Kisah Perjalanan

Kisah Perjalanan
You Are Not Dead Yet, Bro


__ADS_3

Sialan, rupanya bahkan untuk matipun, aku tak diijinkan! batin Terry ketika ia terjaga dan menyadari kalau ia terbaring di ruangan yang ia kenali sebagai ruangan periksa iblis jahat itu.


Mendengar gumam tak jelas dari ruang lain, yang tampaknya adalah percakapan antara dua orang, insting dasar Terry untuk mempertahankan hidup terpicu. Setelah memastikan kalau tak ada orang lain dalam ruangan, Terry segera bergerak.


Bangsat itu bahkan mengobati lukaku. Huh, kau akan menyesalinya! desis batin Terry geram ketika melihat perban yang membalut luka di kakinya. Ia ingat kalau luka mahluk itu tak membaik ketika ia menggunakan pisau untuk melukainya. Setelah mengecheck pistol, yang rupanya bahkan tak diindahkan oleh mahluk itu, Terry perlahan bangkit dari tempat ia berbaring saat ini. Ia berencana untuk mencari benda tajam dan membuat peralatan untuk melawan iblis itu.


Tertatih, ia bergerak menuju dapur, yang ia lihat ketika ia mencari toilet sebelum akhir buruk menimpa Debora beberapa waktu sebelumnya. Terry tak memperdulikan luka di kaki yang kembali mengucurkan darah. Pria itu hanya ingin melakukan yang ia bisa di akhir hidupnya. Ruangan dapur itu tak terlalu jauh lagi sekarang. Selama ia bisa mencapainya, ia akan bisa melakukan sesuatu lebih jauh.


Sedikit lagi saja...


......................


Rumah kecil itu menikmati kehangatan yang telah lama tak ia rasakan. Gelak tawa ditengah celotehan dan candaan acapkali terdengar dari dua orang pemuda dan seorang gadis kecil yang asyik menggambar di teras rumah.


Sejenak, pemandangan yang muncul disana, seakan seperti saudara kandung yang tengah bercengkrama di hari libur saja layaknya. Si gondrong berambut ikal, yang ia ikat dengan seenaknya, tampak tertawa dengan gelas berisi kopi yang masih mengepul. Wajahnya yang maskulin tampak sedikit liar, meski sorot teduh di matanya melembutkan kesan semrawut yang ia hadirkan. Sementara di depannya, pemuda berkulit putih terus mengkomentari isi gambar dari gadis kecil yang terus saja berceloteh riang di tengah kegiatan menggambarnya. Hanya saja, terkadang ketiganya akan secara acak, berbicara dan tertawa ke arah dimana tak ada siapapun di tempat itu, seakan mereka berbicara pada udara kosong. Untung saja teras rumah itu tak nampak dari jalan. Pasti tak akan lucu jika ada manusia lain yang menyadari kalau mereka berbicara pada udara kosong seperti itu


Mereka adalah Kay, Topan dan Andini.


Seiring Topan yang memilih untuk tinggal, tampaknya suasana menghangat dengan sangat cepat. Bahkan kejadian dimana Andini berlaku aneh sebelumnya, sepakat mereka singkirkan dari pikiran. Rayna, yang memang paling bersemangat di antara mereka, terus saja turut berceloteh dan bercanda, semakin membuat percakapan itu sedemikian ramai. Sementara Kay, terus saja menulikan diri dengan berbagai omongan Arborite, yang menginginkan kejelasan tentang omongan gadis kecil itu sebelumnya. Hanya saja, hal yang terjadi kemudian, memaksa Kay untuk perduli, setidak mau apapun ia.

__ADS_1


Kedua pemuda itu seketika bergerak dengan waspada ketika cabang pohon mangga yang daun-daunnya melindungi teras dari sinar matahari itu berguncang dengan keras, seakan ada bocah jahil yang meloncat dan bergelantungan dengan semena-mena. Disusul dengan angin dingin yang berhembus tanpa menggoyang dedaunan dan bunga yang ada di sepanjang pagar teras, meski bangku gantung yang berada di tengah halaman taman tiba-tiba saja bergerak. Tapi tak ada apapun yang muncul di mata kedua pemuda itu, tak perduli apapun yang mereka lakukan


"Sialan, siapa yang datang?" desis Topan tanpa menurunkan kewaspadaannya. Ia berdiri dalam sikap siaga, seakan siap menghancurkan keberadaan apapun yang muncul dan mengganggu. Sementara, samar-samar, kilatan api hitam kemerahan tanmpak muncul dan menyelimuti badan Kay ketika pemuda itu juga mengedarkan pandangannya, mencari musuh potensial yang mungkin muncul.


