Ketegaran Hati Raisya

Ketegaran Hati Raisya
Belum sadar


__ADS_3

Satu bulan berlalu, hari ini adalah hari resepsi pernikahan Taufik dan Lina. Aku dan Putri akan hadir ke acara Resepsi mereka yang diselenggarakan di rumah. Tapi kali Putri yang akan menjemputku ke rumah. Karena rumah Lina melewati daerah rumahku.


Jam 2 siang setelah pulang mengajar Putri berangkat menjemputku, karena undangannya jam 3 sore. Aku sudah siap dengan gaun brukat simple warna Mint dipadu dengan hijab pashmina warna senada. Tak lupa ku-boleh sedikit wajahku.


"Waw... Masyaallah cantiknya." Ujar Putri saat aku sudah siap menunggunya di depan pintu.


"dih, lebay!"


"Dipuji itu bilang terima kasih, gitu! Tapi beneran kamu hari ini terlihat fresh, dan lebih berisi sih. Padahal cuma sebulan kita nggak ketemu, tapi kamu bikin pangling."


"Iya iya terima kasih atas pujiannya, kamu juga cantik. Ayo berangkat!"


"Ummi sama Abi kemana, Rai? Kok sepi?"


"Masih di toko, belum pulang. Tapi aku sudah pamitan dari kemarin."


"Oh... ya sudah. Ayo cepet naik! Jangan lupa dikunci rumahnya."


Kami-pun berangkat ke tempat tujuan. Perjalanan kurang lebih 20 menit. Kami Sampai 10 menit sebelum acara dimulai. Tapi tamu undangan sudah hampir penuh.


Sudah aku siapkan mental sekuat mungkin, untuk menjaga kemungkinan yang akan aku hadapi di acara Taufik. Karena bisa saja aku bertemu dengan Mas Andi atau siapapun yang berhubungan dengan masa lalu.


Benar saja, saat kami sudah duduk di kursi tamu. Mataku tak sengaja melihat ke arah bererapa orang berdiri di pojokan sana. Aku melihat Mas Andi yang saat ini tengah menggendong tangannya sendiri yang sebelah kiri. Dan di sampingnya ada Laras yang aku perhatikan dari jauh ada perubahan di wajahnya, terutama hidungnya. Aku lupa kalau Taufik pernah cerita saat membagikan undangan ke rumah. Kalau Laras juga mengalami retak tulang hidungnya, sehingga harus dioperasi. Dan sobek di bagian pelipisnya hingga harus dijahit. Mungkin perubahan wajahnya akibat bekas operasi itu.


Aku langsung mengalihkan pandangan ke lain arah.Untung saja Laras tidak melihatku.


Acara berjalan dengan lancar. Di akhir acara aku dan Putri dipanggil untuk foto bersama. Kami-pun maju ke depan


"Selamat ya, untuk kalian berdua." Ucapku kepada Taufik dan Lina. Aku juga mencium pipi kiri dan kanan Lina. Begitu pula dengan Putri, melakukan hal yang sama sepertiku.


"Semoga kalian cepat nyusul ya!" Ujar Lina


"Amiin.. do'a pengantin baru biasanya cepat dikabulkan." Putri menimpali. Aku meng-amini di dalam hati.


Setelah berfoto kaami pamit kepada mempelai berdua dan segera turun dari pelaminan.


Di pintu depan kami bertemu dengan Fajar.


"Hai, Rai! Ini beneran kamu, Rai?"


"Hai, Jar!" Aku menangkupkan kedua tangan.


"Masyaallah, tidak salah lihat berarti aku ya? Tambah cantik saja kamu, Rai. Apa kabar, Rai?"

__ADS_1


"Alhamdulillah baik, seperti yang kamu lihat. Oh iya, Put kenalin ini Fajar! Temannya Taufik."


Mereka berjabat tangan dan berkenalan.


"Sudah ketemu Andi, Rai?


