Ketegaran Hati Raisya

Ketegaran Hati Raisya
Kucing-kucingan


__ADS_3

Saat ini kami sudah pulang ke rumah, setelah tiga hati lamanya aku dirawat di rumah sakit. Salwa dan Salman menyambut kedatangan adik-adiknya dengan suka cita. Padahal mereka masih belum mengerti apa-apa, tapi mgkin karena ikatan batin, jadi mereka berdua nampak sangat suka kepada kedua adiknya. Twins boy sudah diberi nama, yang pertama namanya Raka Nanda Haris dan yang kedua Riky Nanda Haris. Mas Haris sengaja menyamakan nama tengah dan nama belakang mereka dengan kedua kakaknya. Katanya agar suatu hari nanti mereka tidak merasa dibedakan soal nama. Keduanya memilki wajah perpaduan antara aku dan Mas Haris. Mereka memiliki berat tidak sama. Raka beratnya 2800 gram dengan panjang 50cm, dan Riky 2700 gram dengan panjang 49,5 cm.


Saat ini Ummi dan Ibu menginap di rumahku. Mereka ingin membantuku merawat twins boy selama seminggu ke depan. Ummi dan Ibu tidur di kamarku di lantai bawah. Ummi dan Ibu memaksa mau tidur sekamar denganku di karpet. Selain membantuku, mereka juga berjaga-jaga agar Mas Haris tidak berbuat macam-macam. Ibu sangat hafal dengan watak anaknya yang tengil itu. Mas Haris ngungsi ke kamar atas, kamar asal kami.


"Rai, kamu tidur saja! Matamu sudah seperti panda. Biar Ummi yang jaga bagimu. Nanti kita bisa gantian, iya kan Bu?"


"Iya Bu Aji, benar sekali! Kamu istirahat saja, Nak! Biar kami yang menjaga mereka."


"Terima kasih, Ummi, Ibu."


Aku langsung terlelap, karena semalam memang habis bergadang. Jam 10 malam aku terbangun, Karena Riky menangis. Kulihat Ummi dan Ibu juga sudah terlelap. Aku bangun dan menghampiri boks bayi.


"Anak Bunda kenapa nangis? Cup-cup... haus ya?" Aku menggendongnya dan memberi ASI. Setelah Riky terlelap kembali, aku membaringkannya lagi. Aku cek keadaan Raka, dia masih tertidur pulas.


Aku cek Ponsel-ku, ternyata ada pesan masuk.


💌Habiby


Bunda sayang, apa kamu sudah tidur? Gimana Raka dan Riky, mereka tidak rewel lagi, kan? Aku kesepian di kamar😥. Kenapa mereka tega sekali memisahkan kita?"


Aku menahan tawa membaca pesan dari Mas Haris. Saat awal dia tahu nama kontaknya di Ponsel-ku itu Habiby, dia sedikit emosi. Kenapa namanya diganti Habiby? Dia lupa kalau Habiby itu Bahasa Arab dan artinya adalah kekasihku. Aku lihat jam, ternyata dia mengirim pesan 20 menit yang lalu. Aku segera membalasnya, meski mungkin dia sudah tidur. Setidaknya saat bangun nanti dia senang mendapat balasan dariku.


💌Bunda


Aku baru saja terbangun, Yah. Riky menangis kehausan, Ummi dan Ibu sudah tertidur. Mungkin mereka kecapean dan ngantuk juga.


Kamu jangan makam-malam tidurnya, Yah. Besok kan harus kerja. Mereka tidak memisahkan kita, kamu lebay banget sih, Yah. Malu punya anak empat, kelakuan masih kayak ABG.


Beberapa detik kemudian, ponselku bergetar. Ternyata Mas Haris menelponku. Untung saja sudah aku atur mie ponsel-ku.


Aku mengangkat panggilannya sambil keluar dari kamar, karena takut membangunkan mereka.


"Hallo, ada apa yah?"


"Assalamu'alaikum, Bunda."


"Wa'alaikum salam, maaf sampai lupa. Ada apa, Yah?


"Kamu dimana, Sayang?"


"Aku keluar dari kamar, ini lagi duduk di ruang tengah takut ngebangunin orang-orang di kamar, kenapa?"


"Kalau gitu aku akan turun."


"Eh, ngapain?"


Belum selesai aku bicara, Mas Haris sudah menutup telponnya. Dia turun ke bawah dan menghampiriku. Tiba-tiba saja dia memelukku dengan erat.


"Ada apa, Yah? Penting banget ya?"

__ADS_1


Dia belum melepas pelukannya.


"Penting banget! Ini urusan hati."


"Hatimu kenapa, Yah?"


"Kenapa para orang tua itu tidak mengerti, kalau aku tidak bisa jauh darimu."


"Dih lebay banget! Jauh apaan, jarak cuma sepuluh langkah. Lagian ya, mereka itu ingin menyelamatkan aku dari kamu, Yah! Jangan sampai Raka dan Riky punya adik lebih cepat daripada Salwa,dan Salman!" Aku bergidik ngeri nembayangkan.


"Ish, nggak gitu juga, Sayang! Emang aku gila? Kamu juga masih nifas, mana mungkin aku nekat? Ada-ada saja!"


Kita seperti pasangan yang tidak direstui. Bertemu dengan cara sembunyi-sembunyi, main kucing-kucingan.


"Ya sudah, aku akan kembali ke kamar, Kamu juga kembali ke atas, Yah!" Saatnya aku akan melangkah, Mas Haris menahanku dengan memelukku dari belakang.


