Ketegaran Hati Raisya

Ketegaran Hati Raisya
Keputusan Abi


__ADS_3

Selama satu minggu ini aku belum punya jawaban yang akan aku beri kepada Mas Faisal. Namun kemarin Abi sempat menyuruhku untuk berkenalan dulu dengan anak temannya itu. Tapi aku tidak mau, dan karena tidak ingin membuat Abi kecewa, tentu aku memberi alasan bahwa aku sedang melakukan proses ta'arruf dengan seseorang.


Dan ternyata Abi memberikan respon lain.


BLASH BACK ON


Saat aku, Ummi, dan Abi sedang duduk santai di ruang keluarga sambil nonton TV.


"Raisya, Abi mau bicara." Ucap Abi serius.


"Iya, Abi. apa yang ingin Abi bicarakan?"


"Tolong dengarkan Abi! Bukannya Abi ingin memaksa, tapi ini demi kebaikanmu. Abi ingin melihatmu bahagia dalam berumah tangga." Abi menjeda perkataannya, lalu menoleh ke arah Ummi. Ummi hanya mengangguk, memberi kode persetujuan "Kemarin Pak Handoko menemui Abi, dia ingin mempertemukan anaknya kamu. Abi hanya menjawab seperti yan Ummi-mu katakan waktu lalu. Tapi dia sangat berharap kalau kamu mau dikenalkan dengan anaknya. Abi tidak akan memaksamu, karena kamu sudah bisa menentukan sendiri. Tapi Abi harap kamu bisa mempertimbangkan. Tidak baik terlalu lama sendiri! Abi dan Ummi sudah tidak muda lagi, kami ingin masa tua kami hidup bahagia bersama anak cucu kami."


"Maaf Abi, sebenarnya saat ini Raisya sedang menjalani ta'arruf dengan seseorang. Rai belum bilang ke Abi dan Ummi karena Rai belum bisa memberikan keputusan kepada orangnya. Besok Raisya akan memberikan keputusan, tapi sampai saat ini Raisya belum mendapatkan petunjuk lagi.


"Siapa dia, Rai?" Tanya Abi penasaran. Akhirnya aku menceritakan yang sebenarnya kepada Abi dan Ummi tentang Mas Faisal. Sia dia, pekerjaannya, dan asal usulnya.


Abi dan Ummi mendengarkan aku dengan tenang.


"Begini saja, Rai. Kenalkan Faisal kepada Abi, suruh dia ke sini! Abi akan menilainya langsung. Nanti Abi yang akan membantu memberi keputusan. Itu-pun kalau kamu mengijinkan. Masalah Pak Handoko nanti biar Abi menolaknya."


"Baiklah, Abi. Tentu Abi boleh memberi keputusan dalam hal ini. Tapi Rai malu, Abi. "


"Ini demi kebaikan bersama, jangan menyia-nyiakan kesempatan yang ada. Mungkin saja dia memang jodohmu. Besok sore suruh dia ke sini. Kalau tidak, Abi terpaksa akan mengenalkanmu dengan anak Pak Handoko." Ucap Abi dengan tegas.


FLASH BACK OFF


-


-


Saat istirahat di sekolah, aku mengirimkan pesan kepada Mas Faisal.


💌Raisya


Assalamu'alaikum, maaf kalau saya mengganggu Mas. Hari ini genap satu bulan proses penjajakan kita. Ada salam dari Abi, Mas disuruh main ke rumah nanti sore. Insyaallah Abi akan memberikan jawaban langsung kepada Mas. Apakah Mas bisa ke rumah?


💌Faisal


Wa'alaikum salam... Insyaallah bisa Rai. Dan saya siap menerima keputusannya nanti. Semoga saya tidak pulang gigit jari.


💌Raisya


Biidznillah Mas, apapun keputusannya nanti semoga yang terbaik. Amiin....


💌Faisal

__ADS_1


Amiin...


-


Aku hanya tersenyum membaca balasan darinya. Aku sebenarnya masih memikirkan mimpi itu. Tapi kata Abi terkadang mimpi adalah bunga tidur. Kadang petunjuk bisa saja dari hal lain.


Pulang mengajar aku aku menyempatkan diri untuk tidur siang, karena rasanya lelah dan ngatuk. Aku terbangun karena ada notif pesan di HP-ku.


💌Faisal


Raisya... aku sudah siap-siap mau berangkat. 20 menit lagi insyaallah sampai. Do'akan aku diterima ya😁.


💌Raisya


Iya Mas, hati-hati di jalan. Jangan ngebut.


-


Buru-buru aku beranjak ke kamar mandi, dan segera shalat Ashar. Setelah itu memakai gamis rumahan warna pink dan jilbab segi empat.


"Ummi, Mas Ical sudah di jalan. Mungkin sebentar lagi sampai. Abi mana?"


"Sebentar Ummi bangunkan dulu, tadi Abimu belum bangun." Ummi balik ke kamarnya.


