Ketegaran Hati Raisya

Ketegaran Hati Raisya
Niat Faisal


__ADS_3

Setelah kepergian Sofi dan Irfan, aku kembali ke dalam rumah Mbak Rindi. Kulihat Faisal sedang makan rujak bersama Mas Rendy.


Aku membawa cobek bekas kami ke dapur. Dan mencucinya di westafel dapur.


"Ma, rujak sudah habis, ini cobeknya diberesin!"Tutur Mas Rendy.


Mbak Rindi mengambil cobek bekas mereka makan rujak dan membawanya ke dapur.


"Mbak, sudah beres semua kan! Aku pulang ya?


"Kok pulang, Rai? Jangan dong! Nanti dulu, Ical baru datang lho!"


"Lha terus apa urusannya denganku Mbak? Dia kan tamunya kalian."


"Sstt... Jngan rame-rame. Tadi malem Mbak dengan pembicaraan kalian!"


"Ish, dasar tukang nguping!"


"Rai, kamu kan belum jawab pertanyaan Ical? Kasian dong! Tolong dihargai, Mbak tahu kamu bukan orang yang tegaan. Mbak kasih waktu kalian berdua untuk bicara."


"Apaan sih mbk?Aku gggak mau!"


"Ayolah, Rai! Setidaknya kalau kamu memang tidak mau, kasih alasan. Mumpung masih di sini! Rai, Ical itu baik! Mas Rendy nggak mungkin mau ngenalin kalian kalau Mas Rendy nggak tahu kepribadiannya. Karena Mas Rendy juga takut akan buat kamu kecewa. Ayo ke sana!" Mbak Rindi menarik tanganku untuk ikut dengannya.


Si kembar terbangun dan minta untuk membuka kado-kado yang mereka dapat.


Tadi kami sudah membawa kadonya ke kamar mereka.


"Mas, ayo kita bantu si kembar buka kado! Biarkan Raisya dan Ical ngobrol."Ucap Mbak Rindi sambil melirik ke arahku.


"Siap bos!" Mas Rendy bangun dan mmengikuti Mbak Rindi.


"Aku bantu ya Mbak!" Tawarku, karena ingin menghindar.


"Tidak, Rai! Ical mau ngobrol sama kamu. Duduklah!" Perintah Mbak Rindi dengan tegas.


Karena tidak ingin ada perdebatan, aku pun duduk di karpet depan TV tempat Faisal duduk. Namun kami duduk dengan jarak yang cukup jauh. Karena di antara kami ada kado besar dari Faisal yang belum sempat dibawa masuk ke kamar si kembar.


"Maaf Rai, kalau saya mengganggu. Saya hanya ingin meneruskan perbincangan kita tadi malam."


"Iya Mas, silahkan dilanjutkan."


"Saya tidak mau basa-basi, jadi saya katakan sekali lagi kalau saya ingin taarruf dengan kamu. Ya mungkin ilmu agama saya ini masih minim. Tapi Insyaallah saya akan jalani proses perkenalan kita meskipun ini sebenarnya jauh dari kata Ta'arruf yang sebenarnya ya. Karena kita sudah berkali-kali bertemu dan sedikit banyaknya, saya sudah tahu siapa kamu. Tapi setidaknya kita tidak pacaran.


Aku memotong pembicaraannya


"Maaf, Mas sudah tahu tentang saya?"

__ADS_1


"Iya, sekali lagi saya minta maaf! Saya sudah tahu statusmu dari Rendy. Rendy tidak salah, dia memberi tahu karena tidak ingin aku mundur setelah jauh melangkah. Jadi semalam dia memberi tahuku."


Aku diam, menunggu dia melanjutkan perkataannya.


FLASH BACK ON


Saat aku dan Mbak Rindi masuk kamar, Mas Rendy dan Faisal ngobrol serius.


"Kamu tadi cepat banget baliknya, Rend! Aku kan lagi ngomong serius sama Raisya.


"Ya, mana aku tahu! Terus-terus dia ngomong apa?"


"Ngomong apaan? belum juga dijawab apa yang aku utarakan, tapi kamu udah datang! Ya sudah nggak ada apa-apa."


"Kalau menurutmu, dia bakal mau nggak sama kamu?"


"Sepertinya sulit buat ngedeketin fia ya, Rend? Orangnya agak cuek, tapi itu yang bikin aku penasaran."


"Jadi cuma penasaran nih? Bukan karena memang ada niat?


"Iya maksudku aku jadi tertantang untuk mendekatinya. Niat banget malah!"


"Dia memang sangat menjaga jarak dari laki-laki Cal, selain karena dia pernah Mondok di pesantren, orang tuanya juga menanamkan ajaran agama yang kuat. Dan..." Mas Rendy menghentikan ucapannya.


"Dan apa, Rend?"


