Ketegaran Hati Raisya

Ketegaran Hati Raisya
Puasa


__ADS_3

Kami berangkat ke sekolah dengan menggunakan motor gede milik Mas Haris yang kemarin lusa sudah diantarkan oleh temannya.


"Pegangan yang kenceng, Dek!"


"Aku pakai rok, Mas. Boncengnya harus miring."


"Iya nggak apa, yang penting pegangan yang kenceng. Aku akan pelan jalannya."


Pertama kalinya aku dibonceng seorang laki-laki selain Abah dan Omku, yaitu suamiku sendiri. Kami menikmati udara pagi yang masih sejuk. Sampai akhirnya, kami sampai di sekolah. Kami berhenti di pintu gerbang. Aku turun dari motor dan mencium punggung tangan suamiku.


"Aku ngajar dulu ya, Mas?" Ijinku.


"Iya, sayang. Mas mau kerja, kalau sudah mau pulang jangan lupa telpon!"


"Iya, Mas. Hati-hati di jalan, jangan ngebut!"


"Siap, sayangku." Ujarnya seraya mengedipkan sebelah matanya. Aku hanya tersenyum menanggapi tingkah suamiku. Sepertinya dia akan mewarnai hari-hariku di masa depan. Orangnya santai, tapi tegas dan khadismatik. Kadang suka tengil tapi lucu. Ganteng tapi nggak ngebosenin.


Satu yang nggak bagus darinya, dia suka maksa. Tapi anehnya aku suka itu. Lagi-lagi aku senyum-senyum sendiri melihat kepergian suamiku.


Aku berjalan menuju kantor sekolah. Sekedar info, Kepala sekolahku sudah bukan Pak Rudi atau mertuaku lagi. Tapi sudah diganti sejak SK diturunkan. Saat ini yang menjadi kepala sekolah pindahan dari SMP Negeri 4. Beliau seorang perempuan.


Aku baru tahu bahwa suamiku ada pemilik Properti atau owner perumahan Khayangan City. Perumahan ini baru dirilis sekitar lima bulan yang lalu. Ternyata Mas Haris sudah melakukan bisnis properti sejak dia masih sekolah S1 di Jepang. Tepatnya 11 tahun lalu, di sana dia kuliah sambil bekerja paruh waktu. Uang yang dia dapat lalu dikumpulkan dan ditabung. Sehingga dia bisa membuka usahanya dengan mandiri sekarang.


Di sekolah, saat hendak menuju ke kelas.


"Duh aura pengantin baru nih!" Pak Anton menggodaku


"Selamat pagi, Pak!"


"Selamat pagi Nyonya Haris, bagaimana pengantin baru? Aman?"


"Pak Anton ini ada-ada saja. Terima kasih ya Pak, sudah hadir di acara kami."


"Sama-sama, Bu. Saya sangat senang Bu Raisya bisa berjodoh dengan Haris. Semoga kalian segera dikaruniai keturunan."


"Amiin..."


Aku berjalan kembali menuju kelas 7A. Karena jam pertama aku punya jadwal di sana. Aku mengajar dengan penuh semangat, bahkan lebih dari biasanya. Suasana hati memang kadang menentukan mood dan keadaan.


Jam 1 siang, aku menghubungi Mas Haris untuk menjemput ke sekolah. 20 menit kemudian, Mas Haris datang dan sudah berada di parkiran sekolah. Dengan senyum sumringah aku menghampirinya.


"Wah...Bu Raisya sekarang jadi manja ya? Ada yang jemput segala!" Goda Bu Hesti kepadaku.


"Bu Hesti kalau mau juga bisa kok minta jemput sayangnya!" Mas Haris menmpali.


"Orangnya super sibuk, Pak. Mana sempat jemput? Telpon saja kalau tidak dimishcall tidak akan nelpon. Duh jadi curhat nih... haha."


"Kami pulang dulu ya, Bu!" Pamitku kepada Bu Hesti.


"Iya, Bu. Hati-hati di jalan."


Aku dan Mas Haris kini pergi dari sekolah. Namun sepertinya jalan yang kami lewati bukan arah jalan ke rumah.


"Mas, kita mau kemana?"


"Kita mampir ke rumah Ayah ya? Mas mau ambil sesuatu di sana."


"Oh... iya, baiklah!Mas sudah shalat?"


"Sudah, sayang!"


