
Seiring berjalannya waktu, tak terasa satu tahun sudah kulewati masa-masa terpuruk. Kini aku sudah smester 6. Hari- hariku berjalan seperti biasa, semua teman kelasku tau kalau aku sudah bercerai dengan suamiku.
Dan kabar bahagia dari Kak Firman sudah tersebar, bahwa dia akan menikah dengan wanita pujaan hatinya. Jadi beberapa bulan ini dia meredam gosip yang ada.Berarti selama ini dia belum menikahi wanita itu, aku juga tidak terlalu perduli. Masa lalu tinggallah masa lalu. Yang jelas sekang dia sudah mendapatkan restu dari orang tuanya. Bahkan kudengar acaranya tak kalah meriah seperti ketika dia menikah denganku. Aku sudah move on dari masa lalu, tapi untuk berkomitmen aku masih harus berpikir berkali-kali.
...****************...
ada telpon masuk, nomor yang tidak aku kenal
081932XXXXXX, dengan ragu-ragu aku terima panggilan itu.
" Assalamu'alaikum," di seberang membuka obrolan, suara seorang lelaki.
" Wa'alaikum salam." jawabku
"Boleh kenalan?"
" maaf ini siapa?"
" Ini benar dengan Raisya?"
" Iya benar, maaf ini siapa?"
" Kenalkan, saya Andi."
"Emm maaf saya tidak kenal, dari mana anda tau nomor saya?"
"Makanya aku ajak kenalan biar kenal. Aku daoat dari seorang teman. Yang jelas saya tidak punya niat buruk, saya hanya ingin berkorban untuk mencari teman, bukankah tak kenal maka tak_" dia menghentikan obrolannya. "Ah maf jadi ngelantur, intinya saya mau minta ijin, boleh kan kita berteman?"
"Oh iya... tentu, salam kenal."
"Alhamdulillah, jadi boleh nich aku simpan nomornya?"
"Iya tentu saja, silahkan."
"Terima kasih ya, semoga ini menjadi awal yag baik."
"Iya sama sama, maaf saya sedang di dapur lagi masak, boleh telponnya saya tutup dulu?"
"Oh iya, silahkan. Maaf sudah mengganggu, Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikum salam."
Sejak bercerai aku memang tidak membatasi diri bergaul dengan siapa pun, asal masih dalam konteks baik.Baik laki-laki maupun perempuan yang penting aku tau batasan. Aku tidak mau hidupku monoton, biarlah masa lalu menjadi pelajaran hidup, tidak ada salahnya aku memiliki banyak teman.
Tapi siapa ya yang ngasih nomerku? batinku.
Sejak nomer itu menghubungiku, setiap hari selalu gencar kirim pesan ataupun menelponku. Jika aku sedang tidak sibuk aku angkat, tapi kalau sedang sibuk tentu aku hanya sesekali membalas pesannya.
__ADS_1
Selama ini aku memang belum pernah pacaran. Tapi untuk perasaan suka, tentu aku pernah mengalami dan merasakan.
Hari ini aku sedang libur kuliah, dan nyantai di rumah. Kemarin Andi nelpon ngajak ketemuan, karna ada waktu aku iyakan saja.Jadi nanti setelah sholat dhuhur kami akan ketemu di warung bakso langgananku, maklum bakso makanan favoritku.
" Dik, ikut mbk yuk nantik habis sholat dzuhur makan bakso. Nanti mbak traktir."
"Serius mbk? Ada anin apa? awas ntar suruh bayar sendiri."
"Angin ****** beliung, kapan sih mbak pernah bohong? kalau kamu emang sering hehe..
" Ya kalau aku paling bohong demi kebaikan mbak wkwkwk...."
" Ya udah pokoknya nantik siapa-siap jangan lama lama dandannya. Kita mau makan bakso, bukan mau ngapelin kang bakso."
" Ih apaan sich mbk, iya iya nantik kalau aku ketiduran tolong bangunin ya."
" oke adikku yang paling cantik dan paling baik sedunia." Aku meninggalkan kamar Sofi.
Siang ini nampaknya cuaca agak mendung, tapi masih aman. Aku dan Sofi siap-siap untuk berangkat. Aku masih menunggu pesan otewe dari Andi agar tidak terlalu lama menunggu.Karna aku memang tidak cerita kalau mau ketemuan dengan seseorang kepada adikku. Karna takut Sofi heboh duluan.
