
INTRODUCTION
Chapter I
Kelebatan-kelebatan itu semakin lama semakin mewujud. Tak lagi sepekat malam. Tak lagi sekabur kabut. Membisikkan kata tak terucap yang mengganggu..
Penyesalan yang terlambat terucap?
Maaf yang tak tersampaikan?
Amarah tanpa tujuan?
Aku lelah...
*********†
Kamu bisa memanggilku Kay. Yap, Kay seperti huruf K yang dilafalkan dalam bahasa Inggris.
Kay...
Mungkin kamu akan bertanya-tanya kenapa aku memilih dipanggil dengan nama itu. Namun aku yakin, kaupun akan begitu jika kau memiliki orang tua yang memberimu nama 'Kekacauan'.
Itulah nama yang disematkan mendiang ayah 18 belas tahun yang lalu. Tanpa embel-embel apapun, nama itu tertempel manis di akta kelahiranku, ijazah kelulusan dan lelucon abadi bagiku hingga akhirnya aku memilih Kay sebagai identitas. Menurut Beliau, nama itu sama sekali tidak jelek. Bahkan memiliki arti agung. KElak Kau Akan Cinta Akan TUhan dan keadilAN dan disingkat, KEKACAUAN... Kocak?
Huh, just try to be me, then...
Tapi jika itu belum cukup, kisahku akan membuatmu benar-benar melihat bagaimana hidup adalah sebuah panggung lelucon maha besar yang mengambil tempat di bumi dengan Dia sebagai narator, dan sutradaranya, meski seringkali garing dan tak lucu, namun mungkin nanti kaupun hanya akan bisa menghela nafas dan berpikir, mungkin Dia memiliki selera humor yang payah.
Terlahir dalam keluarga modern, aku dibesarkan dalam sebuah kondisi dimana segala sesuatu bisa dijelaskan dengan fakta, riset dan pembuktian. Sebuah kondisi di mana suatu kondisi diobservasi, ditimbang dan dicari solusinya secara gamblang. Ayah semasa masih hidup, adalah seorang professor yang mengajar di sebuah perguruan tinggi di Yogyakarta, adalah seorang ayah yang hebat. Terlepas dari masalah pemberian nama itu, dia tak kurang dari sangat hebat bagiku. Sebagai anak tunggal, aku menerima seluruh perhatian, meski banyak waktunya tersita untuk berbagai jenis seminar dan kuliah. Dari beliau aku belajar kebudayaan Jawa yang merupakan hal favoritnya. Dan semua pengetahuanku mengenai berbagai bahasa yang kukuasai di usia 12 tahun, dasar bela diri dan tehnik bertahan hidup di alam liar adalah warisannya yang paling berharga.
__ADS_1
"Cintai alam dan dia akan mencintaimu jauh lebih besar daripada cintamu padanya, Wan" ujarnya sambil mengajari tehnik merangkai jerat padaku ketika aku masih berumur 9 tahun.
Kenangan yang tak pernah hilang dari ingatan, meski sudah hampir 10 tahun berlalu sejak kejadian itu. Ayah meninggalkanku ketika aku berusia 13 tahun, setahun setelah kepergian Ibu. Wanita kecil yang lembut dan baik hati itu meninggalkan kami, dan Ayah tak mampu menyangkal bahwa wanita itu membawa serta seluruh sisa hidupnya. Genap setahun sejak Ibu meninggal, Ayah tak sanggup meneruskan hidup lagi dan mengakhirinya dengan liver yang membengkak dan pecahnya pembuluh darah di otak.
Dan tiba-tiba saja, aku sendirian...
Dan disinilah semuanya di mulai...
Usiaku 9 tahun ketika semua ini dimulai. Bisikan-bisikan yang sayup terdengar, seringkali mengalihkan perhatian dari apapun yang tengah kukerjakan saat itu. Bayangan yang berkelebatan secepat kilat, seakan berusaha menarik perhatian, namun mengabur saat kucoba melihatnya kembali.
"Itu karena refleksi bayangan benda terakhir yang terekam oleh otak, Wan. Jangan terlalu membuatmu bingung. Cobalah lebih berkonsentrasi" kata Ayah waktu itu.
Dan itulah yang kulakukan...
Yang hasilnya malah jadi menyebalkan. Dengan kesadaranku sendiri, aku mulai berburu berbagai buku bacaan tentang konsentrasi dan mengikuti petunjuk yang tertulis di buku-buku itu. Ayah, yang selalu mendukung keinginanku dalam belajar, membantu dengan memberikan berbagai jenis buku hebat untuk dibaca. Yang dengan cepat, membantu menyempurnakan konsentrasiku ke level yang baru.
