Ketegaran Hati Raisya

Ketegaran Hati Raisya
Kebaikan Haris


__ADS_3

Satu bulan berlalu, hari-hari yang aku jalani lebih sibuk dari biasanya. Memperhatikan empat anak dan satu suami yang melebihi empat anaknya dikala sedang ingin dimanja. Tapi Mas Haris juga sangat membantuku dalam mengurus mereka. Hari ini aku sudah bersih dari nifas, aku harus mensucikan diri. Masa nifasku kali ini ternyata lebih pendek daripada saat lahiran pertama.


Sore Hari, di rumah.


"Mas, kamu dari mana?"


"Tadi ngajakin duo S jalan-jalan keliling komplek, mereka senang banget bisa ketemu teman baru."


"Oh, sekarang mereka kemana?"


"Sama encusnya, Raka sama Riky masih bobo?"


"Iya tuh! Semalam mereka bergadang. Yah, aku mau ngomong sesuatu."


"Ngomong apa, Bunda?"


"Aku sudah bersuci dari nifas."


"Alhamdulillah, aku bisa buka puasa."


"Tunggu, dengarkan dulu! Bukan itu yang penting!"


"Tapi bagiku ini penting, Bund! Hehe..."


"Ya.. ya, terserah kamu! Nanti malam aku mau shalat istikharah, mau minta petunjuk. Aku mau pensiun dini saja. Kasian anak-anakku kalau mereka harus kekurangan kasih sayang Ibunya. Aku tidak mau mereka malah lebih nyaman dengan pengasuhnya."


"Aku akan mendukung apapun keputusanmu, Bunda. Apapun itu! Kamu pasti tahu apa yang terbaik untuk kita. Semoga dari shalat istikharah nanti akan mendapat jawaban terbaik dari Allah."


"Terima kasih, Yah!" Aku memeluk Mas Haris." Kamu selalu menjadi pelindung kami dan selalu ada untuk kami."


"Itu sudah tugasku, Bund. Kalian harta paling berharga dalam hidupku. Akan aku jaga dengan sepenuh hatiku." Mas Haris mengecup keningnya berkali-kali. "Ehm ehm... jadi menu buka puasaku sudah siap apa tidak ini?" Mas Haris menyeringai.


"Dih apaan, aku belum beli pil kontrasepsi."


"Aku yang akan ke apotek, mana sini lihat nama pilnya apa? Kamu pasti sudah tanya ke dokter kan, Bund?"


"Kamu gercep banget kalau masalah ranjang, Yah!"


"Harus dong! Hehe..."


Aku memberitahu nama pilnya kepada Mas Haris dan dia segera pergi ke apotek. Saat Mas Haris sudah meninggalkan rumah, ada tamu yang datang. Ternyata Laras dan Andi, mereka mau menjenguk si kembar. Aku bersyukur akhirnya Laras sudah tidak bersikap angkuh lagi, mungkin dia sudah tobat. Dan lebih menjaga sikap, karena pekerjaan suaminya sekarang sangat bergantung kepada Mas Haris.


"Wah sudah umur berapa ini, Bu Raisya? Maaf kami telat menjenguk."


Apa pendengaranku mulai berkurang? Dia panggil aku Bu?


"Sudah 33 hari, Mbak. Nggak pa-pa, yang penting doa'anya. Terima kasih Mbak Laras dan Mas Andi sudah mau menjenguk."


"Iya, sama-sama, Bu." Jawab Laras, namun Andi hanya tersenyum mengangguk.


Tidak lama kemudian Mas Haris datang.


"Lho ada tamu rupanya, dadi tadi?" Mas Haris menjabat tangan Andi.

__ADS_1


"Tidak juga Pak, baru 10 menit yang lalu." Jawab Andi.


"Oh, iya! Monggo dimakan dan diminum. Maaf itu seadanya." Mas Haris ikut gabung dan duduk di sampingku.


"Pak Haris sangat beruntung sekali dapat langsung dua lagi." Ujar Andi.


"Alhamdulillah, Allah Maha Baik! Tadinya kami selalu dibully karena belum mendapatkan keturunan, untung saja istriku ini mentalnya kuat. Lalu Allah menjawab do'a-do'a kami di waktu yang tepat."


"Sekali lagi selamat ya Pak, semoga keduanya menjadi anak yang Soleh."


"Amin, terima kasih. Oh iya, bagaimana dengan Ibumu? Apa sudah membaik?"


"Alhamdulillah, operasinya berjalan dengan lancar. Semua berkat bantuan Pak Haris yang tepat waktu. Kami tudak tahu kalau seandainya Pak Haris tidak datang waktu itu." Ucap Laras tulus.


Jadi ada kejadian yang tidak aku ketahui selama ini? Pantas saja Laras berubah jadi baik, ternyata ada udang di balik tepung. Mas Haris, kamu selalu membuatku jatuh cinta berulang kali.


"Maaf saya tidak mengerti, siapa yang sakit, Mbak Laras?" Tanyaku penasaran.


"Ibu saya, Bu Raisya. Beberapa hari yang lalu harus operasi usus buntu, kami kekurangan biaya. Untung ada Oak Haris menjenguk dan mau membantu kami."


Aku melirik dan tersenyum kepada suamiku.


Untuk hal kebaikan, kamu tidak ingin aku tahu Mas? Setulus itu kamu kepada orang lain? Semoga kebaikanmu menjadi amal yang akan menolongmu kelak.


"Bunda, kenapa melirikku seperti itu? Apa ada yang salah?" Ujar Mas Haris, pura-pura tidak tahu.


