
Keesokan harinya, di pagi hari Kak Haris menelponku.
"Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikum salam."
"Lagi ngapain, dek?"
"Baru selesai masak, Kakak sendiri?
"Baru selesai sarapan, jadi belum sarapan kamu, Dek?
"Sebentar lagi, Kak."
"Dek, tolong persiapkan semua berkas untuk didaftarkan ke KUA ya! Jangan lupa juga pas fotonya. Karena besok atau lusa mau aku daftarkan.
"Iya, Kak."
"Dek, boleh nggak aku minta sesuatu?"
"Apa itu?"
"Mulai sekarang tolong jangan panggil aku, Kak! Aku bukan Kakakmu! Belajarlah memanggil Mas! Agar nanti kalau sudah menikah kamu terbiasa, Bisa dek?"
"Baik, Mas."
"Nah, gitu. Kedengarannya kan lebih romantis." Ujarnya. Sepertinya dia sedang tersenyum di ujung sana. Meski aku tidak bisa melihat tapi aku tahu dari nada bicaranya.
"Sudah, cuma itu yang diminta?" Tanyaku dengan polos.
"Iya cukup itu dulu, minta yang lainnya nanti saja kalau sudah halal. Aku masih sabar kok!Ya sudah kamu sarapan dulu ya. Aku mau berangkat kerja. Assalamu'alaikum."
Aku tersenyum mendengar perkataannya.
"Wa'alaikum salam, Hati-hati Mas."
...----------------...
Hari demi hari datang silih berganti, tidak terasa hari ini adalah hari pernikahanku. Wktu berjalan begitu cepat. Semua urusan pernikahan diatur oleh kedua pihak keluarga. Acara digelar di rumah kami jam 1 siang.
Saat ini aku sudah dimake-up oleh salah satu MUA yang masih kerabat Ummi.
"Udah selesai, cantiknya! Kalau kayak gini mirip Ummimu."
"Terima kasih ,Tante."
"Iya sama-sama, Raisya."
Sudah jam 2 siang, tapi iringan pengantin belum juga datang. Aku sudah mulai gelisah. Nomor telpon Mas Haris tidak dapat dihubungi. Dalam hati aku sangat khawatir, sampai memikirkan sesuatu yang tidak baik.
Apa iya, tiba-tiba saja Kak Haris berubah pikiran? Dia kabur sebelum menikahiku, atau ada hal lain?
Saat ini aku sedang di kamar. Sofi memberi isyarat agar aku tenang, dan semua baik-baik saja.
Maafkan aku ya Allah, sudah berpikiran yang tidak-tidak.
Jam 14.30 datang rombongan iringan pengantin. Akhirnya apa yang aku khawatirkan tidak terjadi. Mas Haris datang dengan senyum sumringah, dan digandeng oleh kedua iparnya. Ternyata mereka terlambat sampai di rumah karena di jalan macet. Ada penggalian untuk pemasangan kabel bawah tanah. Sehingga jalur yang bisa dipakai hanya sebelah kanan saja.
Akad-pun berlangsung. Dengan sekali ucapan dan penuh keyakinan.
"Sah sah!" Ucap para saksi.
"Alhamdulillah..."
Mataku berkaca-kaca mendengarkannya, namun aku tahan agar tak jatuh. Sofi memberiku selembar tisu untuk menghapus air bening di sudut mataku.
Alhamdulillah ya Allah, terima kasih sudah mempermudah segala urusan kami. Terima kasih sudah menyiapkan jodoh yang terbaik untuk Hamba. Semoga ini untuk yang terakhir kali. Amin....
Ijab qobul terlaksana dengan lancar. Do'a untuk pengantin dibacakan. Aku dituntun untuk menghampiri pengantin pria. Dengan balutan gaun muslimah berwarna putih aku berjalan menuju suamiku digandeng oleh Sofi.
Aku mencium punggung tangannya untuk pertama kali. Tangannya sangat dingin. Tangannya kirinya menyentuh pundakku. Sungguh ini sangat menggetarkan hatiku. Aku sangat berbeda dengan kejadian 6 tahun lalu. Kemudian Mas Irfan membaca do'a dan meniupkan di keningku. Fotografer mengambil gambar.
"Tunggu, tahan dulu ya Mas! Sip, Oke!" Kata sang fotografer. "Cium keningnya, Mas! Jangan malu-malu! Udah halal." Ujarnya lagi.
Dengan kepedeannya, Mas Haris mencium keningku seperkian detik. Sampai akhirnya sang fotografer menyudahi. Setelah menandatangani buku nikah, Kami dituntun untuk duduk di pelaminan.
