
Hari ini kami dalam perjalanan pulang ke rumah Nenek. Sofi dan Irfan juga pulang dengan membawa mobil sendiri.
Beberapa menit kemudian kami-pun sampai. Disusul 10 menit kemudian Sofi dan Irfan. Aku langsung mengambil alih Baby Zie.
Sudah ada beberapa kerabat dekat yang datang untuk membantu mengupas dan mengiris bawang di rumah Nenek. Begitulah kalau di kampung, solidaritas masih sangat dijunjung tinggi.
"Raisya, itu anaknya Sofi ya?" Tanya Bi Ana sepupu Abi dari garis Kakekku.
"Iya, Bi!" Ayo salim dulu nak." Aku menuntun Zie untuk salim je beberapa orang yang duduk.
"Ke aku nggak usah, Rai! Tanganku habis ngirim bawang. Nanti perih matanya."
"Te, Zie au es gim!" Ujar Zie yang minta es krim kepadaku.
"Nanti ya, ikut Tante dulu lihat dede bayi. Zie mau ya?" Bujukku.
"Dede ayi te? au au..." Sebenarnya aku tidak terlalu paham dengan bahasanya Zie. Tapi dia akan protes kalau memang tidak sesuai yang dia mau.
"Ok, ayo kita pergi lihat dede bayi! Tapi Zie jalan ya, jangan gendong! Tante lagi capek. Yah yah?"
"Yah yah." Zie menirukan perkataanku.
Aku menuntunnya berjalan di samping kiriku. Tangan kananku membawa hampers baby untuk anaknya Fifi. Tadi pagi aku ke baby shop untuk membeli beberapa baju bayi warna pink dan merah, sepatu dan bando yang lucu. Karena anaknya perempuan. Dalam hati aku berdoa'a semoga aku tidak bertemu dengan keluarga Mas Firman, karena rumah Fifi cukup dekat dengan rumahnya.
"Te.. es gim ana?"
"Nanti dulu ya! Pulang lihat dede kita beli es krim-nya."
"Yah yah!" Ucapnya sambil manggut-manggut.
Akhirnya kami sampai di rumah Fifi.
"Assalamu'alaikum..."
"Alaitum..." Ziee mengikuti ucapanku.
"Wa'alaikum salam, Eh ada Raisya. Masuk Rai, Fifi sedang di dalam.
"Iya bi." Aku mencium punggung tangan Ibunya Fifi, Begitu pula Zie yang menirukanku.
Aku dan Zie duduk. Fifi keluar dari kamarnya dengan menggendong bayinya.
"Hai... apa kabar? Lama banget nggak pulang kesini!"
"Alhamdulillah, Fi. Aku kan sudah kirim pesan kemarin. Maaf ya nggak bisa langsung nengokin si kecil."
"Iya nggak pa-pa, Eh ini siapa? Cantik sekali...." Fifi mencubit pipi Zie.
"Anakmu Sofi, namanya Zie. Ayo Nak, salim sama Tante Fifi." Zie melakukan apa yang aku suruh.
"Te.. dede... Zi au tium dede."
"Oh... zie mau cium dedenya? Bentar ya! Ini Rai tolong gendong dulu. Aku mau merapikan di dalam kamar dulu.
"Sini-sini! siapa namanya, Fi?"
__ADS_1
"Namanya Airin Larasati, dipanggil Airin."
"Oh.. iya dede Airin. Sini Zie kalau mau cium dedenya." Aku duduk di kursi agar Zie mudah untuk menjangkau Airin. Dengan gemas Zie memegang pipi Airin kemudian menciumnya berkali-kali.
Setelah beberapa menit Fifi meninggalkan kami, akhirnya dia keluar lagi.
"Fi, suamimu mana?"
"Dia berangkat lagi Rai. Kan cuma cuti lima bulan, terus berangkat lagi.
"Jadi dia nggak ada disini saat kamu lahiran?"
"Nggak ada, aku lahiran sama Ibu. Untung saja lahiran normal di Bidan kampung."
"Alhamdulillah kalau begitu, Fi. Oh iya, ini ada bingkisan untuk Airin." Fifi menerimanya.
"Boleh langsung dibuka nggak nih?"
"Boleh... Buka saja!" Fifi segera membuka kado yang aku beri. Dengan antusias Zie ikut membantu membuka kadonya.
"Wah, lucu banget ini. Rai terima kasih ya!"
"Iya sama-sama. Pasti nanti Airin tambah lucu kalau pakai itu." Ucapku sambil membayangkan.
"Iya, makanya cepetan cari pendamping! Biar punya kayak Airin dan Zie!"
"Belum ada yang srek di hati."
Kami ngobrol cukup lama. Sampai akhirnya Zie mulai bosan dan merengek minta pulang.
"Iya Rai, sekali lagi terima kasih, ya."
"Iya sama-sama."
Aku menggendong Zie, agar lebih cepat sampai. Kami mampir di toko besar yang menjual es krim. Zie mengambil beberapa es krim yang dia pilih sendiri. Setelah membayarnya kami pulang.
"Ante uka es gim-nya." Zie minta untuk dibuka es krim-nya.
"Ini, makannya pelan ya! Kalau cemong-cemong nanti dimarahin Mama."
"Oce te!" Zie menunjukkan jempolnya tanda setuju. Tapi tetap saja namanya juga anak-anak, makannya tetap saja belepotan.
-
Keesokan harinya.
