Ketegaran Hati Raisya

Ketegaran Hati Raisya
kelahiran Baby Zie


__ADS_3

Dua bulan berlalu, hari ini kami sedang di rumah Bidan Hani menunggu kelahiran cucu pertama di keluarga kami. Sofi sudah kontraksi, dan pembukaan sembilan. Sebelumnya Sofi sudah USG, dan hasil USG menyatakan jenis kelamin bayi perempuan. Sofi juga dinyatakan bisa lahir dengan normal, karena panggulnya lebar dan tidak ada masalah pada bayi. Ummi sengaja memilih bidan Hani, karena sejak hamil Sofi memang selalu periksa ke Bidan Hani setiap bulannya. Selain dekat dengan rumah kami, Bidan Hani juga merupakan Bidan senior yang terkenal bagus dalam pelayanannya.Sebenarnya Mama Irfan mau membawa Sofi ke rumah sakit, tapi Irfan menolak karena sudah terlanjur nyaman dan yakin di Bidan Hani Ummi dan Irfan menemani Sofi di ruang bersalin. Aku dan Mama Irfan, menunggu di luar.


Sudah hampir satu jam kami menunggu.


"oek..."


"oek..."


"oek..."


Akhirnya kami mendengar suara tangisan bayi. "Alhamdulillah... " Ucapku dan Mama Irfan serentak.


"Sudah lahir Rai." Mama Irfan sangat antusuas ingin masuk ke dalam.


"Iya, Tante." Kami pun masuk ke dalam.


Sofi sudah lemas, karena mengeluarkan banyak tenaga. Bayi perempuan yang masih merah itu lang diadzani oleh Irfan. Lalu dibawa ke belakang oleh perawat untuk dibersihkan. Bayi Sofi lahir di hari Rabu jam 12.15, dengan berat 3800 gram dan panjang 50 cm.


Sungguh lengkap kebahagiaanmu dik, semoga Allah juga memberi kebahagiaan yang sama kepadaku.


"Ayo Nak coba dikasih ne*en dulu." Ummi memberikan bayi mungil itu kepada Sofi.


Karena belum terbiasa, Sofi masih tidak nyaman.


"Begini Sof, yang benar." Ummi membenarkan.


Abi baru datang dari toko, langsung kemari.


Beliau tidak sabar ingin melihat cucunya.


"Mana cucuku? aku ingin lihat!" Abi langsung mengambil alih bayi itu dari gendongan Sofi. "Cantik ya, hidungnya kayak Abi." Abi memuji cucunya. "Sudah ada namanya, Nak Irfan?"


"Irfan sudah menyiapkan nama Abi, ada dua pilihan. Tapi Irfan lebih suka yang ke dua, Namanya Azizah Nur Rayyan." Rayyan adalah nama belakang Irfan."Menurut Abi gimana?"


"Bagus juga, Abi setuju."

__ADS_1


Karena lahir secara normal, Sofi tidak perlu perawatan insentif. Karena sudah tidak merasa pusing dan tidak ada keluhan lainnya, malam harinya Sofi sudah diperbolehkan pulang ke rumah. Untuk sementara Sofi akan tinggal di rumah Abi. Karena Ummi ingin membantu dan mengajari Sofi. Irfan tidak keberatan, mengingat istrinya memang perlu didampingi.


...----------------...


Keesokan harinya, mulai banyak tamu yang berdatangan untuk menjenguk baby Zie. Itu panggilan Sofi kepada putri pertamanya.


Pulang ngajar aku sudah disuguhi denga banyaknya orng di ruang tamu. Menghindari banyak pertanyaan, aku-pun lewat pintu garasi. Bukan tidak mau besosialisasi, tapi akan lebih baik menghindar daripada sakit hati. Aku masuk ke dalam kamar untuk beristirahat. Saat ini aku sedang libur shalat, setelah berganti baju aku merebahkan diri di tempat tidur.


"Tok"


"Tok"


"Tok"


"Rai.. Rai..."


Aku merasa ada yang memanggilku, ternyata aku sudah tertidur 30 menit yang lalu. Aku menyahuti."Iya Ummi...!"


"Bangun Rai! Sebentar lagi ashar, pasti akan ada tamu yang datang lagi."Ummi meninggikan suara.


Aku segera mandi, dan merapikan diri. Memakai dres rumahan, dan jilbab instan.


Aku mengecek persediaan Souvenir baby Zie. Sofi dan Irfan sudah mempersiapkan souvenir tersebut dari sejak mendekati HPL. Isinya handuk dan dan tumbler (termos mini) yang dikemas dalam sebuah box hampers dan, di atasnya sudah dikasih sticker ucapan syukur dan terima kasih. Setiap orang yang menjenguk akan kami bagikan Souvenir itu.


"Assalamu'alaikum." Aku mendengar salam dari beberapa orang.


"Wa'alaikum salam, mari masuk Bu!" Ummi membersihkan tamu masuk. Ternyata yang datang tetangga kami, Ibu-ibu rumpi. Ada Bu Yeni, Bu Dian, Bu Ajeng dan Bu Retno. Aku disuruh Ummi untuk membuat minuman.