"Maksudmu, dia janda?"


"Iya betul, dia pernah menikah saat usianya 20 tahun. Sekitar dua tahun yang lalu.Dia dijodohkan waktu itu, aku kasian sama Raisya. Untung saja dia masih meneruskan kuliahnya, sehingga dia bisa lulus. Dan aku salut, dia tidak terpuruk dengan masa lalunya itu. Hanya saja, mungkin dia lebih berhati-hati untuk memilih.


"Tapi dia belum punya anak, Rend?"


"Gimana mau punya anak, menikah saja nggak sampai 1 bulan!"


"Gila...! Kok bisa? kayak siapa tuh lakinya? Belagu banget, habis manis sepah dibuang!"


"Ya.. sebelas duabelas sama kamu."


"Ah, pasti gantengan aku!" Narsisnya keluar. "Jadi mereka berpisah karena apa?"


"Karena sudah tidak ada jodoh, udah itu saja! jangan diambil pusing! Yang ingin aku tanya sekarang sama kamu nih! Masih mau ngajak dia ta'arrufan nggak?"


"Aku tidak masalah dengan statusnya, Rend. Karena di luar sana yang berstatus gadis-pun tidak menjamin dia masih perawan. Gadis atau janda yang penting budi pekertinya. Laki-laki bejat sekalipun pasti ingin istri yang sholiha.Tapi menurutmu, aku pantas tidak mendekati dia?


"Aku tahu siapa kamu, Cal! Kita temenan udah lama, aku nggak mungkin ngedukung kamu kalau aku tidak percaya sama kamu. Tapi tolong jangan kecewakan dia, kalau sampai itu terjadi kamu berhadapan denganku."


"Oke oke, aku tetap akan melanjutkan niatku. Sekarang aku mau pulang dulu, besok aku akan ke sini lagi, buat ngapelin pujaan hatiku."

__ADS_1


"Ya, ngapelin di dalam mimpi! Ya sudah, hati-hati pulangnya. Terima kasih sudah bantuin."


Faisal pergi meninggalkan rumah Mas Rendy sekitar jam 23.30.


FLASH BACK OFF


...****************...


"Rai.... "


"Iya..." Aku menjawab tanpa melihat orangnya. Bukannya karena aku tidak sopan, aku grogi dan memang membatasi pandangan.


"Bagaimana? Apakah niat baik saya kamu terima?"


"Maaf sebelumnya, aku juga harus memperhatikan jalan ke depannya. Seandainya saya setuju, dan kita ada kecocokan, mungkin tidak orang tua Mas akan menerima status saya?"


Aku berkata seperti itu bukan tanpa alasan. Aku masih sangat mengingat sebab Andi meninggalkan aku. Memang keluargaku tidak ada yang tahu kedekatanku dengan Andi, kecuali Sofi. Sofi sangat menutup rapat masalah itu.


"Aku bisa meyakinkan orang tua saya. Mereka menyerahkan pilihan kepada saya, karena saya yang akan menjalani. Jadi kamu tidak perlu khawatir, Insyaallah "


Mungkin tidak ada salahnya aku mencoba. Ini baru penjajakan, jika ada kecocokan boleh dilnjutkan. Jika tidak boleh dibicarakan baik-baik, asal jangan pakai perasaan. Belum tentu aku akan menemukan orang yang sama atau lebih baik dari Faisal.Batinku dalam hati.


"Baik Mas, saya setuju! Silahkan simpan nomorku, nanti mas bisa kirim cv data diri lainnya."


"Alhamdulillah, kok kayak ngelamar kerja gitu ya, Rai?" Candanya.


"Iya mirip lah." Aku tidak sengaja mendongak dan tersenyum.


Sontak Faisal mungucap kalimat pujian "Masyaallah, Alhamdulillah...."


"Kenapa Mas?" Aku bertanya karena penasaran


"Itu senyum kok manis banget! bisa dibetes aku!"


"Dilarang memuji Mas! Kecuali kalau sudah halal!


"Ya sudah kalau gitu, ayo langsung ke KUA!"


Aku hanya geleng-geleng kepala menanggapinya.


"Ayo Mas kita gabung ke Mbak Rindi, tidak baik terlalu lama berduaan." Tanpa menunggu persetujuannya, aku melangkah masuk ke kamar si kembar untuk ikut membantu buka kado. Faisal juga membawa masuk kado darinya.


Si kembar sangat senang saat membuka kado. Karena kado yang mereka dapat sangat banyak dan beraneka ragam. Mulai dari baju, mainan, buku, sampai peralatan sekolah lainnya."


Bersambung.....


Maaf kalau masih terdapat typo kakak reader. Konflik akan ada, sekarang nikmati dulu slownya ya. terima kasih sudah mampir lagi. See you again kakak.

__ADS_1


__ADS_2