Ketulusan Cinta Tiga Wanita

Ketulusan Cinta Tiga Wanita
Moza resmi menjadi anaknya Ferro dan Pricilla


__ADS_3

Dokter Lucky tidak bisa berlama-lama di kediaman Ferro bukan ia tidak mau merawat Ferro dengan eksklusif tapi selain dia masih punya tugas di rumah sakit. Juga karena di rumah ini tak ada lagi orang lain jadi dokter Tampan itu memilih kembali bertugas..


Pricilla ikut berbaring sambil mendekap tubuh sang suami yang mungkin tertidur efek dari obat yang di berikan dokter Lucky tadi..


''Ferr, kenapa bisa seperti ini.'' Pricilla bergumam dan lagi-lagi air matanya jatuh membasah pipi.


Pricilla takut sangat-sangat takut Ferro meninggalkan nya karena kehabisan darah juga takut Ferro lebih dari ini oleh orang jahat yang belum Pricilla ketahui siapa itu..


Hingga tak terasa Pricilla sudah tertidur sambil memeluk Ferro.


Tengah malam Ferro terbangun saat mendengar ada suara seseorang seperti menangis. Ferro membuka matanya lalu ia mendengarkan lebih jelas lagi ini benar ada yang sedang menangis atau halusinasi Ferro saja.


''Sayang, sayang..'' Ferro membangunkan Pricilla


''aemmhh'' Pricilla melenguh


''Ada apa sayang, Eh. Kau sudah sadar?'' pekik Pricilla ketika mendengar suara Ferro


Ferro mengangguk ''Sayang kau mendengar suara orang yang menangis tidak?'' tanya Ferro barangkali hanya dirinya saja yang mendengar dan itu halusinasi.


Pricilla memperjelas pendengaran nya ''Ya Fer kayaknya itu ada yang lagi menangis tapi siapa?'' Pricilla justru jadi takut.


''Kamu ini malah takut begitu, coba kamu lihat Sepertinya tak jauh dari sini!'' suruh Ferro


''Ah aku gak mau yank, takut.'' ujar Pricilla malah semakin menarik selimutnya hingga dada.


''Ckk,. Dasar kamu ini tolonglah sayang di lihat dulu aku penasaran takutnya itu Moza lagi aku gak bisa bangun yank tubuh ku masih sakit..'' pinta Ferro lagi


''Ya udah deh baiklah biar aku buka.'' ucap Pricilla akhirnya dengan memberanikan diri ia turun dari ranjang dan berjalan menuju pintu kamar.

__ADS_1


Ini demi Ferro yang lagi sakit Pricilla melawan rasa takutnya mendengar isakkan tangis yang mulai terdengar semakin jelas..


Saat sudah pintu Pricilla buka, Pricilla di kejutkan dengan kehadiran anak perempuan yang sedang berjongkok sambil menangis itu rupanya dia Moza..


''Sayang kau kenapa Nak?'' Pricilla pun segera menghampiri Moza dan memegang pundaknya


Moza mendongak menatap Pricilla matanya semakin sembab saja.


''Kenapa menangis hm? dan kenapa duduk di sini ayo masuk'' ajak Pricilla dengan sangat lembut.


Moza menggeleng ''Tidak Ma, Moza tidak mau lagi menyusahkan Om Ferro. Moza minta maaf Ma..'' ucapnya dengan suara sangat sendu kembali anak kelas Dua ini terisak


'Ya Tuhan sebenarnya apa yang terjadi?'


Segera Pricilla merangkul membawa Moza dalam dekapannya. ''Jangan pernah bicara seperti itu Moza.Kami tidak pernah keberatan kau di sini, bukankah kau anak Mama?'' Pricilla coba mengibur


''A-apa? jadi ma-maksudnya Ma-mma ka-kamu yang sudah melakukan ini?'' tanya Pricilla lagi memastikan


Moza pun mengangguk lemah membenarkan lagi itu lah kenyataanya..


''Maafkan Moza Mama Cicill, i-ini semua salahnya Moza'' Moza sesenggukan.


Pricilla hanya bisa mengusap punggung Moza Pricilla masih tak menyangka ia sangat kaget mendengar kenyataan yang di dengarnya barusan..


Pricilla menatap kosong ke depan.


Lagi air matanya kembali jatuh ke pipi


**

__ADS_1


''Uhhhh, shh.. pelan-pelan sayang'' desis Ferro menahan sakit saat Pricilla coba mengganti kain kasa di area luka.


''Yank aku tidak bisa.'' lagi Pricilla menolak untuk membersihkan luka Pricilla ini sebenarnya orang yang gak tegaan bila melihat luka seperti ini tapi Ferro memaksanya untuk melakukan ini..


'.Ayo sayang gak apa, di coba lagi '' kekeh Ferro meyakinkan Pricilla bahwa istrinya itu bisa!


''Ahh syukurlah selesai juga.'' helaan nafas lega terdengar dari mulut Pricilla saat sudah selesai mengganti perban.


''Yank, kau masih berhutang penjelasan padaku'' ucap Pricilla menatap serius.


''Wanita yang katanya ibu kandung Moza dia ingin menjual Moza pada pasangan yang lagi membutuhkan anak, karena wanita itu punya hutang banyak pada rentenir , lalu saat aku akan menggantikan Moza sebagai imbalan agar tak di jual dengan uang. Wanita itu malah memintaku untuk menikahinya dan katanya tak Butuh uang lagi. Sepertinya wanita itu gila harta, dan saat aku menolak permintaan nya dan menbawa paksa Moza pergi wanita itu marah dan langsung melukai ku dengan menusukkan pisau..'' Ferro menjelaskan dengan panjang lebar pada sang istri.


Pricilla pun mendengarkan dengan serius tapi saat ia mendengar ada wanita yang menginginkan suaminya mata Pricilla langsung melotot pada Ferro


''Apa? jadi wanita itu malah meminta kau nikahi?'' pekik Pricilla


''Hm,''


''Kurang ajar, kenapa Bisa? Apa ... kau mungkin sengaja menggodanya?'' tuduh Pricilla


''Cill apaan sih ya gak lah, mana mungkin aku menggoda wanita gila itu, dan kau anggap aku serendah itu kah?..'' Ferro tak terima tuduhan Pricilla


''Ya bukan itu maksudku, hanya kenapa wanita itu ingin kau nikahi?'' lalu Pricilla menatap Ferro dari atas hingga bawah..


Sangat keren dan tampan..


''Kamu sih Fer, harusnya pergi-pergi jangan pakai pakaian keren dan terlihat tampan dan lain lain kali kamu harus bawa ajak istrimu juga! agar tak ada lagi wanita yang berani mengajakmu Menikah.. Mulai saat ini keluar rumah jangan pakai pakaian yang keren-keren ahh..'' ujar Pricilla sangat tak masuk akal bagi Ferro pasalnya dirinya seperti ini bukan kali ini saja toh dari dulu pakaian dirinya yang memang begini aneh saja istrinya itu...


Sampai akhirnya beberapa hari kemudian waktu pun sudah cepat berlalu dan kini mereka alias Ferro dan Pricilla meresmikan bahwa Moza sudah menjadi anaknya mereka juga Pricilla mengundang dua sahabatnya untuk mengatakan sesuatu hal yang bahagia...

__ADS_1


__ADS_2