
Hari begitu cepat berlalu, tak terasa besok adalah hari pernikahan Sofi. Keluarga dari Abi dan dari Ummi sudah banyak berdatangan untuk ikut bantu-bantu. Bahkan sebagian dari mereka ada yang menginap di rumah. Acara akad nikah dilaksanakan besok jam 7 pagi di rumah. Sedangkan resepsinya jam 1 siang di gedung Cantika, dekat dengan kota.
Orang tuaku dan orang tua Irfan sudah melakukan persiapan yang cukup matang. Hari ini kami sibuk mempersiapkan hidangan untuk besok. Banyak tetangga dekat yang ikut membantu.
"Rai, kapan nyusul?" Tanya salah satu sepupuku, namanya Rindi. Dia adalah anak dari Kakaknya Ummi yang tertua.
"Kapan-kapan mbak hehe.."
"Kok kapan-kapan sih Rai? belum ada calon?"
Aku hanya menjawab dengan gorengan kepala."Mau mbak cariin nggak?"
"Nggak usah mbak, kalau sudah waktunya pasti ketemu juga."
"Iya, tapi kamu jangan menutup diri Rai!"
"Aku welcome kok mbak, cuma memang lebih berhati-hati. Karna tidak semua laki-laki mau menerima masa laluku. Mbak do'ain aja ya, semoga aku dapat ganti yang lebih baik."
"Kamu itu baik Rai, mantanmu tidak pantas untukmu! Karna dia tidak melihat betapa baiknya kamu. Mbak pasti do'ain kamu, strong ya!" Mbak Rindi memberiku semangat. "Kalau kamu berubah pikiran bilang sama mbak, nanti mbak kenalin sama temannya Mas Rendi yang masih single. "Mas Rendi adalah suami Mbak Rindi yang bekerja di salah satu Bank swasta. Keduanya memiliki kemiripan nama, mereka memiliki sepasang anak kembar dari pernikahannya.
"Iya mbak." Jawabku seraya tersenyum. Tidak ingin terjadi perbincangan panjang, aku segera bergegas ke dapur untuk mengambil makanan para tamu.
Dua hari ini aku sangat sibuk, sehingga mau makan pun rasanya malas. Kemarin aku hanya makan di siang hari, makanya aku hanya makan sepotong roti. Hari ini aku belum makan sama sekali, rasanya bosan lihat banyak makanan. Palingan aku cuma ambil beberapa kue yang menurutku tidak manis, karna aku tidak terlalu suka manis.
...****************...
Tiba di hari yang paling dinantikan Sofi. Pagi ini akan digelar akad nikah di rumah kami sendiri. Acara pagi ini hanya mengundang keluarga dan beberapa tetangga dekat.
Sofi sudah siap dengan kebaya putih modern dan make up natural. Tak lupa henna merah yang sudah aku ukir di tangannya, tadi pagi setelah shalat subuh. Aku memang sengaja mengukir sendiri henna di tangan Adikku di hari spesialnya.
Rombongan mempelai pria sudah datang. Nampak dari jah Irfan dengan bawahan sarung dan atasan hem putih yang dilengkapi jas warna hitam. Begitu kira-kira tradisi di daerah kami.
Tidak butuh waktu lama, setelah penghulu datang acara akad pun dimulai.
__ADS_1
"Saya terima nikah dan kawinnya Sofiana Dewi Binti Haji Abdullah dengan mas kawin tersebut dibayar tunai!" Dengan sekali sebut Irfan mengucaokan dengan lantang.
"Sah.. !" Suara saksi serentak.
Aku sangat terharu, kulihat Ummi matanya berkaca-kaca. Semua Keluargaku yang hadir sangat terharu dengan suasana sakral ini. Jadi ingat dua tahun lalu, ikrar suci yang diucapkan Kak Firman. Nyatanya janji kepada Allah yang disaksikan malaikat dan dan banyak manusia itu, dia ingkari dalam sekejap.
Ah, kenapa harus ingat masa lalu lagi?
Pengantin pria dibawa masuk menemui pengantin wanita. Sofi mencium tangan suaminya, dan dibalas dengan do'a yang dibaca Irfan seraya tangan jalannya menyentuh kepala Sofi. Kemudian setelah meniup kan di ubun-ubunnya, Irfan mencium kening Sofi. Sungguh pemandangan yang sangat indah. Wanita manapun pasti sangat bahagia bila dikasihi dan dihargai. Mungkin itu gambaran pasangan yang saling mencintai dan mengasihi.