"Sebentar ya Ibu-Ibu. Sebentar bayinya selesai dimandikan." Ummi memang membayar salah satu perawatan Bidan Hani untuk datang ke rumah pagi dan sore. Tugasnya memandikan baby Zie selama tali pusarnya belum lepas.


Aku menyuguhkan minuman di atas meja untuk mereka."Mari Bu, silahkan diminum."


"Iya Rai, terima kasih." Ucap Bu Retno.


"Rai, kamu kapan nyusul adikmu? Sofi sudah punya anak lho! Masak kamu betah sendirian! " Ujar Bu Dian.

__ADS_1


Nah ini nih, yang daritadi aku hindari. Kata-kata yang pedas mengalahkan ayam geprek level 50. Bisa nggak sih aku kabur ke pluto saja!


Belum sempat aku menjawab, Bu Yeni-pun menimpali. "Iya Rai, kamu sudah sarjana! Sudah jadi guru pula, tunggu apa lagi?"


"Maaf Ibu-Ibu saya sedang menunggu jodoh dari Allah. Silahkan dicicipi camilannya, saya permisi dulu." Aku berusaha serah mungkin menanggapi mereka. Aku juga punya ego yang kadang sulit aku kontrol. Daripada aku mengeluarkan kata-kata pedas pula, lebih baik aku menghindari mereka. Aku bukan tak bisa melawan, hanya saja aku menghormati mereka sebagai orang yang lebih tua.


Sofi keluar menggendong Baby Zie. "Cantik sekali, hidungnya mancung ya Sof? mirip Pak Aji." Kata Bu Retno, memuji Baby Zie.


Aku tak mendengar pembicaraan mereka lagi, karena aku pergi masuk ke kamar. Aku harus menebalkan telinga lagi untuk menerima cibiran orang-orang ke depannya.


Ummi masuk ke dalam kamar, dan menasehatiku."Rai, Ummi tahu perasaanmu. Kamu jangan berkecil hati Nak. Ummi memang tidak bisa menutup mulut mereka, tapi Ummi yakin suatu saat mereka akan bungkam dengan sendirinya. Anggap saja omongan mereka sebagai motivasi agar kamu menjadi orang yang lebih sabar lagi. Ummi tahu kamu orang yang sabar, bahkan mungkin jika Ummi ada di posisimu, tidak akan bisa sesabar kamu.


Kalau sudah Ummi ngomong begini, aku jadi pingin mewek. Kadang aku sedih bukan karena omongan mereka. Tapi aku sedih karena orang tuaku mendengar omongan mereka. Aku tahu orang tuaku pasti tidak mau anaknya dibanding-bandingkan.


"Rai tidak apa-apa Ummi. Maaf tadi Rai nggak nunggu mereka pulang, Rai nggak mau berkata kasar kepada mereka. Rai juga manusia biasa, Ummi. Punya batas kesabaran. Ummi tenang saja ya, Insyaallah Rai kuat." Ummi mengusap kepalaku.


Tuh kan jadi mellow, tolong air mata jangan keluar dulu.


Ummi pergi dari kamarku, dan bersamaan dengan itu air mataku luruh juga. Bagaimanapun aku hanya wanita biasa. Perasaanku juga sangat sensitif, namun aku bisa mengontrolnya di depan Ummi.


...****************...


40 hari berlalu, hari ini akan diadakan hajatan untuk aqiqah sekaligus timang Baby Zie. Acaranya diadakan di rumah Sofi. Memang dua hari yang lalu Sofi dan bayinya sudah dibawa pulang ke rumah pribadinya sama Irfan. Kami tidak perlu repot memasak, karena kambing untuk aqiqah sudah Irfan pesan langsung dengan masak jadinya. Orang tua Irfan juga memesan catering untuk tambahan menu, dan juga kue- kue dipesan dari toko kue yang sudah menjadi langganan keluarga.


Undangan kurang lebih hampir sama dengan waktu tujuh bulanan. Acara berjalan dengan lancar dan hikmat. Baby Zie memakai baju yang sudah dihias dengan melati lengkap dengan kaos kakinya, lucu sekali. Dia tidur anteng saat ditimang.


"Ehm... Mbak boleh saya minta tolong, fotokan saya dengan Baby Zie."Seorang laki-laki menghampiri aku, aku tidak asing dengan orang itu. Sepertinya pria ini yang waktu itu Mbak Rindi bilang temannya Mas Rendy.


"Oh iya boleh, maaf! Mas bisa gendong bayi?"


"Iya bisa, saya sudah biasa gendong keponakan saya."


"Baiklah, tolong hati-hati." Aku memberikan Baby Zie kepadanya dengan hati-hati.


Bersambung.....

__ADS_1


Tetap tunggu kelanjutannya ya Kakak, aku up setiap hari. Terima kasih atas supportnya. Semoga Allah yang membalas.


__ADS_2