Mas Haris kembali melakukan motornya sedikit kencang. Aku berpegangan erat di pinggangnya.Sesekali dia menggenggang tanganku dengan sebelah tangannya kemudian mengecup punggung tanganku. Sesekali dia memandangku dari spion motor. Dunia seakan milik berdua, yang lain ngontrak. Siang ini panas namun tersa sejuk di hati.


Beberapa saat kemudian kami sampai di rumah Ayah. Di rumah ada Ibu dan Asisten rumah tangga. Ayah sedang keluar membeli pakan burung. Rupanya Ayah memiliki koleksi beberapa burung di belakang rumahnya.


"Ini dari sekolah langsung ke sini, Ris?"


Tanya Ibu.


"Iya Bu, tadi Haris dari Khayangan terus jemput ke sekolah. Langsung mampir ke sini."

__ADS_1


"Ayo makan dulu, kalian pasti belum makan siang. Ibu sudah makan tadi sama Ayah."


Aku dan Mas Haris makan berdua di meja makan.


"Ditambah nasinya, Dek!" Biar cepat gendut."


"Mas mau aku gendut?"


"Nggak juga, mau gendut mau kurus, aku akan tetap cinta..."


Aku memilih untuk melanjutkan makan, kalau dijawab maka akan panjang urusannya.


Setelah makan, aku membawa oerabitan bekas kami makan ke dalam dapur


"Sudah Nak... tinggalkan saja, Biar Inah yang cuci piringnya! Mungkin kamu mau mandi dulu, masuklah ke kamar suamimu, Nak!


"Iya Bu." Jawbku tanpa membantah


"Ayo, Dek! Kita ke kamar!"


Sat ini kami sedang di Dalam kamar Mas Haris. Nuansa biru dan putih memenuhi ruang kamar ini. Kamar yang luasnya tidak jauh beda dengan kamarku. Kamar mandi juga ada di dalam kamar.


"Mas kamu sudah kenyang?"


"Belum sih sebenarnya! Pingin makan kamu, tapi masih puasa. Huft...."


"Apaan sih, Mas!" Aku mencubit perut suamiku.


"Au au... sakit sayang! Kamu suka banget sih nyubit aku!Mau aku hukum ya, hem?" Mas Haris menggelitik perutku.


"Stop, Mas! Aku gerah! Pingin mandi. Tapi kalau mandi aku ganti baju apa ya, Mas?


"Tenang saja, sementara pakailah kaosku."


"Baiklah! Aku mandi dulu klau begitu."


Untung saja aku membawa ****** ***** dan pemba*ut di dalam tasku. Karena memang untuk berjaga jaga takut tembus.


"Mas.. kaosnya mana?"


"Oh iya... apa sekalian mau pakai sarungku? Kamu kan juga suka pakai sarung!"


"Boleh deh!"


"Kamu ngapain ngintip di pintu, Dek? Ayo keluarlah!"


"Malu, Mas!"


"Aku sudah melihat semuanya. Tidak usah malu! Lagian aku sedang berpuasa."


Tanpa membantahnya aku keluar dari kamar mandi.


"Kaosnya di sebelah mana, Mas? Biar aku ambil sendiri."


"Di lemari pintu yang bagian tengah. Tumpukan paling atas. Sarungnya juga ada di bawahnya."


Saat aku membuka pintu lemari yang dimaksud. Aku mencoba mengambil, tapi tanganku tidak sampai karena terlalu tinggi. Tiba-tiba suamiku sudah berdiri di belakangku. Dan mengambilkan kaos untukku. Namun tidak sampai di situ, justru dia mendekapku dari belakang. Menghirup tengkukku.


"Wangi, sayang." Dia mengecup tengkuk dan leherku. Tangannya bertengger di kedua gindukanku. Aku meremang merasakannya. Munafik kalau aku bilang sedang baik-baik saja. Kenyataannya aku terlena dengan sentuhan suamiku.


Dengan sekali hentakan, Handuk yang aku pakai melorot ke bawah. Dan kini hanya tersisa pakaian dalamku saja.


"Mas, stop!"


"Aku tahu, Dek! Aku memang puasa. Tapi Bukankah tidak berdosa jika aku bermain dengan milikku yang ini." Mas Haris menunjuk dua gundukan yang saat ini dia rem*s.


