
Di perjalanan aku hanya duduk diam di kursi samping kemudi. Sesekali Mas Faisal menoleh kepadaku.
"Rai, apa kamu sudah merasa lega sekarang?"
"Iya Mas, Alhamdulillah." Sontak aku tersenyum dan menoleh ke arahnya. Tak sengaja sekilas pandangan kami bertemu.
"Astagfirullah.." Ucapnya.
"Kenapa, Mas?"
"Godaannya sangat besar ya, Rai! Kalau lagi bedua seperti ini. Melihat senyummu saja aku sudah nggak kuat. Aku takut khilaf!" Jujurnya.
"Maaf Mas! Rai tidak bermaksud menggoda lho, Mas."
"Tidak-tidak, bukan begitu maksudku, Rai! Memang aku-nya saja yang imannya tipis, hehe... pingin cepat nikah aja kalau gini!"
"Mas ini, ada-ada saja. Makanya itu, saya tidak mau kalau jalan berdua."
"Rai, tolong mulai sekarang jangan menyebut kata saya, tapi aku. Biar kedengarannya lebih enak.
"Baik, Mas."
Sampai di rumah, Abi dan Ummi sudah menunggu di ruang tamu. Mas Faisal duduk sebentar sebelum akhirnya berpamitan pulang. Setelah kepergian Maa Faisal dari rumah, aku langsung dibwrondong pertanyaan oleh Ummi.
"Gimana, Rai? Kamu ketemu kan dengan orang tua Faisal?"
"Iya Ummi, ketemu kok. Makanya kita pulangnya sore."
"Terus-terus gimana tanggapan mereka?"
Aku menceritakan semuanya kepada Ummi dan Abi.
"Mereka juga kirim salam balik buat Ummi dan Abi. Dan... ini tadi ada titipan oleh-oleh dari Ibu Mas Ical. Kue kering, bikinannya sendiri."
"Wah, kayaknya enak nih! Bilangin ke Faisal, terima kasih gitu sama Ibunya. Alhamdulillah ya Rai kalau mereka juga menerima kamu. Ummi harap ini akan menjadi awal yang baik."
"Dan Abi harap, Faisal akan segera membawa orang tuanya ke sini. Karena Abi sudah bilang ke Pak Handoko kalau kamu akan dikhitbah."
Kami mengakhiri obrolan malam ini. Aku segera shalat Isya dan beristirahat si dalam kamar. Mas Faisal mengirim pesan bahwa dia sudah sampai di rumahnya.
...****************...
Tidak terasa sudah seminggu berlalu dari pertemuanku dengan orang tua Mas Faisal. Hari ini aku diundang Mas Faisal ke rumah orang tuanya lagi, karena ada acara tasyakuran tujuh bulan Adiknya Mas Faisal. Saat Ini Adiknya hamil anak kedua. Rencananya Mas Faisal akan melamarku setelah acara tujuh bulanan. Dan itu sudah dibicarakan dengan orang tuanya.
Abi dan Ummi diundang juga, tapi mereka tidak bisa hadir karena ada acara keluarga. Aku hadir bersama Mas Rendy dan Mbk Rindi. Mas Faisal sudah pulang sejak kemarin sore ke rumah orang tuanya. Karena dia ditelpon sama Ibunya untuk segera pulang. Tentu aku tidak bisa ikut dengannya.
Saat ini kami sedang dalam perjalanan ke rumah orang tua Mas Faisal. Acaranya jam 1 siang, jadi kami berangkat dari rumah jam 9. Kami sempat mampir di Masjid untuk shalat dhuhur. Si kembar tidak ikut, karena sedang menginap di rumah orang tua Mas Rendy.
Jam 12 siang kami sampai di rumah Mas Faisal. Di sana sudah cukup ramai yang datang. Kali ini bukan takut yang aku rasakan, tapi malu. Karena di dalam pastinya ada sanak saudaranya yang hadir.
"Ayo masuk, sudah ditungguin Ibu di dalam."
__ADS_1
"Iya Mas."
"Aduh, cuma calonnya saja yang diajak masuk. Yang nganter nggak!" Ujar Mbak Rindi.
"Iya, maksudku masuk semua, Rin! Bumil nih sensian orangnya!"
Akhirnya kami masuk ke dalam. Dan saat sudah sampai di dalam aku disambut dengan hangat oleh Ibu Mas Faisal.
"Ayo Nak, sini! Ibu kenalkan dengan saudaranya Faisal. Ini Farida, Mbaknya Faisal." Aku bersalaman dengan Mbak Farida.
"Ini Bu denya Faisal, Namanya De Lastri. Kakaknya Bapak." Aku mencium Punggung tangannya.
"Owalah ini toh calonnya Faisal? Manis ya! Pintar Faisal milih, pantesan nggak mau dijodohin." Ujar De Lastri memujiku. Aku hanya memberikan senyuman.
"Ini Bu le'nya, Namanya Le' Darmi." Aku menyalami satu-satu.
Dan ada beberapa orang lagi yang diperkenalkan kepadaku. Tapi aku belum melihat adiknya Mas Faisal keluar. Kata Ibu sedang dirias oleh MUA di dalam kamarnya. Karena waktu anak pertama dia tidak sempat melakukan acara besar. Jadi kali ini ingin dibuat istimewa.Para tamu laki-laki ditempatkan di tenda depan rumah, sedangkan yang perempuan di depan rumah. Dekorasi Baby Shower diletakkan di garasi mobil.
