Ketegaran Hati Raisya

Ketegaran Hati Raisya
Orang tua Faisal


__ADS_3

Kami duduk di ruang tamu, menunggu kedatangan orang tua Mas Faisal. Kami disuguhi minuman dan makanan ringan oleh Mbak asisten tadi.


"Silahkan diminum, Mbak, Mas."


"Iya terima kasih, Mbak."


Sebelum aku bertemu dengan orang tua Mas Faisal, tentu aku belum merasa tenang. Aku tidak bisa menyembunyikan keteganganku.


10 menit kemudian terdengar suara mobil yang masuk pekarangan rumah Mas Faisal. Jantungku semakin tidak karuan, karena sudah pasti yang datang adalah Ayah dan Ibu Mas Faisal.


"Assalamu'alaikum..."


"Wa'alaikum salam..." Jawab kami serentak.


Muncul-lah sepasang suami istri paruh baya, Dengan penampilan yang sederhana. Ayah Mas Faisal yang betkacamata, dengan postur tubuh yang tidak jauh beda dengan Mas Faisal, namun berwajah tegas. Rupanya, Mas Faisal memiliki kemiripan dengan Ayahnya. Ibunya memiliki postur tinggi yang sama sepertiku, berparas cantik dan murah senyum.


"Ini Rendy, Yah! Ayah masih ingat, nggak?"


"Oh.. yang teman SMP kamu dulu, Sal? Yang sering ke rumah main PS, kan?"


"Iya Pak, masih ingat saja kalau kami suka main PS. Hehe.. " Mas Rendy menyahuti.


"Iya, ini istrinya Rendy, dan itu anak-anaknya." Ucap Mas Faisal."


"Wah, kembar ya anaknya?"Ibu Mas Faisal menimpali. Si kembar mencium punggung tangan Ibu Mas Faisal.


"Iya, Bu. Satu lagi masih otewe di dalam perut." Jawab Mas Rendy. Memang setelah ulang tahun si kembar Mbak Rindi test dan hasilnya positif. Sekarang Mbak Rindi sedang hamil 9 minggu


"Alhamdulillah Nak, Kalau ini?" Ibu Mas Faisal menunjuk kepadaku dan bersamaan itu aku mencium punggung tangan orang tua Mas Faisal.


"Ini yang Faisal ceritakan, Bu. Raisya ini masih sepupunya Rindi." Jawab Mas Faisal.


"Owalah... Iya-iya! Manis sekali, Masyaallah. Ayo ayo duduk, Nak." Aku hanya tersenyum menaggapinya. Dan kami-pun duduk kembali.


"Maaf tadi kami keluar, karena ketemuan dengan customer di hotel. Karena seminggu lagi, Ibu ada orderan katering di hotel itu. Jadi kami observasi tempat juga."


"Iya tidak apa-apa, Bu. Kami juga baru sampai. Itu si kembar senang sekali main-main di depan."


"Nak Raisya, sekarang sibuk apa?" Aku mendongak, saat kudengar namaku disebut. Karena daritadi aku hanya menunduk, menyembunyikan kegugupanku.


"Iya, Bu?"


"Sekarang sedang sibuk apa?"


"Saya mengajar di SMP bu, masih tenaga honorer."

__ADS_1


"Sebagai guru apa, Nak?" Ayahnya menimpali.


"Guru Matematika, Pak."


"Oh iya, Bagus itu! Siapa tahu nanti ada rejeki bisa jadi PNS."


Kami berbasa basi membahas maslah sekolah, pekerjaan, masa kecil Mas Faisal dan Mas Rendy dan lainnya. Saat tiba waktu Dhuhur, aku dan Mbak Rindi shalat di rumah Mas Faisal. Di dalam rumah ada Mushola kecil seperti di rumahku. Para lelaki pergi shalat ke Masjid yang letaknya tidak jauh dari rumah Mas Faisal.


Selesai shalat, Aku dan Mbak Rindi duduk di taman dekat pohon mangga. namun tiba-tiba Alfan ingin pup.


"Rai, tolong jaga Fia, Mbak mau antarin Alfan dulu."


"Iya Mbak."


Aku memperhatikan Fia yang sedang asyik mengejar kupu-kupu berterbangan di taman. Di taman ini memang ada beberapa macam bunga.


Tiba-tiba Ibu Mas Faisal mendekat ke arahku dan duduk di sampingku.


"Cuacanya mendung Nak, jadi sejuk."


"Iya, Bu." Jawabku agak canggung.


"Nak, Faisal sudah bercerita kepada Ibu. Ibu dan Ayah tidak pernah melihat dia membawa seorang perempuan ke rumah ini. Jadi, kami sangat khawatir kalau dia hanya akan sibuk dengan dunianya, tanpa memikirkan masa depannya. Ibu senang saat Faisal bercerita tentang kamu, dan punya niat serius denganmu. Ibu penasaran sekali dengan perempuan yang dia maksud. Kami sangat berharap kalian berjodoh." Ujar Ibu Mas Fsisal seraya menggenggam tangan kananku dengan kedua tangannya. Hal ini membuat hatiku bergetar. "Agar dia ada yang menemani, karena teman-temannya juga sudah banyak yang berkeluarga. Kami juga ingin melihat dia seperti saudaranya yang lain."


"Tadinya dia tidak cerita, Nak. Tapi kemarin sore pas dia telpon, dia cerita ke Ibu. Ibu sebenarnya juga terkejut.Tapi saat Ibu bilang ke Ayahnya, ternyata Ayahnya malah tidak mempermasalahkan itu. Yang paling penting adalah perasaan Faisal. Dan Faisal pasti sudah mempertimbangkan keputusannya. Kami orang tua tugasnya hanya mendukung dan mendo'akan. Lagipula, saat ini Ibu sudah bertemu langsung dengan Nak Raisa. Insyaallah Faisal tidak akan salah pilih."


