
Saat ini aku dan Abah sedang dalam perjalanan pulang. Aku duduk di samping kemudi.
"Gimana, Rai? Senang liburannya?"
"Alhamdulillah, Bah. Senang campur sedih."
"Kok gitu, kenapa?"
"Ya.. karena mau pisah sama kepala sekolah."
"Oh... Abah kira kamu sedih karena ada yang ketinggalan."
"Apa, Bah?"
"Nggak, bukan apa-apa..." Abah tersenyum dan kembali fokus menyetir mobil.
"Nak Haris itu guru di sekolah kamu juga ta, Rai?
"Bukan, Bah. Kak Haris anaknya Pak Rudi. Kepala sekolah Raisya yang akan Pensiun."
"Oh... Abah kira dia juga ngajar di sekolahmu. Anaknya Pak Rudi, toh? Abah manggut-manggut.
"Memangnya kenapa Abah tanya Kak Haris?"
"Tidak apa, hanya saja dia baik. Mau membawakan tasmu, apa dia sudah punya istri?"
"Belum Bah, masih single."
"Owh... iya iya, masuk kalau begitu."
"Masuk apanya, Bah?"
"Ah tidak apa-apa. Oleh-oleh untuk Ummimu sudah kamu masukkan ke dalam semua, kan?"
"Sudah, Bah." Aku masih bingung dengan perkataan Abah. Tapi aku iya-kan saja.
Tidak lama kemudian kami sampai di rumah. Ternyata di rumah sudah ada Sofi dan Zie. Abah menurunkan tas dan bawaanku dari dalam mobil. Aku dan Abah mengangkut dan membawa ke dalam rumah.
"Tante... Zie mau oleh-oleh."
"Tentu sayang, Tante sudah belikan khusus buat Zie. Tenang saja!"
"Horee...!!!" Ujar Zie girang sambil meloncat-loncat.
"Oleh-oleh buat Ummi mana, Rai?"
"Tenang, Ummi. Rai udah belikan daster, sarung bali pie susu dan pie coklat untuk Ummi."
"Yah... kirain Ummi dapat Bule!"
"Dih, Ummi! Genit banget!" Ujar Sofi.
"Ya, maksudnya bule buat jadi mantu Ummi gitu."
"Haha..." Kami tertawa bersama.
Aku membongkar tas yang khusus oleh-oleh.
Untuk Zie, aku sudah membelikan dua setel baju Bali, sandal lucu, dan pernak-pernik khas Bali. Untuk Sofi sama dengan Ummi. Aku juga membelikan oleh-oleh untuk si kembar dan Alif, anaknya Mbak Rindi. Tak lupa aku membeli oleh-oleh untuk Bibiku dan saudara Ummi yang lain. Meski hanya sekotak Pie Pie susu dan sekolah pie coklat, yang penting ada untuk mereka.
Saat akan membongkar Tas hampers khusus Abah dan Irfan aku menemukan sebungkus kotak yang dilapisi kertas kado warna biru.
Perasaan ini bukan punyaku. Apa punya Bu Hesti?
"Apa ini, Mbak?" Sofi bertanya karena penasaran.
"Oh..ini bukan punya Mbak. Tapi punya Bu Hesti."
"Oh..
Setelah puas bongkar-bongkar aku masuk ke kamar, membawa tas bajuku yang berisi baju kotor. Sebagian memang ada yang sudah dicuci saat di hotel.
Di kamar, aku langsung menghubungi Bu Hesti.
"Assalamu'alaikum, Bu."
"Wa'alaikum salam, iya Bu. Baru saja berpisah udah nelpon, kangen dengan aku, Bu?"
"Ish, anda Pede sekali! Bu, apa ada barang Ibu yang hilang?"
"Sepertinya tidak ada Bu, ini aku sedang membongkar bawaanku."
"Ada kotak pakai kertas kado warna biru di dalam bawaanku. Tapi aku tidak merasa punya itu."
"Aku juga, Bu. Aku tidak merasa punya barang itu. Coba dibuka saja, Bu!"
"Tidak, Bu! Itu bukan milikku. Aku tidak berhak membukanya."
"Bentar deh, Bu! Tadi yang bawakan barang Ibu Pak Haris, Kan?"
"I-iya, tadi dia yang bantuin."
"Mungkin nggak kalau itu punya dia? Atau memang sengaja diberikan untuk Ibu?
__ADS_1
"Ah, ngaco! Kira-kiranya kelewatan banget, Bu. Terus aku harus bagaimana ini?
"Ya tanya saja sama Pak Haris!"
