Kisah Perjalanan

Kisah Perjalanan
Kita Butuh Rencana


__ADS_3

Seperti badai, Kay memasuki rumah, dan langsung pergi ke ruang bawah tanah. Ia bahkan tak menghiraukan Topan yang berteriak, entah tentang apa. Pemuda itu merasa bahwa semakin cepat benda laknat itu memasuki ruang lingkup segel, pengaruh yang terus saja ia rasakan untuk memakai kaca mata itu akan menghilang. Sejak dari ia memasukkan benda itu ke dalam tas, ada dorongan tanpa henti yang seakan menariknya untuk kembali memakainya. Hal yang sebelumnya tak ia rasakan meski selama beberap waktu, kaca mata itu terus bersama dirinya. Tampaknya harus ada hal yang memicu kejadian yang ia alami tadi. Hanya saja, ia tak memiliki kemauan atau keberanian lebih untuk mencoba lagi. Tidak, benda terkutuk ini lebih baik segera kembali ke tempatnya!


Baru setelah pemuda itu memasuki ruang bawah tanah dan menaruh kaca mata itu di tempat semula, baru ia sedikit merasa tenang. Tanpa menoleh, Kay meninggalkannya disitu tanpa berpikir lagi. Godaan benda itu terlalu menggiurkan, dia benar-benar tak akan mampu menahannya!


Melihat Kay akhirnya muncul kembali, Topan yang sedikit merasa aneh dengan kelakuan pemuda itu sebelumnya, segera mendekat hanya untuk kembali diacuhkan ketika yang terakhir justru kembali ke ruang depan dan menghempaskan dirinya ke sofa sambil menutupi wajahnya. Tampaknya pemuda itu benar-benar frustasi.


"Oii, setan gundul, eh, setan gondrong, begitu amat sih?" sergahnya sengit, meski kembali tak mendapat tanggapan.


Penuh kejengkelan, Topan melihat ke arah sosok cantik yang setengah melayang di samping Kay, yang wajahnya juga dipenuhi oleh keprihatinan.


"Ini pada kenapa sih? Kay kenapa, Ray?" tanyanya lagi. Hanya saja, kali ini Kay merespon.


"Kita benar-benar harus mengumpulkan benda-benda terkutuk itu dengan cepat. Sialan!!!" sergahnya tegas, meski tak mampu menyembunyikan getar gentar dalam suaranya. Pemuda itu masih tak mampu memikirkan akan hasil apa yang akan terjadi jika sebelumnya Supiah tak membantunya.


Sialan, itu tadi segerombolan anak-anak! Iblis keparat!!!


Meski belum tentu kenyataan akan seperti yang ada dalam pikirannya, tapi siapa yang berani mengambil resiko?


Tenggelam dalam emosi, penjelasan Kay menyembur keluar bagai bendungan jebol, memaksa semua yang hadir, bahkan Arborite-yang baru saja turut muncul, merasakan gejolak kengerian yang tak jauh berbeda.


"Kau, dengan kemampuanmu, nyaris menunjuk ke arah seseorang untuk dikorbankan, hanya karena bisikan dan komunikasi mental?" bisik Arborite ngeri. Ia sedikit banyak menyadari kemampuan penolakan dan kontrol diri pemuda di hadapannya itu. Manusia yang mampu menahan godaan dari 4 nafsu pribadi bukanlah sosok yang bisa diremehkan.

__ADS_1


"Tampaknya, barang itu bukan lagi sekedar memiliki kekuatan gelap dunia bawah. Tampaknya, benda-benda itu bahkan dihuni oleh mahluk dengan kekuatan gelap yang kuat!"


Kay mengusap keringat yang sebenarnya tak ada lagi di wajahnya ketika ******* kesal penuh kutukan terlempar dari mulutnya, yang menghasilkan keheningan berkuasa untuk beberapa saat lamanya di ruangan itu. Hingga kemudian ketika pemuda itu mengeluarkan kertas-kertas penuh berisi gambar dari dalam tasnya.


"Aku tak tahu apa maksud gambar-gambar ini. Entah kenapa, tampaknya Andini memiliki keterkaitan yang aneh. Banyak dari gambar ini sama dengan isi daftar dalam jurnal, hanya beberapa tampaknya tak ada di jurnal itu. Gambar ini juga yang membuatku mencoba memakai kaca mata sialan itu tadi!" ucapnya sambil menaruh gambar-gambar itu di meja.


Topan segera mendekat untuk melihatnya. Berbagai kejadian yang menyangkut Andini selalu membuatnya khawatir. Meski tampaknya tak hanya dia yang tertarik ke meja saat ini. Dua riak gelombang yang diiringi spektrum cahaya berkedip ketika dua sosok mempesona itu memaksa untuk menembus batas dan mewujud. Dalam diam, keduanya segera turut meraih lembar-lembar kertas itu.


"Kita benar-benar perlu rencana yang jelas..." desah Arborite. Gambar di tangannya menunjukkan sebuah botol parfum dalam kuno, dengan semprotan bulat yang dihubungkan dengan selang kecil, botol parfum antik yang mungkin sudah tak diproduksi lagi sejak 80 atau mungkin malah 100 tahun yang lalu. Botol itu tampak dipegang oleh sosok seperti laki-laki dengan tudung menutupi wajahnya. Sementara di belakangnya, gambar bangunan yang mirip tugu Monumen Nasional menjulang.


