Ketegaran Hati Raisya

Ketegaran Hati Raisya
Bertemu Abah


__ADS_3

Hari ke-4 di Bali.


Tidak terasa hari ini adalah hari terakhir kami di Bali. Saat ini kami sedang di Tanah Lot.


Kami mengunjungi Pura yang berada di sini. Banyak wisatawan yang mengabadikan moment mereka si sosin. Tanah Lot atau Tanah Laut melambangkan romantisme Pulau Bali. Seperti namanya, Tanah Lot memang memiliki setting lepas pantai yang unik. Tanah Lot juga merupakan rumah dari salah satu ikon ikon terkenal di Bali yaitu Siluet Pura Tanah Lot.


Semuanya naik ke atas Pura untuk melihat keindahan laut. Aku dan Bu Hestisengaja naik paling belakang, agar tidak berdesakan. Aku yang kurang fokus kembali dengan kecerobohanku, kakiku teekilir karena tidak sampai ke tangga berikutnya.


"Au au au.. sakit."


"Ke-kenapa, Bu?"


"Kakiku terkilir, Bu. Bisa tolong dipapah ke samping?" Bu Hesti memapahku agar berjalan ke samping dan duduk di pojok tangga. Aku mengurut kakiku sendiri.


"Kenapa tidak dilanjutkan naiknya, Bu?" Kak Haris menyapa kami.


"Ini Pak, Bu Raisya kakinya terkilir, sakit banget katanya!" Aku menggenggam telapak tangan Bu Hesti berniat menghentikan kejujurannya. Namun percuma saja, Bu Hesti malah semakin melebihkan keadaan. "Pak Haris bisa bantu tidak? Saya ingin sekali melanjutkan naik, sepertinya di sana pemandangan sangat indah."


"Bisa, saya bisa bantu. Anda silahkan lanjutkan untuk naik. Biar Bu Raisya saya yang tangani. Kebetulan saya mantan anggota PMR, jadi sedikitnya saya tahu cara mengobatinya.


"Ehm ehm..." Bu Hesti melirik kepadaku." Alhamdulillah... anda,datang di waktu yang tepat, Pak. Saya pergi dulu, titip Bu Raisya. Jangan sampai diculik Bule. hehe... Dah... Bu!" Bu Hesti melambaikan tangan dan benar-benar meninggalkanku dengan Kak Haris.


"Kenapa anda sangat ceroboh?"


"E..e saya kurang fokus tadi."


"Tolong kakinya diluruskan!"


"Mau diapakan, Kak? Jangan pegang-pengang kita bukan mahram!"


"Saya juga tahu batasan, saya hanya ingin membantu, ini darurat. Lagian di sini kita tidak cuma berdua, banyak orang. Dan bukannya anda pakai kaos kaki? Jadi kita tidak akan bersentuhan secara langsung." Ujarnya serius.


"Ah iya, maaf bukan maksud saya menyinggung perasaan Kakak."Aku-pun meluruskan kakiku. Kak Haris memegang telapak kakiku lalu memutarnya.


Ser.....


Seakan ada aliran hangat dalam darahku.


"Au..." Aku menutup mulutku dengan telapak tanganku.


"Sakit?" Aku hanya mengangguk


"Coba sekarang berdiri. Pegangan ke tembok! Atau mau pegang ke saya juga boleh."Ujarnya menggodaku.


Aku mulai mencoba berdiri sendiri, dengan berpegangan ke tembok.


"Alhamdulillah... sudah bisa ditapakkan, Kak. Terima kasih."


"Iya sama-sama. Tapi ini tidak gratis!"


"Maksud Kakak, saya harus bayar?" Jak Haris menahan tawa mendengar pertanyaanku.


"Anda sangat lucu, rasanya saya pingin nyubit. Ayo lanjutkan ke atas, masih bisa naik sendiri kan? Atau mau saya gendong?" Tidak ada henti-hentinya dia menggodaku.


Kami-pun berjalan beriringan naik ke atas.


"Maksud saya tidak gratis tadi, anda harus menjawab pertanyaan saya dengan jujur."

__ADS_1


Duh jantungku, kenapa berdetak tak karuan.


