Kisah Perjalanan

Kisah Perjalanan
I'll keep dancing on my own (II)


__ADS_3

"Rook, bikin dry martini sama seperti tadi, taruh di meja 13 ya." ujar Pak Budi


Meski agak heran, Topan tak menjawab banyak. Tak ada order untuk meja itu, tapi Ia hanya menggumamkan hal tak jelas, membuat pesanan dan meraih tray di meja yang ditinggalkan waiters. Waktu sudah menunjukkan pukul 02.15 dan memang sudah mendekati waktu tutup. Tamu yang tersisa hanya tinggal mereka yang terlalu menikmati minuman mereka, atau mereka yang sudah terlalu mabuk hingga perlu dijemput untuk bisa pulang, jadi tak masalah meninggalkan 'zona medan perang' di belakang counter bar itu. Segera, Topan beranjak menuju meja itu. Meja yang paling nyaman posisinya, kalau menurut Topan.


Agak tersembunyi di sudut, dilindungi oleh beberapa pot tanaman yang menutupi siapapun yang duduk disitu, namun memiliki pandangan nyaris ke seluruh titik di dalam ruangan, khususnya lantai dansa. Tapi entah kenapa, tak ada request dari tamu yang duduk disini sejak malam masih muda dan nampaknya memang tak ada satu tamupun yang memiliki keinginan untuk duduk di sana.


Ah, aku tahu apa.. Mungkin aja mereka lebih suka dilihat daripada melihat orang lain, dasar orang kaya..., kikik Topan dalam hati.


Namun semakin dekat dengan meja itu, rasa dingin sedikit muncul dan mengganggu, tapi sosok lelaki setengah baya dengan baju rapi yang duduk di salah satu kursi di meja itu segera membuat Topan menghilangkan perasaan tak nyaman yang muncul. Senyum terkembang dan kalimat yang sudah ia hapal seharian hingga saat ini segera meluncur keluar dari mulutnya. Menurut Pak Budi, salam adalah nyawa dari semua jenis komunikasi dan jiwa utama dari sebuah usaha dan Topan tak ingin menghilangkan jiwa di hari pertama ia bekerja...


"Silahkan menikmati pesanannya, Pak. Kami closed order 45 menit lagi, mungkin ada pesanan lain yang bisa saya buatkan sebelumnya, Pak?" kata Topan sambil menaruh gelas itu di meja.


Lelaki itu hanya meliriknya sejenak tanpa mengatakan apapun. Pandangannya kembali tertuju pada kumpulan meja di tengah ruangan.


"Maaf, apakah ada yang salah dengan sajian sebelumnya?" lanjut Topan ketika ia nelihat gelas lain dengan pesanan yang sama, namun tak tersentuh.


"Sebenarnya saya lebih suka double Bourbon daripada dry martini ini, tapi ah... Kamu juga nggak akan paham..." gumam lelaki itu tanpa mengalihkan pandangannya.


"Ooh, jika memang begitu, coba saya sampaikan pada bartender dan order taker ya Pak, ijinkan saya merapikan gelas yang lama. Silahkan menikmati.." balas Topan.


Meski sedikit menahan kesal di dalam hati, Topan berusaha terus tersenyum sambil mengambil gelas itu dan beranjak meninggalkan meja, tanpa menyadari pandangan dari lelaki itu, yang terus tertanam di punggungnya hingga ia sampai di counter Bar.


"Kalau nggak doyan, kenapa juga pesan. Heran aku sama orang-orang ini." gerutu Topan ketika ia sampai di counter.


Pak Budi, yang masih sibuk dengan preparation tutup, mendongak dan sedikit mengernyitkan dahinya.


"Kenapa, Pan? Ada masalah?"


"Enggak, Pak. Cuma pengunjung di meja 13, katanya lebih suka double bourbon daripada dry martini. Kalau gitu kenapa pesen coba?" gerutunya sambil masuk ke belakang counter dan membantu closing preparation. Ia bahkan tak memperhatikan reaksi pak Budi, yang segera melepas apron dan melangkah keluar menuju meja 13 dengan langkah lebar.

__ADS_1


"Lho, Pak? Saya tadi sopan kok jawabnya, beneran..."


Tapi pak Budi sama sekali tak menghiraukan Topan dan tergesa melanjutkan langkah menuju meja itu, meninggalkan Topan yang terpana dan berharap ia tak melakukan hal yang bisa menyebabkannya kehilangan pekerjaan di hari pertama ia bekerja


...----------------...


"Kay..."


Sentuhan lembut di pundaknya, membuat Kay kembali dari perdebatan hebat dalam dirinya. Senyum sedihnya berkembang ketika ia melihat rasa khawatir, kasihan dan berbagai perasaan yang terpancar melalui mata indah sosok cantik yang berlutut di sampingnya ini.


