Ketegaran Hati Raisya

Ketegaran Hati Raisya
Dipinang


__ADS_3

"Iya.. iya, maaf Sayang!"


serrr....


Ada aliran hangat yang mengalir dalam darahku.


Ah, kenapa aku mudah baper? Dia itu kenapa sih? suka bikin jantungku tidak normal. Batinku dalam hati.


Aku keluar dari kamar mencari keberadaan orang tuaku.


"Abah, Kak Haris sudah telpon Abah?"


"Iya sudah, kemarin. Ummimu sudah berangkat ke pasar diantar supir buat belanja. Sebentar lagi Mbak Santi akan ke sini mau bantu masak. Abah juga sudah telpon Sofi biar ke sini.Kamu kenapa kok bengong, Rai?"


"Rai masih syok, Bah. Kak Haris ternyata serius!'


"Lha... kamu pikir Haris main-main? Abah salut sama dia. Orangnya gentle man, dan Insyaallah akan menjadi imam yang baik untukmu."


"Amiin..."


Mungkin ini adalah jawaban dari do'a-do'aku selama ini. Enam tahun penantian yang cukup panjang. Tuha berikan ujian demi ujian untuk mempertebal iman dan kesabaran. Tuhan sudah mempersiapkan Jodoh yang pas dan di waktu yang tepat. Meski bagimu itu lambat.


Jam 19 Tante Santi datang bersama Mbak Rindi dan Alif. Ummi dibantu Tante Santi memasak.Mbak Rindi menjaga si kecil yang sedang aktif-aktifnya. Mereka memasak beberapa menu, seperti ayam rica-rica, telur balado, pepes ikan, capcai,dan juga rendang daging. Aku disuruh Ummi untuk membeli beberapa buah-buahan, karena tadi Ummi lupa. Sofi ditelpon lagi untuk membeli aneka kue basah, karena di sekitar rumah Sofi banyak toko kue.


Setelah shalat Dhuhur Sofi dan Zie datang diantar Irfan. Irfan harus kembali lagi bekerja karena ada pertemuan dengan customer.


"Nggak nyangka banget ya, Mbk? Ternyata yang dimaksud Mas Irfan bukan Pak Anton tapi namanya Haris. Cie cie... bentar lagi Mbak sold out." Ujar Sofi mrnggodaku. Aku hanya membalas dengan senyuman


"Iya nih, Sof! Gerak cepat juga si Raisya. Kayak siapa sih yng namanya Haris? Ada fotonya nggak?"Mbak penasaran nih!"Mbak Rindi menimpali.


"Nggak ada, nggak punya fotonya. Kenal aja juga baru beberapa hari."


"Masa sih? Sini Mbak lihat Ponsel-mu!"


"Jangan! Beneran nggak ada Mbak." Larangku. Tapi Sofi berhasil merebut ponsel-ku.


"Dik! Balikin nggak!"


"Nggak! Sini Mbak Rin! Kita gledah isi ponselnya!"


Aku lupa ada satu foto yang dikirim oleh Bu Hesti beberapa hari yang lalu. Foto saat Kak Haris mengobati kakiku di tangga Pura.


"Ketemu, ini Mbak Rin!" Ujar Sofi antusias.


"Mana sini aku lihat! Mbak Rindi merapat ke samping Sofi.


"Cie...so sweet! Kenapa kakinya, Rai?" diurut segala!"Mbak Rindi kembali menggodaku.


"Tapi wajahnya nggak kelihatan ya, Sof?"


"Iya, Mbak. Nunduk sih! Kayaknya tinggi nih orangnya."


"Sudah nggak usah pada ribut, nanti malam orangnya juga ke sini. Kalian boleh lihat sepuasnya." Ujarku, seraya mengambil ponselku kembali.


Aku masuk ke dalam kamar untuk mengecash ponselku. Kemudian aku shalat Duhur dan lanjut membantu Ummi dan Tante Santi di dapur.


Jam 4 sore semua masakan sudah selesai. Akhirnya kami mandi dan shalat Ashar. Setelah itu kami duduk santai sambil mengobrol. Alif dan Zie bermain di ruang tengah.


Akhirnya Irfan datang, disusul kemudian Rendi dan si kembar yang datang. Kami memang tidak mengundang banyak keluarga. Karena ini hnya acara silarahmi antar keluarga saja.