Setelah ada pesan dari Andi yang memberi tau bahwa dia sudah berangkat, kami pun segera berangkat, karna perjalanan ke warung bakso itu 15 menit. Sofi yang ambil kendali jadi supir, aku bagian bonceng.
Sampai di warung bakso kami langsung memarjirkan motor dan masuk cari tempat duduk. Sepertinya kami sampai duluan.
"dik, cari yang mejanya untuk empat orang!"
" hehe, ada temen mbak mau gabung disini juga, ini orangnya SMS.
" Owh oke, itu di pojokan kosong." Sofi menunjuk kuri kosong di sebelah pojok warung bakso.
" mau pesan sekang, apa mau nunggu temenmu mbak?"
" tunggu sebentar ya." sebenarnya aku agak grogi, karna aku takut reaksi Sofi akan lebih berlebihan nantik. Sofi orangnya cukup bar bar.
Setelah 5 menit minggu ada motor datang yang ternyata ditumpangi dua orang. mereka pun memarkirkan motornya. Aku lihat sepertinya memang itu orangnya. Aku tau krna dia pernah mengirim fotonya.
Andi dan temannya menghampiriku.
" maaf Raisya kan?" tdi bertanya dengan sopan.
" iya benar." jawabku dengan senyuman. Kulihat Sofi menyakitkan wajahnya dan mengkode-ku dengan matanya. mungkin dia mau bertanya siapa lelaki ini.
"Maaf aku agak lama tadi di jalan hujan, aku berteduh sebentar." kami memang sudah mengubah sapaan dengan aku-kamu agar tidak terlalu formal.
"Tidak apa, mari silahkan duduk, mau pesan apa?"
"Aku bakso saja minumnya teh hangat, kamu Jar?" Andi bertanya kepada teman yang dia bawa.
__ADS_1
" aku mieyamso ndi, minumnya samain aja."
"Oke, sebentar ya." Aku memanggil mbak pelayan.
" mMbak aku pesan bakso 3 mieyamso 1 ya, sama es jeruk dua dan teh hangat dua.
" baik mbak, ditunggu ya."
Di sela menunggu pesanan datang, kami bercengkrama.
" Raisya kenalin ini temanku Fajar, Jar ini Raisya dan ini_" dua menghentikan ucapannya krna tidak tau siapa yng di sampingku.
" Ini Sofi adikku, kenalin juga ya."
"Oh adikmu... kuliah juga ya? Tanya Andi ke Sofi.
"Iya kak satu kampus dengn Mbak Raisya tapi beda jurusan." Sofi menimpali.
Tidak lama kemudian pesanan datang, dan kami mulai menyantapnya. Pertemuan kami hanya sebatas di warung bakso itu saja. Karna aku menolak untuk diajak jalan ke mall di kota dekat kampusku.
" terima kasih sudah ditraktir.. maaf belum bisa keluar ke mana- mana lagi, soalnya sebentar lagi aku harus menyiapkan diri untuk KKN."
" Iya sama-sama, justru aku yang terima kasih Rai, kamu mau mau menemuiku."
"ehm ehm. " Sofi berdehem, aku meliriknya. " Seret mbk, baksonya nyangkut kayanya heh.."
Andi dan Fajar ikut tersenyum menanggapi candaan Sofi.
"Ya sudah kalau begitu kami pulang dulu, karna tadi pamitnya cuma makan bakso, takut ditunggu orng rumah." pamitku.
"Oh iya monggo, hati-hati ya."
" Iya terima kasih."
Kami pun berpisah di parkiran warung bakso.
Pulangnya aku yang ambil kendali jadi supir.
"Mbak kamu hutang penjelasan padaku." kata Sofi berbisik di telingaku. karna posisinya dia bonceng di belakangku.
" Penjelasan apa dik, emang mbak lagi ngajar?" candaku.Sebenarnya aku tau yang dimaksud adalah tentang Andi.
"Alah jangan pura-pura gak tahu mbak... pokoknya nantik harus cerita."
Aku iyakan saja, agar Sofi tidak banyak bicara. Biarlah nantik aku cerita di rumah.
see you again kakak, terima kasih sudah mampir😍🤗
__ADS_1