Saat ini aku sedang membantu menyiapkan hidangan untuk para undangan. Aku melihat Mbak Rindi gelisah, setidak membuka pesan di HP-nya.
"Mbak, kamu kenapa? Kok kayak orang bingung, Pesan dari siapa?" Aku bicara dengan sangat pelan
"E... e... dari Mas Rendy."Ujar Mbak Rindi terbata-bata.
"Kenapa katanya? Baru juga pisah beberapa menit, udah kirim pesan saja!"
"Em.. nggak! Nggak pa-pa kok. Cuma Mas Rendy khawatir sama si kembar."
Sampai akhirnya tamu sudah berdatangan, dan acara akan segera dimulai. Undangan ada sekitar 150 orang, laki-laki dan perempuan. Acara demi acara sudah dilewati, setelah do'a bersama saatnya acara siraman. Bumil keluar dari kamarnya dengan riasan tipisnya. Karena banyaknya undangan aku hanya bisa melihat dari kejauhan.
Deg!
Kenapa wajah adik Mas Faisal ini tidak asing bagiku. Aku pernah melihatnya, tapi dimana?
Tiba-tiba ada beberapa orang yang baru datang, tapi tidak kelihatan. Karena banyak yang berdiri melihat prosesi siraman. Karena tinggiku yg tidak seberapa, aku tidak dapat melihat jelas.
"Rai...." Mbak Rindi menggenggam tanganku.
"Ada apa, Mbak?" Aku melihat Mamak Rindi semakin gelisah.
"Lihatlah ke sana!" Mbak Rindi menunjuk orang baru datang.
"Bu Halimah!" Aku berkata dengan lirih. Aku juga melihat Mbak Ira dan anak-anaknya. Aku menoleh ke arah Mbak Rindi yang masih menggenggam tanganku. Pandanganku beralih lagi ke arah Bu Halimah yang berjalan ke depan tempat dekorasi berada.
Kenapa Bu Halimah bisa ada di sini? Dan Mbak Ira juga. Apa Mas Ical masih kerabat Bu Halimah?
Karena rasa penasaranku, aku menjinjit untuk menjangkau yang ingin aku lihat.
Belum sempat aku melihat, Mbak Rindi mengajakku. "Rai, ayo antar aku ke kamar mandi!" Tanpa menunggu persetujuanku, dia menarik tanganku yang digenggamnya sedari tadi.
"Mbak, pelan dong!"
__ADS_1
"Aku kebelet Rai, maklum kalau lagi hamil memang sering pipis." jawab Mbak Rindi masih dengan nada gelisah. Mungkin karena dia sangat mendesak. Aku menunggu di depan pintu kamar mandi. Karena lama, aku menggedor pintu kamar mandi.
"Mbak! Kamu nggak tidur kan, di dalam?"
"Aku sakit perut, Rai!"
"Ish! ya sudah cepetan! Aku tunggu."
Aku masih berdiri di depan pintu. Masih dengan tanda tanya dalam pikiranku. Aku ingin cepat-cepat ke depan dan melihat keadaan yang sebenarnya.
"Nak Raisya!!??" Panggilan seseorang mengagetkanku.
"I-Ibu....!" Ucapku terbaru-bata karena terkejut.
"Ibu kira salah lihat, ternyata beneran kamu! Kamu juga diundang?" Ibu Halimah sepertinya juga sangat syok.
"I-iya Bu!"
Mbak Rindi membuka pintu kamar mandi "Ayo, Rai!" Saat melihat Bu Halimah Mbak Rindi hanya menyapa dengan anggukan kepala." Mau ke kamar mandi, Bu? Silahkan masuk, saya sudah selesai. Ayo Rai!" Mbak Rindi kembali menarik tanganku. Aku merasa ada yang aneh dengan Mbak Rindi.
"Nak Raisya! Ibu cari-cari lho, dari mana?" Ujar Ibu Mas Faisal.
"Iya Bu, tadi dari kamar mandi."
Ayo, Nak! Ikut nyiram Septi ya? sekalian Ibu kenalkan dengan Septi dan suaminya."
"Oh, iya Bu."
"Ayo, Mbak!"
Ajakku ke Mbak Rindi. Kulihat Mbak Rindi menggelengkan kepala dan mematung ditempatnya. Aku tidak ingin memaksa, karena orang hamil susah ditebak mood-nya. Aku meninggalkan Mbak Rindi dan mengikuti Ibu Mas Faisal, berjalan menuju tempat siraman. Aku menundukkan pandangan karena malu kepada orang di sekitar.
"Septi, perkenalkan ini calon Kakak iparmu! " Ucap Ibu Setya. Sontak aku mendongak.
-
-
jeddar!!
Seperti disambar petir. Bukan hanya Septi yang membuatku kaget dan syok, tapi laki-laki yang saat ini berdiri di samping Sept dan merangkul pundaknya.
-
-
-
Bersambung......
Maafkan author ya kakak readers... memang beginilah takdir Raisya, akan indah pada waktunya.
__ADS_1
Terima kasih selalu supportš