Adzan Maghrib berkumandang, Kami-pun shalat berjama'ah. Kami menyiapkan untuk makan lesehan, karena meja makan pasti tidak muat jika kami semua harus makan bersama. Beberapa kursi di ruang tengah dipindah ke ruang tamu.


Jam 7 Malam. Keluarga Kak Haris sudah sampai di rumah. Mereka membawa dua mobil.

__ADS_1


"Assalamu'alaikum..." Ucap mereka serentak


"Wa'alaikum salam.." Jawab kami serentak.


"Lho, Bu Aji? jadi Bu Raisya itu anaknya juragan sembako ya?" Ujar Bu Rida saat melihat Ummi.


"Iya, Bu. Raisya anak pertama saya. Saya juga tidak tahu kalau Nak Haris anaknya Bu Rida. Soalnya nggak pernah ikut kalau ke toko.


"Iya, Bu Aji. Haris baruvm pulang dari Jepang."


"Mari mari masuk, Pak, Bu, ngobrolnya dilanjutkan di dalam." Mereka bersalaman dan masuk ke dalam, duduk di ruang tamu. Yang menemui mereka hanya Abah, Ummi m, Tante Santi, dan Mas Rendi. Dari pihak Kak Haris ada kedua orng tuanya, Mbak Hana, suaminya dan habya satu anaknya yang dibawa. Nuri dan suaminya, serta kedua anaknya. Mereka membawa dua parcel buah, Parcel coklat ukuran besar, dan dua cake lamaran.


"Maaf Pak, kami ke sini tidak membawa apa-apa, karena kami ke sini mau bersilaturahim, syukur-syukur bisa jadi besan. hehe..."


"Tidak apa, ini sudah lebih cukup.Yang penting adalah pertemuannya, Pak."


Sofi mengantarkan minuman dan kue basah di meja tamu.


"Kami ke sini untuk mrneruskan niat dari anak kami Haris, untuk meminang anak Pak Aji, yaitu Raisya. Apa benar Raisya tidak memiliki halangan apa-pun, Pak Aji?"


"Alhamdulillah, anak kami Raisya sedang tidak ada halangan apapun, Pak. Dia single, tidak memiliki hubungan apapun dengan lawan jenis. Tapi sebelumnya kami mohon maaf, mungkin Bapak sudah tahu status anak kami, jadi itu yang membuat kami masih takut untuk menerima orang lain. Karena kami takut mereka mempermasalahkan itu.


"Kami sekeluarga tidak ada masalah dengan status atau masa lalu Raisya, Pak Aji. Meskipun Raisya baru satu tahun mengajar ditempat saya, sedikitnya saya tahu kepribadiannya. Insyaallah, Raisya adalah pilihan yang tepat untuk Haris. Bukan begitu, Ris?"


"Iya Ayah."Jawab Kak Haris dengan yakin.


"Jadi bagaimana Pak Aji? Apa lamaran kami diterima?"


"Kalau saya tentu menerima, tapi ada baiknya kita tanyakan kembali kepada Raisya. Sebentar biar kami panggil orangnya."


Abah menyuruh Ummi untuk memanggilku keluar.


Malam ini aku memakai gamis berwarna pink- biru dengan jilbab warna soft pink. Aku memoles sedikit wajahku dengan bedak, pensil mata, dan juga lip tin.


"Rai malu, Mi!"


"Nggak usah malu, ayo Ummi dampingi."


"Jilbab Rai sudah rapi, Ummi?"


"Sudah, sudah rapi. Sudah cantik juga."


Aku berjalan ke ruang tamu digandeng oleh Ummi.


"Nah ini orangnya sudah keluar." Ujar Ummi.


Aku menyalami semua orang kecuali suami Mbak Hana dan suami Nuri. Kapada mereka, aku hanya menangkupkan kedua tangan. Tak lupa dengan senyum manisku.


"Manis sekali"Ujar Mbak Hana.


"Iya, pantas Kakak pingin buru-buru ngelamar!" Nuri menimpali.


"Duduk di situ, Rai." Perintah Abah. Dan aku-pun duduk di kursi. Aku hanya menundukkan pandangan karena malu.


Setelah menjelaskan maksud kedatangan mereka, Abah-pun bertanya kepadaku.


"Gimana, Rai? Apa kamu menerima lamarannya Nak Haris?"


"Busmillahirrahmanirrahim... Iya saya menerima pinangannya Kak Haris."


"Alhamdulillah...." Ucap mereka serentak.


