
Mas haris mulai menyentuh wajahku, Lalu mendekatkan wajahnya. Dia mulai mencium keningku, hidungku, kemudian mengec*p bibirku. Tangannya mulai bergerilya masuk menyusup ke dalam piama yang aku pakai. Dia mulai membuka pengait B*a yang menutupi kedua gundukan milikku. Tangannya menjamah dan bermain di sana.
"Dek..." Panggilnya dengan suara parau.
"Hem..."
"Boleh ya?"
"He'em."
Mas Haris melafadkan do'a terlebih dahulu. Kemudian dia membuka kancing piamaku, menurunkan celanaku, sampai akhirnya aku tidak memakai sehelai benang-pun. Begitupun dia, sudah nembuka pakaiannya. Kemudian dia mengambil selimut untuk menutupi tubuh kami berdua.
Mas Haris mencoba menghujam pertahananku, namun rasanya begitu sulit. Aku menahan sakit yang baru kali ini aku rasakan. Untuk kesekian kalinya akhirnya pertahananku bobol. Malam ini kami menikmati indahnya malam pertama. Pelepasan pertama kami sudah usai. Dia kembali membaca do'a. Dia melihat ada noda merah yang nempel sedikit di ujung senjatanya.
"K-kamu masih perawan, Dek?"
Aku mengangguk. Tidak terasa air mataku mengalir begitu saja.
"Kamu nangis, Dek? Apa rasanya begitu sakit?"
Aku menggeleng."Lanjutkan, Mas!"
"Kamu menyesal sudah memberikannya kepadaku?"
Aku menggeleng kembali.
"Tidak, Mas. Aku menangis bahagia. Aku bahagia karena bisa memberikan apa yang aku jaga kepada suami yang benar-benar menerimaku."
Setelah lahar panas itu ditumpahkan, Mas Haris mendekapku dalam peluknnya. Dia-pun menangis lirih.
"Sayang, dengarkan aku! Aku mencintaimu, dan tidak akan menyia-nyiakanmu. Kamu adalah yang pertama dan terakhir untukku. Semoga benihku segera tumbuh di rahimmu."
Aku mengaminkan dalam hati.
"Terima kasih, sayang. Aku beruntung bisa mendapatkanmu." Ucapnya kembali.
Pertarungan hangat kami berakhir di Jam 1 malam. Sampai akhirnya aku bangun jam 3 dini hari. Aku terkejut karen di sampingku ada seorang laki-laki. Aku lupa kalau dia adalah suamiku. Aku tidak ingin membangunkannya, karena merasa kasihan. Aku berjalan ke kamar mandi dengan menahan perih di area selangk*nganku. Kemudian mandi mensucikan diri, berwudhu, dan shalat tahajjud. Kupanjatkan segala syukur kepada-Nya. Tidak lupa meminta keberkahan hidup dan keluarga baruku.
Saat aku menghidupkan lampu karena ingin mengaji, Mas Haris terbangun.
"Sudah jam berapa, Dek?"
"Jam 3.30 Mas."
"Sayang, kemarilah!"
Aku meletakkan kembali Mushafku. Dan berjalan menghampiri suamiku di kasur.
"Ada apa, Mas?"
Mas Haris tidak menjawab, namun membuka mukenahku. Aku memang lebih suka memakai mukenah terusan daripada mukenah setelan.
Saat ini aku hanya memakai daster pendek selutut berbahan combed dengan dua kancing di bagian dada.
"Aku hanya ingin melihat milikku dengan jelas, karena tadi malam gelap." Ujarnya menggoda. Tangannya mulai membuka kancing dasterku.
"Tapi, Mas..."
"Sssttt...! Jangan membantah sayang. Ini pahala." Mas Haris mengambil tanganku lalu dia arahkan untuk memegang miliknya yang saat ini tegang kembali.
"M-Mas..."
"Iya sayang, aku ingin lagi." Ujannya dengan suara parau.
"Masih sakit, Mas."
"Mana coba sini Mas lihat!"
"Jangan, Malu!" Aku menutup selang*anganku dengan kedua tanganku. Namun kekuatanku tidak ada bandingnya daripada kekuatan suamiku.
Tentu aku tidak bisa menolak permintaannya. Karena bagaimanapun aku harus melayaninya, kecuali ada halangan atau sesuatu yang memperbolehkan aku menolaknya.
Kali ini lebih ga*as dari sebelumnya. Mas Haris memberi tanda merah di leher dan atea gunung kembarku. Gairahnya membuncah tatkala aku melenguh. Akhirnya kami menjemput kembali kenikmatan surga pengantin baru.
Pagi Harinya, kami sarapan bersama. Aku masih mengambil cuti nikah 3 hari. Jadi besok aku sudah masuk mengajar.
Sofi melirik ke arahku, kemudian ke arah Mas Haris.
"Kak Haris, gimana semalam? nggak ada nyamuk kan?" Ujar Sofi menggoda."
