
Hari ini karena hari sabtu, jadi aku pulang dari sekolah lebih awal. Pulang dari sekolah aku langsung mampir ke rumah Sofi. Karena aku rindu sekali dengan Baby Zie.
Sudah 5 hari dari sejak Mas Faisal main kerumah. Sekarang kami bukan hanya bertukar pesan tapi kami sudah mulai telponan. Belum ada pembicaraan Mas untuk membawaku main ke rumah orang tuanya.
Saat ini aku sedang bermain dengan Baby Zie. Si gembul mulai bisa bercanda, usianya sudah 5 bulan.
"Mbak, gimana kelanjutannya sama Bang Ical?"
"Mas Ical masih sibuk, dik. Jadi belum ada pembicaraan lagi."
"Suruh cepet-cepet gitu, Mbk! Entar diambil anaknya Pak Handoko, baru tahu rasa."
"Ya nggak gitu juga dik! Entar disangkanya mbak kebelet kawin."
Tiba-tiba Baby Zie merengek, dan setelah dilihat ternyata sedang pup. Sofi mengganti pempersnya.
Tas dan HP-ku, aku tinggal di ruang tamu. Terdengar suara HP berdering. Aku segera beranjak dan melihatnya. Ternyata telpon dari Mbak Rindi.
"Assalamu'alaikum, Rai."
"Ya Mbk, Wa'alaikum salam."
"Kamu lagi dimana?"
"Di rumah Sofi, kenapa Mbak?"
"Ini Faisal ada di rumah, kangen katanya. Udah lima hari nggak ketemu."
"Ish! apaan sih, Mbak! Jangn bercanda!"
"Lho iya beneran, ini kalau nggak percaya! Biar ngomong sama orangnya!"
"Eh... nggak usah! Iya deh percaya."
"Rai, besok kamu nggak ada acara, kan?"
"Tidak ada sih, Mbak! Memangnya kenapa?"
"Mau diajak ngedate."
"Ish, Mbak! Jawabnya yang benar."
"Gini Rai, besok Ical mau ngajak kamu ke rumah orang tuanya. Kamu bisa, kan?
"Insyaallah bisa, Mbak. Tapi dirmani kamu sama Mas Rendy, kan?"
"Iya kita temenin, itung-itung jalan-jalan. Mumpung hari minggu. Kalau memang bisa besok Ical jemput pagi banget ya, jam 6.
__ADS_1
"Iya Mbak, nanti Rai mau ijin sama Abi dan Ummi. Kenapa Mas Ical nggak bilang langsung ke aku, Mbak?"
"Iya, Ical bilang ke kita dulu. Takut Aku dan Mas Rendy nggak bisa temani kalian. Ya sudah! Mbak mau bikin minum dulu buat calon adik ipar. Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikum salam."
Setelah Mbak Rindi menutup telponnya, aku bercerita kepada Sofi. Sofi sangat senang mendengarnya.
Sudah jam 4 sore, aku berpamitan pulang dari rumah Sofi. Ingin rasanya segera sampai di rumah, dan memberi kabar Abi dan Ummi. Tapi dalam hati juga sedikit was-was dan takut jika nanti orang tua Mas Ical tidak menerimaku.
Saat sampai di rumah, Ummi sedang berada di di dapur. Selesai dar dapur aku mengajak Ummi duduk berdua di ruang keluarga. Abi sedang keluar, ada keperluan. Aku meminta ijin kepada Ummi, dan nanti biar disampaikan kepada Abi.
"Syukurlah, Rai! Berarti Faisal memang benar-benar serius sama kamu."
"Tolong, nanti Ummi sampaikan ke Abi ya!"
"Iya, pasti Abimu mengijinkan. Apalagi ada,Rindi dan suaminya. Semoga niat kalian diridhai orang tua Faisal. Seperti kami yang sudah meridhai kalian."
"Amiin.."
Malam harinya, Mas Faisal menelponku. menanyakan Kesiapanku. Aku mengutarakan apa yang ada di dalam hatiku. Namun Mas Faisal meyakinkan, kalau semuanya akan baik-baik saja.
"Aku sangat berharap bisa menjadi pasangan hidupmu, Rai. Membina rumah tangga yang bahagia, dan menjadi Imam Shalatmu serta Imam dalam rumah tangga kita nanti. Apa impianku ini akan menjadi nyata?"
"Jangan berharap kepada manusia, Mas. Karena Allah yang tahu garis takdir kita. Mintalah kepada Allah. Kita pasti ingin yang terbaik. Tapi yang terbaik bagi Allah kadang bukan yang kita harapkan. Semoga Allah meridhai langkah kita."
"Amin... Duh gini ya enaknya kalau punya calon seorang ustadzah."
