
Dua hari berlalu. Hari ini aku berniat pergi ke rumah Bibi. Aku sudah siap dengan gamis dan jilbab pemberian Kak Haris. Aku memoles sedikit wajahku dengan bedak dan lip balm.
"Ummi, Aku berangkat dulu ya?"
"Cantik sekali, baju baru Rai?"Aku tersenyum mendengar pertanyaan Ummi.
"Iya, Ummi."
"Kamu itu, beli serba biru terus. Jatuh cinta banget sama warna biru?"
Jatuh cinta sama yang ngasih, boleh nggak mi? Batinku dalam hati.
"Ya sudah, Rai berangkat dulu ya?"
"Kamu nggak nginap kan?"
"Nggak, Ummi. Pulang dari rumah Bibi Rai langsung ke butik. Lama nggak ke sana. Mau mantau stok baju dan jilbab."
"Ya sudah, hati-hati."
"Assalamu'alaikum." Aku mencium punggung tangan Ummi.
"Wa'alaikum salam."
Di sepanjang perjalanan, aku bersenandung sholawat. Sampai akhirnya aku tiba di rumah Bibi. Aku membawakan Mukenah, daster, sarung bali, Pie susu, dan pie coklat untuk Bibi.
"Assalamu'alaikum...."
"Wa'alaikum salam... Rai! Kamu ke sini kok ngak bilang-bilang? Ada angin apa?"
"Angin muson, Ish Bibi! Rai kan pingin kasih kejutan."
"Bawa apaan? banyak sekali, Rai!"
"Ini oleh-oleh dari Bali. Rai habis pulang liburan dari sana dua hari yang lalu.
"Wah tahu kamu ke Bali Bibi mau pesan sesuatu."
"Pesan apa, Bi?"
"Pesan Bule. Haha..."
"Bibi nih! Ada-ada saja!"
"Ayo sini-sini masuk. Bibi buatkan minum dulu. Kamu pasti haus."
Bibi membuatkan teh hangat. Setelah satu jam aku berdiam dan bercerita di rumah Bibi. Aku pamit untuk pulang. Karena ada pekerjaan yang harus aku selesaikan di butik.
Aku pulang dari rumah Bibi jam 10 menjelang siang. Dan saat ini aku sudah berada di butik.
"Winda, apa kabar?"
"Mbak Rai! Alhamdulillah baik. Mana nih oleh-oleh dari bali?
"Ini ada pie susu dan pie coklat. Kemana Ega?"
"Keluar sebentar, beli pulsa katanya."
"Gimana hari ini, lancar?"
"Alhamdulillah Mbak, untuk stok brand T uk S yang terbaru sisa 1, dan Brand E yang terbaru sisa L dan XL. Masih banyak yang sudah DP dan mau Pre Order Mbak."
"Alhamdulillah. Kalian jualan, tidak?"
"Sedikit sih, Mbak!"
"Kalau begitu, gimana kalau kita tambah satu karyawan lagi?"
"Setuju Mbak!" Suara Ega menyahuti dari belakangku.
"Kamu tuh Ga, datang-datang nggak ucapa salam langsung nyelonong saja." Ujar Winda
"Hehe...Maaf aku seneng banget kiat ada motornya Mbak Raisya di depan. Udah pasti orangnya ada di sini."
"Ya sudah, kalian atur sja. Buat pengumuman dibuka lowongan pekerjaan. Tapi ingat ya! Harus yang berjilbab."
"Iya siap Mbak Bos!" Jawab Winda.
"Ya sudah aku masuk ke ruanganku dulu. Kalian lanjutkan kerjanya!"
Waktu makan siang aku meminta tolong Ega untuk membeli seblak yang tidak jauh dari toko.
__ADS_1
"Sekalian beli untuk kalian berdua ya. Punyaku level 2 saja, Ga."
"Oke, Mbak."
Setelah Ega datang membawa seblak yang dibeli, kami-pun makan bersama. Kami melihat ada mobil datang dan parkir di depan butik. Tidak lama kemudian pintu mobil terbuka.
Sepertinya aku kenal dengan perempuan yang baru turun.
"Bu Rida?"Lirihku.
"Mbak, kenal?" Winda bertanya kepadaku.
"Ah iya, dia istri kepala sekolahku." Cepat-cepat aku minum air putih setelah selesai makan seblak. Dan segera masuk ke dalam ruanganku untuk membawa perabotan kotor bekas kami makan. Di dalam ruanganku memang ada pantri kecil untuk masak ringan dan wastafel untuk mencuci piring.