"Nak, Ibu yakin kamu orang baik, Faisal tidak pernah jatuh cinta, ya kalau cinta monyet mungkin dulu pernah. Ibu mohon, jangan kecewakan Faisal." Mataku berkaca-kaca dengan perlakuan Ibu Mas Faisal yang begitu lembut.


"Insyaallah, Bu. Terima kasih sudah menerima Raisya, dan meridhai kami. Saya masih banyak kekurangan, semoga Mas Faisal bisa melengkapi kekurangan saya." Aku menahan air mataku agar tidak jatuh. Karena aku tidak ingin terlihat cengeng di depan Ibu Mas Faisal.


"Tante...! Fia ingin pipis!" Suara Fia mengagetkanku.


"Ah, iya ayo tante antar ke dalam." Aku berpamitan kepada Ibu Mas Faisal untuk masuk ke dalam.


Tidak lama kemudian Mas Rendy, Mas Faisal dan Ayahnya pulang dari Masjid. Kemudian kami makan siang bersama. Ada beberapa menu yang disajikan di meja makan. Ada Telur balado, daging rendang, Sup kikil, dan Perkedel.


"Ayo Nak, dicoba masakan Ibu ya."


"Maafkan kami sudah merepotkan ya, Bu."


"Tidak sama sekali, ini salah satu menu favorit Faisal. Dan kebetulan memang tadi pagi banget ada orderan nasi kotak."


"Ini enak sekali, Bu." Ujar Mas Rendy saat mencoba sup kikil. Kami-pun makan dengan tenang tanpa berbicara lagi. Sampai akhirnya selesai.


Saat aku akan membawa piring kotor ke dapur, Ibunya mencegahku.

__ADS_1


"Jangan, Nak Raisya! Biar nanti dibereskan sama yang lain. Kalian istirahat saja dulu. Nanti pulang sore saja, atau kalau mau menginap Ibu sangat senang."


"Mas Rendy dan Raisya besok masuk, Bu. Oh iya katanya adik Faisal masih tinggal di sini. Tapi saya tidak melihatnya, kemana bu?


"Oh iya, Septi dan suaminya sedang pulang ke rumah mertuanya karena ada acara. Mungin nanti malam atau besok baru kembali. Sayang sekali dia tidak bisa bertemu dengan calon kakak iparnya ya."


"Iya, Bu. Tapi nggak pa-pa mungkin lain kali bisa ketemu.


Akhirnya, aku dan Mbak Rindi beristirahat di kamar kakaknya Mas Faisal. Kamar itu hanya ditempati kalau orangnya pulang. Mas Faisal dan Mas Rendy beristirahat di kamar Mas Faisal. Saat beristirahat tentu kami tidak bisa tidur. Untung saja si kembar bisa tidur, mungkin karena kelelahan. Aku menceritakan kepada Mbak Rindi tentang pembicaraanku tadi dengan Ibu Mas Faisal.


"Orang tua Faisal baik sekali ya, Rai? Kamu beruntung bisa diterima oleh mereka."


"Iya Mbak, Aku sangat bersyukur."


"Kayaknya sebentar lagi otewe pelaminan nih!" Ujar Mbak Rindi menggodaku.


"Apaan sih, Mbak! "


"Amin, gitu Rai!" Aku meng-amini di dalam hati.


Tidak terasa sudah waktunya Ashar. Kami mandi dan Shalat Ashar. Setelah itu kami bersiap-siap untuk pulang. Kami dibawakan oleh-oleh kue kering dan emping belinjo.


"Nak, ini kue kering buatan Ibu sendiri lho. Ibu bagi dua, biar sama-sama kebagian ya dengan Nak Rindi. sampaikan salam kembali dari kami kepada orang tuamu, Nak Raisya." Ucap Ibu Mas Faisal, dan mengusap bahuku."Nak Rendy dan Nak Rindi terima kasih ya, sudah membantu Faisal."


"Iya Bu, Sama-sama. Kami pamit pulang dulu, kapan-kapan kami akan main lagi."


Kami mencium punggung tangan kedua orang tua Mas Faisal dan pergi meninggalkan rumah mereka.


"Terima kasih Ya Allah, semoga ini adalah jawaban dari do'a-do'aku." Batinku dalam hati.


Selama perjalanan pulang, kami tidak banyak bicara. Aku dan Mbak Rindi ketiduran. Si kembar sedang main di kursi belakang. Kami mampir di rumah Mbak Rindi terlebih dahulu. Sudah masuk waktu Maghrib. Kami shalat Maghrib berjama'ah. Setelah shalat aku dan Mas Faisal berpamitan.


"Cal, antarkan Raisya ke rumahnya dengan selamat! Awas saja kalau tidak, aku pecat jamu jadi calon adik ipar!" Ancam Mas Rendy, dengan nada sok galak


"Ish, galak banget calon Kakak ipar ini! Iya aku akan antarkan dengan selamat tanpa kekurangan apapun."


"Bagus! Ya sudah sana berangkat! Nanti Abi sama Umminya nungguin, dikira anaknya diculik!"


Kami-pun pergi meninggalkan rumah Mas Rendy.


...****************...


See you again Kakak...


Ikuti alurnya! seperti kehidupan nyata, pastinya akan ada konflik yang tidak kita inginkan. Terima kasih untuk supportnya.😍🤗

__ADS_1


__ADS_2