Aku tidak iri dengan takdirmu dik, aku hanya belum beruntung. Allah masih ingin aku memperbaiki diri, untuk aku bisa menemui jodohku yang sejati. Kamu sudah menjadi seorang istri. Semoga langgeng Dik, cukup aku yang mengalami kegagalan dalam rumah tangga.
Setelah acara pernikahan selesai, tamu mulai berpamitan pulang. Sudah jam 9, kami harus siap-siap untuk pergi ke gedung tempat resepsi, karena kami harus prepare di sana jam 11 siang.
Saat aku bersiap-siap memasukkan seragam bridesmaid untuk aku pakai nati ke dalam tas, tiba-tiba rasanya perutku perih. Sungguh aku sampai tidak kuat untuk berdiri, sepertinya magh-ku kambuh. Dulu aku sering kena tipus, terakhir kambuh dua tahun lalu sebelum aku menikah.
Aku duduk di tempat tidur dengan memegang perutku yang teramat perih.
Ya Allah, kenapa harus kambuh sekarang. Rasanya sakit banget.
Aku meringis menahan sakit. "Bi, perutku sakit sekali."
"Kamu diare, Rai?"
"Nggak Bi, sepertinya magh-ku kambuh lagi. Perih banget rasanya."
"Tunggu, aku panggil Ummimu dulu."
Setelah Bibi pergi kurang dari satu menit, Ummi masuk ke kamarku. "Kamu sakit perut Rai?"
"Iya Ummi, perih rasanya." Aku masih betah menekan perutku dengan tangan.
"Magh-mu kambuh itu! Kamu sih telat makan, Ini minum dulu obatnya! Ummi sudah minta tolong Bibimu buat bikin wedang gula."Aku menerima obat yang diberi Ummi. Memang biasanya kalau sudah kambuh begini, aku bisa mending kalau minum wedang gula.
__ADS_1
"Sudah Ummi."
Bibi pun datang dengan membawa sepiring nasi kuah sup dan wedang jahe di tangannya.
"Makan dulu Rai, Bibi lihat kamu belum makan sama sekali! Sambil diminum wedang jahenya."
"Iya Bi, terima kasih." Aku-pun terpaksa makan meski rasanya mual. Karena aku tidak mau menyia-nyiakan hari bahagia ini, aku harus sembuh.
Setelah selesai makan aku minum obat lagi dan menghabiskan wedang jahe. "Ummi Rai mau istirahat sebentar, Ummi dan yang lain bisa berangkat duluan ke gedung. Biar nanti Rai menyusul ya?"
"Tidak Rai, Ummi tunggu kamu saja! Atau kita ke dokter saja dulu."
"Ummi, make up itu butuh waktu lama nanti, apa lagi yang dimake up banyak orangnya. Rai nggak apa-apa kok, beneran! Atau kalau Ummi khawatir biar Rai berangkat sama Putri nanti. Aku akan minta tolong sama Putri untuk jemput Rai ke sini." Kataku sedikit memaksa.
"Baiklah kalau itu maumu Rai, semoga cepat sembuh ya! Ummi tidak mau di hari bahagia ini kamu sakit. Tapi kamu janji sama Ummi, kalau kamu akan sembuh!"
"Insyaallah Ummi, Rai cuma butuh istirahat sebentar. Obatnya baru bekerja Ummi."
"Ah iya, Kalau begitu kami akan berangkat. Nanti jangan lupa kamu kunci semua pintu, ya Rai."
"Iya Ummi." Aku pun berbaring di tempat tidur, dan segera menghubungi Putri. Aku memang meminta tolong Putri untuk menjadi salah satu bridesmaid di resepsi Sofi. Jadi Kami bisa berangkat bersama ke gedung nanti.
Satu jam berlalu, Rasanya perutku sudah mendingan. Kudengar suara motor berhenti di depan rumah. Aku yakin sekali itu pasti Putri.
"Assalamu'alaikum!"
"Wa'alaikum salam!" Aku keluar kamar dan segera menghampiri Putri."Maaf ya Out, jadi ngerepotin kamu."
"Apaan sih Rai! Kayak sama siapa ngomongnya gitu. Aku siap durepitin kamu! Ayo kamu sudah siap? Apa masih sakit perutnya?"
"Sudah mendingan ini sudah enakan, tadi dibuat jalan susah karna perih banget. Ayo kita berangkat Put! Sudah jam 11 ini, belum perjalanannya 30 menit ya."
"Ya sudah! siap Bu Ustadzah, let's goo!"
__ADS_1
See you again Kakak, terima kasih sudah mampir.