Ketegaran Hati Raisya

Ketegaran Hati Raisya
So sweet


__ADS_3

Hari berlalu begitu cepat, tidak terasa hari ini genap 1 tahun pernikahan kami. Namun kabar baik belum juga ada. Sofi sudah melahirkan anak keduanya empat bulan yang lalu. Adik Zie berjenis kelamin perempuan, dan diberi nama Syifa Nur Rayyan.


Aku masih sibuk dengan urusan pendidikan dan usaha butik yang saat ini semakin berkembang. Mas Haris yang fokus dengan pembangunan perumahan yang kini sudah mencapai 20 unit kelas ekonomi, dan bulan depan siap dihuni oleh beberapa klien sudah bertransaksi.


Hari ini hari minggu, sekolah libur. Dan aku tidak pergi ke butik karena Mas Haris mengajakku bertemu dengan seseorang.


"Mas, kita mau ketemu siapa?"


"Nanti kamu tahu sendiri, sayang."


"Ketemunya di mana?"


"Di restoran dekat Khayangan."


Beberapa menit kemudian kami sampai di restoran yang dimaksud. Orang tng jami tunggu belum datang.


"Mas aku ke toilet dulu."


"Kami ma pesan aoa, Sayang? Biar aku oesankan dulu."


"Samakan saja."


"Oke."


Aku pergi ke toilet, rasanya perutku melilit. Jadi aku agak lama di dalam toilet. Saat keluar dari toilet, ada suara tangis bayi.


"Kenapa dengan bayinya, Mbak?" Tanyaku penasaran. Namun saat perempuan itu menoleh aku sangat terkejut, karena rupanya dia orang yang pernah ada dalam masa laluku. Aku masih tertegun di tempat.


"Raisya?" Dia-pun terkejut.


"K-kamu sedang apa?"


"Ini popok anakku penuh, makanya dia nangis. Sudah aku ganti."


Septi memperhatikanku dari atas sampai bawah.


"Lama tidak bertemu, bagaimana kabarmu?"


"Alhamdulillah, baik."


"Oh ya? Setelah Kak Ical meninggalkanmu, apa masih ada laki-laki yang mau mendekatimu? Kurasa, tidak." Dia berkata dengan pedenya.


Ternyata keangkuhanmu belum juga hilang, Septi.


"Lihatlah! Ini anak ke empatku, buah hatiku dan Mas Firman. Kak Ical juga sudah hidup bahagia dengan istrinya. Dia memiliki dua anak, sepasang laki dan perempuan. Untung saja Kak Ical tidak memilihmu. Kalau tidak, mungkin dia akan bangkrut. Lihat saja gayamu, penampilan berkelas, pakaian serba bermerk, tapi tidak tahu hasil dari mana! Kalau sih udah jelas, suamiku seorang arsitektur. Apa lagi sekarang karirnya meroket karena dikontrak Owner Perumahan. "


"Maaf, sudah ngomongnya? Kalau sudah saya permisi ke depan! Karena suami saya sedang menunggu." Aku-pun berlalu dari hadapannya. Sepertinya dia terkejut mendengar perkataanku.


Aku berjalan menuju kursi suamiku. Ternyata sudah ada orang yang bersamanya. Mungkin dia orang uang dimaksud.


"Sayang, kenapa lama sekali, hem? Ini orang yang kita tunggu sudah datang." Aku hanya tersenyum mendekati suamiku


"Sakit perut, Nas." Bisikku di telinga Mas Haris. Aku tidak memperhatikan orang yang duduk di depan kami.


"Pak Firman, kenalkan ini istri saya, Raisya."


deg


Mendengar nama itu sontak aku menoleh kepada orang yang disebut oleh Mas Haris.


Mas Firman shock melihatku.


"Sayang dia Pak Firman, arsitek yang bekerja denganku. Dia yang mendesain perumahan Khayangan."


Aku mencoba berdamai dengan hatiku. Tidak mungkin aku mematikan semangat suamiku saat ini juga. Akhirnya aku tangkupkan kedua tanganku sebagai salam perkenalan kami.


"Pak Firman, ini istriku satu-satunya. Dan tidak akan ada yang nomor dua. Haha...Nanti biar dia yang memberikan pendapat."


"Ah iya, Pak."


Tidak lama kemudian Septi kembali dari toilet bersama bayinya.


"Bu Septi, perkenalkan ini istriku namanya Raisya." Ujar Mas Haris dengan antusiasnya.

__ADS_1


Aku menjabat tangan Septi. Septi yang saat ini bungkam entah karena dia terkejut atau karena dia tidak suka bertemu denganku.


