
Aku berjalan di tepi pantai dengan menggunakan gamis warna favoritku. Warna biru langit dengan dipadukan jilbab warna biru motif abstrak. Saat aku bermain pasir di pantai seorang diri, Aku melihat Mas Firman datang mendekatiku.
"Raisya..!" Panggilnya.
Aku mendongak ke arahnya yang sedang berdiri depanku. Aku diam mematung tatakala melihat wajah itu lagi. Aku bukan berusaha melupakan, tapi belajar menghadapi. Mas Firman tersenyum kepadaku, senyum itu yang dulu jarang aku lihat.
Mas Faisal datang dari arah lain dan menghampiriku. "Rai... ayo bangun!" Dia ulurkan tangannya kepadaku.
"Jangan Rai!" Cegah Mas Firman.
Aku menoleh bergantian ke dua arah, di mana sisi kanan ada Mas Firman dan sisi kiri ada Mas Faisal.
Datanglah seorang perempuan dengan seorang anak laki-laki yang masih berusia satu tahun. Kemungkinan itu adalah istri dan anaknya."Mas Firman! Aku mencarimu daritadi, anakmu ingin kau gendong!" Ujar wanita itu.
"Ayo, Rai! berdirilah! Ikut bersamaku!" Mas Faisal mengajakku dan mengulurkan tangannya kembali.
"Jangan, Rai! Menjauhlah!" Ucap Mas Firman mencegahku
"Kau! Jangan pernah ikut campur! Kamu hanya masa lalunya!" Balas Mas Faisal.
Aku bingung dengan kedua orang ini. Akhirnya aku berdiri tanpa menerima uluran tangan Mas Faisal.
Aku berlari menjauh dari keberadaan mereka. Saat Mas Faisal akan mengejarku, Mas Firman dan wanita itu mencegahnya. Keduanya memegang erat tangan Mas Faisal agar tidak mengejarku. Sampai akhirnya aku berlari jauh dari pandangan mereka. Dan karena terlalu jauh aku berlari sampai dadaku merasa sesak dan....
"Astagfirullahal adzim," Aku memegang dadaku dan bangun dari tidurku.
Ya Allah, cuma mimpi. Tapi mimpi apa ini? Kenapa aku harus bermimpi orang di masa laluku, di saat aku meminta petunjuk masa depanku. Mungkin ini karena tadi aku lupa tidak berwudhu saat akan tidur. Tapi perasaan aku sudah berwudhu. Lalu apa arti dari mimpiku ini? Tadi rasanya seperti nyata. Batinku.
Setelah mengumpulkan kesadaranku. Aku melihat jam dinding di kamarku, saat ini jam 00.04. Aku pergi ke kamar mandi untuk buang air kecil. Dan ternyata tamu bulananku datang. Aku segera berwudhu lagi dan kembali ke tempat tidur. Mau tidur lagi tidak bisa. Padahal besok adalah hari pertama masuk sekolah setelah libur kenaikan kelas. Iseng aku lihat HP-ku. Ternyata ada pesan dari Mas Faisal tiga jam yang lalu.
💌Faisal
Assalamu'alaikum...
Selamat mlm, manis...
Maaf mengganggu malammu. Mungkin saat aku kirim pesan ini, kamu sudah mimpi indah.
saya cuma ingin bilang bilang, jangan lupa mimpikan aku. Semoga hari esok lebih baik dati hari ini. Amiin....
-
-
Aku memang mimpi kamu, Mas. Tapi mimpinya aneh. Batinku
Karena belum bisa tidur juga, akhirnya aku iseng membalas pesannya.
__ADS_1
💌Raisya
Wa'alaikum salam.
Saya tadi memang sudah tidur Mas, tapi terbangun. Makanya baru saya buka pesannya.
Terima kasih sudah mendo'akan. Doa'a yang baik kembali kepada yang mendo'akan.
Lima menit kemudian...
💌Faisal
Kenapa tidak tidur lagi Rai?
Besok kamu sudah masuk ngajar, jangan bergadang.
💌Raisya
Mas sendiri, kenapa belum tidur?
Aku tidak sedang bergadang, tapi memang susah untuk tidur lagi. Mungkin karena kelamaan tidurnya. Tadi dari habis shalat Isya langsung tidur.
💌Faisal
Aku sedang menuntaskan pekerjaan, karena besok pagi sudah mau diambil sama customer. Jadi kejar target ini baru selesai.
-
-
Entah sampai jam berapa kami berkirim pesan, sampai akhirnya aku ketiduran dan bangun jam 6 pagi.
Saat keluar kamar dan sudah siap untuk berangkat bertugas, Sofi dan Baby Zie sudah sedang bermain de ruang keluarga.