__ADS_1
Suamiku menoleh kepadaku dan menggenggam tanganku. "Sayang, kamu cantik!" Ucapan itu yang pertama kali diucapkan oleh suamiku saat kami duduk di pelaminan. Tentu saja hatiku menghangat menerimanya. Saat acara foto bersama, Mas Haris tak segan menggandengku bahkan merangkulku. Kami memberikan senyum terindah untuk para undangan yang hadir dan mendo'akan kami. Kami berganti pakaian satu kali lagi, dengan tema warna toska. Semua sanak keluarga dan para sahabat memberi ucapan dan foto bersama kami.
Jam 16.00, acara sudah berakhir. Sebagian dari keluarga ada yang masih belum pulang. Ada beberapa teman uang juga baru sampai.
"Rai, maaf ya! Aku telat.'?" Kata Fifi
"Yah... nggak bisa foto bareng di pelaminan, aku juga sudah lepas gaun ini, Fi."
"Foto disini saja ngak apa. Ayo kita selfi dulu."
Kami-pun foto bersama.
"Maaf ya, Rai. kami tidak bisa lama-lama. Si kecil nggak dibawa soalnya. Semoga kamu segera diberikan kepercayaan oleh Allah. Pokoknya langgeng deh." Fifi menyerahkan kadonya kepadaku.
"Amin, terima kasih, Fi."
"Iya sama-sama."
Aku masuk ke dalam kamarku yang xihias sederhana. Dan segera menghapus make-up, karena belum shalat Ashar. Mas Haris sedang shalat di musholla rumah.Karena make-up anti air, jadi sedikit susah menghapusnya.
Tuba-tiba suamiku masuk ke dalam kamar. Dia memperhatikan aku yang sedang duduk di kursi meja rias.
"Dibuka dulu jilbabnya, dek! Biar nggak susah ngapusnya." Ujar Mas Haris, sudah berdiri di belakangku.
"Aku bukain ya?" Aku hanya mengangguk, seperti terhipnotis oleh kata-kata suamiku. Aku memang hanya memakai iner hijab berwarna putih. Rambutku dikuncir dan digulung menjadi satu. Saat ini suamiku sudah melihatku tanpa penutup kepala. Kulihat jakunnya naik turun memandangku.
"Mau aku bantu menghapusnya, dek?" Ujar Mas haris mengambil kapas yang aku pakai untuk menghapus make-up.
"Ah... ti-tidak usah, Mas! Sudah tinggal sedikit lagi." Jawabku gugup.
"Ya sudah, aku telpon teman dulu, mau minta tolong agar membawa motorku ke sini."
"Iya, Mas." Jawabku.
Akhirnya wajahku sudah bersih dari make-up. Aku segera mandi dan keramas, karena rasanya gerah sekali.
Saat keluar dari kamar mandi aku sudah memakai gamis rumahan dan handuk di kepalaku. Sontak Mas Haris menoleh ke arahku. Dia sedang duduk di tempat tidur, dengan posisi kaki berselonjor dan menyandar di kepala ranjang. Matanya tak beralih memandangku. Membuat jantungku semakin berdebar tak karuan.
Seperti ada singa di depanku, ih sereemmm!
"Oh I-iya, Dek."
Aku keluar ke musholla dengan memakai jilbab instan. Aku tahu di rumah masih banyak keluarga yang belum pulang. Karena sebagian akan menginap di rumah. Setelah shalat Ashar, aku kembali ke dalam kamar. Rupanya Mas Haris terlelap, mungkin dia mengantuk. Aku biarkan dia tidur, dan aku keluar bergabung dengan yang lain.
Adzan Maghrib berkumandang. Aku kembali ke kamar dan membangunkan Mas Haris.
Kupandangi wajah lelahnya.
Masyaallah, betapa indah ciptaanmu. Hidung yang mancung seperti huruf Alif, Alis tebal, paras yang tampan. Sungguh ini halal untuk aku pandangi.
"Mas, bangun." Aku menyentuh lengannya.
"Mas, sudah adzan Maghrib." Aku berbisik di telinganya.
"Hoam...! Ah... aku ketiduran ya, Dek?" Mas Haris mengucek matanya.
"Iya, Mas. Ngantuk banget ya?"
"Iya, semalam tidur cuma satu jam. Teman-teman ngajak jagongan. Kalau begitu aku wudhu dulu ya! Makasih sayang, udah dibangunin." Ucapnya dengan tersenyum dan menyentuh pipi kananku dengan sebelah tangannya. Kemudian masuk ke dalam kamar mandi.
Aku terpaku di tempat. diperlakukan seperti itu saja, hatiku sudah meleleh.
"Shalat di kamar saja, Mas. Kita berjamaah. Sebentar aku ambilkan karpet dan sajadah."
"Baiklah."
"Aku mau ambil wudhu' dulu, tadi batal gara-gara Mas pegang." Dia hanya mengangguk dan tersenyum.
Akhirnya kami-pun shalat berjamaah. Tidak lupa kami berdo'a kepada sang pencipta. Selesai shalat. Aku mencium punggung tangannya. Kemudian Mas Haris mencium keningku. Aku menunduk malu.