"Semoga tidak bertemu." Kali ini Putri yang menjawab. "Ayo Rai! Kita kan belum shalat Ashar." Putri tidak tahu kalau aku sudah melihat Mas Andi dan Laras tadi.


"Oh, iya! Maaf Jar, kami duluan ya!"


"Oh iya. Kalau begitu hati-hati ya!"


Kami-pun meninggalkan tempat acara.Putri mampir di rumahku untuk shalat Ashar. Karena sudah hampir jam 5 sore. Setelah shalat Putri pamit pulang.


Bulan ini musim nikah, banyak sekali undangan pernikahan di bulan ini. Satu minggu kemudian, aku ikut Ummi dan Abi pergi ke acara pernikahan anak Pak Handoko yang tadinya mau dijodohkan denganku. Sebenarnya aku tidak ingin ikut, tapi Ummi dan Abi memaksaku. Mereka tidak ingin aku selalu berdiam diri di rumah. Karena itu akhirnya aku ikut juga, sebab tidak ingin mengecewakan mereka.


Setelah shalat Maghrib kami sudah bersiap-siap menuju rumah Pak Handoko untuk ikut mengantarkan pengantin pria ke rumah pengantin perempuan. Tadi pagi mereka sudah melaksanakan lamaran dan ijab qobul. Karena tadi pagi Abi dan Ummi tidak bisa hadir karena kendala pekerjaan, makanya mereka berjanji akan hadir mlm ini. Aku beruntung Abi atau-pun Ummi tidak pernah menyalahkan atau memojokkanku karena aku sudah pernah menolak niat baik keluarga Pak Handoko untuk menjodohkan kami.


Jam 6 sore kami sudah sampai di tempat tujuan. Sudah banyak tamu yang yang datang.


"Ayo masuk Ji, terima kasih sudah hadir ya!"


Ujar Pak Handoko.


"Iya Pak, sama-sama."


"Iya, Pak." Jawab Ummi dengan senyum termanisnya.


"Masyaallah, manis sekali ya, Bu Aji! Baru kali ini saya ketemu Nak Raisya. Pantas saja Baoak ingin sekali jadiin dia mantu. Sayang banget, nggak berjodoh dengan Toleh, ya Pak?" Ujarnya kepada suaminya. Toleh sebutan anak laki-laki daerah Jawa.


"Bukan jodoh, Bu. Sudahlah...tidak usah dibahas! Ayo Pak Aji masuk ke dalam. Makan-makan dulu sebelum kita berangkat ya."


Kami bertiga masuk ke dalam untuk berkumpul dengan yang lain. Jam 7 malam kami berangkat bersama ke rumah mempelai perempuan.


Nampak dari depan ada papan bertuliskan


... Happy Wedding ...


...Wina & Aris...


^^^Kami mulai masu ke tempat acara. Rasa-rasanya ada yg aneh di hatiku. Tapi aku tidak tahu itu apa. Aku tepis semua perasaan tidak enak di dalam hati dengan membaca sholawat dan mulai melangkah lagi ke dalam karena Ummi sudah menggandeng tanganku saat ini.^^^


Benar saja, di tempat penerimaan tamu aku bertemu seseorang yang ingin aku hindari.

__ADS_1


Laras? Kenapa dia juga ada di sini? Oh Tuhan... Kenapa aku selalu dekat dengan orang yang ingin aku hindari.


Dengan terpaksa aku-pun menyalami orang-orang yang sudah berjejer di tempat itu. Namun saat sudah sampai di depan Laras, tanganku ditepis olehnya. Sontak aku kaget dengan perlakuannya. Tapi aku tetap mengontrol diri. Untung saja Ummi sudah berjalan di depanku, dan tidak melihat itu.


Saat kami duduk dan acara dimulai, baru-lah aku paham dengan keadaan ini. Pantas saja aku seperti tidak asing dengan nama Wina ini. Ternyata dia adalah saudara Laras. Aku baru ingat saat dulu Sofi pernah bercerita. Pantas saja dia memakai baju yang sama dengan keluarga inti.


