
Detik terus berpacu dalam lomba tanpa akhir, menyusun menit ketika jam berlalu. Matahari yang seakan tak lelah akan rutinitas, terus saja terbit dan tenggelam, mendorong jutaan mahluk untuk bergerak dalam dinamika mereka masing-masing. Sejak kejadian pagi di teras rumah, hampir 2 minggu dilewati tanpa ada kejadian aneh yang menimpa siapapun di rumah kecil itu. Karena tak mampu menemukan apapun yang terkait dengan gambar yang dibuat oleh Andini, lembar kertas itu saat ini menjadi salah satu penghuni ruang kerja Bapak, yang saat ini benar-benar lebih difungsikan sebagai gudang barang-barang aneh.
Waktu berlalu dalam alunan yang tenang ketika ketiga manusia yang tersatukan dalam garis takdir yang aneh mulai menjalani kehidupan meski tak lepas dari berbagai pertanyaan. Sementara rumah itu sendiri tak lepas dari perubahan. Taman kecilnya mulai membentuk ketika tangan dingin Topan merawatnya, menghadirkan beragam warna dan aroma yang menghangatkan setiap penghuninya. Halaman yang tertata rapi, pagar dan dinding yang terbarukan dengan warna cerah, membuat rumah kecil yang sebelumnya terlihat seperti tanah tak bertuan, bertransformasi menjadi istana kecil yang nyaman. Sementara pelakunya saat ini, tengah asyik dengan berbagai buku dan catatan. Tampilan liar yang sebelumnya muncul darinya, tergantikan dengan sosok tampan dengan rambut yang tercukur pendek dan rapi. Ia tampaknya terpaku dengan berbagai hal yang tengah ia pelajari saat ini. Pemuda itu bahkan tak memperhatikan riak di udara ketika spektrum cahaya samar berpendar, memunculkan pemuda dengan wajah mempesona dari gelombang itu.
"Serius amat, Bro?" ujar pemuda itu sambil menghempaskan dirinya ke kursi. Topan, yang sedikit terkejut karena kehadiran sosok itu, kembali mengalihkan perhatiannya pada buku-buku yang tengah ia baca.
"Elu lagi baca apa sih, segitu amat reaksinya?" dengus pemuda itu lagi. Ketidakpuasan atas reaksi Topan lumayan bikin jengkel, sementara Topan menghela nafas dan akhirnya mengangkat wajahnya.
"Kau tahu, Rite, bocah ini punya kekayaan mengerikan. Bapaknya bahkan punya beberapa perusahaan kecil dalam berbagai jenis usaha yang masih berjalan sampai saat ini. Cuma, Kay sialan itu menghabiskan waktunya main-main macam anak sultan tanpa berpikir untuk bahkan sekedar mengetahui apa saja yang ia punya. Belum lagi masalah yang ada di bawah ruang kerja itu. Alih-alih memikirkan bagaimana melacak dan mengumpulkan barang-barang terkutuk itu, tiap hari ngilang entah kemana!" gerutu Topan kesal. Perasaan jengkel yang terutama lebih disebabkan oleh rasa iri meledak darinya. Setan besar Kay itu ternyata memiliki akumulasi kekayaan yang ditinggalkan almarhum ayahnya dalam jumlah yang mengerikan. Ditambah dengan ekspresi meremehkan yang muncul dari lawan bicaranya, perasaan itu menguat tanpa mampu ia tahan.
"Buat orang-orang seperti kita, apa guna kekayaan dunia, Pan?"
"Elu tu hantu. Yang orang tu gua, Andin, dan Kay." potong Topan kesal.
"Yah, you know-lah. Intinya, nggak ada artinya." balas Arborite sambil terkekeh, ketika tangannya berkelebat seakan meraih sesuatu, dan melemparkannya ke arah Topan.
Reflek, Topan meraih benda yang dilempar ke arahnya itu. Sebuah batu kristal berwarna merah terang seukuran jempol orang dewasa yang tergeletak di telapak tangannya itu membuatnya terkesiap.
"Batu itu sanggup memerahkan air danau dengan luas keliling yang sama ukurannya dengan kampung ini. Di tangan para pecinta perhiasan gila itu, kau tahu berapa nilainya?" cemoh Arborite tanpa menyembunyikan kesombongan dalam suaranya.
__ADS_1
"Bukan tanpa alasan bagi banyak manusia tolol itu menjalin kerja sama dengan entitas dunia dimensi ke-10 meski harus menjual jiwa mereka, Pan. Kau harusnya sudah tahu itu sekarang."
"Iya juga sih," jawab Topan sambil melemparkan mustika mirah delima itu kembali ke Arborite, hanya untuk menangkapnya lagi ketika hantu konyol itu melemparkannya kembali.
"Untukmu. Kerikil kecil itu banyak di tempatku."
Sialan. Apa gunanya aku sampai susah makan dulu ketika mirah delima sebesar ini cuma dibilang kerikil sama setan satu ini?