"Tidak ada yang salah, aku hanya mengagumi suamiku." Ujarku dengan tataoan memuja. "Ups! Maaf saya sampai lupa kalau ada kalian di sini!" Ujarku kepada Laras dan Andi.


"Tidak apa-apa, Bu Raisya! Kami bukan ABG lagi! Jadi sudah paham, hehe..." Laras menjawab dengan canggung.


Pov Laras


Aku tidak salah merubah sikap kepada Raisya. Pak Haris sangat baik sudah membantu biaya operasi Ibu. 20 juta sudah lumayan besar untukku karena saat ini ekonomi kami sangat sulit, dan Pak Haris memberikannya cuma-cuma tanpa memotong gaji Mas Andi. Sungguh beruntung Raisya memiliki suami seperti Pak Haris. Patutlah mereka berjodoh, Raisya memang wanita yang berhati malaikat. Dia tidak pernah membalas perilaku tidak baik yang pernah aku perbuat kepadanya. Saat ini dan seterusnya, aku harus berubah lebih baik lagi agar Mas Andi semakin sayang kepadaku. Dan Mas Andi bisa mempertahankan pekerjaannya sekarang, yang gajinya lebih lumayan daripada pekerjaannya terdahulu.


-


Pov Andi


Aku masih tidak menyangka, kalau kamu adalah istri bosku. Meski sudah memiliki empat anak, kamu malah semakin cantik dan berseri. Mungkin itu juga berkat suamimu yang sangat mencintaimu dn menghargaimu. Aku senang, perlahan Laras mulai merubah sikapnya kepadamu. Karena memang tidak seharusnya dia cemburu kepadamu, Rai. Semoga ke depannya rasa cinta ini semakin tumbuh dan berkembang untukmu, Ras. Karena walau bagaimanapun kamu adalah Ibu dari anak-anakku.


Malam harinya, aku dan Mas Haris menggendong Raka dan Riky di dalam kamar. Setelah selesai memberi ASI untuk Raka, aku menidurkannya si boks bayi. Kemudian ganti Riky yang aku beri ASI. Namun Riky tk kunjung memejamkan mata. Dia malah ngoceh dan tertawa sendiri.


"Riky, kenapa kamu belum bobo? Kakakmu sudah tidur! Ayolah, Nak! Ayo bobo saja!" Riky malah semakin ngoceh mendengar omongan Ayahnya. Seakan sia mengerti dengan omongannya.


Aku menguap merasa ngantuk berat.


"Ayah, tolong jagain Riky! Aku sangat mengantuk, sudah tak tahan lagi."


"Lha, kok gitu, Bund? Terus nanti nasib ular cobra gimana?"


"Ya, tinggal matok saja!" Jawabku sekenanya.


Aku memposisikan diri berbaring dengan posisi yang nyaman, kemudian tidur. Entah berapa lama aku tidur, sampai aku mendengar suara tangisan.

__ADS_1


"Oek...oek...oek..."


Aku tersentak dan bangun dari tidurku. Saat aku buka mata ternyata Mas Haris sedang memberi Raka dot yang sudah berisi susu formula.


"Ssstt.. bobo ya, Nak! Kasihan adikmu baru saja bobo."


"Raka kenapa, Yah?"


"Haus, Bund! Mungkin kurang puas tadi nyusunya."


"Sudah jam 12, kamu belum tidur daritadi, Yah?"


"Belum, Bund! Kepalaku pusing atas bawah!" Jawabnya absurd.


"Kami tiduran saja, Yah! Biar aku yang jagain Raka."


"Nggak pa-pa, bentar lagi juga anak ini pasti bobo."


"Ya sudah, aku mau ke kamar mandi dulu!"


Aku melangkah ke kamar mandi karena ingin buang air kecil dan berwudhu'.


"Aku ingin shalat istikharah dulu, Yah. Nggak pa-pa kan?"


"Iya, Bund."


Aku-pun shalat istikharah untuk meminta petunjuk jalan terbaik atas keputusandalam karirku. Aku berdo'a kepada Allah agar diberikan kemudahan dan kelancaran dalam segala urusan.


Selesai shalat, aku melihat Mas Haris sudah berada di tempat tidur, rupanya Raka sudah pulas.


"Yah, boleh aku ngomong?"


"Ngomong apa, Bund?"


"Aku setuju saja kalau ayah mau membantu orang lain tanpa pemberitahuku. Itu memang sudah diajarkan dalam agama, jika tangan kanan memberi tangan kiri tidak perlu tahu. Aku sangat senang jika suamiku bisa membantu orang lain.


"Maafkan aku, Bund! Sebenarnya aku mau cerita masalah mertuanya Andi itu, tapi kok ya lupa! Efek banyak anak kali ya, Bund? Hehe..."


"Tidak pa-pa, Yah! Aku nggak marah kok! Tapi lain kali Ayah boleh kok ngasih tahu atau minta pendapatku. Ayah selalu berbuat kebaikan tanpa mengajakku! Aku kan juga ingin dapat pahala, hehe..."


"Ehm... kalau pahala yang lain mau nggak, Bund? Mumpung duo R lagi bobo?"


Aku sudah tahu apa yang dimaksud Mas Haris.


"Boleh kan, Bund? Kamu sudah minum pil, kan?"


"Selamat berbuka puasa, Yah." Uajarku dengan nada menggoda.


Akhirnya setelah satu purnama berpuasa, kami mengulang pergulatan panas di atas ranjang tanpa gangguan tangisan bayi. Mungkin mereka kasihan kepada Ayahnya yang sudah pusing kepala.


Bersambung.....


...****************...

__ADS_1


Terima kasih sudah mampir di karya saya. Maaf kalau masih ada typo kakak🤗🙏🏻


See you again....


__ADS_2