Ketegaran Hati Raisya

Ketegaran Hati Raisya
Diundang camer


__ADS_3

Dua hari berlalu. Libur sekolah masih tinggal 5 hari lagi. Hari ini aku tidak ada niat untuk keluar rumah. Aku memilih menghabiskan waktu dengan membersihkan rumah. Dan membuat bros dagu untuk dijual di butik.Karena pada saat ini lagi musim bros dagu. Aku sengaja mendesain sendiri bros yang aku buat, agar tidak banyak kembaran. Satu desain paling banyak aku membuat enam warna.


Hari ini aku sudah bersuci, dan bisa shalat. Saat ini aku baru selesai Shalat Ashar. Ummi dan Abi belum datang dari toko. Selesai shalat, aku memakai gamis rumahan berbahan katun twiil, karena adem dipakai. Tidak lupa dengan hijab instan warna hitam. Aku-pun ke depan untuk menyiram tanaman hias kesayangan Abah.


Tidak lama kemudian, Suara klakson motor Abah terdengar memasuki pekarangan rumah. Namun ada motor lain di belakang Abah. Aku tidak bisa melihat wajahnya, karena dia memakai helm.


"Assalamu'alaikum" Ucap Abah dan Ummi bersamaan.


"Wa'alaikum salam."Jawabku. Kulihat Ummi dan Aba senyum-senyum kepadaku.


Ada apa dengan mereka?


Sang pengendara motor membuka helmnya. Dengan senyum sumringah, dia menyapaku.


"Assalamu'alaikum, dek." Aku masih tertegun di tempat


"W-wa'alaikum salam." Aku menundukkan pandangan.


Kak Haris? Mau apa dia kemari?


"Ayo, Nak Haris. Silahkan masuk." Suara Abah memecah keseringan.


"Ah, iya Bah. Terima kasih." Kak Haris mengikuti Abah dan Ummi ke ruang tamu. Aku segera mematikan kran air dan menyusul masuk ke dalam.


"Rai, bawakan minuman untuk Nak Haris!"


"Iya, Bah." Aku pergi ke dapur untuk membuat minuman hangat. Cuaca mendung, sebentar lagi akan turun hujan.


"Silahkan diminum, Kak. Saya permisi ke dalam."


"Mau kemana, Rai? Nak Haris ke sini mau bertamu kepadamu, bukan kepada Abah dan Ummi. Bukan begitu, Nak Haris?"


Kak Haris menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.


"Ayo, Ummi! Kit shalat Ashar dulu." Abah mengajak Ummi masuk ke dalam dan meninggalkan kami berdua.


Aku tertunduk dalam diam.


"Ehm.. dek."


"Iya!" Sontak aku mendongak.


"Jangan marah, ya? Tadi kebetulan aku ke toko meubel Abah mau membeli meja untuk kantorku, aku nggak tahu kalau itu milik Abah. Mejanya sudah dapat, dan sudah dikirim ke kantor. Aku-nya yang ditahan tidak boleh pulang. Diajak main ke sini! Mimpi apa aku semalam ya? Camer yang undang aku ke sini."Dia mengecilkan suaranya.


Hujan turun semakin deras.


"Diminum dulu, Kak! keburu dingin!"


"Dek, kamu nggak marah, kan?"


Aku menngelengkan kepala.


"Untuk apa saya marah, Kak?"


Sesaat kemudian Abah menghampiri kami.


"Nak Haris, dimakan dong! Itu kerupuk udang. Khas daerah Abah."


"Oh iya Bah."


"Kapan Nak Haris akan membawa orang tuamu Ke sini?"


"Secepatnya, Bah."


"Uhuk uhuk..." Aku tersedak minumanku.


"Pelan dong, Rai! " Ummi datang menghampiriku, dn menepuk punggungku.


Ada yang aku lewatkan diantara meraka. Mengapa tiba-tiba Abah bertanya begitu? Apa mungkin sebelumnya Kak Haris sudah bilang sesuatu kepada Abah dan Ummi?


"Apa orang tua Nak Haris sudah tahu?" Tanya Ummi.


Aku masih mencerna obrolan mereka.Aku seperti orng asing diantara mereka.


"Sudah, Ummi. Ayah dan Ibu sudah tahu dan sangat setuju."


Panggilan Kak Haris begitu akrab terhadap Ummi. Rupanya dia sangat pintar mengambil hati.


"Maaf Nak, apa mereka tidak keberatan dengan masa lalu Raisya?" Abah bertanya.

__ADS_1


"Tidak, Bah. Mereka sangat memahami dan sangat mendukung. Malah setelah saya cerita, mereka ingin cepat-cepat menemui orang tua dek Raisya."


"Alhamdulillah." Ucap Ummi dan Abah bersamaan. Aku menoleh ke arah Abah kemudian ke arah Ummi.