Winda segera ke depan melayani customer. Ega menata kembali susunan jilbab yang sudah berantakan.Aku melihat seseorang di balik kemudi yang tidak turun.
"Selamat siang Ibu, bisa kami bantu?"
"Selamat siang mbak, saya ingin Brand T yang lawasan, ukuran L. Ada Mbak?
"Oh iya ada, Bu. Mari dilihat dulu koleksi kami. Mungkin Ibu cocok."
Bu Rida melihat baju di gantungan bagian koleksi Brand T yang stok lama. Aku keluar menemui beliau.
"Assalamu'alaikum, Bu."
"Wa'alaikum salam." Bu Rida menoleh ke arahku." Lho, Bu Raisya!" Aku mencium punggung tangan Bu Rida."Kok bisa ada di sini, Bu?"
Winda kembali ke tempat kasir.
"Ini butik milik saya, Bu." Jawabku dengan senyum seramah mungkin.
"Masyaallah, masih muda tapi sudah punya usaha yang cukup mumpuni. Pegawai Negeri pula! Beruntung sekali suami anda." Bu Rida memujiku.
Dia tidak tahu kalau aku seorang janda? Parahnya lagi, anaknya malah tertarik padaku.
Pintu depan butik terbuka, ada seseorang yang masuk.
"Sudah dapat, Bu? Bajunya?" Kami menoleh kw sumber suara.
"Dek Raisya?" Kak Haris tercengang melihatku.
"Ehm.. Ris! Jaga pandanganmu! Disa liatin istri orang."Bu Rida menepuk lengan Kak Haris.
"Ris, ini ternyata butiknya Bu Raisya Lho!"
"Oya?" Kak Haris kembali melihatku dari atas sampai bawah. Baru aku sadari kalau saat ini aku memakai baju dan jilbab pemberian darinya.
"Iya, kamu itu kenapa sih kok bengong, Ris? Bu Raisya saya boleh mencoba yang ini ya?" Bu Rida mengambil satu baju dari gantungan.
"Boleh, Bu. Silahkan! Kamar ganti di sebelah sana." Aku menunjukkan kepada Bu Rida.
"Silahkan duduk, Kak.Tunggu dulu, Bu Rida masih mencoba baju." Kak Haris masih tak bergeming. Dia tetap dengan tatatpannya. Membuatku salah tingkah. Aku pergi dari hadapannya, mengambil minuman ringan dari dalam kulkas mini di ruanganku.Kah Haris-pun duduk di kursi.
"Diminum, Kak." Ujarku, kembali menunduk.
"Dek... Terima kasih ya!" Ujarnya, tersenyum lebar.
"Untuk apa, Kak?"
"Sudah memakai pemberianku. Aku sangat senang. Rasanya tidak ingin lepas memandangmu." Ujarnya tersenyum manis sekali.
"Kalau saya hanya mendatangkan kemudharatan untuk Kakak, lebih baik saya pergi dari hadapan Kakak."
"Eh eh, jangan! Baiklah, maaf! Aku tidak akan memandang lama-lama."
"Bu Raisya!" Bu Rida nemanggilku dari arah ruang ganti.
"Iya, Bagaimana Bu?" Aku menghampiri Bu Rida.
"Saya cocok dengan ini. tinggal motong bagian bawah saja. Maklum kita kan tingginya standart ya. Hehe..."Ujar Bu Rida dengan tawa khasnya."
"Baik, Bu ini sudah diskon 50%. Langsung dibungkus, Bu?"
"Iya bungkus saja! Tolong pilihan jilbab yang cocok dengan baju itu sekalian."
"Baik, Bu." Aku memilihkan jilbab yang masuk ke warna bajunya. Tanpa aku sadari, seseorang yang duduk di kursi masih memperhatikan aku.
"Ini ya, Bu? Aku menunjukkan jilbabnya, dan Bu Rida setuju.
"Tolong ditotal, Win!"
__ADS_1
"Baik, Mbak." Winda mulai menghitung di komputer. "Totalnya Rp 637.000, Bu."
"Ris... bayarin! Katanya mau traktir Ibu!" Ksk Hari bangun dan menghampiri Ibunya.
"Pakai kartu ATM bisa kan, mbak?" Kak Haris menyerahkan kartu ATM-nya.
"Bisa, Pak.Silahkan password-nya!"
