Kisah Perjalanan

Kisah Perjalanan
It's About Rayna


__ADS_3

Ledakan ingatan ini mulai terasa menyakitkan. Seperti seribu serpih kaca yang perlahan masuk dalam setiap sela dalam otakku. 2 tahun sudah berlalu sejak surat itu kutinggalkan di meja baca ayah. Namun ingatan tentang mereka tak sedikitpun melemah, apalagi di waktu-waktu seperti ini. Gema lagu pujian yang mengalun dari sebuah gereja, cerah kerlip cahaya lampu yang menghiasi tiruan pohon cemara, wajah-wajah ceria mereka yang tengah mengikuti misa itu mulai terasa bagai sebuah ironi.


“Nanti kita bisa beli telur ya, Bu?”


“Ini hari Natal, Sayang, hari kelahiran Yesus. Telur hanya ada di hari raya Paskah” jawabnya lembut dengan tersenyum.


“Tapi kalau Adek mau, nanti sepulang dari Misa, kita bikin aja di rumah. Adek boleh pilih warna catnya.” lanjutnya lagi.


Komentar yang langsung disambut derai tawa hangat dari ayahku. Meski hanya memiliki waktu yang terbatas bersama keluarga, hari Natal adalah salah satu hari dimana Ayah akan menutup buku jadwalnya dan melupakan setiap kesibukan yang harus dijalaninya.


"Tapi nggak ada kostum kelinci ya. Kostumnya belum jadi dicuci...” sahutnya ditengah gelak tawa yang menyembur.


Rumah kami tak terlalu jauh dari gereja. Perjalanan jalan kaki menuju tempat ibadah itu selalu menjadi ingatan manis yang tak pernah mampu hilang dari ingatanku. Hari Natal selalu menjadi hari yang berkesan. Hari dimana Ibu akan mengeluarkan seluruh kemampuannya untuk memasak berbagai jenis masakan dan Ayah akan membuat semua orang sibuk dengan hobby-nya dalam menghias rumah. Semua orang bersinar dalam kebahagian dan keceriaan yang ia bawa dalam luapan energi yang nampaknya tak pernah habis.


Tanpa sadar air mataku meleleh...


Setiap sendi pikiranku perih oleh berbagai kenangan yang tak mungkin kembali. Bagaimana kemudian Ayah menghancurkan dirinya sendiri setelah Ibu meninggal. Berkubang dalam penyesalan dan rasa bersalah yang membunuhnya perlahan.


Ini Natalku yang ke delapan tanpa mereka..


Hanya sejauh ini aku mampu mendekat ke bangunan yang dimataku, terlihat berpendar oleh rasa bahagia, doa dan rasa syukur kolektif dari setiap orang yang berada didalamnya itu. Dibatasi jalan beraspal halus yang dihiasi dengan deretan berbagai jenis mobil yang tak mendapatkan tempat parkir. Duduk jauh dari euphoria dan kegembiraan itu. Sendiri dalam kegelapan sembari meratapi kesedihan dan deru amarah yang selalu tersimpan dalam jiwa.


“Kenapa nggak masuk aja sekalian, Kay?”


Tak kuperdulikan pertanyaan yang bagai terngiang dari dasar kepala itu. Aku tahu siapa dia. Hantu tolol yang seringkali mengaku sebagai ‘hati nurani’ku.


“Aku tahu kalau kamu pengen kembali merasakan berbagai rasa yang pernah hilang itu.” Ujarnya lagi


“Mungkin ada baiknya kalau kamu diam saja” jawabku sengit tanpa menoleh.


Bersama semilir angin yang membelai daun yang menaungiku dalam kegelapan, udara bergetar dalam riak mempesona warna-warni yang lemah ketika kehadiran entitas gaib itu memaksakan diri untuk masuk ke dunia manusia.


