
Seketika Pandanganku dan Mas Firman bertemu, aku langsung menundukkan diri. Luka lama seakan menganga lagi. Aku tidak sanggup untuk berkata. Kali ini aku sudah paham dengan keadaan ini. Bahwa kenyataannya Septi adalah Istri Mas Firman. Itu berarti Mas Firman adalah adik ipar Mas Faisal.
"Nak Raisya!" Panggil Ibu Setya, karena aku tak kunjung menjawab.
"Jadi ini calonnya Kak Ical, Bu?" Ujar Septi.
"Kamu? Bukannya kamu...."
"Dek, ini calon kakak iparmu!" Mas Faisal datang dan menimpali.
Aku ingin beranjak dari hadapan mereka, tapi kakiku rasanya lunglai. Aku seakan rak memiliki tenaga untuk melangkah.
"Oh, tidak! I-ini tidak mungkin, Kak!"
"Apa maksudmu, tidak mungkin?"
"Kak! Dia mantan istrinya Mas Firman!" Septi menunjuk tepat di wajahku. Mas Firman hanya diam mematung.
"Apa?" Ucap Mas Faisal dan Ibu Setya bersamaan. Mereka tentu sangat terkejut.
Saat aku akan pergi, Mbak Rindi mencegahku. Justru Mbak Rindi memberikan penjelasan. Untung saja para undangan sudah pulang, hanya tinggal beberapa saudara dekat.
"Iya Cal, itu benar! Mantan suami Raisya adalah adik iparmu! Aku juga tidak menyangka kenapa dunia sesempit ini! Maaf Cal, kami pamit pulang dulu!"
"Tidak Rin, jangan pergi dulu! Aku masih belum paham dengan keadaan ini."
"Kak, apa Kakak masih ingin menikah dengan bekas adik ipar kakak sendiri!??"
"Septiii! Jaga ucapanmu!" Sontak Faisal emosi.
"Itu kenyataannya, Kak! Apa kata orang kalau kakak menikah dengan janda? Dan lebih buruknya lagi mantan istri dari adik ipar sendiri! Masih banyak wanita single yang bahkan jauh lebih cantik dan terhormat daripada dia!"
Kata-kata Septi sangat tajam seakan menghunus jantungku. Seolah aku ini wanita hina yang tak pantas untuk dicinta.
"Ani, stop!" Mas Firman angkat bicara. Aku baru ingat sekarang, dulu orang yang menelponku dan mengaku pacar Mas Firman namanya Ani. Mungkin memang Septi dan Ani adalah satu orang yang sama.
"Septyani," Batinku.
"Kenapa, Mas nggak terima?" Ucap Septi,lebih emosi.
"Cukup!!!" Kata Ibu Setya. "Bicarakan dengan baik-baik! Kalian sudah sama-sama dewasa. Tolong jangan bikin malu kami!"
Aku masih diam tak bergeming. Mataku sudah bercanda-kaca. Sekali saja aku berkedip, pasti air bening ini akan tumpah dari pelupuk mata.
"Sudahlah, Cal! Kamu bicara baik-baik dulu dengan keluargamu. Biarkan kami pulang dulu. Nanti kamu bisa kabari kami." Ucap Mbak Rindi." Ayo Rai, kita pulang." Mbak Rindi menarik tanganku. Kami pergi tanpa basa-basi lagi. Aku seperti orang linglung, yang tidak tahu arah. Di pintu aku berpapasan dengan Mbak Ira dn Bu Halimah. Aku tidak dapat berkata apa-apa. Rasanya lidahku kelu.
Mbak Rindi mengajak Mas Rendy pulang. Mas Faisal hnya mengikuti kami. "Rend, titip Raisya! Tolong kabari kalau sudah sampai!" Ucapnya.
"Iya, Cal! Kamu tenang saja! Semoga semuanya baik-baik saja! Kami pulang dulu." Mas Rendi menepuk bahu Mas Faisal, seolah memberikan kekuatan.
Mbak Rindi menemaniku duduk di kursi tengah. Mataku sudah oerih, seketika dadaku terasa sesak. Aku menutup wajahku dengan kedua telapak tanganku. Aku menangis terisak, tidak bisa dibendung lagi.
"Menangislah, Rai!" Mbak Rindi membawaku ke dalam pelukannya, dan mengelus punggungku.
__ADS_1
"Sakiiit banget...Mbak" Aku semakin terisak. Mbak Rindi hanya bisa mengelus punggungku.
"Kamu yang kuat, Rai! Semua akan baik-baik saja."
"Hik hik, katakan ini cuma mimpi, Mbak!"
"Sabar, Rai!" Hanya kata itu yang bisa keluar dari mulut Mbak Rindi.
Karena terlalu lama menangis, aku-pun lelah. Hingga akhirnya aku tertidur di bahu Mbak Rindi. Aku tidak menikmati perjalanan kali ini. Aku dibangunkan saat kami sudah sampai di rumah Mbak Rindi. Memang tadi aku bilang, tidak ingin pulang ke rumah dulu. Aku akan menginap di rumah Mbak Rindi. Mbak Rindi mengabari Ummi kalau aku akan menginap di rumahnya. Tapi aku melarang Mbak Rindi untuk tidak bercerita kejadian di rumah Mas Faisal.
Kami tiba saat waktu maghrib. Tapi aku tidak bisa shalat karena ternyata tamu bulananku datang. Pantas saja aku merasa sakit perut dan di bawah punggungku.Setelah membersihkan diri aku langsung memejamkan mata di atas tempat tidur, di kamar tamu. Aku berusaha untuk tidak mengingat kejadian tadi. Namun sayang sekali, bayang-bayang kata-kata Septi sangat menyakitkan. Dan aku melihat ada kekecewaan di mata Mas Faisal. Air mataku luruh lagi, teramat sakit rasanya.
