Ketegaran Hati Raisya

Ketegaran Hati Raisya
Belum beruntung


__ADS_3

Satu bulan kemudian


Aku telat datang bulan sudah satu minggu. Biasanya au tidak terlalu memikirkan , karena itu sudah menjadi hal biasa. Tapi kali ini aku sangat memperhitungkan, karena sudah memiliki suami. Lebih tepatnya kami sedang mengharapkan hadirnya seorang anak di tengah-tengah keluarga kami. Meski baru berusia 40 hari pernikahan kami, tapi Mas Haris sangat antusias jika berbicara tentang keturunan. Hari ini aku memutuskan untuk hampir ke apotek untuk membeli tespeck. Meski aku tudak merasakan ada yang berbeda dalam diriku, tapi tidak ada sakahnya aku coba test. Kebetulan hari ini aku pakai motor sendiri, karena Mas Haris tidak bisa mengantarku. Dia ada pekerjaan di luar kota, membantu temannya yang sedang merintis usaha properti. Besok siang, baru dia bisa pulang.


Di sekolah, Bu Hesti membagikan undangan pernikahannya kepada guru dan staf yang ada.


"Cie yang mau nikah!" Godaku.


"Stres aku, Bu! Menjelang nikah kenapa ada saja ya godaannya!"


"Godaan gimana maksudnya?"


"Ada saja masalah kecil yang kami ributkan, pokoknya dikit-dikit berantem, dikit-dikit baikan."


"Wajar, Bu. Kebanyakan seperti itu, katanya. Tapi waktu kemarin saya mau menikah, Alhamdulillah tidak ada masalah. Mungkin karena tidak mudah menyatukan dua pendapat yang berbeda, Bu. Harus ada yang mengalah."


"Huft... Mungkin iya, Bu."


"Eh gimana-gimana, sudah ada tanda-tanda perut buncit belum?"


"Perut udah buncit tiap hari makan nasi!" Jawabku sekenanya.


"Heheh.... maksudku udah positif, belum?"


"Belum tahu, Bu. Sambung do'anya ya?"


"Pasti, Bu. Ya sudah ayo pulang! Sudah sepi nih!"


Kami pulang dengan arah jalan masing-masing. Aku mampir di apotek yabg tidak jauh dari sekolah.


"Bisa kami bantu, Kak?"Tanya penjaga Apotek.


"Iya, saya mau beli tespeck, Mbak."


"Yang standart atau yang bagusan, Kak?"


"Yang bagusan saja."


"Ini, Kak! Harganya tiga puluh ribu."


"Baiklah, ini uangnya.


"Ini kembaliannya, Kak. Terima kasih, sehat selalu."


Aku keluar dari Apotek dan melanjutkan perjalanan pulang.


Keesokan harinya, di pagi buta. Aku menampung air ken*ingku untuk aku test.Dengan petunjuk yang ada aku mulai mencoba mempraktekkan. Setelah menunggu satu menit, kulihat hasilnya.


Garis satu, ternyata aku tidak hamil.


Cepat-cepat aku membuang tespeck itu. Kemudian mandi dan berwudhu'.


Siang harinya saat pulang sekolah aku mendapatkan pesan dari Sofi kalau ternyata saat ini dia tengah hamil anak kedua. Diketahui usia kandungannya berusia dua bulan. Tentu aku senang mendengarnya, tapi aku juga sedih karena ternyata aku tidak hamil.


Sabar, Rai! Masih ada kesempatan bulan berikutnya.


"Assalamu'alaikum, sayangku."


"Wa'alaikum salam, Mas."


"Lagi ngapain?"


"Baru pulang ngajar, lagi di kamar rebahan, Mas jadi pulang, kan?"


"Jadi dong! Ini sudah di jalan, masih mampir shalat di Masjid."

__ADS_1


"Alhamdulillah, kalau begitu."


"Kamu mau minta oleh-oleh apa, Sayang?"


"Oleh-oleh orangnya saja. Ups!" Aku menutup mulutku karena baru sadar dengan jawabanku.


"Cie... ada yang kangen nih? Tapi gengsi nggak mau bilang!"


"Yang kangen siapa, Mas?"


"Kamu-lah! Masa hantu?Hahaha...."


Jam 4 sore, Mas Haris sampai di rumah. Aku menyambut kepulangannya di depan pintu rumah. Dia membawa oleh-oleh khas Malang.


"Capek ya, Mas?"


"Lumayan, sayang."


"Sini aku pijitin!"


"Ah kebetulan, istriku ini memang sangat pengertian." Mas Haris membuka kaosnya dan bertelanjang dada.


"Lho, kok dibuka? Kan cuma mau pijit?"


"Biar meresap sentuhannya, Dek. Di dalam kamar kok pakai jilbab, Dek? Buka jilbabnya!"


Aku tidak protes lagi.Aku membuka jilbabku. Saat ini aku sedang memakai gamis rumahan model resliting depan. Aku mulai memijat tubuh bagian belakang Mas Haris.


"Nah iya, bagian itu lebih kuat lagi pijitnya, Dek!"


Kemudian dia berbalik merubah posisi menjadi tidur terlentang.


"Di mana lagi Mas, yang pegel?"


"Pahaku, Dek!"


"Dek, mendekatlah ke sini! Tolong pijit kepalaku, sepertinya agak puyeng."


