
Tiga bulan telah berlalu, saat ini aku sudah bekerja menjadi seorang guru Matematika di salah satu Sekolah Menengah Pertama di kecamatan desa sebelah. Satu minggu setelah diwisuda, aku sudah menaruh surat lamaran di SMP Tunas Bangsa I, tempat mengajarku saat ini. Sebenarnya ada dua sekolah yang menawarkan, tapi terlalu jauh. Jadi aku memilih yang lebih terjangkau jaraknya dari rumah.
Dengan kesibukanku mengajar, aku tidak memikirkan masalah percintaan. Di tempat mengajar aku sering dijodoh-jodohkan dengan salah satu guru yang masih single.
Di rumah rasanya sepi, tinggal sku, Abi, dan Ummi. Sofi sudah diboyong suaminya saat usia kandungannya lima bulan. Sekarang usia kandungan Sofi sudah memasuki tujuh bulan.
Tak jarang beberapa keluargaku ingin mencarikan aku jodoh, mengingat usiaku yang sudah akan menginjak 23 tahun.Karena di daerah kami usia di atas 20 tahun itu sudah lumrah menikah bahkan punya anak. Bahkan jika berusia 25 tahun bisa dikatakan perawan tua. Tapi Ummi dan Abi selalu mendukung, mereka tidak mau aku mengalami kegagalan lagi.
...----------------...
Besok adalah acara tujuh bulanan Sofi. Acara diadakan di rumah privasi mereka. Saat ini kami sedang di rumah Sofi untuk kumpul-kumpul. Ada beberapa saudara dari keluarga Irfan yang datang. Dari keluarga kami hanya saudara inti. Mungkin besok sanak saudara dari keluarga kami akan banyak yang datang. Karena mereka diundang di acara intinya.
Malam ini kami tidak hanya kumpul biasa, tapi sedang mengemas souvenir untuk acara besok.Para laki-laki sedang berkumpul di depan sambil bercengkrama.
"Bu Aji, nginep sini kan?"Mama Irfan bertanya kepada Ummi.
"Maaf Bu, Sepertinya tidak dulu. Mungkin besok kami menginap."
"Iya Bu Aji, tidak apa-apa. Rai, kamu ngajar dimana?" Pertanyaannya beralih padaku.
"Di SMP Tunas Bangsa I, Tante."
"Oh iya, Tante kenal dengan kroa sekolahnya itu. Pak Sudirman kan?"
"Iya benar Tante."
"Tolong sampaikan salam ya, dari Tante."
"Insyaallah akan saya sampaikan Tante."
Jam 10 malam kami pulang dari rumah Sofi. Besok aku masih harus masuk ke sekolah, karena muridku sedang UTS. Untung saja acara Sofi setelah ashar, jadi aku masih bisa menjalankan tanggung jawabku di sekolah.
Hari ini di sekolah ujian tengah semester berjalan dengan lancar. Jam 12 siang anak-snak sudah boleh pulang. Tadi waktu istirahat di kantor, aku sudah menyampaikan salam Mama Irfan kepada Pak Sudirman. Beliau menitipkan salam kembali.
Sampai di rumah, sudah tidak orang sama sekali. Mereka sudah berangkat ke rumah Sofi. Memang aku yang meminta mereka berabgkat terlebih dahulilu, karena tidak enak kepada keluarga Irfan. Aku bisa menyusul setelah pulang mengajar.
Setelah membersihkan diri , aku mengganti baju. Memakai gamis motif bunga warna coklat susu dipadu dengan jilbab warna coklat. Aku mengunci semua pintu dan segera berangkat dengan si putih.
Sampai di sana sudah waktu ashar. Sebagian undangan sudah datang, keluarga besar Irfan dan keluarga besarku. Tetangga Sofi juga mulai berdatangan.
Setelah acara pengajian, dilanjut dengan ramah tamah. Sofi memakai gamis warna soft memakai hiasan melati setengah badan dan bagian ikat kepala yang melapisi jilbabnya. Auranya semakin cantik, mungkin bawaan bayinya. Kami mulai melakukan ritual siraman. Semua orang tampak bahagia. Kami berfoto bersama dengan bumil dan keluarga besar.
"Jeng, itu Putrimu juga?" Tanya seorang Ibu-ibu kepada Ummi, aku tidak tahu dia siapa. Tapi dia menunjuk ke arahku. Aku masih mendengarnya, karena tempat dudukku tidak jauh dari mereka.
"Iya Jeng, itu Kakaknya Sofi."
__ADS_1
"Oh kakaknya, saya kira adiknya. Karena orangnya lebih kcil, jadi awet muda. Sudah berkeluarga Jeng?
"Belum Jeng."
"Lho kok dilangkahi adiknya? Pamali lho Jeng!
"Emm, dulu sudah menikah Jeng, tapi sudah pisah.
"Owalah, Kenapa Jeng? Anaknya manis lho, nggak ngebosenin!"
