
Satu tahun berlalu begitu cepat. Aku masih setia dalam kesendirianku. Bukan aku tidak ingin membuka hati, tapi saat ini aku belum menautkan hati pada seseorang. Ada beberapa laki-laki yang mendekatiku, tapi nyatanya aku belum tertarik. Di antara mereka ada yang berprofesi sebagai dokter, PNS, Pengusaha, bahkan seorang Manager Bank. Tapi bukan profesi yang aku cari, melainkan kecocokan hati. Aku tahu dari beberapa orang yang mendekati, pasti ada campur tangan keluargaku. Entah itu orang tuaku, adikku, bahkan Mbak Rindi. Tapi aku pura-pura tidak tahu. Biarkan mereka melakukan apa yang menurut mereka baik. Aku sangat mengerti, mereka ingin memberikan yang terbaik untukku. Meskipun mereka melakukan secara diam-diam, tapi mata hatiku tidak bisa dibohongi. Aku sangat peka terhadap sesuatu yang ada di hadapanku.
Satu minggu yang lalu Sofi sudah diwisuda. Dia telat satu semester karena pernah ambil cuti melahirkan. Meski begitu, Sofi tidak beeniat untuk bekerja. Meskipun Irfan tidak melarangnya. Dia lebih memilih untuk menjadi Ibu rumah tangga dan membantu usaha suaminya. Dia juga ingin sepenuhnya merawat dan melihat pertumbuhan Baby Zie. Kini Baby Zie sudah berusia dua tahun, sedang lucu-lucunya. Sudah bisa berjalan dan berbicara meskipun masih cadel.
Kehidupan yang aku jalani mungkin agak sulit, dan tidak semulus hidup Sofi. Rejeki kita sudah diatur dan dibagi sedemikian rupa. Tak baik jika membandingkan hidup kita dengan orang lain. Dan aku sangat yakin setelah hujan akan ada pelangi. Entah kapan pelangi itu datang.
...----------------...
Saat ini aku sedang di Sekolah. Kami sedang melakukan acara kelulusan siswa kelas 9 dan kenaikan kelas. Acara diadakan Sabtu pagi di di lapangan sekolah. Selain wisuda kelas 9, ada pentas seni dan juga pembagian hadiah untuk siswa berprestasi dan lomba-lomba yang diadakan sekolah saat class meeting.
"Untuk pembagian rangking kelas 8B, kami mohon kepada Ibu Raisya Azkiya, Spd. untuk memberikan hadiah." Ujar Pak Han selaku pembawa acara.
Aku-pun naik ke atas panggung, ditemani Pak Gunawan yang membawakan hadiah. Hal itu-pun tidak luput dari tinjauan guru-guru. Mereka masih saja tak gentar menjodohkan-jodohkan kami.
"Naik panggung sudah barengan, Pak Gun! Kapan naik pelaminan?" Ujar Pak Sapto saat kami turun dari panggung.
"Kalau Bu Raisya yes, sekarang juga boleh, Pak!" Jawab Pak Gunawan
"Kalau tidak bilang ke orangnya, ya nggak akan yes-yes, Pak!" Aku hanya tersenyum dengan candaan mereka.
"Jangan diambil hati, Bu. Mereka hanya bercanda." Ucap Pak Gunawan kepadaku.
"Tenang saja, Pak. Saya sudah kebal." jawabku dengan tersenyum.
"Tapi kalu hati Ibu aku ambil, gimana?" Canda Pak Gun.
"Nggak usah jadi seperti Ridwan Pak! Atau jangan-jangan Ridwan itu belajar menggombal ke Bapak ya?"
"Hahaha... bisa saja Ibu ni."
Acara demi acara telah dilaksanakan. Saat ini siswa,sedang berfoto dengan keluarga dan temannya masing-masing.Kami juga berfoto brsama untuk kenang-kenangan. Ada beberapa siswa yang minta berfoto denganku. Termasuk Ridwan, anak itu memang tengil. Tapi selalu bisa membuatku tersenyum.
"Maaf bu boleh saya minta foto dengan Ibu?
"Iya boleh."
"Tapi ini fotonya bukan pakai background biru ya Bu. Karena saya belum cukup umur untuk menikahi Ibu." Ujar Ridwan
"Huu... Dasar kamu Wan! Haha..." Doni yang diminta untuk mengambil foto kami tertawa mendengar ucapan Ridwan.
"Kan lagi usaha, Don! Bu jangan lupakan saya walaupun sudah tidak di kelasnya Ibu ya?" Aku hanya tersenyum mendengar keduanya.
"Iya Wan, kamu kan masih di sekolah ini. Sudah ayo, jadi nggak ini? Kalau nggak Ibu mau ke aula!"
__ADS_1
"Jadi jadi, Bu! Ayo, Don! Fotoin, yang bagus lho! Buat nanti aku kasih tahu ke Ibuku, kalau ini foto calon mantunya." Ujar Ridwan dengan gaya tengilnya.
"Ibu jewer kupingmu, mau Wan?" Candaku.
"Eh, jangan Bu! Maaf Bu, saya hanya bercanda. Biar Ibu nggak capek, hehe..."
Kami para dewan guru saat ini berkumpul di aula untuk makan bersama. Ada beberapa menu yang dihidangkan. Setelah makan kami membereskan semuanya.