"Dek, kenapa? malu?" Mas Haris bertanya dengan nada menggoda. Aku hanya mengangguk.
"Coba lihat aku!" Perintahnya.
Ucapan suami adalah perintah bagiku. selama itu tidak bertentangan dengan syariat islam.
__ADS_1
Aku-pun memberanikan diri untuk menatapnya. Mas Haris menggenggam kedua tanganku.
"Kamu sudah halal untukku. Begitu-pun sebaliknya. Aku yakin kamu lebih tahu dariku apa saja kewajibanmu. Saat ini aku hanya akan bilang terima kasih sudah mau menerimaku yang masih banyak kekurangannya ini. Aku tidak bisa berjanji untuk membuatmu selalu bahagia. Tapi aku akan berusaha untuk tetap di sampingmu sampai maut memisahkan kita."
Mendengar ungkapannya mataku berkaca-kaca.
"Aku yang berterima kasih, Mas. Kamu sudah mau menerimaku dan masa laluku. Menjadikan aku wanita yang sempurna dengan ijab dan qobulmu. Terima kasih sudah memilihku menjadi pendamping hidupmu." setitik air bening jatuh di pipi.
"Lho... kok nangis. Belum apa-apa, Mas udah bikin kamu nangis ya!" Ujar Mas Haris seraya mengusap air mataku.
Tok
Tok
Tok
Suara ketukan pintu kamarku.
"Rai... Ayo makan malam. Ajak suamimu sekalian!" Suara Ummi dari depan pintu kamar.
"Iya, Ummi. Tunggu, sebentar lagi kami keluar."
Aku Dan Mas Haris keluar dari kamar. Kami bergabung untuk makan bersama dengan yang lain. Ruang keluarga menjadi tempat kami berkumpul makan lesehan. Ada orang tuaku, Bibiku, Sofi dan suaminya, Mbak Rindi, dan sepupuku yang lain. Suasana menjadi ramai, kami makan dengan suasana meriah. Karena banyak anak-anak dari mereka yang masih balita.
"Manten baru makan yang banyak, biar tenaganya kuat." Ujar Mas Rendy.
"Ah iya benar tuh!" Sahut Sofi.
"Hahaha...." Mereka tertawa bersama. Aku dan Mas Haris hanya bisa tersenyum.
Selesai makan kami Shalat Isya'. Lalu beberapa dari mereka pulang satu persatu. Tinggal Bibi dan Sofi yang masih menvinap di rumah.
Aku masuk ke kamar, Dan hendak berganti piama. Tiba-tiba suamiku masuk, aku langsung bersembunyi di balik lemari.
"Dek, kamu ngapain?"
"Stop, Mas! Jangan mendekat! A-aku lagi ganti baju." Uajarku melarangnya. Namun laranganku tak dihiraukan. Dia malah berjalan semakin mendekat. Untung saja aku sudah memasang semua kancing piama. Hanya saja, aku belum sempat memakai jilbabku kembali.
"Tidak usah dipakai Jilbabnya! Kita cuma berdua, tidak ada orang lain."
"Iya, Mas."
Aku menggantung pakaian yang aku ganti. Kemudian Mas Haris mengajakku shalat sunnah dua rakaat sebelum tidur. Aku tidak bisa tidur dalam keadaan terang. Mas Haris mematikan lampu. Kami merebahkan diri di atas kasur. Aku melihat suamiku tidur membelakangiku. Aku-pun membelakanginnya. Namun ternyata aku tidak bisa tidur. Rasanya panas dingin, hatiku gelisah. Balik ke kanan lalu balik lagi ke kiri. Bayang-bayang 6 tahun lalu kembali mengusik pikiranku.
Tidak Rai, ini beda. Kamu tidak akan merasakannya untuk yang kedua kalinya. Yakinlah kamu akan bahagia. Batinku dalam hati.
Mas Haris tiba-tiba berbalik mrnghadap kepadakuku.
"Kamu belum tidur, dek?"
deg
Aku terkejut sekaligus grogi.
"B-belum, Mas."
"Sama! Sini Mas peluk." Dia menggeser posisinya dan mendekat padaku. Memelukku dari depan.
Duh... begini rasanya dipeluk suami?
Suasana terasa panas, bukan semakin mengantuk, tapi semakin tak bisa tidur.
"Dek, boleh aku menciummu?" Meski sudah halal, suamiku masih meminta ijin.
"He'em..." Hanya itu yang mampu aku ucapkan seraya menganggukkan kepala. Karena otakku mulai ngeblank.
Bersambung......
Maap pending dulu😅
Author jadi dag dig dug mau nulis cerita malam pertamanya. 🤣🤣🤣
Terima kasih masih setia di sini kakak readers.
I love you sekebon buat kalian😘😘😘
__ADS_1
See you again....