"Terima kasih sudah berbelanja di butik kami, Pak, Bu! Semoga rizkinya bertambah!" Winda menangkupkan kedua telapak tangannya. Hal itu sudah menjadi aturan di butikku. Aku menamkan murah senyum dan rendah hati juga pelayanan yang baik. Agar customer nyaman berbelanja dan mau kembali lagi.
"Bagus, Bu Raisya! Ibu suka pelayanan di sini.Ibu kok baru tahu ya butik ini?
"Butik ini memang baru satu satu tahun lalu dibuka, Bu."
"Oh iya, pantesan. Soalnya saya sering beli sembako di toko agen sembako itu. Tapi beberapa bulan ini saya memang pesan via telpon. Jadi tinggal diantar ke rumah, Ibu nggak perlu repot-repot."Bu Rida menunjuk toko sembako milik Ummi.
"Oh iya, Bu." Ujarku tersenyum.
"Ris, terima kasih ya, udah traktir Ibu. Ibu do'akan kamu segera dapat jodoh seperti Bu Raisya."
"Amin..." Jawab Kak Haris lantang, kemudian melirik ke arahku.
"Ya sudah, kami pamit dulu, Bu Raisya. Kapan-kapan Ibu ke sini lagi ya."
"Iya Bu, saya tunggu." Mereka-pun meninggalkan butik. Aku kembali masuk ke dalam.
"Ehm..ehm... sepertinya jodoh sudah dekat nih!" Winda menggodaku.
"Apaan sih, Win? Jodohmu yang dekat?"
"Mbak itu tadi yang cowok anaknya Ibu itu ya?
"Iya, kenapa?"
"Aku lihat dia tidak lepas memandangmu."
"Masa sih?"
"Iya, Mbak. Aju juga dengar tadi obrolan Mbak sama cowok itu. Hehe..."
"Ssstt... Jangan suka nguping."
"Nggak nguping, Mbak. Cuma nggak sengaja dengar. Hehe...."
"Tapi cocok kok , Mbak! Orangnya kharismatik, tampan dan... sepertinya sangat mengagumi, Mbak."
"Gitu, ya?"
"Iya, sumpah." Winda mengangkat kedua jarinya. Aku hanya tersenyum menanggapinya.
Aku meninggalkan Winda dan Ega, masuk ke ruanganku kembali. Kulihat ada notif di HP-ku. Ternyata pesan dari Kak Haris.
π Kak Haris
Assalamu'alaikum, dek.
Maaf sudah mengganggu waktumu dek. Aku tidak bisa menahan keinginan untuk mengirim pesan padamu. Aku hanya ingin bilang, bahwa rinduku sedikit terobati. Terima kasih sudah menghargai pemberianku. Meski-pun sebenarnya kamu mampu membeli yang lebih dari itu. Tunggu aku menghalalkanmu.ππ
Aku-pun tersenyum membaca pesan darinya.
Kenapa dia jadi sangat lebay?Dan anehnya, aku suka.
...----------------...
POV Haris
Karena bosan menunggu di mobil, aku masuk ke dalam butik.
"Sudah dapat, Bu? Bajunya?" Ibu dan seorang wanita menoleh. Baru aku sadar, kalau wanita di samping Ibu adalah sang pengusik hati. Aku tertegun melihatnya. Memandangnya dari atas sampai bawah. Aku tidak sadar kalau Ibu menegurku. Aku tidak menyangka akan bertemu dengannya di sini. Ternyata selain seorang pendidik dia juga seorang pengusaha. Meski butiknya terbilang sederhana. Tapi saya lihat adanya kompetensi untuk berkembang. Sudah lengkap apa yang ada pada dirinya.
Masyaallah, Astaghfirullah... Maafkan aku ya Allah. Dia tidak terlalu cantik, tapi dia berhasil mengusik ketenanganku. Senyumnya itu, ya Allah, kapan aku bisa menghalalkannya?
Dia menyuruhku untuk duduk, dan mengambilkan minuman untukku. Mataku masih tak lepas memandangnya. Dia seolah menghipnotisku. Ibu mendo'akan agar aku mendapatkan jodoh seperti Raisya.Sepertinya Ibuku juga suka kepadanya. Ibu belum tahu niat baikku. Aku harus segera memberitahu Ayah dan Ibu. Aku tidak bisa menahan ini lebih lama lagi.
...****************...
Bersambung....
Haris kebelet nikah kakakπ
Terima kasih atas support dan waktunya Kakak. Part berikutnya OTW lah ya...
__ADS_1
See you againπ€ππ