"Pertanyaan apa, Kak?


"Kenapa anda belum memakai gelangnya? Apa itu tandanya anda benar-benar menolak saya?" Aku tertegun mendengar ucapannya.


"Boleh saya tahu kenapa Kakak memilih saya?


"Ada jursi di sana, mari duduk dulu. Jangan terlalu dipaksakan unruk berjalan. Saya tahu anda masih menahan sakit."


Kami duduk di kursi yang berada di pojokan blankon tangga Pura.


"Jika anda bertanya kenapa saya memilih anda? Hatiku yang memilih. Dan Tuhanku yang menuntun. Percaya atau tidak, aku pernah bermimpi seorang perempuan 3 tahun yang lalu." Dia-pun melanjutkan ceritanya.


"Di pinggiran pantai.. Dari kejauhan aku melihat seorang perempuan yang dikejar ular. Ular itu panjangnya Mencapai empat meter.


Aku datang menaiki kuda dengan memakai pakaian serba putih, dan surban putih yang dia lilitkan sehingga menutupi wajahnya. Dan hanya terlihat bagian matanya saja. Aku juga membawa busur panah dan anak panah di punggungku. Perempuan itu menatapku dengan pandangan memohon. Yang paling aku ingat darinya. Matanya yang sayu dengan bulu mata yang lentik, dan lesung pipi yang sangat khas dari wajahnya. Kudaku terus memberontak tidak mau mendekat ke arahnya. Hingga akhirnya aku membidik anak panah ke arah ular, tapi tidak tepat sasaran. Dan ular itu-pun pergi ke arah laut.


dia berkata "Tunggu! siapa anda?" Dia menghentikan aku."Jodohmu! Aku akan pergi, suatu saat akan kembali." Ucapku kepadanya. Lalu meninggalkannya, karena kulihat dia sudah aman.Aku bermimpi setelah melakukan shalat istikharah, karena pada saat itu Ayah ingin menjodohkanku dengan putri temannya. Saat aku tahu yang di dalam mimpi bukan dia, aku menolak dengan tegas. Tapi Ayah tetap bersikukuh. Pada akhirnya kami sempat bertunangan, tapi ternyata dia selingkuh. Dan hubungan kami berakhir. Sejak itu saya malas untuk memikirkan perempuan. Beberapa hari yang lalu aku bermimpi lagi. Bertemu dengan seorang perempuan memakai gamis biru dan jilbab biru bermotif abstrak. Dia tersenyum kepadaku, dan menghampiriku. Dari lesung pipinya aku sangat mengenalinya, dia yang datang di mimpiku 3 tahun lalu."


Aku masih setia mendengarkan ceritanya. Namun hatiku mulai terusik.


Kenapa mimpi kita bisa nyambung? Tidak mungkin dia mengarang cerita, bukan?


"Bu...bu!" Kak Haris menimbulkan tangannya di depan wajahku. "Anda mendengarkan ceritaku, kan?"


"Oh...iya. Saya dengar kok."


"Iya... jadi setelah saya melihat anda pertama kali di toilet."Dia menahan tawanya dan melirik kepadaku.


"Tolong jangan ingatkan hal itu, saya sangat malu."


Deg


Hatiku semakin tak karuan. Untuk pertama kalinya aku melihat Kak Haris memperhatikannya dari atas sampai bawah.


Ya Allah postur tubuhnya sama persis dengan pangeran berkuda, Suaranya, ah iya suara ini yang selalu aku ingat-ingat. Suaranya juga sama. Apa mungkin orang yang di hadapanku ini, adalah jodoh yang Engkau siapkan untukku?


"Bu.. gimana kakinya, sudah sembuh?" Bu Hesti tiba-tiba datang menghampiri kami dan menanyakan keadaanku.


"Alhamdulillah sudah baikan, Bu. Sudah bisa dibuat jalan."


"Ya kalau belum bisa, mungkin Pak Haris bersedia menggendong." Bu Hesti menggoda kami.


