
Aku mengatur nafasku saat sudah sampai di di dalam toilet wanita. Buru-buru aku masuk ke bilik WC.
Duh.. malu banget, untung nggak sampai masuk ke dalam. Bisa-bisa dikira tukang cab*l aku.
Setelah selesai membuang hajat, aku cuci muka di wastafel dan bercermin sebentar. Kemudian aku keluar dari toilet. Saat ini sudah jam 23.30. Ternyata pemandangan dari atas kapal Sangat indah.
Semoga aku tidak bertemu dengan pria tadi, memalukan sekali. Batinku dalam hati.
Aku berdiri di antara jendela kapal, sejuk rasanya. Angin sepoi-sepoi menyapu wajahku. Beberapa orang ada yang masih terjaga dan memenuhi beberapa kursi di bagian balkon kapal.
"Haccim... haccim..." Udara dingin mulai mengusik hidungku. Alergi dinginku kambuh. Tisu yang aku bawa ada di tas yang aku tinggal di bus. Akhirnya aku-pun kembali turun ke bawah menuju bus.
Di tangga, aku berpapasan dengan dua siswaku, Ari dan Bian.
"Bu, toilet di mana?" Tanya Bian.
"Terus ke depan, nanti belok kiri. Apa perlu Ibu antar?"
"Tidak usah, Bu. Kami bisa sendiri, terima kasih. Kami tadi sudah pamit ke Pak Anton, Bu."
"Ya sudah sana, cepat kembali! Ha- ha- haccim..." Aku menutup hidung dengan jariku. Karena kurang fokus, hampir saja aku terjatuh karena kakiku melangkahi satu anak tangga. Beruntung, ada seseorang orang yang menahan lengan kananku.
"Astagfirullah...! "
"Anda baik-baik saja?" Suara itu membuatku sangat terkejut. Aku menoleh dan memperhatikan tangannya yang masih memegang lenganku.
Pria ini lagi?
"Ma-maaf bukan maksud saya..." Dia melepas tangannya.
"Ti-tidak apa, anda hanya reflek. Dan terima kasih sudah menolong saya."Aku menangkupkan kedua telapak tanganku. Dengan pandangan tetap menunduk. Sebelum dia menjawab, aku pergi dari hadapannya. Karena lagi-lagi aku sangat malu dengan kecerobohanku. Pria itu mematung di tempatnya. Dan hanya bisa geleng-geleng kepala. Aku segera masuk ke dalam bus.Kulihat Bu Hesti masih tertidur. Aku-pun menyusul untuk segera tidur.
-
Saat ini aku sedang berada di sebuah butik.
"Kak, aku mau coba baju yang ini! Boleh?" Tanyaku kepada karyawati yang melayaniku.
"Silahkan, Kakak. Anda bisa mencobanya di ruang ganti."
"Terima kasih, Kak." Aku-pun masuk ke ruang ganti dan mencoba baju pilihanku. Warnanya hijau dengan aksen bordir modern di lengan dan leher. "Pas banget! Kok tumben ya ada baju yang paa banget? Biasanya kalau nggak kepanjangan ya kedodoran. Tapi ini benar-benar pas."Lirihku seorang diri. Aku segera keluar dari riang ganti.
"Kak, aku ambil ini ya! Tolong minta kantongnya untung bajuku. Yang ini langsung saya pakai saja. Dan ini uangnya, krmbaliannya untuk Kakak saja."
"Baik Kak, terima kasih. Mohon tunggu sebentar."
Aku keluar dari butik dengan perasaan senang. Karena mendapatkan baju yang aku idamkan. Saat akan naik ke mobil ada suara klakson dari belakang. Aku terkejut, dan membuka mata.
"Ya Allah... hanya mimpi!" Ujarku sambil mengelus dada. Suara karma berbunyi bersamaan dengan suara klakson di dalam mimpi.
Sepertinya mimpiku kali ini pertanda baik, semoga begitu. Amin....
__ADS_1
"Bu, Bu Hesti... bangun! Sudah subuh, ini sudah jam 4.30." Aku membangunkan Bu Hesti dengan menggoyang lengannya.
"Em... Iya, Ma." Ujar Bu Hesti sambil mengucek matanya.
"Duh... anak Mama" Aku menahan tawaku.
"Eh.. Bu Raisya! Maaf lupa, Bu. Aku kira sedang tidur di kamar. Hehe....
"Hehe... iya, aku maklum."
Beberapa menit kemudian, kapal berlanjut. Kendaraan turun satu persatu. Begitu pula dengan Bus yang kami naiki. Rombongan kami langsung menuju penginapan yang dekat dengan pelabuhan Gilimanuk.
Karena kami akan menginap satu hari di sana sebelum melanjutkan perjalanan.
Saat ini kami sudah turun dari Bus, dan mengatur anak-anak. Kami sudah memboking kurang lebih 50 kamar. Untuk siswa satu kamar ditempati 4 orang. Dan untuk guru 1 kamar 2 orang. Kamarku nomor 101 di lantai 2. Setelah memberi arahan kepada anak-anak yang menjadi tanggung jawabku dan Bu Hesti, kami berdua kembali ke kamar.