"Aku baik-baik saja, Ray..."


Gadis itu tersenyum, meski kesedihan dan kekhawatiran yang muncul dari matanya tak menghilang.


"Sedemikian lama aku berusaha menjadi sosok seperti yang selalu ia bicarakan, dan ternyata.." bisik Kay pelan ketika akhirnya isak memutus semua yang hendak coba ia katakan. Semua yang ia tahan sejak memasuki rumah itu, seluruh perdebatan dan pertentangan batin setelah mengetahui berbagai rahasia yang disimpan oleh ayah yang sangat ia idolakan, mendesak keluar dari dirinya dalam tangis dan ratapan yang menyengsarakan siapapun yang mendengarnya. Rayna hanya terdiam. Tangannya yang dingin mengusap pundak pemuda yang nampaknya sangat terguncang itu.


"Bercanda juga pakai waktu dan tempat, Na. Hantu bucin konyol!" salak Arborite, yang sejak tadi cuma memilih diam tanpa kata dan nampaknya hal intim di depannya itu terasa cukup mengganggu baginya dan memutuskan untuk ikut campur.


"Aaaah, Abo, kamu itu yang konyol! Hantu tua, antik dan kuno macam kamu ini ngerti apa, paling juga kenal ama bahasa Indonesia juga barusan kan? pake kata slank segala! huh!!!" balas Rayna sengit sambil mengibaskan rambutnya.


"Eeeeh, enak aja lu ngomong ya, Hantu Bucin!"


Dan nampaknya kedamaian berselaput kesedihan berat itu takkan mampu bertahan lama kalau kedua hantu ini disekitarmu, pikir Kay.


Melihat kedua "orang" itu beradu mulut, ternyata meringankan beban perasaan yang ia miliki saat ini.


Mungkin memang semua memang digariskan demikian, dan nampaknya, ia tak bisa lari dari takdir. Perasaannya terasa semakin ringan ketika matanya kembali menatap ke pintu rumah, dan ketetapan hati serta penerimaan muncul dalam dirinya.


Lagian, emang sejak awal aku nggak normal sih, tapi lumayan agak menyedihkan ketika bahkan butuh hantu untuk menenangkan pikiranku sendiri, khususnya hantu konyol macam ini, pikir Kay lagi, sedikit merasa konyol ketika melihat Rayna yang asyik bertengkar dengan Arborite, lupa dengan maksud awalnya yang berusaha menghibur Kay yang tengah bersedih.

__ADS_1


Ah, sudahlah. One at a time. Tapi nampaknya jalan kedepan sudah jelas. Tugas ayah yang belum selesai, harus kuambil alih, pikir Kay lagi.


...----------------...


Pak Budi banyak diam ketika ia kembali lagi ke dalam counter dan meneruskan persiapan closing. Hampir tak ada tamu tersisa sekarang, hanya tinggal sepasang lelaki dan perempuan yang masih menikmati dansa mereka dan nampaknya, merekapun juga bersiap untuk meninggalkan tempat itu. Setelah menutup Bar, ia membuat minuman untuk dirinya sendiri dan duduk di salah satu kursi di depan Bar.


"Pak, Topan nggak bikin kesalahan lho tadi. Saya jawabnya sopan kok, beneran."


"Kamu beneran lihat ada yang duduk di meja itu, Pan? Bisa kamu jelaskan orang itu seperti apa?" tanya pak Budi setelah sekian lama diam.


"Iya, Pak. Emang tadi apa dia nggak bayar sekalian waktu order, Pak?"


"Tolong jawab saja pertanyaanku, Pan."


"Ehm, orangnya setengah baya, mungkin seumuran dengan bapak. Pakai jas, rapi, rambut agak beruban di kedua sisi kepala, belah pinggir dan ganteng." balas Topan sambil berusaha mengingat detail yang bisa ia ingat dari tamu di meja 13.


"Apa dia memiliki ciri khusus, seperti tahi lalat gitu?"


"Duh, agak lupa saya, Pak..."


Pak Budi menghela nafas berat dan pandangannya terus terpaku pada gelas di depannya.


"Istirahatlah, besok weekend, Rook. This place will be crowded, dan kuharap kau bisa mulai membantu bikin minuman..."


Melihat lelaki itu nampaknya tak lagi memiliki keinginan untuk berbicara, Topan melepas apron yang ia gunakan dan bergerak keluar.


"Saya istirahat ya Pak, selamat malam."


Lelaki itu hanya mendengus menjawab salam Topan. Gelas di depannya tak ia sentuh sama sekali.

__ADS_1


__ADS_2