__ADS_1
"Aman, Sof!"
"Oh... baguslah, berarti tidurnya nyenyak dong?"
"Mama... Kok makannya sambil ngobrol sih? Katanya guruku nggak boleh makn sambil ngomong, iya kan Kek?" Ujar Zie menasehati Mamanya seperti orang dewasa.
"Betul." Kata Abah, sambil menunjukkan jempol kanannya
"Iya, iya maaf Mama khilaf. Jangan ditiru ya!" Ujar Sofi memperingatkan anaknya.
"Zie daritadi diam, nggak ngomong. Mama tuh, ngajakin Om ngomong terus!"
"Iya, sayang." Jawab Sofi singkat. Dia tidak lagi menjawab pernyataan anaknya, karena nanti akan menjadi panjang urusannya.
Kami hanya tersenyum mendengar perdebatan Ibu dan anak itu. Selesai sarapan kami bekerja sama membersihkan sisa perabotan bekas kami makan. Dan membereskan semua yang masih berantakan. Para kaki-laki membantu orang tenda yang sedang menurunkan tenda di depan rumah.
Siang hari di dalam kamarku. Setelah melaksanakan Shalat Dhuhur dan makan siang, kami bersantai di tempat tidur. Rasanya aku mengantuk, dan ingin tidur siang. Sekarang aku sudah terbiasa tidak memakai jilbab di depan suamiku.
Pov Haris
Katanya kalau seorang perempuan pernah berhubungan maka berbeda dengan yang masih bersegel. Istriku seorang janda, namun aku tidak pernah bertanya tentang masa lalunya. Semalam aku sangat terkejut, saat senjataku akan masuk ke dalam gua miliknya, rasanya begitu sulit. Aku sampai harus menghujam berkali-kali. Sampai ke sekian kalinya, akhirnya pertahanannya jebol. Aku bisa menembus miliknya. Namun aku melihat dia menangis. Apa mungkin rasanya begitu sakit? Atau dia menyesal melakukannya denganku? Saat aku mencabut senjataku, aku lebih terkejut lagi. Ada bercak darah segar di ujung senjataku. Oh tidak... istriku masih perawan. Iya, aku yakin itu! Aku harus bertanya kepadanya.
-
"Sayang, boleh Mas bertanya?
"Tanya apa, Mas?"
"Semalam milikku sangat sulit untuk masuk. Benar kamu masih tersegel, Dek?"
Aku tertegun mendengar pertanyaan suamiku. Mungkin dia masih tidak percaya karena aku adalah seorang janda. Dia dia kurang yakin dengan penglihatannya semalam.
"Sayang, benar itu?"
Aku mengangguk kepala.
"Sungguh aku harus berterima kasih kepada mantan suamimu. Karena dia adalah orang yang bodoh telah menyia-nyiakanmu. Tapi aku bersyukur karena berkat kebodohannya aku menjadi orang yang pertama merasakannya." Mas Haris mendekapku dalam pelukannya. Namun aku merasa ada yang bergerak di bawah sana.
"Sayang..." Dia menunjuk ke bawah.
"Mas....mmpf" Belum sempat aku mengucapkan sesuatu. Mas Haris sudah menyumpal bibirku dengan bibirnya. Tangannya bermain di area sensitifku. Aku sudah sangat bergairah. Siang ini kami menyatukan kembali cinta dan kasih sayang kami dalam percintaan yang cukup panas.
"Sayang... bangun!" Sayup-sayup aku mendengar suara membangunkanku. Ada sentuhan hangat di pipiku. Ternyata Mas Haris mencium pipiku.
Aku menggeliat dan mengkedipkan mata berkali-kali.
"Sayang sudah jam 4 sore, ayo bangun! Mandi dulu terus shalat Ashar." Ujar Mas Haris.
"Badanku rasanya pegel semua, Mas."
"Mau aku pijitin?"
"Ti-tidak usah, aku akan bangun."
Kalau sampai dia memijitku, bisa-bisa jadi panjang urusannya. Aku pasti akan shalat Ashar satu jam lagi.
"Ya sudah! Ayo aku gendong ke kamar mandi!"
"Mas, jangan!"
"Diamlah sayang! Suamimu ini akan memanjakanmu!"
Mas Haris menggendongku ala bridal style. mendudukkanku di atas closed lalu menghidupkan shower. Dia membuka sarungnya lalu mandi bersamaku. Dia menggendongku kembali ke ranjang.Sekali lagi dia menghujam milikku dengan senjatanya.
"Maaf sayang, milikmu sangat legit. Aku tidak bisa menahannya lagi."
Setelah melakukan hubungan suami istri kani bersuci kemudian shalat Ashar.
Malam harinya, kami makan bersama. Setelah makan bersama Sofi dan Irfan pamit pulang ke rumah mereka. Karena sudah tiga hari rumahnya ditinggalkan kosong tanpa penghuni. Bibi akan pulang besok diantar Abah.