Hanya saja, asal suara yang menjawab mereka benar-benar mengejutkan.


"Tak perlu mencari. aku disini." sahut suara yang seakan terdiri dari beberapa orang yang berbicara bersamaan itu.. Sosok kecil yang sebelumnya tengah asyik menggambar itu sudah membalik buku gambarnya dan menghadapi halaman kosong. Tangannya yang memegang pensil mulai bergerak dengan cepat, meski wajahnya menghadap pada dua orang pemuda yang sebelumnya masih tergelak-gelak itu. Kedua mata yang sebelumnya memancarkan cahaya polos yang mirip bintang pagi itu, saat ini hanya menampakkan warna putih.


"Kay, ada apa dengan Andini?" ujar Rayna tanpa mampu menyembunyikan ketakutan ketika ia melayang dan menyembunyikan diri di belakang Kay, sementara pemuda itu memandang Topan dengan pandangan was-was.


Senyuman yang aneh muncul di wajah kecil itu melihat kewaspadaan yang muncul dari kerumunan di depannya. Tapi sosok itu tak melakukan apapun. Hanya tangan kecilnya yang terus bergerak dengan cepat ketika gambar sebuah botol dengan ornamen tujuh bintang, sebuah rumah di tengah belantara dan mahluk berbadan ular dan berkepala manusia mengambil bentuk di kertas gambar. Dan ketika gambar itu selesai, Andini tiba-tiba lemas dan badan kecilnya menggelosor ke lantai, yang segera menggemakan teriakan cemas kedua pemuda itu.


......................


Terry berjuang menahan ngilu yang muncul dari luka yang terus mengucurkan darah. Perban yang membalutnya tak mampu lagi menahan rembesan ketika darahnya mulai menetes ke lantai, menciptakan jejak mengerikan. Tapi ia tak perduli, toh nyawanya tak akan bertahan lama. Paling tidak, ia ingin melukai mahluk itu separah mungkin. Pintu ruangan itu hanya berjarak 2 langkah lagi, tapi ketika ia hendak meraih handle untuk membukanya, pintu itu terbuka.


Sialan! Rupanya iblis itu kembali mempermainkanku!, makinya dalam hati, meski rasa tak berdaya mulai muncul seiring pintu yang semakin lebar terbuka, menampakkan bayangan seseorang disana. Dengan putus asa, Terry menarik pistol dan mengarahkannya ke pintu. Hanya saja, tangan yang kuat menahan pistolnya dan dengan sengat cepat, merebut pistol itu dengan sangat ahli. Tapi melihat sosok yang merebut pistolnya, Terry terpana.


"W. w. Who are you?"

__ADS_1


Pemuda itu menghela nafas dan menyimpan pistol di tangannya. Matanya melihat ke perban yang penuh darah dengan pandangan tak suka, ketika ia berteriak.


"Anton! Temanmu sudah bangun dan mencoba bunuh diri dengan buang-buang darah nih!"


Terry makin ternganga ketika suara yang sangat ia kenal, terdengar dari belakangnya.


"Big T! Thank's God you can make it!" sahut Anton sambil berlari dari depan menuju pria yang tampaknya bersiap runtuh itu.


Melihat sosok yang ia kenal, Terry tak mampu menahan dirinya lebih lama. Rasa sakit yang muncul dari luka di kakinya tak mampu ia tahan, ketika badannya lemas dan terduduk.


"God damn it, Bos! I'd rather be taken hostage by ******* again than this... Fucking Devil!!!" makinya kesal meski air mata penuh kelegaan tak mampu ia tahan.


"Let's just get the hell out of here first. You are not dead yet, Bro. Let's make you heal first!" ujar Anton sambil berusaha membantu Terry berdiri.


"Is that creature dead?"


"Nope. He got away. That slicky bastard!" geram Anton sambil membantu Terry untuk keluar dari rumah itu, sementara Prameswara mengikuti mereka di belakangnya.


Sialan, setan kecil ini bisa lolos dariku. Tunggu saja, pasti akan kuhancurkan kau!!!

__ADS_1


Seiring makian dan kutukan terus terlontar dalam hati, Prameswara melangkah menyusul Anton yang tampaknya sudah tak perduli apapun selama temannya tidak mati dan perlahan, mobil mulai bergerak dan meninggalkan tempat terkutuk itu, diiringi pandangan penuh dendam yang tersembunyi diantara dedaunan dan semak yang rimbun.


__ADS_2