“Kau kan tahu kalau ini melelahkan buatku, Kay?” ujar sesosok wanita cantik berambut ikal yang telah duduk disampingku ketika riak cahaya itu mulai menghilang ke dalam kegelapan, dengan meninggalkan pendar biru tipis yang mengelilingi seluruh keberadaannya.


“Modis juga Lu, mengingat Lu hanya arwah penasaran yang takut pulang ke Sang Pencipta” sahutku ketus tanpa berusaha membalas pertanyaan yang terus terlontar dari mulut bawel itu.


Sejenak, Rayna ternganga. Namun tak butuh waktu lama sebelum ia mulai terbahak-bahak.


Dasar hantu tolol, pikirku sebal sambil memandangi sosok gadis bertubuh semampai dengan rambut (yang biasanya) lurus sebahu yang membingkai wajah pucat namun sangat cantik itu. Pikiranku terbang ke masa beberapa tahun lalu. Masa ketika pertama kali kujumpai hantu cantik yang keras kepala namun baik hati ini, meski yeah, dia sudah mati.


Aku mengenal Rayna beberapa tahun yang lalu.


Dalam kesedihan akibat meninggalnya kedua orang tuaku, pergi adalah satu-satunya pilihan. Rumah yang sebelumnya adalah sebuah istana kebahagiaan itu telah berubah menjadi sebuah sarang kesedihan tanpa akhir. Dibekali kutukan yang semakin bertambah kuat seiring waktu, kemampuanku berkembang hingga mampu mendengar dan berdialog dengan berbagai jenis entitas gaib yang berslliweran di bumi manusia.


Yang mana itu juga berarti menyaksikan Ibu dan Ayahku, dua orang yang paling berarti dalam hidupku, terperangkap dalam kesedihan mereka, dalam rasa bersalah yang berkembang menjadi belenggu nasib terhadap bumi setiap harinya tanpa sanggup aku berbuat apapun untuk menolong mereka?


Tidak, aku memilih pergi...

__ADS_1


Pengetahuanku masih jauh dari cukup untuk menolong mereka. Dan saat aku mampu menghadapi itu semua, aku pasti akan kembali.


Dan dalam perjalanan itulah, aku bertemu Rayna...


Terduduk lesu dalam kebingungan dan kesedihan yang tak mampu tersampaikan, gadis itu cantik dalam warna pucat yang sempurna. Terbalut pendar cahaya biru tipis yang nyaris tak tertangkap mata dalam suasana remang senja yang menggelap. Tak pernah kukira jika pertemuan itu akan menjadi awal dari berbagai percakapan yang menyebalkan. Awal dari berbagai nada sumbang kebenaran yang tak mau kuakui.


“Mbak, kenapa kok sedih begitu?”


Sosok pucat itu masih terguncang dalam kubangan kesedihannya tanpa menghiraukan pertanyaan yang terlontar. Tangisan yang terus terdengar darinya, entah kenapa meringankan beban kesedihanku sendiri.


Senja ini sebenarnya indah jika saja gadis itu mau berhenti menangis, lamun pikiranku, yang rupanya mulai terperangkap dalam suasana temaram senja. Pesona orange sinar terakhir matahari yang bagai memberikan sepuhan terang pada awan, desau pelan angin yang mengelus rumput di sepanjang area hijau pinggiran rel kereta tempatku duduk, benar-benar mempesona. Meski seruan lamat ibu-ibu yang terdengar mendesak, memanggil anak-anak mereka pulang sedikit menggores hati, namun itu bukan masalah di tengah semua keindahan ini. Hanya saja, yeah, andai saja gadis ini mau berhenti menangis...


“Sebelumnya, tempat ini lebih semarak dengan seruan gembira anak-anak bermain. Keluarga dari desa di dekat stasiun itu suka sekali menghabiskan waktu mereka disini...”


Kaget, terlonjak oleh perkataan itu, ketika kudapati seorang pemuda yang berusia sepantaran denganku, telah berada di sampingku.