Aku dan Mas Haris mengantar mereka sampai ke depan.
"Tante, Om, Zie pulang dulu ya! Besok Zie sudah harus masuk sekolah. Kalau lama-lama ijinnya, nanti banyak merahnya." Ujar Zie dengan raut menggemaskan.
"Memangngnya Zie udah kelas berapa sekarang?" Tanya Mas Haris.
"Ydah TK A, Om! Zie bentar lagi udah mau jadi Kakak."
"Oh ya? Mamamu hamil Zie?" Tanyaku penasaran.
__ADS_1
"Bukan Mama, tapi Tante. Kata Mama kalau mau minta adek, mintanya sama Tante dan Om. Zie pesan dua ya Te." Aku melirik ke arah Sofi dan Irfan. Mereka hanya senyum-senyum merasa tak bersalah.
"Iya nanti Om bikinin dua." Jawab Mas Haris kemudian mencium pipi Zie.
"Au, sakit Dek!" Pekik Mas Haris saat aku cubit perutnya.
"Tante, nggak boleh cubit Oom! Nanti Oomnya sakit!" Zie nenasehatiku.Sofi dan Irfan tertawa merasa menang. Aku hanya geleng kepala melihat tingkah mereka.
"Ya sudah kami pamit dulu, Mbak, Kak Haris." Ujar Sofi.
"Oh iya, Kak! Aku titip Mbak Raisya. Aku percaya Kakak bisa membahgiakannya."
"Insyaallah Sof."
Setelah kepergian mereka, rumah terasa sepi. Aku dan Mas Haris kembali ke kamar. Malam ini kami tidur dengan pulas. Sampai waktu Subuh tiba, aku baru terbangun. Aku membangunkan Mas Haris dan kami shalat berjama'ah. Selesai shalat, Mas Haris mencumbuku. Tiba-tiba aku merasakan sakit perut, sepertinya ini waktunya aku datang bulan. Karena tidak teratur, jadi aku tidak pernah menandai. Kadang telat 3 hari bahkan sampai dua minggu.
"Kamu kenapa, Dek?"
"Sakit perut, Mas."
"Hah.. sakit perut gimana?"
"Sebentar, aku ke kamar mandi dulu." Aku berlari ke kamar mandi. Dan benar saja, aku sedang datang bulan saat ini. Setelah membersihkannya, aku keluar dari kamar mandi dan mengambil ****** ***** di dalam lemari. Kemudian mencari pemba*ut di dalam nakas.
"Maaf, Mas."
"Kenapa, Dek?"
"Aku sedang datang bulang."
"Hah.. datang bulan?"
Aku menjawab dengan anggukan kepala.
"Kenapa bulannya harus datang sekarang?" Mas Haris menepuk dahinya sendiri.
Aku tertawa mendengar leluconnya.
"Berapa hari biasanya, Dek? Setahuku, dulu Ibu kalau tidak shalat sampai 5 hari."
"Biasanya 7hari, kadang bisa lebih."
"Ya sudah, si ***** puasa dulu. Semoga kuat ya puasanya Tit!" Aku menahan tawa melihat suamiku berinteraksi dengan senjata miliknya.
Hari ini, aku harus masuk ke sekolah. Mas Haris akan mengantarku. Aku belum tahu persis pekerjaan suamiku. Aku tidak pernah bertanya, karena au ingin dia yang bercerita sendiri.
"Hari ini, biar aku antar. Nanti kalau sudah mau pulang telpon saja, Dek. Aku mau meninjau pembangunan kelas ekonomi di perumahan Khayangan."
"Mas di sana jadi mandor?" Tanyaku dengan polos.
"Haha.. bukan, Dek! Aku menjadi owner sekaligus bagian marketing di sana, makanya waktu lalu aku beli meja untuk ditaruh kantor pemasaran. Maaf aku belum sempat cerita soal pejerjaanku ya, Dek! Dia mengelus kepalaku.
"Tidak masalah! Mas mau jadi tukang becak-pun aku tidak apa, yang penting halal."
"Kamu nih, ada-ada saja sayang!" Mas Haris menarik hidungku.
"Au.. sakit, Mas! Mentang-mentang hidungku mancungnya ke dalam, terus Mas tarik gitu!"Ujarku, pura-pura ngambek.
"Apa sih, sayang! Kalau ngambek aku gigit nih hidungnya!"
"Ish... udah ah! Ayo berangkat, Nanti aku terlambat."
"Siap Nyonya Haris. Mari kita berangkat."
Kami-pun berangkat setelah berpamitan kepada orang rumah. Ummi dan Abah masih cuti tidak ke toko sampai dua hari ke depan.
Bersambung.....
...****************...
Gimana Kakak sudah plong ya?
Jangan travelling kakak
Author bingung mau nulis takut ada bocil yang baca😁
Terima kasih masih mensupport karya recehku. Maaf kalau masih ada typo.
See you again...
__ADS_1