Malming malam perpisahan kami sebelum besok pagi kami akan kembali pulang. Kami para guru sengaja mengadakan acara khusus untuk Purna Tugas Pak Rudi. Yang nantinya akan diganti Kepala sekolah yang baru. Kami memberikan kenang-kenangan kepada Pak Rudi. Pak Rudi nenyampaikan sambutan, pesan dan ucapan pamit. Kami terharu dan terbawa suasana. Pak Rudi adalah sosok pemimpin yang disiplin, ulet, dan rendah hati. Guru-guru sangat sayang kepada Pak Rudi.


Tiba saatnya kami pulang. Semua guru dan siswa naik ke dalam Bus masing-masing. Perjalanan yang cukup panjang kami lalui. Sampai akhirnya jam 3 sore kami sampai di sekolah. Saat turun dari Bus, aku melihat ada yang memperhatikan aku. Tanganku terangkat untuk membedakan depan jilbabku yang miring. Orang yang memperhatikan mendekat padaku.


"Sini aku bawakan, sepertinya oleh-oleh anda begitu banyak." Aku masih tercengang di tempat.


"So sweet." Suara Bu Hesti memecah kehilanganmu.


Kak Haris mengambil alih tas bawaanku yang cukup berat. Karena aku memang membawa okeh-oleh yang cukup banyak untuk keluarga besarku.


"Terima kasih Kak."


"Aku yang terima kasih, karena jamu sudah mauvmemakai gelangnya. Aku anggap ini sebagai jawaban iya darimu." Panggilan saya dan anda sudah berganti.

__ADS_1


Pantas saja sedari tadi dia memperhatikan pergelangan tanganku. Aku hanya tersenyum membalasnya.


"Jangan terlalu mengumbar senyummu. Aku Tak sanggup untuk tidak memandangmu.


"Stop, Kak! Jaga pandangan, jangan sampai zina mata! Ya sudah biarkan saya cemberut saja!"


"Astafhfirullah!" Kak Haris menundukkan pandangan."Eh eh kok jadi ngambek... Jadi tambah gemes. Kapan ya bisa nyubit!" Ujarnya menggodaku.


"Aku sudah dijemput, itu Abahku sudah di depan!" Kak Haris menoleh ke arah yang aku tunjuk.


"Aku bawakan tasnya ke depan."


"Jangan... jangan!" Aku mencegahnya, "Tidak usah, Kak! Abahku galak, nanti Kakak kena marah." Aku berbohong.


"Ah masa sih? Nggak takut!" Dia tak menghiraukanku. Dan pergi membawa tasku ke depan. Aku berlari kecil mengikutinya.


Duh gawat, nih orang nekat banget sih!


"Anda orang tua, Bu Raisya?


"Ah iya, saya Abahnya."


"Ini tasnya Bu Raisya, Bah. Ditaruh di mana ya?" Aba membuka pintu belakang mobil.


Untung dia nggak ngomong macam-macam.


"Taruh sini, Nak."


Kak Haris mencium punggung tangan Abah. "Saya Haris, Bah."


"Terima kasih, Nak Haris. Sudah mau membantu Raisya."


"Iya sama-sama."


"Bah" Aku mencium punggung tangan Abah.


"Ayo Rai, Ummimu sudah tidak sabar menunggumu. Pesanan Ummi dapat, tidak?" Abah melirik ke arah Kak Haris.


"Ada di dalam tas, Bah."


"Bukan itu, Rai."


Aku menggaruk tengkukku yang tidak gatal. "Ah iya, terima kasih Kak Haris. Saya pulang duluan, ya!"


"Oh iya, Bu Raisya. Hati-hati, Bah."


"Kapan-kapan mainlah ke rumah, Nak Haris." Abah menepuk pindah Kak Haris yang tingginya 10 centi lebih tinggi dari Abah.


Bisa langsung akrab begitu? Batinku dalam hati.


"Insyaallah, Bah." Jawabnya dengan senyum kemenangan.


Bersambung.....


Terima kasih sudah selalu setia mampir di karya aku yang hanya remaja rengginang ini kak.


Maaf kalau masih terdapat typo karena kybord HP-ku suka berubah sendiri😁

__ADS_1


See you again kakak😇🤗😍


__ADS_2