“Eh?”


Menyibakkan rambutnya yang gondrong, pemuda itu tersenyum menatapku. Entah kenapa, aku bagai lumpuh. Pemuda itu tidaklah tampan. Namun memiliki mata yang cantik, meski kontras dengan sorot menghina yang berasal darinya. Berkulit tak terlalu putih, namun dengan alis tebal yang membingkai mata indah itu, dengan bibir yang tak berhenti menyunggingkan senyum ambigu, wajahnya menjadi sedemikian mempesona. Seakan dipahat oleh pengrajin terahli tanpa keyakinan khusus hendak dibuat untuk menjadi setan atau malaikat.


“Betul. Semua gara-gara gadis celaka itu. Aku jadi lumayan bosan di sini...” lanjutnya lagi.


Ringan dan tanpa mampu kucegah, pemuda itu memungut batu seukuran genggaman tangan dan dengan sekuat tenaga, dilemparkannya batu itu hingga mengenai kepala gadis itu.


”Hei!!! Kamu gila!!!”


Kaget dengan yang dia lakukan, pukulan tangan kananku melayang deras dan mendarat dengan telak di bibir penuh seringaian menghina itu. Tak sempat kusaksikan darah yang muncrat darinya ketika kutarik tanganku. Sontak berdiri dan bersiap untuk melihat yang terburuk, kuhampiri gadis yang tergeletak karena lemparan batu bedebah gondrong tak berotak itu.


Aku harus bagaimana ini, pikirku panik


Gemetar, shock dan bingung harus bagaimana adalah berbagai hal yang ada, ketika aku berjongkok di sebelah badan sintal yang terbaring miring dengan luka menganga di kepala itu. Namun ketika dalam gemetarku, gamang berusaha meraihnya, tiba-tiba gadis itu kembali dalam posisi yang sama, persis seperti sebelum kepalanya terkena lemparan yang menghancurkan itu. Dan isakan dengan nada yang sama kembali terdengar...


"***! Setan keparat!"


Teriakanku membahana, membelah temaram senja yang semakin lama, semakin memperjelas selaput cahaya tipis yang membingkai perempuan sial itu. Aku merasa tertipu, jengkel, dan sakit hati setiap hal seperti ini terjadi.


"Gadis tolol yang cengeng itu dibunuh pacarnya"


"Kamu itu yang tolol!" sergahku sengit.


Entah kenapa, terbit perasaan tidak suka yang kuat pada sosok berambut panjang yang sebelumnya berhasil mempesonaku itu. Mungkin karena ia telah ikutan menipuku barusan, atau...


Ah, entah. Pokoknya aku cuma ingin menghajarnya lagi.


"Berangkat berdua, dan setelah diperkosa, dia dibunuh. Mayatnya masih tergeletak disitu. Dibalik semak tebal, di seberang gerbong yang berserakan itu..." katanya.


"Eh?"

__ADS_1


"Dan hingga hari ini, dia cuma menyesali kenapa dia ditinggal pulang ama pacarnya" lanjutnya sambil hendak melempar batu lagi pada sosok yang tak berhenti menangis itu.


"BERHENTI LAKUKAN ITU!!!"


Tangan yang sudah terangkat dengan batu di genggaman itu terhenti. Wajah menarik itu perlahan menggelap dalam emosi yang pekat hingga terasa menakutkan. Badai kekuatan yang menekan terasa bagai angin yang sangat tajam, mengoyak udara malam yang berteriak dalam sunyi. Seringai mengerikan mulai tertarik dari bibir yang indah itu.


"Atau kau mau melakukan apa, Bocah?"


Tanpa sadar, langkahku tersurut mundur. Ekspresi wajahnya benar-benar membuatku jerih.


"Kamu, manusia menyedihkan yang cuma bisa merengek dan mengeluh pada Sang Pencipta? Yang setiap kali meratap dan mengutuk Dia yang telah memberimu anugrah? Apa yang bisa kamu lakukan padaku?"


