
Hari demi hari aku lalui, kini usia kandunganku sudah sembilan bulan. Aku sudah mengambil cuti lahiran. Pinggangku rasanya mau patah, dan tidur tidak pernah nyenyak. Karena posisi tidur yang kurang nyaman. Nampaknya hamil kali ini lebih berat dari hamil pertama. Untung sementara waktu aku pindah di kamar bawah. Mas Haris tidak ingin aku capek karena harus naik turun tangga.
Saat ini aku sedang di kamar, sedang melipat baju-baju Mas Haris yang mulai berantakan. Mas Haris masih di lapangan, mengecek pembangunan.
Tiba-tiba ponsel-ku berdering. Nomer baru yang memanggilku, seoertinya nomor dari luar negeri. Satu kali tidak kuangkat, namun nomor itu menghubungiku lagi. Akhirnya aku mengangkatnya.
"Assalamu'alaikum..." Ucapku.
"Wa'alaikum salam..." Jawab orang di seberang sana. Suara yang sangat aku kenali, dan lama aku kehilangan kontaknya.
"Putri...?"
"Raisya.... kamu masih ingat suaraku?"
"Ya Allah Put, ingat dong! Suaramu kan cempreng! kamu gimana kabarnya?"
"Ish nyebelin! Aku baik, Rai! Maaf baru bisa menghubungi kembali ponselku hilang satu tahun yang lalu. Aku kehilangan kontak banyak orang."
"Kamu lagi di mana ini?"
"Aku masih di Hongkong."
"Kamu kenapa nekat banget sih pergi ke sana? Kamu nggak ingin pulang? Waktu nikahanku juga kamu nggak datang!"
"Iya, maaf Rai! Aku kabur dari rumah. Mama ingin menjodohkan aku dengan anak dari temannya. Padahal Papa dan Mama tahu kalau aku sudah lama punya hubungan dengan Nuki. Tapi karena Nuki tak kunjung melsmarku, mereka memaksa aku untuk menerima perjodohan itu."
"Kamu kerja apa di Hongkong, Put?"
"Jadi perawat di Panti Jompo, gajinya lumayan, Rai. Kalau kamu sih enak sudah Pegawai Negeri! Aku kan masih honorer!"
"Terus gimana tanggapan orang tuamu sekarang, Put?
"Awak-awal mereka marah besar, sekang sudah tidak lagi. Mereka menyuruhku pulang. Aku tidak mau, masih mau nambah satu tahun lagi."
"Aku kangen banget lho sama kamu. Aku pernah cek di sosial media, tapi tidak ada satupun kamu bikin status."
"Suda kubilang, ponselku hilang. Aku lupa password emailku. Jadi aku membuat email dan media sosial baru."
Saking asyiknya kami ngobrol, aku tidak tahu kalau suamiku sudah datang dan ada di dalam kamar.
"Cepatlah pulang, Put! Kamu tidak ingin bertemu anak-anakku?"
"Hah! Kamu sudah punya anak berapa, Rai?"
"Dua, mereka kembar."
"Wah, pasti lucu sekali! Cewek apa cowok, Rai?"
"Sepasang, Put!"
"Duh... jadi pingin juga! Eh gimana suamimu? Aku belum tahu seperti apa dia lho! Kamu dulu cuma cerita yang di Bali saja."
"Makanya, cepetan nikah baru punya anak! Suamiku ya begitu adanya. Paket lengkap bagiku."
"Cie... Yang lagi bucin! Iya, nanti kalau pulang berarti aku akan mengundangmu. Rai, jangan lupa save nomor baruku ini. Dan tolong nanti kirim foto si kembar. Aku penasaran, mirip kamu atau suamimu." Ujar Putri dengan antusiasnya.
"Iya, Insyaallah."
"Ya sudah, aku kerja lagi ya. Sehat-sehat di sana, Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikum salam."
Mas Haris memelukku dari belakang.
"Asyik banget ngobrolnya, Bund?"