"Kenapa, Rai?" Ummi bertanya.


"Kalian sedang membicarakan apa?"


"Rai, Nak Haris ini sudah cerita, kalau dia punya niat baik kepadamu."


"deg"


Gercep juga nih orang!


"Kenapa tidak ada uang tanya pendapat Raisya?"


"Rai... Irfan waktu itu cerita sama Abah. Katanya ada seorang laki-laki yang menyukaimu. dia bilang kalau laki-laki itu meminta tolong Pak Anton untuk bertanya tentang kamu dan keluarga kita. Setelah Abah tahu yang dimaksud Irfan adalah Nak Haris, tentu Abah langsung paham. Abah sudah melakukan shalat istikharah untuk kalian. Dan Alhamdulillah Abah dapat petunjuk yang baik. Kalau sudah begitu, apa yang mau ditunggu lagi?"


Sontak aku mendongak dan melihat Kak Haris. Sejenak pandangan kami bertemu.


"Nak Haris, tundukkan pandanganmu. Raisya belum halal untukmu."


"Astaghfirullah... Maaf, Bah. Saya khilaf." Kak Haris menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


Ummi dan Abah tersenyum melihat tingkahnya.


"Tapi benar kan, Nak Haris? Orang tuamu dan saudaramu tidak masalah dengan status Raisya? Bukan apa-apa, Raisya pernah mengalami kekecewaan akibat sikap keluarga orang akan meminangnya."


"Orang tua saya sudah kenal dengan dek Raisya, Apalagi Ayah. Kakak dan adik perempuan saya juga sudah saya berikan penjelasan. Mereka sama sekali tidak ada masalah. Saya juga sudah menunjukkan foto Dek Raisya kepada mereka. Agar mereka tahu dengan jelas dan tidak ada keterkejutan nantinya."


"Syukurlah kalau begitu. Masih hujan, Nak. Shalat Maghrib di sini saja ya? Kalau sudah reda, Nak Hari boleh pulang."


"Baik, Abah."


"Mari kita shalat dulu."


Kami-pun berwudhu' dan shalat jama'ah dengan Kak Haris yang menjadi Imam. Tadinya dia menolak karena Abah yang lebih tua. Abah beralasan sedang sakit tenggorokan, dan memaksa Kak Haris untuk jadi Imam shalat kami.


"Assalamu'alaikum warahmatullah..."


Bacaannya cukup fasih, dia memang bukan seorang santri. Tapi sepertinya pengetahuan agamanya cukup baik. Pak Rudi berhasil mendidik anak-anaknya dengan baik.Yang aku tahu cerita dari guru-guru, Hana putri pertama Pak Rudi adalah seorang guru agama, sudah menikah dan memiliki tiga orang anak sudah memiliki rumah sendiri bersama suaminya yang seorang dokter. Nuri putri ketiga Pak Rudi, seorang perawat tapi dia resign sejak melahirkan anak pertamanya, dan kini sudah memiliki tiga orang anak. Namun anak pertamanya meninggal dua hari setelah dilahirkan. Dia juga sudah memiliki rumah sendiri yang berada di samping rumah orang tuanya.


Kak Haris pamit pulang setelah selesai shalat Maghrib. Hujan-pun sudah reda, Abah sudah mengizinkannya pulang.


"Saya pamit, Ummi." Kak Haris mencium punggung tangan Ummi.


"Hati-hati di jalan, Bak. Salam untuk keluargamu.


"Dek, aku pulang dulu ya?" Aku hanya menganggukkan kepala dan tersenyum.


Akhirnya dia pulang dengan motor gedenya.


FLASH BACK ON


Saat ini Hari sedang berada di Toko Meubel. Dia mau membeli meja kerja untuk ditaruh di kantornya. Haris saat ini menjadi Direktur di sebuah kantor perumahan. Dan Bergerak di bidang marketing dan pembangunan.


"Maaf permisi, ada meja kayu jati yang sudah ready?"


"Ada Mas, silahkan masuk dulu. Mungkin cocok dengan modelnya. Ini beberapa meja kerja yang terbuat dari kayu jati." Ujar salah satu karyawan yang melayani Haris.


"Cung, kamu antarkan dulu pesanan ke jalan Trunojoyo ya! Biar saya yang melayani customer." Ujar Pak Aji menyuruh salah satu karyawannya.


"Baik, Bah! Laksanakan!."


Haris menoleh ke belakang.


"Lho, Abah?"


"Nak Haris? Iya kan? Abah nggak salah lihat, kan?"


"Iya, Bah. Ini saya, Abah tidak salah lihat kok!" Haris meyakinkan.


"Nak Haris mencari apa?"


"Saya mau beli meja kayu jati, Bah. Untuk ditaruh di kantor."