Setiap sendi di tubuhku melemas dengan cepat. Tekanan kekuatan yang datang darinya mulai terasa menyakitkan. Darah mulai mengalir ketika kurasa angin yang tajam itu menyayat setiap kulit di tubuhku. Aku terdiam dalam ketakutan yang dahsyat. Gemetar tak terkendali, dan setiap sel dalam otakku meneriakkan kata yang sama, mendesak dan tak terbantahkan... LARI!


Namun aku membisu dalam ketakutan. Lidahpun bahkan menolak untuk kugerakkan sedikitpun.


"Huh, sudah kuduga. Kamu cuma sama seperti yang lain, Kecoak tak berguna." lanjutnya sambil meneruskan niatnya, kembali melempar batu yang ada dalam genggamannya itu.


Namun pemandangan tangan yang tergenggam dalam kekuatan yang intens itu memerangkapku. Bagai dalam gerakan lambat, setiap detail kejadian itu bergerak dan tubuhku bereaksi tanpa diperintah.


Maegeri-ku meledak dalam rangkaian langkah jangkit yang dengan singkat, menutup jarakku dengan cowok berambut gondrong yang menimbulkan berbagai jenis perasaan itu. Kepalanya sudah berada dalam jangkauan tumit yang menderas ketika tiba-tiba saja, wajahnya yang sudah kembali dalam sinar pesona itu menoleh dan matanya berbicara banyak padaku. Ketakutanku yang sirna karena amarah, menyeruak dalam bentuk berbeda sekarang. Aku tidak ingin melukai orang ini. Namun Maegeri yang telah terlepas dan berada dalam kondisi ini tidak memiliki pilihan lain selain menghancurkan apapun yang berada di jalurnya.


"Sialaaaan!!!" teriakku pahit tanpa mampu mengubah arah ataupun menghentikan seranganku.


"Begitu lebih baik, Anak muda"


Seringai di wajah itu tidak menghilang ketika tumit yang menderas turun dalam kecepatan yang menghancurkan dan menembus kepala itu, lurus dalam lintasannya.


Aku yang tak siap, terpelanting dan nyaris terjatuh karena kekuatanku sendiri.


Sial, ternyata dia hantu juga, pikirku jengkel.


Ledakan tawa yang menyusul keluar darinyalah yang akhirnya membuatku bisa menguasai diri.


"Itu tidak akan mempan padaku tanpa balutan energi, Anak Muda"


"Sial Kau! Akan kuhajar kau!" teriakku dalam emosi meski dalam sikap fight sempurna yang kuambil, tak dibutuhkan seorang jenius untuk tahu kalau semua yang akan kulakukan padanya akan sia-sia.


"Tenanglah dulu. Namaku Arborite, aku sudah ada sejak rel ini hendak dipasang." katanya lembut.


"Aku akan mengajarimu menggunakan kekuatanmu dengan satu syarat, buat gadis tolol ini tahu kalau dia sudah mati dan berhenti menangis" lanjutnya lagi ketika aku tidak merespon kata-katanya.


"Banyak hal yang bisa kau lakukan, bahkan mendamaikan hati kedua orangtuamu. Dan aku akan dengan senang hati mengajarimu, jika kau mau"


Bagai petir, perkataannya menyambar dan menyalakan harapan di hatiku.


"Kau serius dengan ucapanmu barusan?" sahutku ragu tanpa menurunkan sikap siaga, namun senyum yang terlukis di wajah itu meluruhkan semua sikap permusuhanku.

__ADS_1


"Asal kau ajak dia pergi dari sini. Cewek tolol itu menyebalkan, baik dia senang ataupun sedang bersedih."


Sebuah syarat yang kukira akan bisa mudah untuk dijalani. Namun ternyata aku salah...


__ADS_2