"Iya, Yah! Maaf tadi aku nggak dengar kalau Ayah sudah datang! itu barusan Putri yang menelponku."
"Oh, temanmu yang katamu hilang jejak?"
"Iya, Ternyata kerja di Hongkong."
__ADS_1
"Bunda, mereka tidak rewel, kan?" Mas Haris mengusap perutku.
"Daritadi mereka menendang, Yah."
"Aktif sekali, ya?"
"Begitulah!"
Sore harinya, aku dan Mas Haris bermain dengan si kembar di halaman depan rumah. Mas Haris mengajari Salman main bola. Salwa mengejar kupu-kupu yang berterbangan di taman bunga. Suami dan anak-anakku tertawa lepas. Aku sangat bahagia melihat tawa mereka.
Ya Allah berikan hamba umur panjang, agar bisa menjaga mereka. Semoga hamba bisa melahirkan dengan normal lagi.
Saat akan mengikuti Salwa, aku kurang fokus. Kakiku kesandung sebuah batu.
"Au...sshhh"
"Nda..." Salwa menjerit.
"Bunda..." Mas Haris berlari ke arahku. "Sayang, kamu tidak apa-apa?"
"Sakit, perutku sakit sekali."
"Nina... Aan..." Mas Haris memanggil baby sitter.
"Ada apa, Pak?" Nina muncul terlebih dahulu.
"Jaga anak-anak, aku akan bawa Ibu ke rumah sakit!"
"Baik, Pak."
"Hua..nda...nda...." Salwa menangis
Mas Haris mengambil kunci mobil dan membopongku ke dalam mobil. Aku ditidurkan di kursi tengah.
"Sakit, Mas! Ada darah yang keluar."
"Sabar ya, Sayang! Sebentar lagi kita sampai."
Mas Harus membopongku ke IGD, dia tidak mau aku tersentuh perawat laki-laki.
"Sus, tolong istri saya."
"Baik Pak, silahkan tiduran di brankar! Maaf anda tunggu di luar dulu."
Suster membawaku masuk ke dalam ruang IGD. Ada seorang Dokter perempuan yang memeriksaku. Setelah memeriksa, dokter keluar menemui Mas Haris.
"Maaf Pak, Istri anda harus segera dioperasi!Kalau tidak, bisa membahayakan nyawa Ibu dan anak. Saya minta persetujuan anda, bagaimana?"
"Sebenarnya istriku sangat takut jika harus operasi, Dok! Tapi kalau ini sudah jalan terbaik, saya akan menyetujuinya."
"Baiklah, tunggu sebentar! Anda harus menandatangani surat persetujuan." Mas Haris menandatangani surat persetujuan.
Aku dibawa keluar dari ruang IGD menuju ruang operasi. Mas Haris memberiku semangat.
"Tidak apa, Sayang! Kamu kuat, Insyaallah kalian akan selamat. Aku akan menemanimu."
Aku tak kuasa membendung air mata.
"Boleh kan, Dok? Saya menemani istri saya?"
"Boleh Pak, asal anda mengikuti prosedur yang ada."
"Baik, Dok."
Aku dibawa masuk ke ruang operasi. Selanjutnya aku ditangani oleh Dokter Hikmah. Proses operasi berjalan cukup lama, sekitar satu jam. Karena harus mengeluarkan dua makhluk hidup. Sebelum aku benar benar kehilangan kesadaran, Samar-samar aku mendengar suara tangis bayi. Setelah itu aku tidak sadarkan diri.
-
Aku berjalan di dekat sungai dengan mendorong dua troly. Nenek melambaikan tangannya. Aku mendekatinya, dan meninggalkan troly bayiku.
"Nek, nenek...!" Aku mengajar nenekku.
__ADS_1
"Berhenti, Rai! Jangan mengikuti aku!"
"Tapi Nenek mau kemana?"
"Aku akan pergi jauh, dan kamu belum waktunya ikut bersamaku. Lihatlah mereka!" Nenek menunjuk troly bayi yang aku tinggalkan.