"Kamu nggak shalat Subuh, Mbak?"
"Lagi dapet!"
"Pantesan, siang bangunnya! Tadi malam kan masih shalat?"
"Mulai tadi malam, jam dua belasan kira-kira. Pas mau buang air kecil, ternyata kedatangan tamu bulanan. Telat sih tiga hari, tapi udah biasa gitu."
"Sudah mau berangkat, Mbak? Nggak sarapan dulu?"
"Iya, hari ini ada MOS untuk siswa baru. Jadi harus datang lebih awal, karena akan ada perkenalan seluruh dewan guru. Sarapan nanti di kantin saja!"
"Ya sudah sana, nanti telat. Aku bentar lagi mau pulang ya! Jangan cari-cari Zie!"
__ADS_1
"Iya-iya! Ayo Nak ikum dulu, Tante mau berangkat." Ucapku mengambil tangan mungil Zie.
Setelah berpamitan kepada Ummi dan Abi, aku berangkat ke sekolah.
Hari pertama masuk sekolah. Siswa baru kali ini mencapai 200 orang. Nantinya akan dibagi menjadi delapan kelas. Kegiatan hari ini perkenalan dengan semua dewan guru dan kepala sekolah. Siswa baru antusias dalam mengikuti orieantasi.
"Bu Raisya!" Pak Gunawan, salah satu guru olahraga di sekolah kami menyapaku.
"Iya, Pak! Ada apa?
"Ini Bu, saya tadi beli minuman di kantin ada dua. Yang satu buat Ibu!" Pak Gunawan memberikan satu Teh dingin kemasan botol kepadaku.
"Terima kasih, Pak." Aku menerimanya meskipun sebenarnya aku tidak minum minuman dingin saat haid. Karena aku tidak ingin membuat Pak Gun kecewa."Mari, Pak! Saya ke kantor dulu."
"Mari, Bu! Saya juga mau ke kantor." Pak Gunawan melangkah di sampingku. Kami berjalan bersama ke kantor.
Pak Gunawan salah satu guru muda, usianya 25 tahun. Dari cerita guru senior, Pak Gunawan pernah gagal menikah satu tahun yang lalu karena calon istrinya meninggal akibat kecelakaan tunggal. Pak Gunawan menjadi trauma karena peristiwa itu. Sampai saat ini dia belum bisa membuka hati untuk perempuan lain.
Saat tiba di kantor, Guru-guru sudah banyak yang berkumpul di sana.
"Pak Gun! Kok gak gandengan? Kalah dong sama truk! Truk saja gandengan." Tutur salah satu guru yang sedang duduk di kantor, mereka memang suka bercanda.
Pak Gunawan menoleh ke arahku.
"Bu Raisya nggak mau saya gandeng Pak, mending langsung diijab katanya." Kami tertawa mendengar lelucon yang mereka buat.
"Awas! nanti Pak Han cemburu! Pak Gunawan bersainglah secara sportif. Jangan menikung dari belakang!" Ujar guru yang lain menimpali." Mereka memang sering menjodohkanku dengan guru-guru yang masih bujangan. Termasuk Pak Hendrik ini, uainya sudah 27 tahun, tapi beliau belum menikah. Tapi aku tidak pernah menganggapinya dengan serius.
"Bu Raisya, pilih yang mana? Pak Handrik atau Pak Gunawan? Yang satu juragan pulsa yang satu juragan empang." Ujar Bu Lilik ikut nimbrung. Begitulah keseruan kami kalau sedang berkumpul dan menghilangkan stres akibat banyaknya tugas dan masalah di sekolah. Aku hanya bisa menanggapi dengan senyuman.
"Bu Raisya, jangan senyum terus! Nanti Pak Gun dan Pak Han tidak bisa tidur karena terbayang-bayang lesung pipinya Bu Raisya." Sekali lagi kami tertawa mendengar penutursn Bu Lilik.
"Ya sudah Bu, besok saya pakai cadar saja kalau begitu." Aku menanggapi gurauan Bu Lilik.
Tidak terasa sudah jam 1 siang, kami siap-siap untung pulang. Sampai di rumah belum ada yang datang. Ummi dan Abi belum pulang dari toko.
Aku memang selalu membawa kunci cadangan. Berjaga-jaga bila di rumah tidak ada orang. Aku segera mandi dan tidur siang, perutku sakit karena baru datang bulan. Dan biasanya ini akan aku rasakan selama 2-3hari. Kalai dibawa tidur, tentu akan mengurangi rasa sakit.
...****************...
Bersambung....
Siapa yang tahu arti dari mimpi Raisya?
Nantikan kelanjutannya ya kakak.
See you again, thank you.
__ADS_1