"Iya, tapi kamu janji jangan pikirkan hal yang tidak baik tentang keputusan orang tuaku besok. Saya sangat yakin mereka akan suka sama kamu."
"Iya, Mas! Semoga saja begitu."
...----------------...
Setelah shala Shubuh aku mengerjakan pekerjaan rumah seperti mencuci piring dan menyapu. Setelah itu, aku bersiap-siap untuk pergi ke rumah orang tua Mas Faisal. Dengan balutan gamis biru langit dan dipadukan jilbab berwarna biru motif abstrak. Aku menunggu kedatangan Mas Faisal untuk menjemputku.
jam 5.50 Mas Faisal sudah sampai di rumah. Lebih cepat 10 menit dari yang diperkirakan.
Kami berpamitan kepada Abi dan Ummi. Ummi membawakanku buah tangan untuk diberikan kepada orang tua Mas Faisal.
"Hati-hati bawa mobilnya ya, Nak. Jaga putriku, berangkat utuh pulang harus utuh! Titip salam untuk kedua orang tuamu."
"Baik, Om! Terima kasih atas kepercayaannya. Akan saya sampaikan kepada Bapak dan Ibu. Kami berangkat dulu, Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikum salam."
Saat di mobil, aku duduk di samping kemudi. Kami menuju rumah Mas Rendy, untuk menjemput mereka. Saat tiba, mereka sudah siap. Kami-pun berangkat. Aku pindah duduk ke kursi tengah duduk bersama Mbak Rindi. Mas Rendy pindah ke depan. Si kembar duduk di kursi belakang.
__ADS_1
"Mama, kita mau kemana?" Tanya Alfno.
"Ke rumah orang tuanya Om Ical."
"Jauh nggak? kalau jauh Alfan mau tidur dulu. Sma banguninnya terlalu pagi."
"Fia juga mau tidur! Alfia menimpali.
"Ya sudah, tidur saja dulu! Nanti kalau mau sampai, Mama bangunin."
Sedari tadi si kembar memang sangat aktif dan tidak mau diam meskipun di dalm mobil. Beruntung mereka ngantuk, jadi lumayan tenang suasananya.
"Kamu sudah bilang sama Bapak Ibumu, Cal?
"Ya aku bilang kalau hari ini mau pulang. Dan aku bilang mau ngenalin seseorang."
"Terus gimana reaksi mereka?"
"Ya senang banget. Karena dari dua tahun lalu mereka sudah ingin mencarikan aku jodoh. Apa lagi adikku sudah menikah dan punya anak. Wajar kan? kalau wanita cepat nikahnya. Tapi aku bilang mau fokus dengan usahaku dulu."
Karena perjalan kami hampir tiga jam nantinya, kami-pun berhenti dulu. Dan mampir di salah satu rumah makan , untuk sarapan.
Setelah selesai sarapan kami-pun melanjutkan perjalanan. Jam 10.00 kami sampai di rumah orang tua Mas Faisal. Rumah yang sangat sederhana tidak jauh beda dengan rumahku. Namun di depan rumahnya ada tanaman besar seperti pohon mangga dan pohon cemara yang sudah tinggi. Saat Ayah Mas Faisal seorang pensiunan dinas pendidikan dan sekarang membuka usaha Tekstil. Jadi bahan yang digunakan dalam usaha Mas Faisal sebagian dipasoki dari toko milik Ayahnya. Ibunya membuka usaha katering rumahan dengan mempekerjakan dua asisten.
Saat ini hatiku sedang dag dig dug, karena akan menemui orang tua Mas Faisal. Kami turun dari mobil yang diparkir di bawah pohon mangga.
"Rai, kamu grogi?" Mbk Dinda berbisik kepadaku. Aku hanya mengangguk tanpa suara.
"Santai Rai, Mbak selalu di samping. Hehe..."
Sampailah kami di depan pintu rumah. Mas Faisal langsung membuka pintu rumahnya.
"Assalamu'alaikum..."
"Wa'alaikum salam..." terdengar suara dari dalam. Hatiku semakin tak karuan. Aku membayangkan sikap orang tua Maa Faisal nanti.
"Eh, Faisal sudah datang." Seorang wanita yang saya perkirakan lebih tua sedikit dari Mas Faisal, dia muncul dari dalam.
"Iya Mbak, Mana Ayah dan Ibu?"
"Bapak dan Ibu tadi masih keluar sebentar. Ibu pesan tadi kalau tamunya sudah datang disuruh nunggu sebentar." Ujar wanita yang baru kami ketahui itu adalah asistennya Ibu Mas Faisal. Kami tahu setelah Mas Faisal memperkenalkan.
Bersambung.....
See you again Kakak
Maaf kalau masih ada typo
__ADS_1
Terima kasih sudah kasih support
Maaf autor revisi judul part-nya tadi keburu y up😃