
Siangnya, Mas Haris mengajakku untuk periksa ke dokter. Kamu memutuskan untuk langsung ke Rumah Sakit Dokter Hikmah. Ternyata hari minggu begini, pengunjung malah sangat banyak. Aku harus menunggu antrian selama satu jam.
Tiba waktunya namaku dipanggil. Aku dan Mas Haris masuk.
"Ada keluhan apa Bu Raisya? Apa mau program hamil adik si kembar?"
"Bukan mau program Dok! Ini mslah sudah positif." Mas Haris menimpali.
"MasyaAllah, tabarakallah..! Untung saja Bu Raisya lahiran normal ya, jadi insyaallah aman. Jadi ini mau USG ya?"
"Iya, Dok. Kami ingin memastikan."
"Baiklah! Ayo Bu, silahkan anda berbaring."
Aku naik dan berbaring di brankar. Suster mulai memoleskan jel di perutku.
"Bismillah..." Dokter mulai memeriksa.
"Benar itu, Bu! Anda positif! lihatlah, ada dua titik yang sangat jelas, Bu."
"Hah, dua titik? Itu artinya kembar lagi, Dok?"
"Betul sekali!" Jawab Dokter Hikmah dengan senyum antusias.
"Yang benar, Dok?" Mas Haris meyakinkan kembali.
"Iya, Pak Haris. Lihatlah titik itu ada dua, dan benar-benar jelas. Usianya diperkirakan 5 minggu."
"Allahu Akbar, terima kasih Dok."
"Iya sama-sama, Pak Haris! Sudah selesai, silahkan bangun Bu Raisya."
"Bunda, tebakanku tidak meleset! Aku akan punya dua lagi." Ujar Mas Haris sangat bahagia.
Dia membantuku untuk bangun.
Aku bangun dan duduk di depan meja Dokter bersama Mas Haris.
"Apa anda merasakan mual, Bu?"
"Iya Dok, Kadang-kadang. Kalau mencium bau-bau tertentu."
"Saya akan kasih resep, lain kali kalau mualnya,sering bisa minum es krim ya!"
"Baik Dokter, terima kasih."
"Iya sama-Sma, Pak, Bu."
Kami pulang dari rumah sakit. Di sepanjang perjalanan yang ada,di otakku adalah Salwa dan Salman.
Aku terlalu ceroboh, sehingga bisa kebobolan begini, Salwa dan Salman masih kecil. Bagaimana kalau tumbuh kembang mereka terhambat karena kekurangan perhatian dari aku? Tapi kembali kepada takdir, ini sudah qadarullah. Aku harus yakin, aku mampu memikul manah ini.
"Bunda, kamu dari tadi diam saja? kenapa, hem?"
"hah, apa?"
"Tuh kan! Nggak fokus! kenapa kamu diam saja?"
"Nggak pa-pa Mas, cuma lagi mikirin Salwa dan Salman."
"Kamu jangan terlalu banyak berpikir, nanti jadi stres! Kadihan mereka! Bunda, ternyata kata Ayahku dulu Ibunya Kakek itu kembar. Bida jadi gen kembar itu dari aku.
"Hem, bisa jadi."
__ADS_1
Kami memberi tahu kabar ini kepada keluargaku dn keluarga Mas Haris. Respon mereka sangat senang. Apa lagi Ummi, senang punya cucu lagi. Tapi aku tidak bilang kepada mereka, kalau aku hamil kembar lagi.
Besok orang tua kami akan berangkat umroh selama 14 hari. Kami akan mengantar ke bandara. Kami meminta kepada mereka untuk mendo'akan kami.
...----------------...
Waktu berjalan begitu cepat, kini usia kandunganku sudah empat bulan. Perutku sudah kelihatan membuncit.
Saat ini aku sedang di sekolah. Hari ini ujian kenaikan kelas, pulangnya lebih awal. Jam 11 aku sudah berada di kantor menunggu jemputan.
Tidak lama kemudian Mas Haris datang menjemputku.
"Assalamu'alaikum." Mas Haris mengucap salam
"Wa'alaikum salam" Jawab beberapa guru yang masih di kantor.
Mas Haris menjabat tangan beberapa guru laki-laki.
"Wah, Pak Haris! Mumpung ketemu nih, kasih tahu dong gimana caranya biar tokcer? Anda dengan cepat bisa bikin Bu Raisya belendung lagi.
"Hahaha..." Guru yang lain tertawa.
"Gampang Pak, Ada rahasianya. Kalau mau nanti biasa privat ke saya." Mas Haris mulai mengikuti candaan mereka.
"Haris ini, memang good! Bu Raisya yang tadinya pendiam bisa ya kena peletnya, haha..." Pak Anton menimpali.
"Eh jangan salah Pak Anton, justru saya yang kena pelet dia, Hehe..."
"Sudah-sudah.. jangan dilanjut, bisa panjang ceritanya! Kasian itu Bu Raisya dari tadi nungguin, mungkin capek ingin cepat istirahat." Ujar Pak Anton.
"Ah, iya! Ayo Bunda kita pulang!"
"Mari, Bapak-Ibu saya duluan, Assalamu'alaikum."
Di sepanjang perjalanan pulang, aku tertidur di mobil.
"Bunda, bangun! Sudah sampai." Samar-samar aku mendengar suara Mas Haris membangunkan aku."Apa mau aku gendong, hem?"