Kejutan?!!
"Sudahlah, Kay. Rangkul saja. Itu anugrahmu. Ibu tahu apa yang kamu rasakan. Ibu bisa ngerti. Meski Ibu tidak bisa melihat atau mendengarnya, dan Ibu tidak suka, tapi Ibu akan selalu ada buatmu... "
Nasihat dan kata penenangan Ibu selalu terdengar ketika kondisi sudah mulai tak tertahankan. Aku sering bernyanyi keras-keras untuk memblokir semua kebisingan itu, jika Ayah tak di rumah, tentunya.
"Mereka akan semakin keras berusaha kalau kau tak belajar mendengarkan. Kamu spesial, Nak."
Huh, kalau spesial berarti sama dengan susah tidur dan melihat hal yang tak terlihat orang lain, mending aku jadi biasa saja, gerutuku dalam hati.
Yah, aku tak mau mendebat Ibu. Wanita lembut hati itu adalah segalanya setelah Ayah, bagiku. Semua cinta yang ada di dunia, tak cukup untuk mengganti cinta mereka. Hingga akhirnya hari itu datang...
Seorang pengemudi mabuk dengan mobil barunya, merenggut cinta dan keberadaan Ibu dari kami berdua. Ayah, yang tak mampu kehilangan Ibu, mulai tak memperhatikan apapun kecuali foto Ibu. Duduk sendirian di temani lampu baca, dengan foto Ibu ditangannya. Tak dihiraukannya kegelapan yang datang ataupun fajar yang menyingsing, dan perlahan, Ayahpun tak menghiraukan apapun lagi. Hal yang kusesalkan adalah, aku tak sampai hati memberitahu Ayah, bagaimana Ibu selalu berdiri di samping kursinya setiap hari. Bagaimana Ibu berurai air mata melihat suaminya menelantarkan semuanya. Dan bagaimana pandangan itu menembus jiwaku, hingga sakit rasanya. Pandangan yang seakan membisikkan permohonan padaku..
__ADS_1
"Kay, aku tahu kau bisa mendengar Ibu, Nak. Sampaikan pada ayahmu untuk berhenti menyiksa diri seperti ini..."
"Kay, mulailah semuanya, supaya Ibu bisa tenang dan pulang pada Tuhan..."
Dalam linangan air mata, aku selalu tak mampu menyampaikan semua permohonan ibu pada Ayah. Aku hanya mampu terpekur di sudut ruangan, ketika kembali aku menemukan rumah dalam kondisi gelap, dan Ayah hanya terduduk di kursi dengan foto ibu di tangannya, seperti pada berbagai kesempatan sebelumnya.
Rumah bahagiaku berangsur terselimut kelam dan suram. Aku mulai merasa tak mampu melangkahkan kaki memasuki rumah itu. Hingga akhirnya hal itu terjadi.
Ibu, yang tak mampu melihat belahan hatinya menghancurkan diri sendiri lebih lama lagi, memutuskan untuk mencoba menampakkan diri pada Ayah. Keinginan Ibu sederhana, namun hal itu rupanya terlalu berat bagi Ayah. Dalam keterkejutannya, organ tubuhnya yang sudah lemah, tak mampu lagi menahan itu semua.
Dan akhirnya, aku sendirian, tanpa cinta mereka berdua.
Seperti yang kubilang di awal, bagaimana hidup ternyata hanyalah sebuah kisah komedi yang tak lucu...
Ibu uring-uringan, terus berteriak dan memarahiku, menganggapku sebagai anak tak berbakti, yang bahkan tak mau membantu menyampaikan permintaannya dan menjaga ayah.
Dan Ayah?
Beliau tetap terantai di kursi dengan foto Ibu di tangannya. Hanya saja kali ini, dia selalu memandangiku dengan wajah dan tatapan sedih. Tatapan yang selalu ia berikan ketika ia sadar telah melakukan kesalahan besar.
Dan jika kau pikir arwah Ayah dan Ibu bisa saling berkomunikasi, kau salah...
Mereka terjebak oleh alam keinginan mereka sendiri tanpa mampu melakukan apapun.
Benar-benar sebuah maha karya dari sang Pencipta...
Akhirnya aku tak sanggup bertahan lebih lama lagi di rumah itu. Surat sepanjang 2 halaman yang kutulis rangkap dua, kutinggalkan di meja baca Ayah, tepat di samping kursi dimana tiap kali ia menekuri foto Ibu.
Surat yang berisi permohonan maafku, anak tak berbakti yang tak mampu berbuat apapun dengan kemampuan yang kumiliki..
__ADS_1
Maafkan aku, Ayah, Ibu... Aku pergi...