langsung bayar. Terima kasih!" Jawabku bohong, padahal belum bayar. Akhirnya dia pergi dari warung bakso.


Sabar Rai, ini bagian dari ujian hidupmu. Bertemu dengan orang yang sudah menyakitimu.


FLASH BACK OFF


Malam ini karena belum bisa tidur, aku menghubungi Putri. Aku menceritakan pertemuan dengan Mas andi kepada Putri. Tentu saja Putri marah. Mungkin seandainya kemarin Putri ada bersamaku, dia akan mencaci maki Mas Andi.


Keesokan harinya


Aku membantu Ummi memasak sarapan di dapur. Pagi ini kami memasak nasi goreng dan ayam goreng. Menu yang sangat sederhana dan cepat masaknya.


"Rai kamu kapan sidang skripsi?"


"Lusa Ummi, do'akan Rai ya!"


"Pasti Nak, Ummi selalu mendo'akan putri-putri Ummi."


Sofi muncul dengan langkah gontai dan muka pucat. "Ummi... aku positif."


"Alhamdulillah." Aku dan Ummi menjawab serentak.


"Selamat ya dik! Mbak bakalan jadi Tante." Ucapku seraya memeluk Sofi.


"Nanti Ummi antar ke Bidan Hani ya, biar diperiksa, masih mual kamu Sof?"


"Iya Ummi, rasanya mau keluar semua isi perut."


"Ya sudah kamu panggil dulu suamimu, kita sarapan. Jangan lari Sof, ingat lagi hamil!"


Lengkap sudah kebahagiaan Sofi. Menikah dengan orang yang dicintai. Memiliki suami yang bertanggung jawab dan cukup mapan. Ditambah lahi dengan satu kebahagiaan, langsung dikasih amanah keturunan.


Masyaallah Engkau Maha Baik. Semoga keluarga hamba selalu dalam lindungan-Mu.


Ummi mengantar Sofi ke Bidan Hani untuk diperiksa. Memang benar hasilnya positif. Diperkirakan Sofi sudah hamil 4 minggu 2 hari bila dihitung dari HPHT.


Irfan tentu sangat bahagia dengan kehamilan istrinya. Sofi meminta Irfan untuk memundurkan kepindahan mereka ke rumah barunya. Irfan tentu saja menurutinya. Mungkin mereka akan pindah setelah usia kandungan Sofi empat bulan.


Abi juga sangat senang mengetahui kabar ini. Dulu mereka berharap memiliki cucu dariku. Sekarang melalui Sofi, Tuhan mengabulkan permintaan Abi dan Ummi. Kehamilan Sofi adalah anugerah besar dalam keluarga kami.


...****************...


Terima kasih atas dukungannya readers. Cerita ini masih berlanjut ya, tetap stay tune🤗 see you again😘

__ADS_1


__ADS_2