
Waktu berlalu seakan terbang ketika detik berpacu menuju menit yang membentuk jam dalam dinamis kehidupan manusia bumi, yang tak kenal lelah dalam putaran siang dan malam.
Bagi Topan, 45 hari yang telah berlalu ini memang tak bisa digambarkan sebagai lambat, meski ada kalanya waktu seakan merambat tanpa ada keinginan untuk bergerak. Bersama dengan 3 sekawan bar-bar, ia menikmati beragam cara baru dalam memandang kerasnya hidup, membuatnya sedikit mampu memandang hidupnya sendiri, yang selalu ia anggap sedemikian menyedihkan, dengan warna baru yang ceria. Dan saking karena team ini amat gampang berteman dengan siapa saja, pekerjaan yang harusnya hanya memakan waktu setengah bulan, terus diperpanjang karena berbagai jenis pekerjaan baru yang diserahkan untuk diselesaikan, yah, meski karena hasil pekerjaan yang memuaskan pengguna jasa, sebenarnya mungkin lebih berperan dalam hal itu.
Dan dari pemuda lembut tapi sangar, yang hobby tertawa terbahak-bahak, yang doyan bercanda tapi sangat berdedikasi dalam bekerja itu, Topan belajar banyak hal yang sebelumnya terasa sangat samar baginya. Sedikit banyak, Topan bahkan mulai menerima pemikiran Kay tentang apa yang oleh pemuda itu biasa sebut sebagai "entitas astral", yang sebelumnya selalu ia remehkan. Bersama orang-orang kocak tapi tegar dan pantang mundur ini, Topan benar-benar menikmati waktunya.
Sayangnya, hal yang sama tak bisa didapatkan Kay.
45 hari yang ia lewati adalah neraka hidup dalam bentuk hantu cantik yang merasa perlu untuk bikin berantakan rumah setiap ia bisa. Bersama dengan sosok jiwa tua yang terbelenggu rantai dunia yang hanya akan tertawa-tawa tanpa ada niatan untuk membantu sedikitpun.
Setiap hari adalah hari penuh siksaan bagi Kay yang sudah terbiasa dengan tempat rapi. Bukan hal baru untuk menemukan penggorengan tersangkut secara aneh di atap rumah, atau pot-pot bunga yang sebelumnya menempati rak tanaman di taman, tiba-tiba saja tertata rapi dan menutupi jalan gang depan rumah Kay. Dan sayangnya, seiring mendekatnya waktu liburan sekolah Andini, kelakuan Rayna makin membabi buta. Beberapa kali, Kay mesti harus menundukkan kepala dalam-dalam ketika ada warga yang ditemani Pak RT, datang dan ngomel-ngomel dengan berbagai sebab tanpa mampu melakukan apapun selain meminta maaf. Tak mungkin juga bilang ke mereka kalau pelaku sebenarnya adalah arwah seorang gadis cantik yang dibunuh oleh pacarnya dan tinggal juga di tempat ini kan?
Tapi kali ini, Kay sudah benar-benar tak mampu lagi menahan rasa emosi yang membuncah keluar dari hatinya. Rayna tiba-tiba saja, memutuskan untuk menjemur baju Kay di jalan. Hantu cantik itu memindahkan gantungan baju cucian dan menaruhnya melintang di jalan, dan mengisi gantungan itu hanya dengan baju dalam Kay saja. Otomatis, mengingat gang depan rumah Kay tak terlalu lebar, warga kampung dalam yang hendak berangkat kerja atau aktivitas lain, menyaksikan ini semua tanpa sensor.
"Anjay, segitiga emas dipajang, Coy!"
"Astaga, pemuda itu tampaknya bener-bener sakit mental."
"Aih, Awan itu edan. Kemarin pot bunga, terus wajan ditaruh di atap, lha kok sekarang ******!"
"Wes jian, tobat bener sih anak itu?"
"Tobat kamu, WOOOI, WAN, PINGGIRIN INI. TELAT AKU NANTI!!!"
__ADS_1
Seruan, bisikan, tawa hingga teriakan dan klakson motor yang membahana, akhirnya menyeret Kay keluar dari rumah, hanya untuk menerima kejutan hebat.
Warga kampung ini memang memanggilnya Awan, hanya saja, untuk kali ini, senyum yang muncul di wajah mereka membuat Kay tak mampu berbuat lain selain buru-buru memindahkan private property-nya itu ke dalam dengan muka menahan malu.
Diiringi dengan berbagai sapa canda dan makian tetangga, Kay terbirit-birit masuk ke dalam rumah.
"RAYNAAAAAA!!!"
Namun sayangnya, hanya gelak tawa setan tua Arborite itu yang terdengar. Dan dinilai dari suara buk-buk-buk kayu yang dipukul dengan telapak tangan, tampaknya setan tua itu tertawa sampai terguling-guling. Membayangkan hal itu, Kay tak mampu lagi menahan diri.
"Aruna ong rama nun lai... In so lae do achiri. In to the light, I command you. In to the light, I COMMAND YOU!!" darasan mantra yang ia pelajari dari berbagai catatan di buku ayah mengalir perlahan, memberikan jalan keluar bagi tenaga yang tiba-tiba saja berkumpul di dasar perutnya.
