
FLASH BACK ON
Saat Pak Anton akan beranjak dari duduknya,
Haris mencegahnya.
"Pak Anton, boleh saya bicara sebentar dengan anda?"
"Eh Mas Haris, iya tentu boleh."
"Pak Anton nih sudah dibilangin jangan panggil Mas! Saya ini lebih muda dari Bapak, panggil nama saja ya?"
Pak Anton memang sudah berusia 40 tahun. Dan memiliki dua anak Laki-laki. Anak pertamanya sudah masuk kelas 7 SMP dan anak keduanya kelas 3 SD.
"Ya sudah baiklah, Haris. Kamu mau membicarakan apa?"
"Maaf Pak, boleh saya tahu tentang Bu Raisya?"
"Wow... anda to the point rupanya. Boleh saya tahu kenapa anda ingin tahu tentang Bu Raisya? Tanya Pak Anton penasaran.
"Jujur saya tertarik kepada Bu Raisya sejak pertama kali melihatnya. Tapi saya terkejut saat tahu identitasnya. Ternyata dia sudah menikah. Betul begitu ya, Pak?"
"Betul Ris! Dia memang pernah menikah, tapi dia sudah berpisah dengan suaminya. Tidak banyak yang tahu soal ini. Saya tahu karena saya kenal dengan adik iparnya. Suami adiknya, namanya Irfan. Di sekolah guru-guru tahunya Bu Raisya masih berkeluarga." Pak Anton celingukan ke arah sekitar, takut ada orang yang mendengar.
"Oh begitu...Bu Raisya punya anak berapa, Pak?"
"Setahu saya masih belum punya anak."
"Berarti kalau saya ada niatan baik ke Bu Raisya, kira-kira aman ya, Pak?"
"Tentu saja aman, monggo dilanjut kalau memang sudah mantap." Pak Anton menepuk Bahu Haris.
"Tanya lagi ni, Pak! Menurut Pak Anton, Bu Raisya itu seperti apa? Karena yang saya perhatikan dia orang yang menjaga pandangan terhadap lawan jenis, agak cuek sih, lucu juga, unik saja menurutku. Itu yang membuatku tertarik." Haris tersenyum membayangkan Raisya.
"Wah wah... sepertinya anda bukan tertarik, tapi sudah jatuh hati! Bu Raisya orangnya memang agak tertutup, tapi dengan Bu Hesti dia sangat akrab. Orangnya baik, jiwa sosialnya tinggi. Dan yang paling penting nih, Ris!"
"Apa itu, Pak?" Tanya Haris penasaran
"Bu Raisya Lulusan pesantren, insyaallah paham agama. Setahu saya, dia rajin ibadahnya. Dan bisa menjadi calon istri yang sholiha."
"Kira-kira saya masuk kriteria imamnya tidak ya, Pak?"
"Itu tergantung usaha anda. Saran saya, segerakan niat baik anda! Sebelum didahului orang lain. Bu Raisya itu sebenarnya banyak yang suka. Hanya saja Belum berjodoh. Mungkin anda jodohnya. Itu-pun kalau anda tidak pedulikan masa lalunya."
"Insyaallah, Pak. Do'akan saja. Dan tolong jaga rahasia kita, ya?"
"Siap! Rahasia aman. Kalau butuh bantuan, colek saya saja. Haha...."
"Terima kasih atas infonya, Pak!"
"Iya sama-sama."
FLASH BACK OFF
-
Aku masih menatap ke arah matahari yang kian tenggelam di ujung sana. Dengan perasaan grogi, aku pura-pura tenang.
"Emm... tadi Bu Hesti yang di samping saya, kenapa berubah jadi anda?"
"Memangnya Bu Hesti Power Ranggers bisa berubah?" Kak Haris menahan tawanya dengan menutup mulutnya dengan telapak tangannya.
__ADS_1
"Emm... maksud saya kemana perginya, Bu Hesti?
"Saya lihat tadi Bu Hesti pergi ke arah sana! Mungkin mau shalat Maghrib."
"Oh, iya... Mungkin tadi pamit tapi saya tidak dengar."
"Bu Raisya lagi nunggu pangeran?" Kak Haris menggodaku.
"Saya sedang menikmati Sun set. Mana ada pangeran di pinggir pantai, Kak?" Ucapku seraya tersenyum.
"Masyaallah.... indah sekali!
"Sun set-nya, Kak?
"Senyumnya... Eh maksud saya iya sun set-nya."
Lagi-lagi aku tersenyum kecil, nyaris tak terlihat.
"Mari Bu, ke sana! tidak baik melamun di sini sendirian. Nanti digondol wewe gombel, mending dibawa saya."
"Oh, iya! Mari silahkan Kakak duluan."
Aku berjalan mengikutinya dari belakang.
"Bu Raisya tidak mau shalat?"
"Ti-tidak Kak, saya sedang libur." Ujarku malu-malu.
"Oh libur... Ya sudah saya akan shalat dulu, silahkan bergabung dengan yang lain."
-
Entah kenapa malam ini aku sulit memejamkan mata, aku masih terngiang dengan suara Mas Haris.
Suara Orang kan banyak yang kembar, ngapain aku pikirin, ya? Nggak penting juga! Tapi kenapa jantungku berdetak lebih kencang saat berhadapan dengan Kak Haris? Pliss Rai... Jangan GR! Batinku dalam hati.
