Ketegaran Hati Raisya

Ketegaran Hati Raisya
Teguran dari Allah


__ADS_3

Kini hari-hariku hanya disibukkan dengan mengajar. Aku sudah belajar untuk menerima kenyataan hidup. Berusaha menjadi orang yang lebih baik lagi.


Aku baru mengingat mimpiku saat itu. Dan aku baru sadar, kalau mimpiku itu adalah petunjuk dari Allah. Di dalam mimpi yang pertama, jelas ada Septi dan Mas Firman yang mencegah Mas Faisal mengejarku. Dan itu benar-benar nyata.


Berarti mimpi keduaku, apa mungkin lelaki berkuda itulah jodohku? Dan ternyata dia bukan Mas Ical. Hanya Tuhan yang tahu.


Saat ini aku sedang di rumah Sofi. Karena hari ini adalah acara Tedak siten atau turun tanah Babie Zie. Itu tradisi kami, saat bayi sudah berusia 7 bulan akan diadakan prosesi itu. Acaranya sederhana hanya mengundang sanak saudara untuk berkumpul dan berdoa'a bersama. Baby Zie yang sudah mulai bisa berdiri dipapah itu sangat aktif. Dalam prosesi ini baby Zie mengambil tiga barang. Yang pertama uang, dengan harapan kelak dia menjadi orang yang kaya dan dermawan. Yang kedua Al-Qur'an, dengan harapan kelak dia menjadi orang yang gemar mengaji dan ibadah. Yang terakhir kaca, dengan harapan kelak dia akan menjadi orang yang selalu menimbang diri. Berkaca pada dirinya sendiri, sebelum menilai orang lain.


Acara sudah selesai, saat ini aku sedang melamun membayangkan betapa bahagianya Sofi.


"Tante Rai..!!." Panggilan bocah itu membuyarkan lamunanku. Si kembar mendekat padaku.


"Ada apa, hm?" tanyaku pada keduanya.


"Tante dicariin Mama."


"Oh iya, dimana?"


"Di depan. Suruh cepetan!" Kata Fia. Aku berjalan mengikuti si kembar.


"Ada apa Mbak?" Tanyaku pada Mbak Rindi.


"Hehe... acaranya udah selesai. kita ke mall yuk, jabang bayi lagi pingin ngemall."


"Kok sama aku, Mbak? Mas Rendy belum pulang kerja?"


"Ada meeting, Rai. Pulangnya sorean bahkan bisa malam."


"lha si kembar gimana?"


"Tak titipin ke Omanya."


"Ya sudah, ayo! Aku pamit ke dalam dulu. Entar dicariin kalau tiba-tiba menghilang!"


Mbak Rindi menitipkan si kembar kepada Tante Santi yang masih belum pulang di rumah Sofi.


Setelah berpamitan dengan orang yang ada di dalam, aku dan Mbak Rindi pergi dari rumah Sofi dengan menaiki si putih. Karena yang aku bonceng bumil, aku lebih berhati-hati.


Sampai-lah kita di mall yang tidak jauh dari kampusku. Kami naik ke lantai 1 untuk mencari makanan yang diinginkan Mbak Rindi.


"Mbak, kamu sebenarnya ke Mall ingin beli apa?"


"Beli jasuke, Rai."


"Ya ampun, Mbak! Kalau cuma jasuke di pinggir jalan juga ada Mbak. Jauh-jauh ke Mall cuma ngidam Jasuke si Utun.


" Hehe... namanya juga ngidam, Rai! Pinginnya Makan jasuke yang di Mall dan makannya dekat patung Brand ayam kuntucki.


"Ada-ada saja, kamu Mbak."


"Nanti kalau kamu ngidam juga bakal tahu."


Jangankan ngidam, nikah saja belum.

__ADS_1


Kami melakukan apa yang Mbak Rindi inginkan. Kami juga main beberapa game di time zone. Benar-benar babar ini calon adiknya si kembar.