Setelah itu aku bersiap untuk pulang ke rumah. Tapi saat di tengah perjalanan, ban motorku kempes. Aku berhenti di jalan yang cukup sepi. Tiba-tiba seorang pengendara sepeda motor menghampiriku. Dan ternyata itu Pak Handrik.
"Kenapa, Bu?"
"Oh, ini Pak ban saya kempes."
"Di depan sekitar satu kilo meter lagi ada tempat tembem ban, Bu. Mungkin bisa tambah angin di sana."
"Oh, ya sudah kalau begitu biar saya pakai saja, Pak! Mungkin masih bisa kalau cuma satu kilo meter."
"Jangan, Bu bahaya! Begini saja, saya yang akan menuntun sepeda Ibu. Ibu pakai Sepeda saya, tunggu saya di sana nanti.
"Tidak, Oak! Biar saya saja yang menuntun kalau begitu. Bapak lanjutkan saja untuk pulang. Saya tidak apa-apa.
"Tidak bisa begitu bu. Begini saja Ibu naik ke motornya, nantik saya bantu dorong dengan kaki dari samping."
"Insyaallah tidak! Karena jalan di sini sepi asalkan minggir jalannya bu."
"Baik Pak, kalau begitu. Terima kasih sebelumnya."
"Iya bu." Pak Han mulai menghidupkan motornya. Dan mendorong motorku dengan kakinya."
Tidak lama kemudian kami sudah sampai di tempat tembel ban.
"Bang, tambah angin ya!" Ujar Pan Han kepada pemilik tembel ban."
"Siap, Pak guru!"
Setelah ban dipompa, aku hendak membayar. Tapi Pak Han sudah mendahuluiku.
"Terima kasih, Bang."
"Sama-sama, Pak Guru! Ngomong-ngomong yang ini lebih cantik dari yang waktu itu." Bisik tukang tambal ban, kepada Pak Han. Tapi aku mendengar, karena aku berada tidak jauh dari mereka.
"Si Abang! Bisa saja! Yang ini susah dapatnya!" Balas Pak Han.
__ADS_1
"Haha... usaha, Pak Guru! Anda pasti bisa!"
"Sudah, Bang! Saya permisi dulu."
"Emm.. Pak Han, sekali lagi terima kasih ya, Pak!"
"Iya, Bu! Sama-sama. Mari Bu dilsnjutkan perjalanannya."
"Iya Pak, hati-hati."
"Ibu juga."
Kami-pun pulang ke arah masing-masing.
Sampai di rumah aku membersihkan diri, dan beristirahat di tempat tidur. Karena memang dua hari ini aku libur shalat karena datang bulan.
Aku baru ingat beberapa hari yang lalu, ada coklat di atas mejaku di kantor sekolah. Dengan secarik kertas kecil yang bertuliskan "For Bu Raisya." Aku malu hendak bertanya kepada Bu Lilik atau yang lain. Takut akan menjadi fitnah, atau gosip yang tidak berfaedah. Tapi aku penasaran, karena hari ini aku dapat lagi di mejaku. Dengan coklat yang sama dan tulisan yang sama. Aku memang sangat suka coklat, jadi dengan menyebut nama Allah aku tetap makan coklat itu tanpa tahu siapa yang memberi.
Aku membuka tas yang aku bawa ke sekolah tadi. Kali ini aku sedang memperhatikan coklat yang ada di tanganku, dan secarik kertas kecil dengan tulisan yang sama persis. Aku mengingat-ingat tulisan siapa itu.
Masa iya, muridku? Tapi kapan mereka masuk ke dalam kantor? Atau jangan-jangan pengagum rahasia? Ah... seperti di sinetron saja.
Ada notif di HP-ku, saat kulihat ada pesan. Ternyata nomor Pak Handrik. Aku tahu karena baru saja aku cek di grup chat guru. Aku memang tidak pernah menyimpan nomor guru kecuali Kepala sekolah, TU dan guru perempuan. Karena informasi sekolah akan kami dapat di grup chat guru. Kecuali persoalan pribadi.
Pak Handrik menanyakan apa aku sudah sampai di rumah. Karena khawatir ban-ku kempes lagi. Aku membalas dengan apa adanya.
Setelah acara wisuda, dan penerimaan raport untuk kelas 8 dan 9 sekolah libur dua minggu. Tentu saja akan menjadi hari tidur panjangku. Karena aku akan lebih sering menghabiskan waktu di kamar.
"Rai, besok kita pulang ke rumah Nenek mu ya! Kamu tidak lupa kan lusa hasilnya Kakakmu. Sofi dan Irfan juga ikut pulang besok." Umii mengingatkanku saat kami makan malam.
"Iya, Ummi."
Aku baru ingat, lusa adalah haul kakek atau hari peringatan kematian kakekku. Kami memoeringati menurut tnggal hijriayah bukan masehi. Biasanya kami akan pulang ke rumah Nenek untuk mengadakan hajatan kecil-kecilan di sana.
Segera aku mengirim pesan ke Fifi, kalau besok aku akan pulang. Saat ini Fifi sudah memiliki bayi yang berusia 3 bulan. Dia hamil saat satu tahun lalu suaminya pulang dari rantauan. Aku memang belum sempat menjenguk bayinya, karena kesibukanku.
...****************...
Maaf kalau bosenin ceritanya ya kak, tapi aku bikin ceritanya senatural mungkin. Karena ini cerita tidak terinspirasi dari cerita orang lain melainkan dari ideku sendiri.
Terima kasih yang sudah selalu mensupport karyaku.
See you again....
__ADS_1