"Iya, mereka anakku, Nek!"
"Kembalilah kepada mereka! Mereka sangat membutuhkan! Aku harus pergi, Rai! Jangan mengejarku! Seketika Nenek menghilang.
"Oek.. oek... oek.."
Bayiku menangis, aku berlari ke arah mereka. Tangisannya semakin kencang, sehingga membuatku bergetar. Mataku terbuka dan aku tersadar. Saat kumenoleh ke kanan, kulihat bayiku sedang menangis
"Oek..oek..."
"Alhamdulillah..." Ucap syukur semua orang di dalam ruangan. Ada Dokter, dua orang suster, dan Mas Haris.
"Bu, bayinya menangis kehausan, anda pingsan cukup lama."
Ternyata tadi aku hanya mimpi. Tidak-Tidak itu bukan mimpi! Aku bukan tidur tapi pingsan.
"Dua-duanya selamat, kan, Dok?"
"Alhmdulillah, dua-duanya sehat. Silahkan disusui dulu yang ini, Bu!" Yang satunya sedang di ruang bayi."
"Bunda, kali ini kembar kita cowok semua." Ujar Mas Haris tersenyum senang.
"Alhamdulillah! Aku memang tidak ingin tahu jenis kelamin mereka, agar menjadi kejutan."
Setelah menyusui, aku dipindahkan ke ruang inap. Ternyata di luar sudah ada keempat orang tua kami. Ummi berkaca-kaca memandangku. Beliau mengusap dan mengecup keningku.
"Alhamdulillah, Rai! Kamu bikin kami khawatir tadi."
"Kata dokter sudah biasa, Ummi. Efek obat bius memang kadang begitu." Jawabku.
Saat ini kami sedang si ruang inap. Mas Haris pergi ke ruang bayi untuk melihat anak si kembar.
"Tadi Ummi terkejut saat ditelpon Haris, Rai. HPL-mu kan harusnya masih dua minggu lagi, kok tiba-tiba jadi begini? Terus Haris bilang tadi kamu jatuh."
"Iya, Ummi. Rai yang ceroboh, tadi kesandung dan jatuh keluar darah. Untung saja Mas Haris segera membawaku ke rumah sakit."
"Kamu sangat bersyukur kamu bisa melewati semua ini, Nak." Ibu menimpali.
"Berkat do'a kalian, para orang tua kami."
Tiba-tiba pintu terbuka, rupanya Mas Haris datang menggendong bayi kami dengan seorang suster yang juga menggendong bayi.
"Lho, yang satunya it anak siapa, Ris? Ibu bertanya. Mas Haris hanya tersenyum dan mendekati kami.
"Abah, Ayah, Ummi, Ibu! Ini dua-duanya anak kami, lihatlah wajah mereka sama!"
Abah dan Ayah yang tadinya duduk di sofa berdiri melihat bayi kami. Begitupun dengan Ibu dan Ummi.
"Owalah, Ris! Jadi kembar lagi? Tapi kalian nggak pernah ngomong?"
"Kami sengaja merahasiakannya, Bu. Biar jadi kejutan, hehe.... Haris tokcer, kan yah? Sekali tembak langsung jadi dua. Dua kali pula!" Mas Hari membanggakan diri kepada Ayahnya. Ayah hanya mengangguk dan mengacungkan kedua jempolnya.
"Ya ampun kamu tuh, Ris! Tetap saja tengil! Sudah punya buntut empat, malu sama mertuamu!" Ujar Ibu.
"Haha... Tidak apa, Bu! Dia selalu bisa mencairkan suasana." Ummy menimpali.
Dasar tengil kamu, Mas! Pede-nya tingkat dewa! Rasain kamu puasa lagi habis ini.
Bersambung.....
...****************...
Beberapa bab lagi novel ini akan saya tammatkan kakak. Terima kasih selalu support karyaku.
See you again....
__ADS_1