Pov Septi


Aku tidak menyangka akan bertemu dengan mantan istri Mas Firman di sini. Tapi dari yang aku lihat dia semakin berkelas. Mungkin dia sedang memacari suami orang. Lihat saja gayanya!


Tapi saat aku keluar dari kamar mandi, Bos Mas Firman mengenalkan aku dengan istrinya. Betapa shock-nya aku, dia adalah Raisya. Oh Tuhan... mimpi apa sku semalam? Aku sudah menghinanya tadi. Kenapa dia bernasib baik? Aku tidak suka dengan ini.


"Sayang, maksudku mengajakmu ke sini, karena untuk membicarakan desain rumah kita."


"Rumah kita?"


"Iya rumah kita, aku dah menyiapkan tanah di Khayanyan seluas 800 m² untuk dibangun rumah masa depan kita."


"Tapi kamu nggak pernah cerita, Mas?"


"Kejutan...." Ujar Mas Haris dengan semangat dia mencium keningku."Maaf- maaf, Pak Firman! Aku orangnya ekspresif jadi tidak bisa menahan diri. Apa lagi kepada istriku ini. Untung saja yang di depan kami bukan jomblo ya, haha..." Sekali lagi Mas Haris menunjukkan rasa sayangnya dengan mengelus puncak kepalaku, membuatku jadi salah tingkah.


Mas Firman dan Septi hanya diam menyaksikan kami berdua. Septi yang aku perhatikan seperti cacing kepanasan. Mas Firman yang pura-pura melihat bayinya


"Jadi begini, Pak Firman ini sudah mendesain model untuk rumah kita sayang, coba kamu lihat! Ini gambarnya! Mungkin ada yang mau kamu rubah? Sebelum kita eksekusi. Rencananya bulan ini sudah mau dibangun."


Aku mengambil gambar yang diberikan Mas Haris, lalu memperhatikannya.


"Ini dua lantai ya, Mas?"


"Iya, sayang."


"Aku mau di belakang dikasih pekarangan sepanjang 6 meter kali 4 meter. Karena suatu saat kalau ada acara biar tidak melulu dikerjakan di dapur. Atau mungkin suatu saat bisa dibangun kolam renang. Terus kamar atas ini sudah bagus ada dua, yang di bawah tiga. Sisakan untuk tempat bermain anak di lantai bawah, Mas."


"Oke, Nyonya Haris. Semua akan dirubah sesuai permintaanmu. Bagaimana Pak Firman? Apa kamu sudah paham yang dimaksud istriku?"


"Iya, Pak! Saya paham."


"Pak Haris sudah punya anak berapa?" Septi menimpali.


"Belum punya, Bu. Kalau rencananya maunya enam. Kami baru satu tahun menikah.


"Oh.. saya kira sudah punya anak, karena tadi istrinya minta dikasih ruang untuk tempat bermain."


"Tapi gimana kalau...." Septi belum meneruskan oeekataannya, namun sudah dicegah oleh suaminya.


"Ma.. Ayo kita pulang! Anak-anak pasti mencari kita." Ujar Mas Firman kepada Septi. "Maaf Pak Haris, kalau memang sudah clear, kami pamit pulang dulu, karena kami meninggalkan anak-anak di rumah Ibu."


"Tapi kalian belum pesan makanan?"


"Tidak usah, Ok. Kapan-kapan saja. Maaf kami permisi."


"Baiklah, Pak Firman. Sampaikan salam untuk Ibumu."


"Iya Pak, assalamu'alaikum."


"Wa'alaikum salam." Jawabku dan Mas Haris.


Kami-pun menikmati menu yang Mas Haris pesan. kepiting asam pedas dan es jeruk.


"Kenapa kepitingnya nggak dimakan, sayang?


"Aku nggak bisa membukanya, Mas."


"Kok nggak ngomong sih? sini biar aku yang bukain." Mas Haris mengambil alih piring yang berisi kepiting kemudian mempreteli cangkang kepiting dan mengambil dagingnya. Lalu ia siapkan kepadaku.


"A... ayo makan, sayang."


"Malu Mas, diliatin orang."


Kalau di rumah kami memang sudah biasa saling suap.


"Ah biarkan saja, anggap saja mereka nonton film gratis. Lagian kita ini pasangan halal, bukan cabe-cabean." Tanpa protes lagi aku membuka mulut dan mengunyah.


So sweet sekali suamiku ini, tidak pernah kehilangan akal untuk membuatku nyaman.


Setelah acara makan selesai, kami mampir ke Khayangan City untuk meninjau pembangunan. Maa Haris dengan bangga mengajakku keliling area perumahan miliknya itu. Dia juga menunjukkan letak tanah yang akan dibangun untuk rumah kami. Saat ini kami sudah di dalam mobil.