"Rai, aku lapar. Ayo kita pulang! Nanti mampir di warung rujak cingur. Sepertinya enak sekali kalau dimakan pakai cabai 10."


"Duh, Mbak! Jangan terlalu pedas! Nanti perutnya panas, kasian si utun."


"Ya udah deh, cabai 5!


"Ya udah deh, terserah Mbak! Udah ayo kalau mau pulang!"


Kami-pun keluar dari Mall dan menuju tempat parkiran. Sesuai keinginan Mbak Rindi, kami mampir di warung tempat rujak cingur yang lokasinya tidak jauh dari Mall. Tempatnya lumayan ramai, kami harus menunggu antrian. Jadi kami duduk di kursi yang sudah disediakan.


"Oh iya, Rai! Ical sudah tidak pernah menghubungi kamu?"


"Tidak pernah, Mbak! Terakhir waktu aku sakit, itu saja."


"Hm.. kasian dia. Tapi ini yang terbaik untuk kalian."


"Tapi Mbak, waktu itu Septi sempat nelpon aku."


"Lho, kok bisa? tapi kenapa kamu nggak pernah cerita?"


Akhirnya aku menceritakan kejadian saat Septi menelponku.


"Dasar, nggak tahu diri dia! Pantas saja dia mendapatkan karmanya! Bisanya hanya menyalahkan orang lain. Ngomong kok kayak orang yang paling menderita saja!"


"Hus, nggak baik nyumpahin orang Mbak!"


"Mbak nggak nyumpahin Rai, tapi ini kenyataan. Dia sudah mendapatkan karmanya."


"Kemarin Ical nelpon Mas Rendy. Aku memang nggak punya kontaknya kan. Terus dia bilang kalau Septi sudah melahirkan. Tapi naasnya, Bayinya keracunan air ketuban. Tapi untung masih bisa diselamatkan.Bayinya mengalami pneumotoraks, yang membuat bayinya susah nafas dan harus dirawat secara insentif. Septi pendarahan dan kejang-kejang setelah melahirkan, jadi sekarang masih di ruang ICU belum sadar.


"Astaghfirullah....kasian ya, Mbak? Untung bayinya masih bisa selamat."


"Ya, itu yang mbak sebut karma. Amit-amit jabang bayi, ya Allah. Semoga aku dan bayiku dijauhkan dari marabahaya. Dia nggak sadar dengan perbuatan itu bisa berdampak pada anaknya. Bayi memang tidak berdosa, tp kalau orang tuanya yang salah bisa berdampak pada anaknya. Itu sih yang Mbak tahu."Ujar Mbak Rindi sambil mengelus perutnya.


"Itu teguran dari Allah, Mbak. Makanya, Mbak hati-hati juga kalau ngomong. Do'akan yang baik-baik saja. Aku sudah memaafkan Septi. Semoga dia segera sadar, kasian anak-anaknya masih kecil. Yang satu belum genap tiga tahun umurnya, sudah punya adik. Yang satu baru lahir tidak bisa merasakan ASI. Em...Mas Ical beneran ke luar Negeri ya, Mbak?"


"Iya Rai, sudah satu bulan yang lalu. Dia lagi di Singapura, melakukan kerja sama dengan pabrik tekstil di sana. Deket sini kok! Septi aja yang lebai. Lagian dia ke luar Negeri juga bukan menghindari kamu atau masalahnya. Jadi kamu jangan pikirkan itu.Tapi memang ada keperluan juga. Ya semoga hatinya segera membaik setelah pulang nanti."


Setelah 20 menit kami menunggu, akhirnya rujak kami sudah selesai. Kami sengaja membungkusnya dan akan dimakan di rumah.


"Berapa bu?"


"dua bungkus ya,?Total 30 ribu, Mbak."


"Ini Bu, terima kasih." Mbak Rindi membayar rujaknya.


Hari ini cukup melelahkan, tapi aku senang bisa menemani Mbak Rindi. Meskipun aku harus mendapatkan omelan dari Sofi karena aku langsung meninggalkan rumahnya begitu acara selesai. Untung saja Mbak Rindi bisa mengatasinya.