Aku beralih ke bagian atas memijit kepalanya dengan kedua tanganku. Aku fokus melihat kepalanya. Tiba-tiba Mas Haris membuka resliting gamisku.


"Mas, mau apa?"


"Mi cucu, sayang."


"Astaga..."


"Kamu nggak kangen, Dek? Ucapnya dengan suara parau.


Mas Haris menelusupkan tangannya memaksa mengeluarkan satu bongkahanku dari balik gamis yang terbuka reslitingnya. Memainkan buah cerry yang sudah terpampang di atasnya. Kemudian menghisap buah cerry itu seperti bayi yang kelaparan.


"Eugh..." Aku melenguh merasakan sensasinya.


"Buka, sayang! Aku sangat menginginkannya."


Akhirnya kami bercinta di sore hari, dengan suasana hujan yang cukup deras.


"Mas, bangun! Sudah maghrib!"


"Hah... Maghrib?"


"Iya, Mas." Mas Haris langsung latihan ke kamar mandi dan mengambil wudhu' hendak shalat Maghrib.


"Mas, kamu nggak mandi?"


"Dingin, Dek!"

__ADS_1


"Tapi tadi kita habis kimak."


"Astaga.." Mas Haris menempuh keningnys sendiri."Lupa, Dek. hehe...."Mas Haris kembali lagi ke kamar mandi. Aku hanya geleng kepa melihat suamiku.


Setelah Mas Haris selesai dari kamar mandi kami shalat Maghrib berjamaah.


"Mas, tadi pagi aku sudah mencoba untuk pakai tespeck."


"Terus...?"


"Huft...negatif." Aku tertunduk lesu.


"Ya sudah, nggak apa-apa. Kita masih bisa mencobanya lagi, Sayang."


"Sofi hamil, Mas."


"Sabar, sayang! Mungkin Allah masih ingin kita pacaran, karena sebelumnya kita belum pernah pacaran." Mas Haris menguatkanku.


"Kamu nggak apa-apa, Mas?"


"Kamu jangan stres, sayang. Itu akan mempengaruhi hormon. Kita harus lebih berusaha lagi. Berarti aku harus lebih rajin menggempurmu."


"Maass!!"


"Hehe...."


...----------------...


Hari demi hari berlalu, saat ini usia kandungan Sofi sudah tujuh bulan. Hari ini adalah acara tasyakkuran tujuh bulanan di rumah Sofi. Dan aku belum juga diberikan diberi amanah untuk hamil. Beberapa keluarga membanding-bandingkan dengan saudara yang menikah hampir bersamaan denganku, dan dia langsung hamil. Teman- teman guru di sekolah juga membandingkan aku dengan Bu Hesti yang kini sudah hamil lima bulan.


Terkadang aku minder jika harus berkumpul dengan orang banyak. Aku takut tidak bisa mengontrol emosi, kala mendengar kata-kata yang tidak enak di hati.


Saat ini kami sedang di rumah Sofi, karena acaranya akan diadakan mmsebentar lagi. Aku dan Ummi membantu di membungkus berkat. Ada beberapa tetangga Sofi dan keluarga Irfan yang juga membantu. Keluarga Mas Haris tidak bisa hadir, karena saat ini masih mudik ke rumah Nenek Mas Haris yang di Banyuwangi.


"Jeng, itu Kakaknya Sofi udah nikah, kok saya tidak diundang? Ujar saudara jauh Irfan kepada Ummi.


Aku mendengar obrolan mereka, karena aku duduk di belakang Ummi.


"Iya Jeng, maaf. Karena memang acaranya sederhana saja. Rai nggak mau rame-rame."


"Saya pikir karena buru-buru nikah, udah hamil duluan, soalnya,anak zaman sekarang itu aneh-aneh, Jeng! Nggak tahunya sampai sekarang belum hamil, ya?


Itu mulut apa mercon, bu? Ngomong nggak difilter dulu. Ini hati bu, bukan ayam geprek. Sabar, Rai! Tidak usah dihiraukan!


"Astaghfirullah.. semoga anak turun kita dijaukan dari hal yang dibenci Allah, Jeng. Raisya memang belum hamil, mungkin bulan depan bisa nyusul Sofi." Ummi masih bisa menahan emosi.


"Udah berapa bulan yang mikah, Jeng?"


"Jalan enam bulan."


"Oh... beda ya, sama adiknya? Kalau Sofi langsung Hamil, ini Kakaknya udah dua kali menikah, tapi belum dapat kermturunan."


"Belum rejeki Mbak, tidak baik membanding-bandingkan." Mama Irfan menimpali, karena tidak enak hati kepada kami. Ibu itu langsung diam tidak menjawab lagi.


Sebenarnya sedih sekali, sakit rasanya. Tapi aku tetap menampakkan senyumku, meski hatiku tidak baik-baik saja. Kadang aku ingin menjadi orang introvert. Tapi jiwa sosialku tak bisa aku tepis.


Setelah acara siraman selesai. Kami pamit untuk pulang. Hanya Ummi yang menginap di rumah Sofi.


Bersambung.....


...****************...


Terima kasih sudah setia di sini Kakak readers. Maaf kalau ada yang kecewa jika Raisa belum hamil.


Aku bikin novel ini agar tidak terlalu hal, dan sesuai kenyataan hidup.

__ADS_1


Dukung selalu karyaku ya, Kak😍🤗😘


See you again...


__ADS_2