__ADS_1


"Nanti kalau sudah selesai 10 unit rumah kelas elit, rencananya aku akan bangun minimarket, Sayang. Atau nanti kalau kamu mau butikmu juga bisa dibangun cabangnya di sini."


"Masyaallah, semoga terlaksana, Mas. Terima kasih sudah memberiku kejutan hari ini."


"Bukan apa-apa, Sayang. Itu sudah aku rencanakan sejak lama. Tapi ngomong-ngomong kenapa tadi waktu di restoran ada sesuatu yang canggung . Maaf kalau aku salah, tapi apakah kamu mau jujur, Sayang?"


Ternyata suamiku sangat peka. Dia bisa membaca keadaan yang diara tidak wajar si hadapannya. Aku tidak mau menutupi apapun dari suamiku. Tidak ada salahnya aku berkata jujur tentang Mas Firman.


"Em... Mas, aku minta maaf kalau seandainya membuatmu nantinya terkejut atau tidak enak hati, tapi aku ingin bercerita tentang masa laluku."


"Katakan, Dek! Aku siap mendengarkan. Kamu jangan khawatir, Insyaallah aku sanggup."


"Firman... maksudku Pak Firman, dia mantan suamiku, Mas."


"Hah? aku nggak salah dengar, Dek?"


Aku menggelengkan kepala, "tidak, Mas."


"Astaga...! Sayang, maafkan aku! Aku benar-benar tidak tahu, tidak seharusnya aku mempertemukan dengan masa lalu."


"Tidak, Mas! Kamu tidak salah, aku tidak apa-apa kok. Itu cuma masa lalu, kita juga sudah punya kehidupan masing-masing. Justru aku yang tidak enak sama kamu, Mas."


"Aku tidak pernah masalah dengan masa lalumu, bahkan seharusnya aku berterima kasih kepada Firman. Karena dia sudah membuang berlian untuk aku nikmati keindahannya dan aku jaga keutuhannya. Em.... apa perlu aku memutua kontrak dengannya?"


"Ti-tidak, Sayang!"


"Apa? Kamu tadi panggil aku apa? Ulangi sekali lagi!"


"Sayang... tidak perlu memutuskontrak dengannya. Lakukan pekerjaanmu dengan profesional. Kita tidak boleh memutus mata pencaharian orang lain. Maaf, bukan aku ingin membelanya, tapi aku yakin suamiku ini orang yang bijaksana." Ujarku dengan tersenyum dan mengelus pundak suamiku."


grep


Sontak Mas Haris memelukku.


"Sayang, kamu adalah wanita yang baik, cukup mantanmu yang bodoh itu yang menyia-nyiakanmu. Allah sudah menggantikannya denganku sebagai pasangan hidupmu. Ngomong-ngomong tumben hari ini kata-katamu manis sekali. Aku jadi ingin sesuatu darimu."


"Apa, Mas?"


Tanpa menjawabku dia hanya tersenyum dan melakukan kembali mobilnya.


Tibalah kami di sebuah penginapan yang identik dengan bangunan kayu dan pemandangan sawah, yang letaknya sekitar 7km dari Khayangan City. Suasana sejuk nan asri memanjakan hati dan mata. Mas Haris cek in dan memilih satu kamar yang berada di atas tebing, di bawahnya ada kali yang dihiasi bebatuan.


Aku berdiri di balkon kamar.


"Indah sekali, Mas."


"Lebih indah milikku ini." Ujarnya seraya mengecup bahuku yang masih berbalut gamis.


"Kita ke sini mau ngapain, Mas?"


"Mau cari suasana baru, kamu terlalu sibuk. Tidak bisa diajak bulan madu. Jadi anggap saja ini bulan madu kita."


"Kamu nih Mas, ada-ada saja."


"Karena aku ingin menyenangkan istriku."


"Au.. Mas!" Sontak aku menjerit karena tiba-tiba Mas Haris menggendongku seperti membawa karung beras di bahunya."Turunkan aku, Mas!"


"Tidak! Kamu akan aku makan siang ini juga."


Mas Haris membaringkan aku di kasur lalu mengunci pintu. Terjadilah apa yang harus terjadi.


Bersambung....


...****************...


Terima kasih atau supportnya kakak


Jangan pernah bosan dengan cerita Raisya.


Kalau ada yang minta author bikin hamil Raisya, itu terserah Haris ya. Karena yang punya tugas menghamili Haris, bukan author🤣🤣🤣


Sudah dulu kakak

__ADS_1


See you again....


__ADS_2