Sepertinya duniaku sangat sempit. Hanya berputar di tempat saja.


Aku pamit ke Ummi untuk pergi ke toilet, karena rasanya ingin buang air kecil. Saat keluar dari toilet aku berpapasan dengan Bu Ajeng istri Pak Handoko.


"Lho... Raisya! Dari mana, Nak?"


"Dari toilet, Bu." Jawabku ramah.


Bu Ajeng masih melanjutkan percakapannya denganku.


"Ibu sebenarnya sangat berharap, Aris itu jadi jodohmu lho Nak! Anaknya Aris pasti sangat cocok punya Ibu sambung sepertimu. Kenapa waktu itu Nak Raisya tidak mau kenalan dulu sama Aris? Kalau tahu Nak Raisya gagal dikhitbah, Ibu pasti minta Bapak langsung khitbah Nak Raisya. Biar nggak usah pakai kenalan lagi. Langsung gitu biar singkat!" Ujar Bu Ajeng dengan semangat.


"Maaf, Bu." Saat aku belum selesai menjawab ada orang lain menyambung dari belakang Bu Ajeng.


"Untung saja Aris nikahnya sama Adik saya, Bu. Masih gadis dan sudah jadi perawat di rumah sakit besar, Bu. Jadi Ibu tidak perlu khawatir cucu Ibu akan disayangi oleh adik saya. Orang lain saja dirawat, apalagi anak suaminya." Dia menekan kata gadis saat mengucapkannya. Siapa lagi kalau bukan Laras yang tiba-tiba datang, dan menimpali obrolan kami. Mungkin dia sudah mendengarkan kami sejak radi.


"Ah iya, Nak Laras. Aris jodohnya sama Wina. Semoga saja Wina yang terbaik, Ibu mau ke toilet dulu ya!." Pamit Bu Ajeng meninggalkan kami.


Karena merasa tidak ada keperluan dengan Laras, aku-pun melangkah kembali untuk kembali ke tempat duduk. Namun tanganku ditahan oleh Laras.


Ya Tuhan, mau apalagi dia?


"Rupanya, anda memiliki kebiasaan meninggalkan orang lain, tanpa pamit ya? Begitu yang dibilang punya sopan santun?" Ujarnya kepadaku.


"Maaf, saya tidak merasa punya kepentingan dengan Anda, dan lagipula saya tidak kenal dengan Anda. Satu lagi, saya tidak pernah pergi tanpa pamit, justru orang lain yang pergi meninggalkan saya tanpa pamit."


"Oh.... jadi sekarang anda mau menyalahkan Mas Andi karena sudah meninggalkan anda demi saya? " Laras tersenyum mengejek.


"Tidak juga, karena itu pilihannya. Saya bersyukur dengan itu. Dia bertemu dengan jodoh yang pantas untuknya!" Aku menekankan kata pantas untuknya.


"Baguslah kalau kamu sadar, dan jangan coba-coba neracuni orang tua Aris! Aris sudah menikah dengan adikku! Jauh-jauh dari keluargaku! Aku tidak paham, kenapa laki-laki di sekitarku malah tertarik kepadamu! Yang kulihat tidak ada yang istimewa di dalam dirimu!"


"Astaga... .maaf, Mbak! Tolong lebih dijaga ucapannya. Anda memang sangt sempurna, tapi anda lupa dengan pemilik kesempurnaan. Allah tidak tidur! Beruntung Allah masih sayang kepada anda!" Tidak ingin berdebat lebih lama lagi dengan orang yang tidak penting. Aku segera meninggalkannya.


Sudah ditegur tapi belum sadar. Ya Allah semoga dia diberikan kesadaran. Dan tolong jaga hati dan lisanku.


...****************...

__ADS_1


See you again kakak


Terima kasih atas dukungannya


__ADS_2