"Sini Nak, sekang Ibu sudah tidak akan panggil Bu Raisya pada calon mantu Ibu." Ujar Bu Rida. Aku mendekat kepadanya. Beliau membuka kotak perhiasan.

__ADS_1


"Ini sebagai tanda pengikat, biar ibu yang pakaikan cincinnya. Ini Haris yang beli sendiri. Dia sangat antusias memesannya dua hari yang lalu. Yang untuk Haris ini biar dia pakai sendiri. Hehe..." Bu Rida menyerahkan cincin berbahan titanium ke Mas Haris. Karena haram hukumnya memakai emas bagi seorang laki-laki muslim.


"Terima kasih, Bu." Ucapku dengan senyum ikhlas. Aku tidak sadar, Kak Haris sedang memperhatikanku.


"Iya, sama-sama.


"Dan kami juga sudah menentukan tanggal pernikahan mereka nanti, Pak Aji. Tanggal 24 bulan depan, sekitar 40 hari lagi dari sekarang. Itu nantik acara lamaran dan langsung nikah. Menurut Pak Aji gimana?"


"Nak Haris sebelumnya sudah bicara kepada saya, tentu saya sangat setuju, Pak. Dan lagipula Raisya tidak ingin ada pesta besar lagi. Cukup acara pernikahan yang sakral katanya."


"Alhamdulillah kalau begitu, Pak Aji."


Akhirnya setelah pembahasan selesai kami makan bersama di ruang tengah. Semua ikut makan bersama.


"Maaf Pak, Bu... makannya di bawah, karena mejanya tidak cukup." Ujar Ummi.


"Tidak apa, Bu Aji. Malah enak makan lesehan gini lebih kekeluargaan. Ini juga menunya banyak sekali. Maaf lho, kalau kami ngerepoti."


"Tidak sama sekali, Bu. Justru kami senang.


Mereka makan dan melayani pasangan masing-masing. Kak Haris memang duduk di depanku. Tapi aku tidak mmelayaninya. dia diam tidak mengambil nasi ke piringnya. Aku mendongak ke arahnya. Dia mengkode untuk diambilkan nasi. Akhirnya dengan melawan rasa malu aku menyendokkan nasi ke piringnya.


"Cukup, Kak?" Ujarku lirih.


"Cukup, Dek." Jawabnya nyaring, sampai orang yang di sekitar memperhatikan kami. Namun mereka pura-pura mengalihkan pandangan. Kak Haris malah semakin banyak maunya. "Mau itu, Dek!" Ujarnya, menunjuk Capcai. Aku menuangkan dua sendok capcai ke piringnya."Terima kasih, Dek."


"Hmm..." Jawabku lirih.


Siap-siap nanti bakal digoda Mbak Rindi dan Sofi kalau Kak haris dan keluarganya sudah pulang. Batinku dalam hati.


Setelah acara makan bersama, mereka masih bercengkrama di ruang keluarga. Dan 10 menit kemudian mereka pamit untuk pulang. Ummi membawakan beberapa kue basah untuk dibawa pulang. Kami mengantar mereka sampai ke depan.


"Sekali lagi, terima kasih untuk Bapak dan keluarga, hati-hati di jalan Pak." Abah merangkul calon besannya.


"Iya sama-sama, Pak Aji. Assalamu'alaikum."


"Wa'alaikum salam."


Kami kembali masuk ke dalam rumah, saat ini ini sudah jam 9 malam.


"Kak Haris orangnya lucu ya, Mbak?" Kata Sofi tiba-tiba.


"Jangan memuji laki-lai lain di depan suami, Ma. Papa cemburu." Ujar Irfan.


"Dih, belum bilang Kak Haris ganteng banget! Papa udah cemburu! Haha..."


Aku hanya geleng-geleng kepala menghadapi mereka.


"Tapi beneran kok, Rai. Haris lebih ganteng daripada mantan suamimu." Bisik Mbak Rindi di telingaku.


"Gantengny bonus, Mbak. Yang paling penting itu bisa nerima Rai apa adanya." Jawabku.


Mbak Rindi membalas dengan memberikan kedua jempol tangannya.


Akhirnya Mereka juga pamit pulang karena sudah malam.


...****************...


Bersambung....


Next Haris kawin ya.. eh nikah dulu dong kak😂


Terima kasih untuk supportnya Kakak, mohon maaf kalau masih ada typo.

__ADS_1


See you again...


__ADS_2