
Perjalanan ini terasa sedemikian sulit, padahal ketika bersama Arborite kemarin, berbagai semak dan tanaman gulma tak selebat dan setinggi ini. Jalan setapak yang sebelumnya mudah, kali ini bagai menembus rimba semak yang tak pernah terjamah. Celana jeans belel yang sudah sedemikian pudar mulai bertambah dengan berbagai robekan sekarang.
'Sial, nampaknya harus beli celana baru', pikirku sebal.
Tapi nampaknya perjalanan ini akan lebih mudah sebentar lagi. Bunyi melengking panjang klakson kereta terdengar sedemikian dekat sekarang...
Sejujurnya, aku memang belum memutuskan hendak melakukan apapun saat ini. Mungkin akan lebih baik jika kembali ke tempat arwah gadis yang terus menangis itu saja sebagai langkah awal. Meski sudah mengetahui apa yang harus dilakukan untuk menentramkan arwah Ayah dan Ibu, aku masih belum memiliki ketetapan hati untuk melakukannya. Akan butuh mental sedemikian kuat untuk kembali ke rumah itu lagi dan menghadapi ketakutanku yang paling dalam.
'Ah, sudahlah... Akan kujalani saja hari demi hari yang harus dilewati'.
Entah bagaimana ceritanya, tiba-tiba saja aku sudah keluar dari rerimbunan semak dan muncul tak jauh dari tempat dimana Arborite menampakkan diri beberapa waktu lalu. Samar suara tangis wanita yang terbawa angin terdengar, lirih menyapa dan sedikit menggentarkan hati. Tulisan dalam kitab tua itu menyebutkan tentang apa konsekuensi yang harus ditanggung pengguna pengetahuan itu jika sampai ada kesalahan. Kematian hanya akan menjadi wisata yang menyenangkan dibandingkan dengan akibat yang harus diterima..
Tapi janji adalah janji...
Kutarik nafas dalam-dalam, mencoba menenangkan hati yang terus berteriak. Menenangkan setiap sel dalam tubuh yang tak berhenti untuk mencegah perbuatan yang hendak kulakukan.
Aku sadar kalau langkah ini semakin pelan, berharap tak pernah mencapai sosok berambut panjang yang terduduk sambil menangis itu. Berharap supaya aku tak perlu melakukan semua ini, tapi kekuatan dalam inti diri sudah terpicu. Keempat bagian tubuh yang memiliki torehan huruf-huruf Jawa kuno itu berdenyut tanpa henti. Rasanya seperti tersengat oleh puluhan ekor tawon yang galak, membengkak dengan sangat cepat dan seakan ada sesuatu yang ingin mendesak keluar dari tempat itu. Langkahku semakin pelan dan berat ketika mantra mulai terbentuk dalam ingatan dan mengalir perlahan dalam daras lirih yang konstan.
Perlahan tapi pasti, denyut yang berasal dari keempat deret huruf itu berjalan menuju telapak tangan. Aku hanya mampu pasrah ketika kurasakan seperti ada seseorang dengan kekuatan tinggi sedang meremas badanku kuat-kuat, tapi ini tetap harus diselesaikan, karena janji adalah janji dan harus ditepati.
Gadis itu masih meratap dan larut dalam kesedihannya ketika tangan yang sarat dengan balutan energi mistik murni itu menyentuh bahunya. Dalam sepersekian detik, harapan membuncah dan terlintas pikiran bahwa lelucon tak lucu ini benar-benar hanya sebuah candaan, tapi ternyata aku salah...
Gadis itu tersentak bagai tersengat listrik ribuan volt dan jeritan menyayat hati yang bagai berasal dari kedalaman otak menghantam, diikuti dengan kilasan berbagai kenangan dan ingatan yang bukan milikku, memaksa masuk dan menyakiti pikiranku. Apalagi ketika ingatan tentang pemuda yang sama sekali tak kukenal, berdiri diatasku sambil terus memukulkan sebuah batu besar ke kepalaku, sungguh sebuah pengalaman yang menakutkan. Sekuat tenaga, kutarik tangan yang seakan menempel di bahu arwah gadis yang tak berhenti berteriak-teriak histeris itu.
"Huuhft, LEPASSS!!!"
Aku sungguh tak mampu mengingat dan berpikir lagi. Ketakutan sudah mengalahkan kemampuan berpikir dan mendorong rasa panik hingga batas. Padahal ketika kontak sudah dibuat, hingga keseluruhan proses selesai dan arwah yang hendak kukirim pulang memudar keberadaannya, kontak tidak boleh terputus atau akan fatal akibatnya. Namun kesadaran itu datang terlambat...
Mendung gelap tiba-tiba saja tercipta diatasku, berhias kerlap kilat yang mengancam. Desau angin mulai menguat dengan kecepatan yang mendekati badai dan menampar kesadaran, ini sama sekali bukan main-main..
Dengung menyakitkan seketika mengisi telinga ketika luapan energi dalam tubuhku tak lagi mendapatkan jalan keluar. Denyut yang sebelumnya hanya terasa di empat bagian tubuhku menyebar dengan kecepatan tinggi dan mulai terasa menyakitkan. Seluruh bagian tubuhku seakan tertusuk besi panas secara bersamaan dan kepala seakan dijepit dengan tang raksasa yang digerakkan oleh tangan tak terlihat dengan kekuatan luar biasa..
"Duh Gusti... Kula pasrah. Maaf ya Rite, nampaknya aku tak sehebat yang kau kira.'