Aku melihat ke tempat tidur Bu Hesti, ternyata dia sudah nyenyak sekali. Padahal beberapa menit yang lalu dia masih telponan dengan calonnya. Kamar kami memang terdiri dari dua tempat tidur single, yang dipisah dengan nakas dan lampu tidur.
Sudah jam 11 malam, tapi aku masih sulit untuk Memejamkan mata. Akhirnya aku putuskan keluar dari kamar. Dengan memakai gamis rumahan yang aku pakai untuk tidur, dan dilapisi sweeter. Karena kurasa udara malam ini sangat dingin.Aku berjalan dari koridor ke blankon depan. Menikmati dinginnya malam, dan langit yang dipenuhi bintang. Aku bersedekap merangkul kedua lenganku.
"Ehm..." Terdengar deheman di telingaku.
"Sendirian, Bu?" Suaranya semakin jelas.
Kenapa suara Mas Haris ada di mana-mana? Apa dia sudah meracuni pikiranku?
"Ehm..ehmm..."
Sontak aku menoleh ke arah suara.
"K-Kak Haris!!!" Ujarku terkejut.
Orang ini selalu ada di mana-mana.
"Iya, Bu. Saya Haris, bukan hantu! Juga bukan Pangeran berkuda!"Aku sadar telah menatapnya, aku menudukkan pandanganku.
"Anda belum tidur, Kak?" Tanyaku basa-basi
"Anda sendiri?" Kenapa melamun di sini? Apa sedang merindukan seseorang? Suami mungkin....." Haris berkata seolah tidak tahu kebenarannya.
"B-bukan... Saya hanya ingin melihat bintang malam ini.",Aku kembali berbalik ke depan.
__ADS_1
"Anda tidak takut, kalau ada yang nyulik gimana?"
"Haha... memangnya ada yang mau menculik saya?"
"Ada, saya!"
Aku langsung terdiam mendengar gurauannya.
Karena melihat ekspresi wajahku yang berubah, dia meminta maaf. "Maaf kalau anda tersinggung, Bu. Seharusnya saya lebih menjaga sikap. Tapi saya sudah tidak bisa menahannya lagi." Ucapnya serius.
Apa maksudnya? kok jadi serius begini?
"Saya bukan orang yang romantis, Bu. Tapi saya orang yang espresif. Saya akan mengatakan dan bertindak sesuai dengan apa yang saya rasakan. Seperti saat ini, entah kenapa saya merasa sudah sangat lama mengenal anda. Padahal baru kemarin kita bertemu. Aneh kan?" Sontak aku mendongak dan memandangnya. Ucapannya mulai mengusik hatiku.
"Jangan melihat saya seperti itu! Saya takut tidak bisa tidur malam ini." Ujarnya dengan tersenyum lebar.
Buru-buru aku pergi dari hadapannya.
"Maaf Kak, saya ke kamar dulu!"
"Tunggu!" Dia menghentikan langkahku.
"Maaf kalau daritadi saya ngomong nggak jelas! Saya mau jujur, kalau sebenarnya saya tahu anda sudah sendiri. Dan tidak ada ikatan dengan siapa-pun! Benar begitu, bu?"
Lagi-lagi aku terkejut.
"I-iya..."
"Saya tidak mau berbasa-basi. Ini ambillah gelang ini!" Dia memberikan sebuah gelang cantik berwarna pink biru." Ini gelang murah tapi akan menjadi mahal kalau anda mau memakainya. Pakailah jika anda merasa ada kecocokan diantara kita. Buanglah, kalau menurut anda saya tidak pantas untuk anda. Saya yakin anda mengerti dengan maksud saya. Mungkin saya terlalu percaya diri. Tapi saya sangat yakin dengan niat saya. Ya sudah, kembalilah ke kamar sebelum saya benar-benar menculik anda!" Ujarnya menahan senyum.
Aku menerima gelang itu, karena tidak ingin membuatnya kecewa.
"Selamat malam... Assalamu'alaikum," pamitku.
"Wa'alaikum salam, Nice dream..."
"Dag dig dug"
Aku berjalan kembali ke arah kamarku. Menetralkan deguban jantungku yang bertalu-talu.
Oh Tuhan... aku tidak sedang bermimpi kan? Batinku dalam hati, sambil menepuk-nepuk pipiku.
Tidak-tidak ini nyata... Ya ampun Rai! Kamu seperti baru pubertas. Kak Haris? Dia tadi serius dengan ucapannya? Sudah lama aku tak merasakan seperti ini.
Karena belum bisa tidur juga, akhirnya aku membaca novel yang aku bawa dari rumah. Sampai akhirnya aku terlelap. Dan bermimpi indah, sangat indah. Sampai-sampai aku bangun kesiangan karena mimpi yang terlalu panjang.
Gelang dari Kak Haris aku simpan di dalam tas. Aku belum bisa memakainya. Butuh waktu untuk memantapkan hati kembali. Ini akan menjadi perjalanan hidup yang panjang, tidak mudah seperti membalikkan telapak tangan.
Hari ke-4 di Bali.
Tidak terasa hari ini adalah hari terakhir kami di Bali. Saat ini kami sedang di Tanah Lot.
Bersambung....
Maaf segini dulu Kakak..
Author sedang tidak enak badan, tapi diusahakan up untuk besok lagi ya🤗
Terima kasih sudah selalu mendukung saya.
See you again
__ADS_1