"Oh.. kalau boleh Abah rekomendasi, ini nih yang bagus." Abah menunjuk salah satu meja yang ada.


"Sepertinya bagus, Bah. Boleh deh! Berapa ini, Bah?"

__ADS_1


"Buat Nak Haris sama ongkirnya dua juta saja. Ini asli kayu jati, Nak!"


"Nggak rugi nih, Bah?"


"Nggak, tenang saja Abah sudah ambil untung meskipun sedikit. gimana, deal?"


"Oke, Bah! Saya ambil. Kirim ke alamat ini ya, Bah."


"Beres, mari duduk dulu. Kita ngopi sebentar."


Pak Aji dan Haris duduk santai di ruangan Pak Aji.


"Maaf Nak Haris kalau Abah lancang ingin menanyakan hal yang privasi kepada Nak Haris.


"Tidak apa, Bah. Justru saya senang dengan orang yang tidak berbasa-basi. Karena saya-pun begitu adanya."


"Apa benar Nak Haris menyukai Raisya?" Sesaat Haris terkejut, namun dia merubah situasi secepat mungkin.


"Saya bukan hanya menyukai Raisya, Bah! Tapi saya sudah jatuh hati kepadanya. Maaf kalau saya lancang, Bah. Karena itu yang saya rasakan."


"Saya senang mendengar kejujuran Nak Haris. Sejak awal bertemu, saya sudah bisa melihatnya. Saya cinta pertama Raisya, dan saya seorang laki-laki, jadi saya sangat peka terhadap pandangan laki-laki lain."


"Maaf kalau saya sudah membuat kesalahan, Bah. Tapi saya sudah bertekad untuk meminang Raisya. Itu-pun kalau Abah dan Umminya Raisya merestui."


"Masyaallah... Kamu pria yang gentle, Nak! Abah salut sama kamu. Kami sebagai orang tua pasti mendukung apa yang baik untuk anak kami. Meski kamu belum menyampaikan niatmu, Abah sudah melakukan shalat istikharah untuk kalian. Hasilnya sangat baik."


"Alhamdulillah, Ya Allah. Jadi Abah meridhai niat saya?"


"Tentu, Nak. Umminya Raisya juga pasti sangat senang mengetahui inj. Oh iya kamu jangan pulang dulu ya, sebentar lagi barangnya akan dikirim. Kamu tunggu di sini sebentar! Saya mau menjemput pujasn hati. hehe.... maksud saya, Umminya Raisya. Setelah itu kamu ikut kami main ke rumah. Gimana, setuju?"


"Baiklah, Bah."


FLASH BACK OFF


Dua hari kemudian, Kak Haris menelponku.


"Assalamu'alaikum, dek."


"Wa'alaikum salam, Kak."


"Dek Nanti malam aku dan keluargaku mau main ke rumahmu."


"Lho, kok dadakan sih, Kak?"


"Nggak juga! Aku sudah telpon Abah kemarin."


"Kakak dapat dari mana nomor telpon Abah?"


"Dari Abah sendiri. Kamu tidak usah dandan yang cantik, karen kamu sudah cantik. Aku cuma akan datang meminangmu, sekedar mengikat hubungan kita."


Kenapa Abah dan Ummi diam saja?


"Tapi Kok Kakak nggak bilang saya dulu?"


"Kamu nggak setuju, Dek?"


"Bukan.. bukan itu maksud saya. Saya hanya sedikit trauma, Kak."


"Kamu tenang saja, percayakan semua kepada Allah. Kita tinggal berdoa'a untuk keselamatan hubungan kita. 4O hari ke depan, acara lamaran sekaligus akad nikah kita. Aku sudah meminta tnggal yang bagus kepada Pak Kiyai."


Aku tercengang mendengar perkataannya.


Kenapa dia ngomongnya gampang banget ya? Kayak asal-asalan dan nggak pakai mikir dulu gitu. Apa dia salah minum obat?


"Hallo... Dek! Kam masih di situ, kan?"


"Ah iya, masih."


"Kamu cukup persiapkan diri saja, nanti malam hanya sekedar acara silaturahmi. Orang tua dan saudaraku saja yang ikut. Kamu tidak perlu takut aku akan langsung menikahimu malam ini juga. Tapi kalau kamu mau, aku sih iya saja!


"Kakak..."


"Iya.. iya, maaf Sayang!"


Bersambung....


...****************...


Yang nungguin Rai sama Haris nikah, tunggu setelah Hari Raya Idul Adha ya๐Ÿ˜„๐Ÿ˜

__ADS_1


Selamat Hari Raya Idul Adha buat yang merayakan, mohon maaf lahir dan batin๐Ÿ™๐Ÿป


See You Again...


__ADS_2