Pagi ini aku terbangun jam 6 pagi. Mataku bengkak, aku merasa tidak enak badan. Aku mengirim pesan kepada TU di sekolah, bahwa hari ini aku ijin tidak masuk.
Aku masih belum ingin pulang dari rumah Mbak Rindi. Saat ini aku masih di dalam kamar. Waktu sudah menunjukkan jam 9, matahari mulai meninggi. Tapi aku belum beranjak dari tempat tidur.
tok!
tok!
tok!
"Rai... Mbak masuk ya?" Mbak Rindi membuka pintu kamar, aku memang tidak mengunci pintunya. Kemudian mendekat ke tempat tidur. "Rai, kamu panas." Mbak Rindi meraba dahiku.
"Pusing, Mbak."
"Mungkin karena kamu kurang tidur. Ayo sarapan dulu! Terus minum obat!" Aku menggeleng dan tetap berbaring di tempat.
"Ayo-lah, Rai! Jangan sampai kamu sakit beneran, busa-bisa Abi-mu marah besar. Kamu harus sehat Rai! Masalah ini bisa dibicarakan baik-baik. Ical semalam telpon nanyain kamu."
"Rai! Ica sangat mengkhawatirkanmu! Semalam dia sangat panik menanyakan keadaanmu."
"Apa memang Mbak dan Mas Rendy nggak tahu, kalau suami Septi adalah Mas Firman?"
"Mbak memang tidak tahu Rai, tapi kemarin pas acara akan dimulai, Mbak dapat pesan dari Mas Rendy. Dia bilang Ical ngenalin adik iparnya, yang ternyata si Firman. Mbak kaget banget."
"Pantas saja, Mbak seperti orang bingung kemarin."
"Ical sudah bicara dengan orang tuanya, Rai. Dia akan tetap mempertahankan kamu."
-
-
FLASH BACK ON
Setelah acara selesai, dan semua keluarga pulang. Saat ini Faisal dan keluarga intinya berkumpul di ruang keluarga. Mereka membahas masalah Raisya. Sedari tadi Faisal menyembunyikan kekesalannya kepada adik dan iparnya.
"Ayah mau tanya, apa benar Raisya mantan istrimu, Fir?"
"Iya, Ayah."
"Ayah tidak akan bertanya apa sebabnya berpisah dengan Raisya. Ayah anggap itu adalah bagian dari takdir Allah. Dan kamu Faisal! Apa kamu masih ingin melanjutkan hubungannya dengan Raisya?
__ADS_1
"Aku akan tetap melanjutkannya, Yah." Ujar Faisal tegas.
"Tidak, Kak! Septi tidak setuju!"
"Kakak tidak butuh persetujuanmu!"
"Oh, jadi Kakak mau menukar persaudaraan kita dengan perempuan itu?"
"Jaga bicaramu Septi! Seharusnya kamu bertanya kepada suamimu kenapa mereka sampai berpisah! Kakak memang tidak tahu apa sebab mereka perpisahan, karena Kakak tidak ingin mrngungkit masa lalu. Tapi kalau kamu mau mengungkitnya, baiklah!
"Apa maksud Kakak?"
"Bukankah Firman meninggalkan Raisya itu gara-gara kamu!?"
Semua orang di ruangan itu diam karena terkejut mendengar pernyataan
"Kenapa kamu diam, Firman? Bukankah benar yang aku katakan ini? Aku tidak habis pikir dengan apa yang kalian lakukan."
"Tapi, Raisya yang merebut Mas Firman dariku, Kak! Bukan aku!"
"Oh.. ya? Pernikahan adalah ikatan yang sakral, dia sudah berjanji kepada Allah dan disaksikan malaikat. " Faisal menunjuk ke wajah Firman."Kalau-pun kamu adalah pacarnya sebelum dia menikah, itu hanya hubungan pacaran! Bahkan haram hukumnya! Yang lebih berhak adalah istrinya! justru kamulah yang menjadi perebut suami orang!"
Perdebatan semakin panas. Farida dan suaminya, serta Ibu Setya tidak bisa berkata apa-pun.
"Septi! Raisya itu hanya masa lalunya Firman! Biarkan Kakakmu memilih jalan hidupnya." Ujar Ayah Faisal.
"Tapi nantinya mereka akan sering ketemu, Yah! Septi tidak mau kalau sampai itu terjadi!"
"Kakak tidak akan pulang ke sini! Kakak akan menetap di rumah lama. Kamu jangan khawatir! Akan Kakak usahakan Raisya tidak bertemu dengan mantan suaminya lagi! Karena Kakak yakin, Raisya juga tidak menginginkan itu." Ucap Faisal kepada Septi. Faisal menahan emosinya. Sebenarnya Faisal sangat menyayangi adiknya itu. Apalagi saat ini dia sedang hamil besar. Faisal tidak mau membuat adiknya stres.
"Lalu keputusamu bagaimana Sal?"
"Aku akan tetap melamar Raisya, Ayah!"
"Baiklah lusa kita lamar Raisya, besok kamu pulang dan bicarakan baik-baik dengannya."
FLASH BACK OFF
-
-
Aku tidak merespon lagi perkataan Mbak Rindi. Rasanya kepalaku semakin pusing.
"Rai"
"Aku mau sarapan, Mbak."
Akhirnya aku paksakan untuk makan, karena aku tidak ingin sakit. Aku harus pulang nanti sore agar orang tuaku tidak khawatir.
...----------------...
Bersambung....
__ADS_1
Autor tambahin satu Part lagi nich kakak readers. Jangan lupa dukungannya ya kak. Thank you. See you again๐๐