Kisah Perjalanan

Kisah Perjalanan
Maaf Ya Mas...


__ADS_3

Ketika akhirnya pemuda itu menyusul semua orang ke warung, wajahnya tak menunjukkan apapun. Hanya ketiga rekannya yang terkesan seakan menunggu apapun yang keluar dari mulutnya. Setelah memesan makanan dan mengambil tempat duduk, akhirnya ia bicara.


"Kita boleh melakukan apapun disana, tapi jam 11-15 tidak boleh kerja, harus istirahat. Tapi selain hal itu, semua aman. Kalau terpaksa harus pipis sembarangan, area sekitar piramid boleh, asal jangan ke pohon kelapa di samping kolam ikan besar. Sudah diijinkan sama yang punya tempat."


Dan ketika mendengar ini, ketiganya tampak lega, seperti awan mendung yang menggantung dilangit, lenyap disapu angin dan kembali menampakkan sinar matahari. Ketiganya kembali larut dalam canda bar-bar mereka, seakan hal yang dikatakan Pangky sebelumnya adalah hal yang wajar.


Hanya saja Topan mengerutkan kening ketika seklumit rasa sebal muncul di hatinya untuk pemuda yang sok keren ini.


Minta ijin? Sama siapa? Sok ngerti!


Mungkin pemuda ini maksudnya baik, hanya supaya kawan-kawannya agak mengendalikan diri mereka masing-masing, tapi bukan berarti harus menyalahkan sesuatu yang tak bisa dibuktikan oleh banyak orang, khususnya masalah gaib begini. Baik-baik saja kalau memang tidak ada entitas gaib yang ada disitu. Tapi kalau beneran ada dan merasa dia dipergunakan sebagai alasan dengan semena-mena dan mahluk itu memutuskan untuk marah lalu membalas?


Benar-benar tidak menggunakan akal!


Topan mulai mengembangkan perasaan tak suka pada pemuda yang sebelumnya tampak sedemikian keren baginya itu. Figurnya yang sedemikian kokoh ketika memanjat gedung berbentuk piramid itu terdistorsi menjadi sosok penipu. Meski ketika pemuda yang tampaknya adalah pemimpin team itu sangat sabar dan pengertian dalam melatihnya, kesan itu tak membaik. Apalagi ketika saat dia minum teh ketika hari menjelang senja, dia membuat 2 gelas minuman, dan menaruh satu di sampingnya, seakan memberikan minuman itu ke orang lain.

__ADS_1


Huft, mungkin kalau orang lain, bisa saja mereka percaya. Lha aku ini juga bisa lihat, Bosku! Sok misterius, kutuk batin Topan dengan keji. Ia paling tak suka dengan orang seperti ini, seorang penipu besar.


Dan itu pula yang membuat Topan bergeming dari posisinya saat ini. Sudah 3 hari sejak insiden ia muntah setelah 45 menit mencoba bekerja dengan metode mereka, dan saat ini, ia sudah lumayan terbiasa dengan metode itu. Waktu sudah menunjukkan pukul 10.15 siang, hampir mendekati waktu "larangan" yang ditetapkan oleh penipu besar itu, dan Lombo sudah berulang kali mengajaknya turun. Hanya saja, cat hanya tersisa sedikit di ember yang tergantung di pinggangnya, dan Topan merasa sayang jika harus turun sekarang. Maka sambil bergerak turun, ia terus berusaha untuk menghabiskan cat di ember itu. Ia bahkan tak memperdulikan teriakan Pangky, yang tampaknya terlihat sangat khawatir ketika jam sudah melewati angka 11 lebih.


Huft, penipu ya penipu saja. Tanggung tau, rutuk batin Topan sengit. Kuas di tangannya masih merenggang untuk mencapai sudut terakhir yang masih belum sempurna tertutup cat. Sebenarnya memang hanya tempat itu saja yang belum dikerjakan, dan ia akan bisa menyelesaikan bagiannya tanpa harus naik lagi jika sudut itu terselesaikan.


Namun sayang, belum lagi kuas di tangannya mencapai sudut itu, seakan ada yang menarik kaki yang ia gunakan sebagai tumpuan. Kontan, tubuhnya yang hanya menggunakan tali sebagai pengaman dan kaki kiri sebagai tumpuan, berputar bagai gasing. Kepalanya menderas ke arah dinding bangunan yang terbuat dari beton. Isi embernya terciprat keluar akibat cepatnya ia berputar. Di sudut matanya, ia sempat menangkap bayangan sosok berbadan kekar, dengan taring yang mencuat keluar dari mulut, menatapnya garang dengan mata besar yang mengerikan. Shock, kaget, dan rasa takut yang muncul dalam hati dan pikirannya, menumpulkan setiap reaksi yang mungkin muncul dari Topan. Ia hanya mampu menatap tembok beton yang seakan mendatanginya dengan sangat cepat ketika badannya membanting ke dinding beton itu.