FLASH BACK ON


"Dev, kamu sedang apa di meja Ayah?"

__ADS_1


"Agus ya yah?" Ucap Dev menunjukkan gambarnya kepada sang Ayah.


"Astaga...!!! Dev, ini gambar proyek Ayah! Kamu ngapain main di sini, Huh!? Nakal kamu ya!!!" dengan emosi Firman menjewer telinga Putranya yang belum genap tiga tahun itu.


"Ampuun yah!!! aciit...!!" Dev memohon ampun kepada Ayahnya, namun Firman masih disulut emosi.


"Mas, lepas! Lihatlah, anakmu sampai merah kupingnya!"


"Lihat yang dia lakukan! Dia sudah merusak hasil gambarku! Aku sudah melakukannya semalaman, tapi dengan sekejap dia mencoretnya. Ini proyek besar, Bun! Aku bisa kehilangan kesempatan ini!" Ujar Firman frustasi.


"Dia masih kecil, Mas! Belum tahu apa-apa!"


"Ini karena kamu selalu memanjakannya! seharusnya dari kecil dia harus diajarkan!"


"Hua....hiks hiks. Ampun Yah... Dev apok." Si kecil memelas kepada Ayahnya.


"Au... aduh! Mas! perutku sakit sekali."


"Apa? kamu kenapa, Bun?" Tanya Firman khawatir.


"Cepat bawa aku ke rumah sakit, Mas! Sepertinya aku akan melahirkan."


Dengan panik Firman nenggendong Septi untuk dibawa ke rumah sakit. Dev ditinggalkan dengan asisten yang ada di rumah.


Saat ini Septi sedang ditangani di ruang operasi. Tensinya sangat tinggi sehingga dia harus dicaesar. Firman mondar-mandir di depan ruang operasi. Kedua orang tua Septi baru sampai rumah sakit, karena tadi mereka sedang tidak di rumah.


"Fir, kenapa tiba-tiba Septi harus Secar? Bukannya HPL-nya masih satu minggu lagi?


"Tadi tiba-tiba Septi sakit perut, Bu. Ternyata saat diperiksa dan USG air ketubannya menyusut, Bayinya keracunan air ketuban. Makanya harus segera dioperasi. Tensi darah Septi juga sangat tinggi. Maaf Bu, Firman langsung ambil keputusan tanpa bertanya. Karena ini demi kebaikan keduanya." Ujar Firman dengan mata berkaca-kaca.


"Tidak apa-apa, itu hak-mu! Semoga keduanya selamat." Ujar Ayah Septi.


Tidak lama kemudian pintu operasi dibuka.


"Selamat Pak, putri anda sudah lahir, untung saja istri anda segera dibawa ke sini. Hampir saja putri merenggang nyawa kalau tidak cepat dikeluarkan. Saat ini sedang dibersihkan oleh perawat."


"Dokter! Pasien kejang!" Ujar seorang perawat dari dalam kamar operasi. Dokter yang dipanggil segera masuk.


15 menit kemudian pintu dibuka, namun brankar Septi dilarikan ke ruang ICU.


"Dok, dokter! Gimana keadaan istri saya?" Tanya Firman.


"Iya Dok, bagaimana keadaan anak saya?" Ibu Setyamenimpali


"Maaf Pak, Bu, Nyonya Septi mengalami kejang dan juga pendarahan. Untuk sementara akan dirawat ke ruang ICU. Bapak bisa mengadzani bayinya kalau sudah selesai dibersihkan. Tapi bayinya juga harus dirawat secara insentif. Mohon bersabar, Insyaallah putri anda baik-baik saja. Dan semoga istri anda juga segera sadar!"


"Terima kasih dok!"


FLASH BACK OFF


...****************...


See you again kakak....

__ADS_1


Maaf Author tidak bisa sadis, jadi pelajarannya segitu dulunm ya buat Septi dan Firman😁


Thank you kakak readers😘


__ADS_2