"Aku tidak punya nomor HP-nya! Sebentar Bu, ada telpon masuk. Matikan saja dulu, Bu." Ada nomor baru memanggil. Aku langsung mengangkatnya, tidak biasanya aku peduli dengan nomor yang tidak aku kenal.
"Hallo...Assalamu'alaikum." Ucap seorang pria di seberang sana."
"Wa'alaikum salam."Jawabku.
"Bu Raisya, ini aku."
"Kak Haris?"
"Rupanya kamu sangat hafal dengan suaraku."
"Dari mana Kak Haris dapat nomor saya?"
"Tidak penting dari mananya, yang penting sekarang adalah... tolong dengarkan aku baik-baik! Maaf tadi saat sku mengangkat barangmu, aku sudah lancang menaruh sesuatu di dalam tas bawaanmu. Tolong dibuka, itu bukan bom."
"Jadi ini milik Kak Haris?"
"Tadinya itu milikku, tapi aku sengaja memberikannya kepadamu. Ini nomorku, tolong disimpan. Ya sudah, istirahatlah! Kamu pasti lelah, Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikum salam."
Dia susah ditebak, suka maksa, tapi aku suka. Tidak... tidak... apa tadi kamu bilang, Rai? Kamu suka? Yaiyalah suka, kalau tidak
ngapain kamu pakai gelangnya?
Aku membuka kado berbungkus kertas kado berwarna biru, warna kesukaanku. Ternyata isinya adalah sebuah gamis biru berbahan katun airflow warna biru muda dan jilbab segi empat berwarna Biru dengan motif bunga-bunga kecil.
Manis sekali! Dari mana dia tahu aku suka warna biru? Batinku dalam hati.
Ada sebuah kertas di dalamnya.
Dear Pengusik Hati...
Apa kabarmu hari ini? Maaf jika aku masih memakai cara jadul untuk mengungkapkan perasaanku. Aku sudah tidak peduli lagi kamu mau memakai gelang itu atau tidak. Yang terpenting bagiku, aku akan berusaha meyakinkanmu. Karena aku sudah jatuh hati padamu.
Kau tahu? Mimpi itu bukan kebetulan. Allah sudah menunjukkan jalannya dari 3tahun lalu. Tapi aku baru bisa menemuimu beberapa hari ini.
Aku yakin kamu adalah jodoh yang dikirim Allah untukku. Di dalam mimpiku, kamu memakai pakaian serba biru. Jadi aku sengaja membelikan gamis dan jilbab warna biru. Aku tidak terlalu mengerti style perempuan. Kuharap kamu menyukainya.
Dari Pangeran Berkudamu 😊
Pede aja ya, Bu. Karena aku orangnya over Pede.
-
"Tok"
"Tok"
"Tok"
"Mbak... tidur kah?"
Aku segera menyimpan barang dari Kak Haris.
"Buka saja dik, aku nggak tidur."
Sofi membuka pintu kamarku.
"Kayaknya seneng banget, Mbak? Ketemu bule ya?"
"Kalau bule mah banyak."
"Nggak foto sama bule?"
"Nggak tuh! Ngapain juga. Ada sih foto sama bule tapi bareng rame-rame.
" Liburan masih panjang, Mbak. Ada rencana ke mana lagi?"
"Nggak mau ke mana-mana. Paling cuma mau ke rumah Nenek lusa atau 3 hari lagi. Mau ngasih oleh oleh untuk Bibi."
"Mbak, di sekolah Mbak ada yang namanya Pak Anton nggak?"
"Ada, Pak Anton itu Wakil kepala sekolah. Memangngnya kenapa, Dik?"
"Waduh, sudah tua dong?"
"Ya nggak juga, umurnya masih 40 tahun sudah beristri dan punya anak. Ngapain tanya-tanya Pak Anton?"
"Wah jangan-jangan dia berniat untuk menjadikan Mbak istri kedua?"
"Apaan sih, aku nggak paham maksudmu, Dik!"
"Pak Anton tanya-tanya tentang kamu ke Mas Irfan beberapa hari yang lalu."
"Oh... ya mungkin cuma nanya saja. Pak Anton orangnya baik, dia nggak pernah tuh macem-macem sama Mbak."
"Ya... kan aku cuma mengira Mbak, hehe..."
__ADS_1
Aku hanya geleng kepala menghadapi Sofi.
Setelah shalat Maghrib Irfan menjemput Sofi. Irfan masuk menuju kamar Abah. Sepertinya dia membicarakan hal penting. Tidak biasanya dia masuk ke kamar Abah dan Ummi.