Sialan, mati aku...


Untung saja, Pangky, yang saat itu masih berada di bawah Topan, sigap menarik tali pengaman yang menjuntai di bawah, dan berlari melawan arah Topan terbanting, mencegahnya menderita cidera. Meski dalam prosesnya, ia membuat tangannya sendiri terluka akibat teriris tali yang menahan beban Topan, yang terakhir tak menderita cidera apapun. Kepala Topan berhenti hanya sekitar 10 cm dari dinding beton yang keras itu.


"Siap. Am.. A. Aman, Mas." balas Topan sedikit tergagap. Pemuda itu masih gemetar hebat. Keringat dingin mengalir deras ketika ia menyadari ember di pinggangnya, yang terbanting ke dinding akibat terbawa putaran tubuhnya sudah pecah dan menumpahkan isinya ke lantai, 6 meter dibawahnya.


Meski pakai helm, aku tak yakin kalau kepalaku akan baik-baik saja jika tak ada Mas Pangky di bawah, batin Topan tanpa mampu menahan diri untuk menarik nafas dalam-dalam.

__ADS_1


"Oke, posisikan dirimu dulu. Aku lepas tali perlahan." teriaknya ketika Topan merespon panggilannya.


Topan segera berusaha meluruskan dirinya sendiri meski rasa gentar belum sepenuhnya meninggalkan hati atas perjumpaan dekat cidera berat atau bahkan mungkin kematian barusan. Secepat mungkin ia berusaha untuk turun tanpa melupakan berbagai urutan penggunaan alat pengaman di pinggangnya. Hanya saja, ketika kondisinya agak membaik, dan ia mulai meluncur turun dari ketinggian, gemuruh suara yang mengerikan bergema dalam benaknya. Menghadirkan rasa ancaman yang menghadirkan perasaan seakan, si pemilik hawa ancaman itu akan dapat menghapuskan keberadaannya dengan sangat mudah.


"Sombong! Silahkan coba lagi keberuntungan, Bocah. Kalau bukan karena manusia temanmu itu, sudah kuremas badan menyedihkanmu itu!!!"


Topan tak menjawab. Untuk kali ini, pemuda berhati keras tak kenal takut itu mengakui kalau ia bersalah. Ia hanya diam, tak menjawab geraman mahluk itu sedikitpun. Ia tahu, menjawab, bahkan hanya sekedar ucapan permintaan maaf, akan hanya membuat mahluk itu makin marah. Pemuda itu hanya membersihkan sisa-sisa cat yang tercecer di lantai dalam diam setelah ia sampai di bawah.


"Sudah, Pan. Nanti saja. Ayo cuci tangan dan mukamu. Kita susul yang lain."


Suara yang biasanya keras dan tegas itu lembut ketika tangannya menepuk bahu Topan yang masih menunduk, setengah merangkak untuk membersihkan percikan cat yang tumpah.


"Tapi Mas, nanti susah..."


Tapi gelengan kepala pemuda itu menghentikan omongan Topan. Senyum lembut muncul di wajahnya yang keras.

__ADS_1


"Tak apa. Nanti kutunjukkan cara membersihkannya. Sekarang, cuci tangan dan bersihkan semua bekas cat itu dari badanmu, terus istirahat, makan." ujarnya lagi, masih dengan kelembutan yang sama. Senyum khawatir bercampur sorot mata penuh pengertian muncul dan membuat Topan makin tak mampu melihat wajah pemuda itu. Dengan menunduk, Topan berdiri dan bergerak untuk mencuci bekas cat di badannya, ketika rasa malu berkembang dengan sangat cepat di hati dan pikiran pemuda itu. Apalagi ketika ia menoleh, punggung lebar dan kukuh Pangky menyapa pandangan ketika pemuda itu menyalakan sebatang rokok dan menaruhnya di sebuah batu. Coverall yang ia kenakan robek di bahu akibat tercabik gesekan tali karnmantel yang tajam, menampakkan kulit yang lebam mengerikan, sementara darah tampak memercik ke batu dari luka di tangannya. Sekarang ia mengerti kenapa Lombo, Gudel, bahkan Mas Eko, sedemikian menghormati orang ini.


Untuk kali ini, Topan benar-benar merasa ingin pulang saja...


__ADS_2