Pagi-pagi aku sudah menyapu halaman rumah Nenek dan halaman rumahku sendiri. Orang yang mengontrak rumahku sedang pulang kampung karena liburan sekolah. Halamannya kotor karena banya daun yan berjatuhan dari pohon. Udara di sini sangat sejuk, karena masih banyak pepohonan
Setelah agak siangan tetangga dan kerabat dekat mulai berdatangan untuk membantu. Mereka membantu memasukkan kue dan nasi ke dalam besek berkat. Aku yang berada di kamar sedang main dengan Zie mendengar obrolan Ibu-ibu tetangga.
"Bu Aji, kenapa Rai belum nikah lagi?Udah empat tahun kok masih sendiri saja! Itu si Firman mantan suaminya udah punya anak dua lho!" Ucap seorang tetangga.
"Belum ada yang cocok, Bu. Do'akan saja agar Rai segera menemukan jodohnya." Jawab Ummi.
"Bilangin Raisya-nya Bu Aji. Jangan terlalu memilih gitu. Kalah dong sama adiknya. Paling bentar lagi Sofi punya anak lagi. Apa nggak mau dia seperti adiknya?" Yang lain menimpali.
__ADS_1
"Bukan terlalu memilih, Bu. Tapi lebih berhati-hati. Maklum, sudah pernah gagal. Jadi wajar saja kalau takut gagal lagi." Ummi menjawab dengan sabar.
"Iya juga ya, Bu. Karena menikah itu kalau bisa seumur hidup sekali. Saya juga prihatin atas apa yang menimpa Raisya. Makanya Firman itu kualat sudah menyia-nyiakan Raisya. Bu Aji tahu nggak?Anaknya Firman yang nomer dua itu autis, Bu Aji. Istrinya setelah melahirkan masuk ICU dan sampai sekarang masih harus keluar masuk rumah sakit."
"Sakit apa istrinya Firman, Bu? Tanya Ummi penasaran.
"Itu lho, kan setelah lahiran dia kejang dan pendarahan sampai nggak sadar, Bu haji. Setelah satu minggu sadar ternyata kena syaraf otaknya. Ada penyumbatan di otaknya, akibat darah tinggi dan banyak pikiran. Katanya sih begitu."
"Astaghfirullah... kasian sekali kalau begitu, Bu. Ibu kok tahu ceritanya sampai detail begini dari mana?"
"Kan waktu itu saya juga diajak buat jenguk bayinya, Bu Aji. Banyak juga kok yang kut, kita sewa satu mobil waktu itu.
"Oh iya-iya, Bu." Akhirnya obrolan mereka terhenti karena sudah adzan Dhuhur dan semua pekerjaan sudah selesai. Dan mereka pulang satu persatu. Setelah ashar baru mereka akan kembali untuk mengikuti tahlilan.
"Mbak, kamu denger, obrolan Ibu-ibu tadi?"
"Soal apa, dik?"
"Itu soal si kutu kupret Firman dan Laras."
"Iya tadi Mbak dengar. Memangnya kenap, dik?"
"Allah tidak tidur, Mbak. Sunnguh Allah Maha Adil. Apa yang kita tanam itu yang akan kita tuai. Kesabaranmu tidak sia-sia, Mbak." Ujar Sofi.
"Tapi kita tidak boleh bahagia di atas penderitaan orang lain, dik. Mbak juga tidak menginginkan itu terjadi kepada mereka."
"hmm.. susah kalau ngomong sama Bu Ustadzah. Mereka saja senang lihat Mbak susah!"
"Biarkan saja, asal kita tidak boleh sama dengan mereka."
"Eh tapi ngomong-ngomong gimana kabarnya Bang Ical, Mbak?"
"Kami sudah lama tidak berkirim kabar, dik. Terakhir aku mendengar dari Mbak Rindi seminggu yang lalu, Mas Ical masih di Singapura. Dia sudah move on dariku, dik. Kata Mas Rendy dia sedang pendekatan dengan seseorang."
"Syukurlah kalau begitu. Aku sebenarnya kasian sama Bang Ical, Mbak. Tapi mungkin kalian memang tidak berjodoh. Semoga Bang Ical menemukan jodoh yang baik."
"Amiin... Insyaallah, dik. Laki-laki baik untuk perempuan baik."
-
-
Saat Ini acara akan dimulai, tidak banyak tamu yang diundang, hanya sekitar 60 orang. Setelah acara do'a bersama, hidangan kami sajikan ke luar. Kali ini menunya nasi lauk sate daging sapi.
Setelah acara selesai, Ibu-ibu membantu untuk mencuci piring dan bekas perabotan yang dipakai. Tak lupa kami mengucapkan terima kasih kepada mereka karena sudah membantu acara kami.
Hari ini kami masih menginap di rumah Nenek. Kasian Bibi kalau harus membereskan semuanya sendiri. Bibi sangat senang kalau kami menginap, karena rumah tidak sepi. Besok pagi, kami akan kembali pulang ke rumah.
Malam ini Zie minta tidur denganku. Kami tidur di kamar almarhumah Nenek. Zie sudah berhenti ASI, jadi hanya minum susu formula dari dotnya. Dan juga sudah makan nasi teem.
...****************...
Bersambung....
Terima kasih sudah mensupport author, ya kakak. Untuk Part berikutnya akan ada kebahagiaan yang Raisya tunggu. Jadi bersabarlah. Seperti hidup kita pada umumnya, begitu pula kehidupan Raisya. Banyak ujian yang harus dia hadapi. Tapi semua itu akan indah pada waktunya. Sesuai judul kakak😊
__ADS_1
See you again...