"Tunggu sebentar, Sayang! Aku masih rindu.", Dia malah menyenderkan kepalanya di pundakku yang jauh lebih pendek darinya. Aku mengelus kepalanya.


"Sabar, Yah! Ini hanya sementara. Kamu tidur, gih! Sudah makam, awas besok kesiangan."


Mas Haris membalikkan badanku, lalu dia duduk di kursi dan memangku aku.


"Kasih aku vitamin, untuk bekal tidur! Aku janji setelah ini akan tidur, sayang."


"Hem, baiklah." Aku mengecup keningnya, kedua pipinya lalu bibirnya. Namun saat aku akan melepas bibirku, dia malah menahan tengkukku dan memperdalam tautan kami. Lana,dia mencumbuku dengan tangannya yang aktif di kedua asetku yang menonjol dan menjadi sumber kehidupan untuk bayi kami. Mas Haris tersentak saat terdengar suara pintu terbuka dari kamar ART. Sepertinya Mbak Jum keluar dari kamarnya. Mas Haris menyudahi tautantannya.


"Terima kasih, Sayang. Setelah ini aku akan tidur nyenyak." Bisiknya di telingaku.


Aku kembali ke kamar. Untung saja mereka semua masih tidur dengan pulas. Aku mulai membenarkan posisi untuk lanjut tidur lagi. Dalam hati aku ngomong sendiri.


Dasar Mas Haris, kalau sudah maunya nggak boleh ditunda. Sudah punya buntut empat, masih saja kayak anak ABG yang masih pacaran. Tapi bukankah hal seperti ini yang bikin awet rumah tangga?


Di tengah lamunanku, aku mendengar suara rengekan Raka. Langsung saja aku cek sebelum di menangis. Ternyata popoknya penuh, dan aku langsung menggantinya. Kemudian aku menepuk-nepuk bo*ongnya sampai dia tertidur.


Keesokan harinya,


Ummi dan Ibu sudah nampak segar setelah mandi. Dua orang tua ini sigap membawa cucunya untuk berjemur di depan rumah. Aku masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Saat keluar dari kamar mandi dengan lilitan handuk, aku terkejut dengan keberadaan Mas Haris yang duduk di atas tempat tidur.


"Ayah, kamu ngapain di sini?"


"Ini kan kamarku juga, Bund!"


"Iya tahu, tapi nanti kalau ada Ummi dan Ibu, kan malu? Dikira kita ngapa-ngapain."


"Aku sudah mengunci pintu, mau ngapa-ngapain juga nggak masalah! kita kan pasangan halal, hehe..." Mas Haris mendekati.


"Mas, kamu mau apa?"


"Aku cuma mau pamit, mau berangkat kerja."

__ADS_1


"Ya sudah, sana berangkat!" Aku mengangkat tangannya, dan mencium punggung tangannya."


"Tidak secepat itu, Bunda!"


"Maksudnya?"


Tiba-tiba Mas Haris menarik handuk yang aku pakai.


"Masss...." Dia membungkam mulutku.


"Ssttt.... jangan berisik, Sayang! Nanti didengar dua penjaga kita!" (Ummi dan Ibu yang dia maksud)."


Dia mencium seluruh wajahku, kemudian turun ke leher, menghirup tengkuk dan dadaku.


"Eugh.." Sontak aku melenguh mendapat pertanyaannya.


"Oh, tidak! Kenapa ini semakin besar sayang?"


Kedua tangannya kini sudah menggenggam buah da*aku yang tanpa penghalang.


"Cukup, Mas! Aku kedinginan, mau pakai baju." Alasanku bohong. Seketika dia mendekapku erat.


"Baiklah, pakailah bajumu, Sayang! Aku akan berangkat kerja." Dia mengecup keningnya. Lalu keluar dari kamar. "Assalamu'alaikum." Dia pergi dengan senyum terpaksa.


"Wa'alaikum salam, hati-hati Mas." Ujarku menyemangatinya dengan senyum.


Aku segera memakai baju dan jilbabku lalu keluar untuk sarapan pagi. Karena tadi aku belum sempat ikut makan, karena menjaga twins boy. Pagi ini aku makan tahu-tempe goreng dan sayur bening. Tidak lupa juga minum susu untuk Ibu menyusui.


Setelah sarapan, aku ke belakang untuk melihat Salwa dan Salman yang sedang berenang ditemani encusnya.


"Nda, Wawa lenang."


"Man uga lenang."


Keduanya begitu antusias memakai ban bebek yang dibelikan Ayahnya.


"Iya, sayang! Hati-hati ya! Jangan minum air di situ!


"No no, nda!


Maafkan Bunda, Nak! Bunda tidak bisa fokus kepada kalian.Di usia kalian yang belum genap dua tahun, kasih sayang Bunda harus dibagi lagi kepada adik-adik kalian. Batinku dalam hati saat memperhatikan mereka.


Sepertinya keputusanku untuk pensiun dini akan aku pikirkan lagi. Di saat orang lain berusaha dengan segala cara untuk bisa menjadi Pegawai Negeri sepertiku. Tapi aku justru dengan mudahnya akan mengundurkan diri. Setelah habis masa nifas nanti, aku akan minta petunjuk kepada Allah melalui shalat istikharah. Semoga Allah memberikan jalan terbaik.


Bersambung....


...****************...


Terima kasih masih setia di karya saya kakak. Maaf kalau punya sedikit. Bulan ini masih sibuk sekali. Tapi untuk novel ini mungkin akan segera saya tammatkan. Insyaallah Saya akan membuat novel baru

__ADS_1


See you again....


__ADS_2