"Bukan jodoh Jeng." Ummi menjawab singkat.
"Sayang sekali udah janda Jeng, coba masih gadis! Sudah aku jodohkan dengan anakku. Anakku ganteng lho, kerja di Luar Negeri. Lumayan setiap bulan selalu kiriman, gajinya idah naik sekarang 30 juta." Ummi hanya menanggapi dengan senyuman dan menoleh ke arahku. Dengan matanya Ummi memberiku kekuatan, aku mengerti dengan tatapan mata Ummi kepadaku. Mungkin kalau aku ada di sampingnya, Ummi akan berkata ,"Jangan dengarkan kata orang Rai! selama kita tidak merugikan orang lain, janganlah berkecil hati. Allah tahu yang terbaik untuk Hambanya." Itu kata-kata Ummi yang selalu aku ingat.
Begitu hinakah statusku di mata mereka? Apa mereka tidak tahu, tidak ada seorang-pun yang ingin bernasib sepertiku.
Setelah acara selesai, Kami tidak langsung pulang. Kami masih berkumpul makan-makan, dan ngobrol. Saat ini aku sedang menemani kedua anak Mbak Rindi, Alfia dan Alfano. Mbak Rindi mondar-mandir membantu mengangkat piring-piring kotor.
Anak Mbak Rindi masih berusia empat tahun, sedang aktif-aktifnya bermain ke sana dan kemari. Aku sampai kewalahan menghadapi mereka.
"Alfan! jangan ke sana nak! Nanti Mama-mu marah lho!" Pekik-ku saat melihat Alfano berlari keluar.
"Aku mau sama Papa, Tante!" Rengeknya. Tak sengaja dia menabrak badan seseorang.
"Aku mau ke Papa, Om!" Rupanya Alfano mengenali orang itu.
"Alfan! sini sama Tante dulu, Papamu masih keluar sebentar." Aku membujuknya. Pria itu menatapku. "Maaf, em.. Mas! Tadi Alfan lari begitu saja."
"Ah iya! tidak apa-apa Mbak, namanya juga anak kecil."Jawabnya dengan tersenyum.
"Sini Nak, sama Tante dulu ya?"
"Aku mau nunggu Papa di sini! Om temannya Papa kan?" Alfan kembali mengajak pria itu berbicara.
"Iya, kamu masih ingat sama Om?"
"Inget! Kan Om sering ke rumah." Sepertinya merka mulai akrab, tapi sku masih mengawasi dari tempat aku berdiri dengan Alfia yang masih menggandeng tanganku.
"Mbak, nggak pa-pa! Alfan biar sama saya di sini, sebentar lagi Papanya pasti datang. Tadi cuma mau beli rokok katanya."
Sepertinya orang ini bisa dipercaya, dari cuti-cirinya bukan penculik anak.
"Baik Mas, saya titip Alfan. Tolong dijaga, terima kasih."
"Iya sama-sama."
__ADS_1
Aku menggandeng tangan Alfia masuk ke dalam, mencari keberadaan Mbak Rindi.
Setelah bertemu, sku menceritakan kejadian tadi. Mbak Rindi menebsk siapa laki-laki yang dimaksud teman suaminya itu.
"Orangnya gimana, Rai?"
"Em, pakai celana kain atasan baju koko pakai kopyah hitam."
"Bukan pakaiannya yang Mbak maksud,Rai! Tapi orangnya, kira-kira seperti siapa?
"Mbak lihat sendiri deh, keluar! Aku mana merhatiin Mbak! takut dosa!"
"Iya Bu Ustadzah!" Mbak Rindi beranjak keluar, mencari keberadaan Alfan.
Tidak lama kemudian Mbak Rindi masuk tanpa membawa Alfan.
"Ketemu Mbak?"
"Iya, Papanya sudah datang. Ternyata orang yang kamu maksud itu Faisal, Rai. Dia temannya Mas Rendy. Ternyata dia temannya Kakaknya Irfan juga, pantesan diundang."
"Oh, ya syukur deh kalau gitu."
"Ehm.. Faisal itu masih single lho, Rai!"
"Terus, kenapa kalau single?" Aku pura-pura tidak mengerti
"Yaa.. Kali aja ada kesempatan." Sudah kuduga akan menjurus ke mana pembicaraan Mbak Rindi.
"Kesempatan dalam kesempitan, gitu! Udah ah, Rai mau siap-siap pulang ini. Ummi sama Abi mau nginap di sini."
"Terus kamu di rumah sma siapa Rai?"
"Sama Bibi! Kalau Mbak mau, nginap di rumah juga boleh."
"Nanti Mbak tanya duluvsama,Mas Rendy. Ya sudah kamu pamit dulu sana!."
Akhirnya aku pulang dengan Bibi. Kami dibawakan Nasi box dan snack box serta beberapa buah-buahan.
...****************...
Masih lanjut kakak
-
jangan lupa baca kelanjutannya ya! Saya Up setiap hari. Terima kasih🤗
__ADS_1