
Dua hari sudah berlalu dalam kebingungan dan pikiran yang makin sarat dengan berbagai pertanyaan tanpa jawaban yang jelas. Dua hari sudah berlalu dengan beban mental dan moral yang semakin berat menekan nurani. Dan dua hari yang sudah berlalu ini, kondisi diperparah dengan celotehan riang sosok gadis cantik ini..
"Kay, nyanyi lagi lho... Suaramu bagus.."
"Kay, nanti kamu makan apa? Kok aku kayaknya nggak lapar ya?"
"Kay, aku pengen beli baju dong... pinjam uang.."
Dan berbagai pertanyaan 'Kay ini apa-itu apa' yang meluncur keluar dari bibir merah yang menambah keindahan parasnya itu, yang membuatku menghela nafas berat.
Belum lagi masalah arwah kedua orangtuaku terpecahkan, ditambah dengan keceriwisan tanpa henti dari sosok cantik yang rupanya lupa kalau dia sudah tak bernyawa ini.
"Kay, kenapa sih, selain kamu, banyak orang yang seakan tak perduli pada apapun yang kukatakan pada mereka?" rajuknya pelan sambil memainkan ujung pipa celana jeans-nya.
Aku hanya mampu menghela nafas panjang. Kakiku yang terasa sedemikian lelah memaksa untuk diistirahatkan. Karenanya, aku memilih tempat duduk batu di bawah rindang pohon ini untuk sejenak beristirahat. Dan pertanyaan ini langsung muncul darinya...
"Emang kapan kamu coba ngobrol ama orang lain, Ray? Bukannya kamu deket aku terus sejak kita cabut dari rel?"
"Tadi, Kay, waktu..."
'bla, bla, bla... la.la.la.la... Elu tu HANTU, Ray!!!!' teriak batinku kesal tanpa mencoba untuk mendengarkan ocehannya lebih lanjut.
Wajah lonjong dengan sinar mata secerah bintang pagi, berhias bulu mata lentik dengan alis yang terbentuk bagai bulan sabit. Berpadu apik dengan hidung mancung dan bermuara di bibir merah alami, terbingkai oleh rambut hitam lurus yang tergerai sedikit melewati bahu, berceloteh panjang dan lebar, dengan sesekali kedua tangan berkulit putih mutiara itu bergerak untuk menekankan berbagai perkataan yang meluncur dari mulutnya. Cukup satu kata untuk menggambarkan gadis ini, SEMPURNA...
"Kay! Kamu ini perhatiin aku nggak sih?!"
"Eh, iya. Gimana tadi?"
"Hmph! Jahat!!!"
Kikikku pecah menjadi tawa terbahak berkepanjangan melihat Rayna melipat tangannya di depan dada dan membuang muka.
"Kamu ngambeg, Ray?"
"Bodo!"
Tawaku pecah makin panjang karenanya, namun tak lama. Pandangan aneh orang-orang yang melintas tertuju padaku dan segera membungkam tawaku. Aku lupa kalau tak ada orang lain yang akan bisa melihat Rayna disisiku. Bagi mereka, aku tertawa dan mengoceh sendirian...
'Sialan, jadi kelihatan kayak orang gila dah...' batinku sebal ketika kulihat pandangan orang banyak orang yang berlalu-lalang disekitar taman kota ini.
"Yuk, Ray. Aku perlu cari tambahan duit untuk makan malam ini."
Segera kukemasi semua barang dan beranjak lagi. Matahari yang mulai memasuki peraduannya telah berusaha melemparkan cahaya terakhirnya. Sudah waktunya bagiku untuk mencari rejeki tambahan dengan gitar dan suaraku jika aku pengen cepat sampai rumah.
"Ray, kan kamu belum jawab pertanyaanku? Emang ini mau ngamen lagi ya? Nanti aku..."
Aku kembali tenggelam dalam lamunan tanpa berusaha menghiraukan apapun ucapan yang keluar dari mulut Rayna.
__ADS_1
Aku juga tak tahu apa sebabnya, Rayna seakan lupa kalau ia sudah mati, dan cuma aku yang bisa melihat dan mendengarnya berbicara. Berbagai hal yang ia ucapkan semakin terasa membebani nurani, ketika tiba waktunya nanti untuk membuatnya sadar kalau sebenarnya ia sudah mati. 2hari yang terlewati ini sedikit memunculkan perasaan rindu untuk berinteraksi dengan orang lain. Kehadiran Rayna, meski sekuat tenaga kusangkal, membuatku ingat betapa menyenangkannya memiliki teman untuk berbicara, dan aku tak ingin ia pergi terlalu cepat...