Aku tersentak dan membuka mata."Jangan, tidak usah! Aku akan jalan Mas, badanku sudah semakin berat! Kamu tidak akan kuat menggendongku."
"Kata siapa, aku nggak kuat?"
"kiyaakkk....."
Mas Haris menggendongku ala bridal style
"Bagaimana? Apa kamu masih meragukan kekuatanku?"
"Turunkan aku Mas!Malu dilihat orang rumah!
"Diam, Bund! Nanti jatuh!"
Mas Haris menggendongku sampai ke ruang tamu. Di sana sudah ada si kembar dan babysitter-nya.
"Ibu kenapa, Pak?" Tanya Nina karena melihatku digendong.
"Ti-tidak pa-pa, cus! Aku hanya kelelahan."Jawabku.
"Aku sedang menguji kekuatan, Cus! Hehe...." Mas Haris menurunkan aku.
Salwa mendekatiku. "Nda, atit?"
"Tidak, sayang! Bunda tidak sakit, nih Bunda sehat." Aku merentangkan kedua tanganku ke atas. Menunjukkan kalau aku baik-baik saja.
__ADS_1
"Mereka sudah makan siang, cus?" Tanyaku kepada kedua baby sitter.
"Sudah, Bu. Mereka baru selesai makan. Salman tidak suka nugget sayurnya, Bu. Dia lebih suka sayurnya langsung."Ujar Cus Aan.
"Mereka berdua memang memiliki selera yang berbeda." Jawabku. "Kalian main dulu ya? Bunda mau bersih-bersih belum shalat Dhuhur." Ujarku pada si kembar.
"Oce oce." Jawab si kembar bersamaan.
Aku naik ke atas untuk mandi dan shalat Dhuhur di dalam kamar. Karena rasanya capek sekali kalau harus turun lagi.
Malam Harinya, di dalam kamar.
Mas Haris sedang nonton Televisi sambil berbaring di atas tempat tidur. Aku baru keluar dari kamar mandi dan memakai lingerie warna maroon, kemudian berjalan di depan suamiku yang sedang asyik nonton film. Seketika pandangannya beralih melihatku. Dia memperhatikan aku dari atas sampai bawah. Namun dia tak bergeming tetap di tempatnya. Aku naik ke tempat tidur dan mendekatinya.
"Bunda, kamu jangan menggodaku!"
Mas Haris menelan salivanya sendiri saat melihat belahan dadaku yang menonjol. Aku sengaja berpose seksi deli hadapannya.
"Apa kamu tidak ingin menengok si kembar di dalam sini, Mas?" Aku menunjuk perutku yang buncit. Kemudian aku membuat garis abstrak di dada bidangnya yang tanpa busana. Karena Maa Haris memang terbiasa memakai sarung saja ketika tidur.
"Bunda, apa aku sudah boleh menengok mereka?"
"Hem.. tentu." Jawabku dengan suara yang parau.
"Yes!! Kamu sekarang sudah mulai agresif sayang. Aku suka gayamu."
Mas Haris mulai mencumbuku. Aku terlena terbawa suasana. Karena memang saat ini aku sedang menginginkannya. Mas Haris membaca do'a, kemudian mulai mengarahkan senjatanya ke dalam sarangnya. Malam ini kami bergelut setelah dua bulan kami mencegahnya, karena khawatir terhadap tumbuh kembang janin. Karena sudah empat bulan masa rentan sudah terlewati, begitu menurut dokter.
Setelah kebiasaan panas berakhir, kami-pun terlelap. Menjelang Shubuh aku terbangun. Tidak sengaja aku memegang milik suamiku yang ternyata sedang tegangan tinggi. Hasratku tidak bisa kutahan, aku menginginkannya lagi.
"Mas"
"Hem...." Mas Haris menjawab dengan matanya yang masih tertutup
"Mas"
"Hem... kenapa, Bund?"
Dengan malu-malu aku berkata, "Ayah, si kembar masih rindu, Mau ditengok lagi."
Maa Haris mengucek matanya. "Ini si kembar yang ingin lagi, apa Bundanya?" Mas Haris menggodaku.
"Dua-duanya." Jawabku malu-malu.
"Dengan senang hati, sayang."
Kami mengulang kembali pergelutan panas seperti semalam. Namun Mas Haris melakukannya dengan berhati-hati. Setelah selesai aku langsung ke kamar mandi dan membersihkan diri kemudian berwudhu' dan menunggu waktu Shubuh, begitu pula Mas Haris.
Selesai Shalat Shubuh, seperti biasanya aku mencium punggung tangannya dan Mas Haris mengecup keningku. Namun tidak sampai di situ saja, Mas Haris memandangku begitu lama.
"Ayah, kenapa? Ada yang aneh denganku?"
"Masyaallah! Tidak, justru aku sedang mengagumimu. Semakin hari rasa cinta ini semakin besar untukmu. Kamu dan anak-anak kita sudah menjadi pelengkap dalam hidupku. Tetaplah seperti ini, jangan pernah berubah! Temani aku sampai rambut kita memutih nanti."
"Aku juga semakin mencintaimu, Mas. Terima kasih selalu ada untuk kami. Tetaplah menjadi seperti ini." Aku mendekapnya erat.
Bersambung
...****************...
Terima kasih sudah selalu mensupport karyaku. Maaf kalau masih ada typo kakak.
See you again.
__ADS_1