"Dik, suamimu ada perlu apa sama Abah? Kok kayaknya serius banget?"
"Nggak tahu, Mbak! Kali aja mau pinjam uang buat tambahan modal. Haha..."
"Kebalik dik, yang ada Abah mau pinjam sama Irfan."
Ummi masih memangku Zie di ruang keluarga. Aku melihat kasih sayang luar biasa di mata Ummi untuk cucu satu-satunya itu.
"Dik, nambah lagi gih! Zie udah besar bentar lagi TK! Kan enak, mumpungbmadih muda. Kamu juga udah nggak ada tanggungan kuliah."
"Ngomongnya enak banget sih, Mbakku ini! Mbak aja gih sana cepetan nikah! Kasih Ummi dan Abi cucu yang banyak."
"Yee... Disuruh malah nyuruh!"
Setelah 20 menit Irfan di kamar Abah, akhirnya mereka keluar. Sepertinya dari raut wajah mereka tidak ada yang serius. Tapi mereka malah tersenyum sumringah.
"Kami pulang dulu, Bah!" Pamit Irfan.
"Zie nginep sini ya? Tidur sama Nenek."
Zie menggelang tanda tidak mau. "Ya sudah kalau tidak mau, tapi besok ke sini lagi ya?"
"Iya Nek."
Akhirnya mereka pergi meninggalkan rumah Abah.
"Bah, tadi Irfan ngomong apa?" Ummi penasaran.
"Oh... ada deh! Rahasia perusahaan."
"Dih si Abah! Nggak baik main rahasia sama istri!"
"Ummi suka ember sih!"
"Ayolah, Bah!" Ummi merayu Abah agar diberitahu. Aku hanya tersenyum melihat mereka.
"Ummi sama Abah kalau mau bermesraan masuk kamar saja. Rai takut baper." Ujarku menahan tawa.
"Sini-sini Mi, Abah bisikin!"
Abah menarik tangan Ummi dan masuk ke dalam kamar.
Aku masuk ke kamarku dan melihat kotak pemberian Kak Haris. Aku tersenyum sendiri melihat gamis dan jilbab di tanganku.
Dicoba dulu kali ya! Batinku dalam hati.
Aku-pun melepas baju yang kupakai dan mencoba gamis pemberian Kak Haris.
"MasyaAllah, Pas banget ini ukurannya. Kok bisa ya? Dia tahu gitu ukuranku?" Lirihku seorang diri.
Aku kembali mencoba memadukan dengan jilbabnya. Aku berputar di depan cermin. Sesaat kemudian ada notif di HP-ku. Ternyata laporan bulanan dari Winda, karyawan di butikku. Aku-pun membalasnya. Sudah 1 minggu aku tidak mengunjungi butik. Mungkin besok aku akan ke sana. HP-ku berdering ada panggilan dari Kak Haris. Aku sudah memberi ama nomornya di HP-ku.
"Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikum salam..."
"Iya Kak, ada apa?"
"Ada rindu..." Dia mulai menggombal.
"Lagunya Evi Tamala dong!" Ujarku sambil tertawa kecil.
"Serius, Bu."
"Kak, tolong jangan panggil Ibu. Kakak bukan anak didikku."
"Tapi kamu calon Ibu dari anak-anakku."
"Mulai deh... "
"Maaf-maaf bukan maksud menggombal kamu. Tapi aku serius, lagi rindu. Dosa ya kalau aku merindukanmu?"
Aku tertegun dengan ucapannya. Bingung harus menjawab apa.
"Oh iya karena kamu panggil aku Kakak, aku akan memanggilmu, Dek."
"Terserah Kak Haris saja!"
"Kamu belum menjawab pertanyaanku dek. Apa aku berdosa jika merindukanmu?"
"Aku yakin Kak Haris hanya mengetesku. Tapi akan aku jawab, maaf kalau jawabanku tidak sama dengan yang Kakak pahami. Rindu bukan sebuah dosa jika tidak disertai dengan maksiat, Kak. Karena rindu bukan kita yang ciptakan, tapi hati yang merasakan. Jangan membayangkan sesuatu yang belum halal untukmu. Rindu akan menjadi pahala jika kita merindukan pasangan halal kita."
"Kalau begitu, aku akan segera menghalalkanmu." Ucapannya terdengar serius.
"Uhuk Uhuk..." Aku tersedak air ludahku sendiri.
Bersambung.....
Nantikan Part selanjutnya kakak
__ADS_1
terima kasih selalu support karya pertama aku.
See you again...