"Masih jam 7, Bu. Enaknya tidur lagi ini!"
"Nggak baik tidur pagi, Bu. Jam 7.30 kita akan sarapan bersama.
"Hem... ngantuk banget, Bu." Bu Hesti merajuk seperti anak kecil.
Di grup chat sudah ada notif, kita semua disuruh ke bawah untuk sarapan pagi. Aku dan Bu Hesti sudah siap untuk pergi mengontrol anak-anak bimbingan kami.
"Ayo, anak-anak kalau sudah siap langsung ke bawah!
"Iya bu... tinggal Alvin masih nyindir rambut. Takut kurang kece kalau dilihat bule katanya, Bu." Candaan Heri mengundang banyak tawa.
Bukan hanya rombongan jami, tapi juga beberapa tamu yang menginap di sana mendapatkan jatah sarapan.
Saat akan mengambil sayur, tak sengaja tanganku menyentuh tangan seseorang yang sedang memegang sendok sayur.
"Ma-maaf" Aku langsung menarik tanganku tanpa melihat siapa orangnya.
"Tidak masalah!"
Suara itu lagi?
Sontak aku mendongak dan melihat pemilik suara itu.
MasyaallahTampan sekali. Ups! jaga pandanganmu Raisya! Lirihku dalam hati.
Aku sadar dan langsung menunduk kembali. Benar dugaanku, sudah tiga kali aku bertemu orang ini dengan kecerobohanku.
"Silahkan, anda duluan." Suaranya memecah lamunanku."
"Tidak... tidak... silahkan anda terlebih dahulu."
"Ladies first...!" Dia tak mau kalah. Karena tidak mau berujung panjang aku-pun mengambil sayuran dan Kutuang ke piringku dan piring Bu Hesti yang dititipkan kepadaku.
"Terima kasih." Ucapku gugup.
__ADS_1
"Kembali kasih... Pelan-pelan Bu, nanti anda kesandung." Ucapnya lagi saat aku buru-buru pergi dari hadapannya. Aku pura-pura tidak mendengar dan terus melangkah menuju kursi tempat Bu Hesti menungguku.
Apa tadi, dia panggil Bu? Apa dia kenal denganku? Kok jadi deg-deg-an ya? Batinku dalam hati.
"Lama banget Bu?" Ujar Bu Hesti membuyarkan lamunanku.
"Ah..iya! Tadi masih ngantri, Bu."
"Terima kasih ya, Bu! Sudah diambilkan." Ucapnya seraya tersenyum.
"Iya sama-sama, Bu. Ayo cepat makan! sebentar lagi kita akan melanjutkan perjalanan."
Kami-pun makan dengan hikmat. Beberapa saat kemudian Pak Rudi memberi pengumuman.
"Untuk semuanya harap perhatikan! Setelah sarapan ini, kita akan melanjutkan perjalanan. Tujuan kita hari ini ke Taman Siwa, Pantai Selat Bali, dan terakhir kita akan menikmatin sun set di Pantai Karangsewu. Jadi tolong persiapan dan segera menuju ke Bus masing-masing."
"Baik, Pak." Jawab kami serentak dengan sangat antusias.
Kami kembali ke kamar masing-masing untuk membawa barang yang harus kami bawa. Aku tidak membawa mukenah, karena aku sedang datang bulan sejak dua hari yang lalu.
"Bu Raisya, enak banget lagi libur shalatnya! Pasti nggak ribet di jalan!" Ujar Bu Hesti.
"Sabar, Bu. Hehe..."
Kami segera mengatur anak-anak untuk naik ke Bus, dan duduk di kursi semula. Setelah mengecek kelengkapan penumpang, Pak Anton selaku ketua Panitia Bus kami mengintruksi untuk berangkat.
Si sepanjang perjalanan kami disuguhkan pemandangan rumah-rumah Bali. Tidak lama kemudian kami sampai di Taman Siwa.
Semua turun dari dalam Bus dan menikmati panorama alam dan Patung Dewa Siwa. Toleransi yang sangat tinggi di Indonesia harus kita lestarikan untuk persatuan Bangsa.
Lokasi Taman Siwa
"Ayo, Bu! Kita ke sebelah sana!" Bu Hesti sangat antusias mengajakku berfoto di depan patung.
"Ayo anak-anak kita ambil dokumentasi di sini ya. Ayo kumpul semua kita berfoto." Pak Rudi mengintruksi.
Setelah kami berkumpul, Pak Roni selaku Sie dokumentasi bersiap mengambil gambar kami.
"Pak, anda ikut saja! Biar saya yang ambil gambar." Ucap seseorang.
"Bu, Bu Raisa! Ganteng banget itu!" Aku menoleh ke arah yang ditunjuk Bu Hesti.
Orang itu lagi? Kenapa dia selalu ada dimana-mana?
Bersambung......
See You again Kakak...
Maaf kalau ada typo.
__ADS_1
Lanjut besok ya, maaih sibuk soalnya😁