"Aku tahu apa yang kau maksud, Pan. Hanya saja semua hal terkait di "penjara" itu memang bukan hal main-main. Tanpa pengetahuan yang jelas, kemana kita mesti mencari? Dan mengharapkan keajaiban benda-benda itu dihancurkan oleh entah apa juga cuma sebatas impian kosong. Kau sendiri sudah tahu itu." lanjut Arborite, yang segera ditanggapi dengan dengusan sebal oleh Topan.
Mereka memang mencoba untuk menghancurkan barang-barang itu sebelumnya dengan berbagai cara, meski hanya untuk kecewa. Tak perduli apapun yang dilakukan, barang-barang itu bahkan tidak tergores. Belum lagi kehadiran sosok gelap yang seakan melindungi barang-barang itu, tiba-tiba muncul ketika beragam percobaan dilakukan untuk menghancurkan keberadaan barang-barang terkutuk itu. Sosok tanpa bentuk itu hanya menggemakan pengertian yang diikuti rasa mengerikan, yang mencekam setiap kehadiran yang ada di sana saat itu. Bahkan Arborite, yang dianggap memiliki kekuatan yang sangat hebat, gemetar dalam kengerian tanpa mampu menggerakkan jari, sementara di dalam rumah, Andini, yang tak diijinkan mendekat sedikitpun, menjerit-menjerit histeris. Pesan yang sama bergema di dalam kesadaran mereka,
Dan seperti datangnya, perasaan horror itu pergi secepat datangnya, meski meninggalkan bekas dalam di setiap jiwa yang hadir disitu. Sejak itu, tak ada yang memiliki keinginan untuk melakukan itu lagi. Dan ketika berbagai barang itu tak nampak dari pandangan setelah kejadian itu, perlahan Topan melupakannya.
Topan mendesah sambil berusaha menghilangkan bayangan mengerikan yang muncul dalam hatinya ketika mengingat kejadian malam itu. Mau tak mau ia harus setuju dengan pendapat Arborite. Menimbang kondisi yang terjadi saat itu, mereka tak akan mau mengambil resiko lagi. Butuh hampir semalaman untuk menenangkan Andini yang terus ketakutan dan histeris dari waktu ke waktu, meski mereka ber-empat terus menemaninya. Pikiran Topan penuh dengan beragam hal andaikata-jika dan kalau saja, sementara lawan bicaranya juga terdiam dalam kontemplasi tanpa akhir. Pertanyaan ini tanpa jawaban yang bisa dipikirkan.
"Sudahlah, Pan. Jalani dulu saja apa yang ada sekarang. Dia, Yang Maha Hebat itu, selalu bergerak dengan cara-Nya sendiri. Jika memang belum nampak jalannya, minta saja, pasti Dia akan memberi..."
Huft, omongan apa itu?, desis batin Topan ketika menyadari kalau Arborite kembali menghilang, meninggalkannya dalam pikiran yang makin berat membebani otaknya dengan beragam hal tanpa ujung pangkal.
__ADS_1
......................
Kay terus menghela nafas berat. Meski celoteh riang anak-anak berseragam merah putih yang tengah asyik dengan dunia mereka saat ini, sebenarnya adalah sebuah adegan yang menghangatkan hati, pemuda berambut gondrong itu tak bisa menenangkan diri. Kay bahkan tak mampu untuk sekedar tersenyum ketika memperhatikan sosok cantik yang mungkin cuma dia yang bisa melihatnya, turut bersuka cita dengan anak-anak itu ketika tubuhnya berkedip-kedip hilang dan muncul untuk mengganggu lintasan bola yang dimainkan anak-anak itu sambil tertawa-tawa.
Memenuhi panggilan dari wali kelas tempat Andini saat ini sekolah, Kay bergegas untuk datang. Pemuda itu sedikit khawatir kalau Andini tak bisa beradaptasi dengan lingkungan dan teman-teman baru, mengingat saat ini, gadis kecil itu baru memasuki sekolah itu genap 10 hari.
Pria berusia sekitar awal 30-an yang menyambutnya tampak ramah, meski sedikit pandangan maklum muncul di matanya. Dari pria itu, keluhan tentang bagaimana Andini memiliki kecenderungan mengabaikan pelajaran dan lebih sering mencurahkan perhatiannya dalam menggambar, tersampaikan dalam nada yang menenangkan hati. Dari pak guru muda ini pula, beberapa lembar kertas berisi gambar beberapa barang, sosok-sosok dalam wujud animatif dan landscape beberapa bangunan saat ini tersimpan dalam tasnya. Meski kualitas real dari gambar itu menuai pujian tanpa akhir dari sang guru, pria itu berharap supaya Andini sedikit lebih bisa menahan keinginan itu dan bisa mengikuti pelajaran dengan baik.
Namun bukan peringatan dan nasehat serta anjuran itu yang merisaukan pikiran pemuda yang tengah duduk di salah satu ruang hijau di lokal Sekolah Dasar Negeri itu. Pikirannya terus terganggu akan isi dari gambar-gambar yang dibuat Andini.
Botol tujuh bintang, kacamata rayban kuno, cangkul, kotak tembakau, topi laken???
Kenapa ini sedemikian akrab?
Dan gambar mahluk-mahluk apa ini?
Sialan... Ada apa ini sebenarnya???
......................
__ADS_1