Topan menghela nafas berat ketika ia melirik gambar di tangan Arborite. Gambarnya sendiri menunjukkan cincin bermata mutiara utuh, melayang di tangan sosok seperti dewa dalam berbagai ukiran patung budaya Hindu, sementara bayangan bangunan berbentuk piramid nampak digunakan sebagai latar belakang gambar itu. Dan tampaknya, latar belakang setiap benda itu berbeda-beda di setiap gambar, meski ada 1 gambar yang ia merasa mengenali bentuk latar belakang bangunan dimana benda-benda itu berada. Sebuah bangunan rumah kecil yang akhir-akhir ini selalu ia rawat...


"Untuk yang ini, aku kayaknya kenal." ujarnya sambil berusaha tertawa. Ia masih berharap kalau Andini hanya membuat gambar-gambar itu secara acak, sehingga dalam imajinasi pikiran kecilnya, menggambar barang-barang aneh dengan latar belakang rumah ini.


"Barang-barang itu terletak di ruang bawah tanah, Pan, di bawah simbol Makuta Rama..." jawab Kay pelan.


Mendengar ini, Topan terpana. Ketika mereka berusaha menghancurkan barang-barang yang menurut Kay adalah barang terkutuk itu dan gagal, ia tak pernah tahu darimana atau dimana barang-barang itu disimpan. Ia berpikir kalau barang-barang itu entah bagaimana caranya, disimpan oleh Kay di tempat lain.


"Harusnya, dengan otakmu, kau sudah bisa menduga kenapa ruangan itu memiliki segel sehebat itu, Pan. Kau yang lebih menguasai hal itu." sindir Arborite pahit. Ia kadang gemas dengan kepolosan pemuda itu, sementara Topan bahkan tak mampu bicara apapun ketika pandangan ngeri berpindah dari satu wajah ke wajah yang lain, ketika keheningan tampaknya terus saja berusaha memaksakan diri untuk berkuasa di sana.


Tak ada yang mampu berbicara. Bahkan alam seakan enggan turut serta. Pikiran 4 sosok berbeda alam yang terikat berbagai kepentingan, yang dipaksa dalam sebuah situasi menyedihkan, yang mungkin akan membahayakan nyawa mereka yang hidup.

__ADS_1


"Aku mengerti jika kau hendak pergi, Pan. Sejak awal ini bukanlah masalahmu." desah Kay akhirnya. Kesunyian itu terasa terlalu menekan perasaan. Ia juga mengerti jika orang ngeri dengan apa yang harus dihadapi. Ia sendiri sudah merasakan kemampuan salah satu barang itu, bukan tak mungkin jika ia bahkan mati dalam mengumpulkannya, seperti Bapak.


"Aku boleh tetap disini ya, Kay. Aku cuma punya kalian sekarang. Aku janji nggak akan bertengkar dengan Abo..."


Meski merasakan sedikit ironi dan tak mampu menahan sedikit rasa sedih yang melintas karena celetukan Rayna, Kay tak mampu menahan ketika tawa kecil sedikit terlontar darinya.


"Abo abo, namaku Arborite! Kau hantu centil..."


"Abo! Namamu susah. Abo, jelek, Abo jelek!"


Dan belum lagi 10 detik berlalu dari omongannya untuk tidak bertengkar dengan Arborite, dua hantu konyol itu sudah terlibat perdebatan seru, yang entah kenapa, justru membuat perasaan tertekan dalam hati Kay sedikit terasa ringan.


Yah, ini hidup yang sudah kupilih. Minimal, dengan dua orang konyol ini, hidupku tak terlalu sepi, batin Kay sambil tersenyum kecil.


"Huh, maaf aja, jaman sekarang susah cari rumah kontrakan yang nyaman dan gratis kayak gini. Belum lagi beasiswa untuk Andini, kesempatan keliling Indonesia gratis buatku, kesempatan belajar managemen perusahaan buatku lagi, dsb, dst, dll itu sungguh menggugah selera. Meski keributan dari dua hantu konyol itu kadang bikin urat syaraf tegang, it is just a small flaw."


Kay menoleh kembali ke arah Topan ketika mendengar jawaban ini. Pandangan penuh tekad muncul di mata pemuda itu ketika ia meneruskan membalik berbagai gambar di meja sambil terus berkomentar menyambut pandangan Kay.


"Ini jelas Monas, so, Jakarta. Gambar ini, definitely Bali, ehmm, sudah lama aku pengen ke sana. Sementara ini, kalau melihat bentuknya sih, mirip jembatan Ampera di Palembang... Wow, asyik juga kayaknya tetap disini!" lanjutnya sambil menunjukkan beberapa gambar latar belakang yang ia kenal ke arah Kay. Mulutnya menyeringai jahil, meski tatapan mata penuh tekad itu tak menampakkan canda sama sekali. Mereka semua tahu apa yang ada untuk dihadapi. Tangan kokoh pemuda itu terulur ke arah Kay.


"Hmm, kalau dilihat dengan cara begitu sih, yah, terserah kau saja." sahut Kay sambil tertawa sambil menyambut dan menjabat tangan pemuda itu dengan erat.

__ADS_1


Hidup memang berat, apalagi dengan tambahan beberapa beban yang mengerikan seperti yang sudah diputuskan untuk dihadapi itu, tapi tampaknya Kay tak lagi terlalu perduli. Untuk saat ini, ia hanya bersyukur akan kehadiran mereka, seorang manusia dan dua hantu konyol yang tampaknya memutuskan untuk menanggung beban itu bersamanya.


Yah, tapi memang, nampaknya rencana yang baik benar-benar harus diciptakan...


__ADS_2