Rumah kecil itu bagai digoyang oleh gempa kuat ketika Kay berusaha menyatukan simbol yang tiba-tiba muncul di kedua lengannya. Tangannya gemetar hebat ketika beban berat seakan muncul di kedua tangannya, tapi ia bertahan dan terus berusaha untuk memaksa pecahan simbol di tangannya itu bersatu. Meski sebenarnya, ketika goncangan itu muncul, Kay sudah mengeluarkan keringat dingin. Ia tak menyangka mantra pemanggilan yang ia ucapkan akan menimbulkan akibat sebesar ini.
Dengan usaha paling keras yang pernah ia lakukan, Kay berhasil menyatukan kedua simbol itu menjadi satu gambar yang utuh ketika kedua tangannya menyatu. Goncangan yang melanda rumah kecil berhenti dengan sentakan keras diiringi suara seperti robekan yang keras, ketika sosok seksi Rayna muncul seakan ditarik dengan kuat dari tempatnya berada sebelumnya. Diiringi bunyi bantingan yang kuat, sosok cantik itu tertelungkup di lantai, sementara punggungnya seakan ditekan oleh kekuatan yang dahsyat. Wajahnya yang cantik pucat oleh ketakutan yang tergambar jelas di matanya.
"Kaaay, auh.. aduh, saa sakiittt... Kay..."
Sementara si perapal mantra, ketika melihat hasil yang diakibatkan oleh aksinya, panik tak karuan.
"Kaaay, amppuunnn. Tolonggg, i.. i.. ini sakit!!!" ratap Rayna.
"Ah. Tunggu, Ray. Sebentar. Aduuh, gimana batalinnya? ah, asu! GIMANA BATALINNYA?!!!"
__ADS_1
Mendengar ratapan Rayna, Kay makin panik. Ia tak tahu hasilnya akan seberat ini. Dengan panik, ia terus membuka dan mencari cara membatalkan ikatan mantra yang ia ucapkan, sementara Rayna tampaknya semakin lemah ketika tangannya terlihat gemetar menahan beban berat yang menimpa dan menggencet punggungnya.
"Bocah, kali ini kau membuka kotak pandora... Lain kali aku tak akan membantumu seperti ini. Mantera dan kekuatan seperti ini bukan mainan yang bisa digunakan sembarangan!"
Seganas badai tropis, suara Arborite menderu dalam benak Kay. Menderanya dengan amarah yang berkumpul membentuk awan gelap bermuatan listrik, membuat pikiran Kay tertatih oleh keganasannya. Meski kemudian, rangkaian pengetahuan mengalir dalam benaknya, dan reflek, Kay membuat gerakan menarik dan membuang ketika mulutnya berteriak, "An ong rama nho, Forshieh!"
Selesai mengucapkannya, Kay seakan kehilangan seluruh tenaga yang ia miliki. Kakinya gemetar dan melemah tanpa memiliki kemampuan menahan tubuhnya. Pemuda itu terjatuh dan terduduk lesu di lantai dalam baluran keringat seperti seorang atlet sprint 100 meter yang terpaksa berlari kencang 4 kali jarak yang biasa ia tempuh. Nafasnya tersengal dalam usahanya untuk bernafas. Tak terlalu jauh berbeda dengan sosok cantik yang saat ini, terbaring telungkup di lantai, isak tangis samar muncul darinya. Rasa takut yang kuat mencengkeram Rayna dan membuatnya tak memiliki kemampuan untuk bergerak sama sekali. Kesunyian melanda tak terbendung dengan hanya menyisakan derak nafas Kay, dan isak samar dari Rayna. Kengerian yang terjadi baru saja membuat dua insan beda alam itu larut dalam perasaannya sendiri-sendiri.
Hanya setelah beberapa waktu, riak muncul di udara, ketika sosok pemuda tampan itu muncul dari ketiadaan. Matanya sedikit memancarkan rasa iba dan prihatin ketika ia menatap Rayna yang terisak dan masih dicekam ketakutan. Tapi tatapan iba itu menghilang untuk digantikan sorot mata jengkel ketika ia melihat Kay yang tampak seperti manusia yang kehilangan sukma sejatinya itu.
"Kau tahu apa yang baru saja kau lakukan, Nak? Kau hampir memnggencet dan membubarkan jiwanya. Kau tahu akibatnya jika itu sampai terjadi?"
Rasa takut akhirnya muncul di mata Kay ketika mendengar ini. Spontan, ia melemparkan buku itu ketika ia berusaha menyeret badannya menuju sosok Rayna yang masih terisak ketakutan.
"Ada baiknya kau mengenal sesuatu dengan baik sebelum menggunakannya, Nak. Bagus kamu sempat menyebut siapa yang hendak kau panggil dari dunia itu. Bayangkan jika misalnya tadi kau salah berpikir dan memanggil figur yang tak mampu ditangani siapapun diantara kita berdua?" desah Arborite lagi sambil bergidik, entah apa yang dipikirkannya.
"Ray, maaf. Aku minta maaf..." desah Kay pelan, mengurungkan niat untuk menyentuh gadis itu ketika Rayna refleks menjauh dari tangan Kay.
Arborite mendesah pelan. Pandangan matanya semakin menjauh dalam kekosongan. Pikirannya semakin kacau ketika sedikit cahaya harapan yang sempat muncul beberapa waktu sebelumnya, meredup dengan cepat.
Huft, tampaknya ujung jalanku masih sangat jauh. Jika bahkan bapak bocah ini sampai bisa mengetahui bahasa "Kata" seperti ini, siapa yang tahu apa yang akan muncul besok-besok?
Kapan aku bisa pulang?
__ADS_1
Aku lelah...