Sebenarnya aku grogi dan juga takut. Karena sebenarnya aku masih bingung dengan keadaan ini. Di sisi lain aku tidak ingin mengecewakannya, tapi di sisi lain aku belum yakin.


Aku mondar-mandir di dalam kamar. Aku tidak pernah mendapatkan tamu laki-laki seperti kali ini. Aku malu kepada orang tuaku.


Lima menit kemudian, Mas Faisal datang. Ternyata dia tidak naik mobil, tapi naik sepeda motor maticnya.


"Assalamu'alaikum." Ucapnya di ambang pintu.


"Wa'alaikum salam." Aku dan Ummi menjawab salam bersamaan. Karena memang kami sedang di ruang tamu. Abi masih shalat Ashar.


"Suruh masuk, Rai." Kata Ummi.


"Mari masuk, Mas."


"Iya terima kasih."


"Silahkan duduk, Nak." Sambung Ummi.


"Terima kasih, Bu." Mas Faisal kedua tangannya di dada.


Aku memperkenalkan Ummi kepada Mas Faisal, begitu pula sebaliknya. Tidak lupa aku ambilkan minuman dan makanan ringan untuk menjamu Mas Faisal.


"Silahkan diminum dulu, Mas."

__ADS_1


"Terima kasih, Rai."


Tidak lama kemudian Abi menghampiri kami. Mas Faisal berdiri dan mencium punggung tangan Abi.


"Daritadi Nak? Tidak nyasar kan?"


"Baru sampai, Alhamdulillah, tidak Om."" jawabnya. Kulihat dia tidak seperti biasanya. Mungkin karena grogi. Abi sebenarnya orangnya mudah bergaul dan bisa menyesuaikan dengan usia. Nyambung jika diajak bicara semua kalangan.


Setelah ngobrol panjang lebar masalah pekerjaan dan lainnya, Abi mulai serius.


"Begini, Nak! Raisya sudah menceritakan tentang Nak Faisal. Kami sebagai orang tua tentu ingin memberikan yang terbaik. Bukan masalah materi, tapi hati dan tanggung jawab. Apa lagi Raisya sudah pernah gagal dalam pernikahan. Apa Nak Faisal bisa menerima masa lalunya?"


"Insyaallah saya menerima, Om. Yang terpenting bagi saya adalah masa sekarang, dan ke depannya.


"Alhamdulillah kalu begitu, saya tidak akan basa-basi lagi. Saya sangat senang bertemu dengan Nak Faisal. Kalau saya dan Umminya Insyaallah sangat senang dan menerima niat baik Nak Faisal. Mungkin Raisya masih belum yakin, karena dia masih ada trauma di masa lalu. Selanjutnya, bawalah orang tua Nak Faisal ke sini untuk menemui kami.


"Alhamdulillah, jadi saya diterima Om?"


"Iya Nak Faisal, kami menerima dengan tangan terbuka. Tapi sebelumnya, Nak Faisal kenalkan dulu Raisya kepada keluargamu. Jsngan sampai mereka tidak sama pemikirannya denganmu.Baru kamu datang ke sini dan segera pinang Raisya. Niat baik harus disegerakan.


"Apakah Om mengijinkan saya membawa Raisya menemui orang tua saya di kota seberang?


"Boleh saja Nak, asal jangan berdua. Kamu bisa ajak Rendy dan Rindi menemani kalian.


Tidak baik jalan berdua, yang ke tuga setan. Bukan begitu, Nak Faisal? Kata Abi dengn nada gurauan.


"Baik, Om. InsyaAllah nanti saya akan bicarakan kembali dengan Raisya. Terima kasih sudah memberi kesempatan kepada saya, Om."


"Iya sama-sama, Nak."


Setelah pembicaraan yang cukup panjang, Mas Faisal berpamitan untuk pulang. Karena masih ada pekerjaan yang harus diselesaikan.


"Rai, Faisal itu orangnya gentle man ya?" Kata Ummi saat Mas Faisal sudah menghilang dari pandangan.


"Iya, Ummi." Jawabku dengan senyuman.


"Alhamdulillah, Rai. Semoga ini menjadi awal yang baik. Dan semoga kalian berjodoh! Ummi suka sama Faisal, anaknya sederhana dan sepertinya humoris.


"Amiin..." Aku meng-amini do'a Ummi.


Akhirnya sudah masuk waktu Maghrib, kami shalat berjamaah.


Aku memberitahukan kepada Mbak Rindi dan Sofi tentang keputusan yang sudah diberikan kepada Mas Faisal. Mereka ikut senang mendengarnya. Apa lagi Mas Rendy dan Mbak Rindi, mereka orang yang cukup berperan besar dalam perkenalan kami.


...****************...


See you again Kakak....

__ADS_1


Terima kasih sudah mensupport karya pertama Author, semoga Alkah yang membalasnya


__ADS_2