Mas Haris hanya mencumbuku di bagian atas saja. Dia masih bisa menahan hasratnya. Sepertinya aku harus menjaga jarak dengan suamiku. Kalau tidak, bisa-bisa aku dimakan.


Kami terlelap sampai jam 4 sore. Aku terbangun dan baru sadar, kalau saat ini aku sedang di rumah mertuaku. Cepat cepat sku bangun dan mencuci muka. Lalu aku memakai kembali seragamku. Setelah rapi, aku membangunkan suamiku.


"Jam berapa, Dek?"

__ADS_1


"Jam 4 lewat, Mas. Kamu belum shalat Ashar."


"Oh.. iya. Baiklah aku akan bangun. Tapi kasih aku vitamin dulu!"


"Vitamin? Kamu mengkonsumsi vitamin apa, Mas? Ada di sebelah mana? Biar aku ambilkan!" Aku mencerca beberapa pertanyaan kepada suamiku.


"Bukan vitamin itu yang kumaksud, Dek! Tapi ini." Mas Haris tiba-tiba mencium pipiku. Sontak aku terkejut. "Seger.. kalau begini baru aku mau bangun. Ya sudah aku mau shalat dulu!" Mas Haris beranjak dari ranjang dan pergi ke kamar mandi.


Dia benar-benar susah ditebak, selalu membuat jantungku tidak berfungsi dengan normal. Batinku dalam hati.


Setelah selesai shalat, Mas Haris mengganti sarungnya dengan celana pendek berbahan jeans. Dia juga membawa beberapa baju dari dalam lemarinya.


"Ada lagi yang mau dibawa, Mas?"


"Emm... oh iya ada, tolong changger HP di atas nakas, sayang."


Setelah selesai merapikan bawaan, kami pamit kepada Ayah dan Ibu. Saat kami sudah di depan rumah, Nuri datang bersama kedua anaknya.


"Lha Kak, kok sudah mau pulang? Dari tadi yang ke sini?"


"Iya tadi habis jemput istriku dari sekolah, aku langsung ke sini."


"Mbak, nggak mau mampir dulu ke rumah?" Nuri menyapaku.


"Kapan-kapn ya, sekarang kami pulang dulu. Karena masih ada pekerjaan yang harus diselesaikan."


"Baiklah, kalian hati-hati ya."


"Iya, terima kasih. Dadah sayang! Tante dan Om pulang dulu ya!" Pamitku kepada Dito anak Nuri yang masih berusia dua tahun dan Dinda yang berusia empat tahun. Kalau anak pertamanya masih hidup, diperkirakan usianya enam tahun. Sebenarnya usia Nuri dua tahun lebih tua dariku. Tapi karena posisinya aku adalah Kakak Iparnya, maka dia memanggilku Mbak.


Aku dan Mas Haris mampir di warung bakso langgananku. Karena sudah lama aku tidak makan bakso.


"Bang, baksonya dua ya! Yang jumbo! Minumnya air putih saja."


"Siap, Mbak Raisya."


Aku dan Mas haris mencari tempat duduk.


Tidak lama kemudian, pesanan kami datang.


"Silahkan dinikmati Mbak Raisya, dan Masnya. Lama nggak ke sini, eh sekarang bawa gandengan nih!" Bang Jono melirik ke arah Mas Haris.


"Terima kasih, Bang. Iya, mumpung diboncengin suami."


"Owalah, suaminya toh? Pantesan... ya sudah! Monggo dilanjut, Mbak."


"Terima kasih, Bang."


"Iya sama-sama."


Kami menyantap bakso pesanan kami. Aku menambah sedikit garam dan satu sendok sambal ke mangkokku.


"Jangan banyak-banyak sambalnya, Dek! Nanti sakit perutnya. Kamu sendiri tadi bilang perutnya perih."


"Kan sakit perutnya karena datang bulan, Mas."


"Ya sudah, pokoknya jaga kesehatan."


Kami melanjutkan makan bakso. Setelah itu kami pulang ke rumah Abah.


Bersambung....


...****************...


Terima kasih sudah setia di karyaku kakak.


Jangan lupa supportnya😍😘


Author senang banget karya author yang pertama ini bisa diterima dengan baik, dan diminati banyak orang🤗


Mohon maaf kalau author cuma bisa up 1bab sehari, karena pekerjaan author di dunia nyata banyak😁

__ADS_1


Thank you and see you again....


__ADS_2