Langkahku semakin berat seiring pikiran yang makin menderu dalam berbagai rasa negatif yang tak berkesudahan..
*****
Pemuda itu terlihat lusuh dalam balutan kemeja flanel kotak-kotak merah hitam tanpa satupun kancingnya terkait, menampakkan samar badan atletis dalam balutan kaus tipis. Kakinya nampak kokoh dalam balutan jeans belel robek-robek yang susah dibedakan warna aslinya. Namun wajah kokoh dengan sinar liar memancar dari matanya itu nampak sangat menikmati hembusan angin gunung yang dingin membelai setiap inchi kulit dan menggoyang rambut legam lepek yang terkuncir hingga bahunya itu.
Topan menatap jalur yang dijalaninya saat ini. Matanya mencoba mencari setiap kemungkinan jalur yang paling aman untuk dijalani. Nafasnya memburu seiring jalan yang semakin sulit dan mulai memunculkan berbagai tingkat bahaya untuk dihadapi. Namun semakin berbahaya, nampaknya semakin ia bersemangat menjalani setiap hal yang mulai mampu mengancam keselamatan nyawa itu. Bahkan ketika tebing batu setinggi hampir 25 meter, menjulang di hadapannya dan memutus jalurnya untuk mencapai puncak yang ia inginkan.
"Susah Mas, jalur itu nggak bisa dilewati..."
Eh?!
Topan menoleh je arah suara yang tahu-tahu menyapa itu dan menggaruk kepalanya.
'Seingatku kok daritadi aku sendirian ya??' batin Topan heran.
Sosok seorang pemuda yang tak kalah kumal penampilannya dengan Topan, terlihat sedang duduk di sebuah tonjolan batu. Carrier-nya tergeletak disebelahnya. Wajahnya nampak santai dan terlihat malas, meski senyum tulus nampak terpateri.
"Hallo, Bro. Sorry, tadi gua nggak liat elu disitu." ujar Topan sambil menghampiri pemuda itu. Tangannya terulur dan disambut pemuda itu dalam jabat tangan erat yang hangat.
"Nggak papa, emang jarang orang lewat jalur ini sih" jawabnya sambil tertawa.
Entah kenapa, perasaan hangat yang akrab muncul dalam hati Topan, meski jarang sekali perasaan seperti itu muncul ketika berhubungan dengan manusia. Pengalamannya terlalu menyakitkan dalam berbagai kesempatan.
"Ada jalur untuk potong tebing ini, cuma selain lumayan sulit, perjalanannya lumayan jauh." lanjutnya
"Emang kalau muter, butuh waktu berapa lama, Bro?"
"Sekitar 1 hari perjalanan, Brother... Saranku sih emang tetep ambil jalur muter aja. Tebing ini terlalu mengerikan untuk dipanjat." balasnya lagi.
Topan menghela nafas berat. Rasa jerih yang muncul dalam hatinya terasa menguat menatap tebing batu itu. Namun ia tak bisa memilih jalur memutar itu. Pilihannya cuma ia harus maju dan mengalahkan ketakutan ini.
"Maaf, Bro. Nampaknya gua ambil jalan tersulit aja." sahut Topan tegas.
"Apa yang lebih penting dari nyawamu, Bro?" ujar pemuda itu lagi sambil menghela nafas berat.
"Hari ini hari peringatan 2 tahun meninggalnya Ibuku, Bro. Impian beliau adalah menggapai tempat-tempat indah di Indonesia ini. Namun ia keburu meninggal sebelum gua bisa bawa dia, Bro..." sahut Topan pelan. Ia hanya mampu menunduk, mencoba menahan kesedihan yang tiba-tiba muncul ke permukaan tanpa mampu ia cegah. Ingatan tentang almarhum Ibu selalu mampu mengiris hatinya sedemikian rupa.
"Ah... Kalau begitu, aku cuma bisa mendoakan keselamatanmu, Bro. Nanti, di sekitar Peak, ada tonjolan tersembunyi yang lebih aman untuk kau raih daripada retakan tebing di bawahnya." ujar pemuda itu lagi sambil membongkar Carrier-nya dan mengulurkan tali panjat.
"Gunakan ini, kutunjukkan jalur yang paling aman."
Mata Topan yang sedikit membayang oleh air mata mendongak cepat melihat tali itu. Tali ini akan membuatnya mampu melewati tebing ini dengan lebih aman.