__ADS_1
Aku jatuh terduduk dan terengah-engah bagai habis berlari di tanjakan curam dengan beban berat di punggung. Rasa sakit disekujur tubuh yang sedemikian menyiksa sebelumnya tiba-tiba saja menghilang, demikian juga dengan arwah gadis yang sebelumnya berada didepanku. Dan seperti datangnya, fenomena alam yang memburuk seketika menenang bagai tak pernah terjadi apa-apa. Namun hawa disekitarku terasa semakin berat, bagai menyimpan potensi badai yang akan menelan banyak korban bersama kedatangannya.
Tapi belum habis heranku, sebuah pukulan melanda bagian belakang kepala dengan kekuatan yang langsung membuatku tersungkur. Arborite, berdiri di belakangku, tangannya terkepal dan wajahnya tersaput dengan amarah luara biasa.
"Baru kutinggal kau belum ada 1*24 jam, sudah kau bikin penyimpangan setolol ini???"
"Lho, Arborite? kupikir kau pulang..."
"PULANG CELANAMU ROBEK!!! Dengan apa yang kau lakukan sekarang, apa aku akan masih bisa dapat kesempatan untuk PULANG, KAU KECOAK TAK TAHU DIUNTUNG!!!"
"APA MAKSUDMU, HANTU GILA!!!" AKU BAHKAN NGGAK NGERTI KENAPA KAU MARAH!!!" balasku ganti teriak. Emosi juga lama-lama melihat kelakuan Arborite yang bagiku tak masuk akal. Belum lagi bagian belakang kepalaku terus berdenyut akibat pukulannya.
"Bagus, kau berani bertanya. Lihat akibat perbuatanmu baik-baik..." balasnya sambil menunjuk pada gerumbulan semak yang mulai berpendar dengan cahaya bagai tumpukan mutiara.
"Itu apa...?"
"Lihatlah sendiri akibat kelakuanmu. Di semak itulah pacarnya meninggalkan tubuh mati cewek yang mau kau kirim pulang itu.."
Informasi ini sontak membuatku menahan nafas. Bergegas, kuhampiri gerumbulan semak itu dan menyibakkannya. Pemandangan yang menyambutku disana sungguh tak bisa dipercaya...
"Aaaaaaaaaa!"
Gadis itu cantik, badannya yang sempurna terbalut cahaya biru lemah yang berpadu dengan pendar warna mutiara yang perlahan bagai terhisap masuk dan membuat sosoknya semakin terlihat nyata. Bahkan rambutnya yang lurus tergerai indah hingga melewati bahu itu seakan tertiup angin yang malas bergerak.
"K. k..kau siapa?"
"Gagap lagi lu!" gerutu Arborite kesal.
"Namaku Rayna. Apa yang sudah kau lakukan padaku?" ujar gadis itu pelan. Keningnya berkerut dalam, seakan berusaha mencerna setiap hal yang terjadi padanya.
"Rite, ini gimana sih?"
"Mana kutahu. Aku baru sekali punya penerus ***** yang membiarkan hal ini terjadi!"
__ADS_1
Aku hanya mampu terdiam kebingungan. Bahkan tak mampu bergerak ketika Arborite beranjak menuju semak dimana sosok tubuh indah dengan baju berantakan yang tak mampu menutupi apapun dari tubuhnya itu terbaring.
Arborite menghela nafas berat. Matanya tertutup dalam konsentrasi tingkat tinggi. Perlahan kulihat, badannya mengeluarkan hawa berwarna keemasan yang seakan memeriksa tubuh yang sebelumnya mati itu.
"Tubuh ini menyerap kehidupan dari mantra tak selesai yang kau lakukan, Kay. Kau memberinya kesempatan untuk hidup lagi..." ucapnya lesu.
"Whaaat?"
"Kekuatanmu itu unik, seharusnya mantra itu mengirim arwah gadis ini kembali pada Sang Pencipta. Tapi karena ketololanmu, mantra itu malah memperkuat kekuatan arwah gadis itu dan memperbaiki tubuh rusaknya, dan bahkan mengembalikan sedikit hawa kehidupan kedalamnya." sambung Arborite lagi.
"Whaaaaaattt?"
Dan tangannya segera mampir ke kepalaku lagi.
"Kau kira aku bercanda ya, Bocah?"
"Galak amat sih Lu? Aku juga nggak tahu bakal jadi seperti ini, Rite. Ringan amat sih tangannya!" sergahku sebal.
Namun tawa cekikikan merdu gadis itu mencegah Arborite lebih jauh. Tangannya yang sudah terangkat menuju kepalaku, terhenti di udara.
"Kalian berdua lucu.." ujar gadis itu di tengah tawa.
"Ah, sudahlah... Takdir atau selera humor Dia yang buruk.. Tubuh ini akan kubawa ke tempatku. Perbaiki kesalahanmu, Kay, dan penuhi janjimu. Bawa gadis celaka itu bersamamu..."
Tanpa sempat kucegah, Arborite menyentuhkan tangannya ke badan gadis itu. Riak cahaya yang mulai terbentuk bergelombang dan menghilang bersama keberadaan mereka berdua..
"Orang tua ***** menyebalkan..." gerutuku pelan.
"Ehm, namamu Kay kan? Aku harus gimana ya sekarang?"
Astagaaa...
Rayna berdiri dengan tangan terlipat, kebingungan yang terlintas di matanya coba ia sembunyikan dengan raut wajah ceria.
__ADS_1
"Aku juga nggak ngerti, Na.. Aku bener-bener nggak ngerti..."