Pemuda itu menjelaskan dan menunjukkan jalur poin yang memungkinkan Topan mencapai puncak tebing itu.
__ADS_1
"Aku hanya mampu membantu sampai disini, Bro. Semoga kau selamat sampai puncak... Dan sungguh berbahagia Ibumu memiliki anak sepertimu..." ujar pemuda itu setelah menjelaskan jalur yang paling memungkinkan itu pada Topan.
"Terima kasih, Bro." ucap Topan, dan tak mengambil waktu lebih lama, ia memulai perjalanannya.
Topan tak lagi berusaha memikirkan apapun. Tebing ini harus ia kalahkan!
'Eh, kenapa tadi tubuh si bro kayak pancaran warna biru tipis ya?' batin Topan ketika ia beristirahat di tengah tebing, tapi hembusan angin yang lumayan kuat memutus pikirannya. Konsentrasinya tak boleh terbagi oleh apapun..
****
"Kay..."
Ngapa lagi ini cewek merajuk gini, kayak masih idup aja, batinku geli.
"Kay, kok cuman senyum sih?" sahutnya lagi sambil meraih tanganku dan memeluknya, yang dengan spontan, membuat tempat yang dipeluknya itu bagai dicelupkan dalam air es.
"Ngapa sih?" sahutku sambil berusaha melepaskan pelukannya. Bukannya nggak suka sih, cuma perasaan dingin itu nggak nyaman.
"Aku ini apa jelek sih?" gerutunya.
Bibir indah itu cemberut, yang malah membuat wajah indah itu makin terlihat menggemaskan.
"Emang kenapa sih?" sahutku asal.
"Orang lain nggak mau balas omonganku, Kay... Bahkan pemuda jelek yang makan sendirian di warung waktu kita ngamen tadi..." omelnya.
Aku cuma bisa terenyuh mendengar berbagai keluhan dan ceritanya tentang bagaimana sedemikian banyak orang yang tak memperdulikannya. Aku tak mampu menyampaikan kenyataan bahwa ia sudah mati dan tak ada orang lain yang bisa melihatnya kecuali aku. Aku takut membuatnya mengerti dan lebih dari semuanya, aku masih ingin menikmati percakapan ini. Aku tak ingin mengirimnya pulang sekarang...
Tapi nampaknya ia benar-benar jengkel sekarang. Wajahnya yang pucat itu sedikit bersaput warna merah yang semakin memperindah penampilannya, nyaris seperti manusia hidup..
"Kayyy! Kok malah bengong sih!"
"Maaf ya, Ray... Sebenarnya aku enggan bilang, tapi itu nggak adil untukmu.." sahutku sambil menghela nafas berat. Kubiarkan tangannya yang masih erat mencengkeram lenganku.
"Kamu ini hantu, Ray. Arwah... Kamu sudah mati, mantan pacarmu yang ******* itu membunuh dan meninggalkan tubuhmu di tempat kita bertemu..." sahutku pelan.
Dan tanpa kukira, pipiku meledak dalam rasa panas ketika tangan halus berpendar warna mutiara itu menampar dengan sekuat tenaga yang ia punya. Matanya menyala dalam kemarahan yang nyata meski kulihat mata itu berkaca-kaca oleh air mata yang coba ia tahan.
"Aku tahu kalau aku nggak cantik untukmu, Kay. Tapi kenapa kamu jahat begini sih??!"
Aku hanya mampu menghela nafas berat sambil mengelus-elus pipi yang berdenyut karena tamparannya.
"Sesukamu saja, Ray..." ujarku pelan.
Perlahan kuberesi berbagai barang yang kumiliki. Sedikit rasa hangat yang muncul sejak hantu cantik ini menyertai perjalananku, merembes keluar dari hati dengan cepat. Tak mampu lagi aku menahan rasa kotor yang muncul dalam jiwa melihat berbagai emosi yang muncul dari wajah cantik yang diliputi kemarahan dan ketidakpercayaan di sana. Tak kuhiraukan lagi gadis itu disana dalam berbagai gejolak yang ia rasakan saat ini.
'Ayah, Ibu, aku akan pulang...' batinku kelu ketika membayangkan jalan panjang dan sendirian yang harus ditempuh ini lagi.
__ADS_1
"Kay??"
'Maaf Ray, ketika aku mampu mengatasi perasaanku, aku pasti akan kembali kesini untukmu...' batinku pedih sambil melangkah pelan, meninggalkan sosok indah arwah gadis yang mulai kusukai itu disana.