Kisah Perjalanan

Kisah Perjalanan
Harga Sebuah Pengetahuan


__ADS_3

Aku termenung sendiri. Makanan yang ditinggalkan Arborite masih menggeletak lesu tak tersentuh di tempat ia meletakkannya. Rasa lapar yang sempat muncul, menghilang secepat ia datang ketika mendengar bahwa ternyata, lima hari telah berlalu sejak aku memulai meditasi. Padahal aku merasa, waktu yang kuhabiskan di padang luas itu sangatlah singkat.


Sialan, apa jadinya kalau aku tadi memaksa tinggal lebih lama di sana, batinku kelu.


Tanpa mampu menentramkan ketakutan dan berbagai kekhawatiran yang berkelindan dalam pikiran, kuputuskan untuk sejenak beranjak keluar dari pondok yang dinding-dindingnya mulai terasa menekan perasaan.


"Akan lebih baik jika kau urungkan keinginanmu itu, Bocah. Makan dan beristirahatlah, lalu lanjutkan hingga Supiah, saudaramu yang terakhir menjadi bahian dari dirimu..."


Gema suara Arborite terdengar lantang di dalam pikiranku.


"*Kenapa?"


"Tak perlu banyak tanya. Jika kau masih ingin melanjutkan hidup sebagai manusia, turuti saja kata-kataku. Kupastikan kau takkan menyesalinya*."


Kesungguhan dalam kata-kata itu yang menyurutkan langkahku.


"Kau tak hendak menjelaskan semuanya dengan gamblang ya, Rite?"


Detik berlalu panjang dalam kesunyian. Setan gondrong itu nampaknya memang tak akan membuat semuanya lebih mudah bagiku. Tapi kurasa memang akan lebih jika menuruti perkataannya saja.


Mungkin lebih baik aku segera makan dan tidur saja, pikirku lagi.

__ADS_1


********************


Padang luas itu segera muncul dalam penglihatan segera setelah mataku menutup. Namun tempat ini berbeda dengan tempat yang kudatangi sebelumnya. Rumpun berbagai jenis bunga dalam susunan yang apik terbentang bagaikan permadani alami dalam beragam warna yang berpadu sempurna, menyambung dengan latar belakang biru lembut langit. Angin sejuk yang berhembus pelan menggoyang tanaman, seakan mengajak mereka menari dalam simponi gubahan maestro dunia, menguarkan aroma wangi yang tak terkatakan.


Sejenak, keindahan itu menangkap setiap indra yang kumiliki, hingga tanpa kusadari, air mataku menetes.


"Kau bisa dan boleh untuk tinggal disini selamanya, Kay..."


Seraut wajah mirip denganku itu menatap langsung dan tersenyum padaku. Tapi entah kenapa, wajah itu terasa palsu.


"Dunia manusia selalu penuh dengan masalah. Penuh dengan derita, sakit, penghianatan, rasa kehilangan dan ditinggalkan..."


"Apa kau bahkan tak rindu dengan mereka, Kay?"


Kepalaku menoleh cepat ke arah yang ditunjuknya, dan kedua sosok yang menunggu di belakangku itu yang benar-benar mengguncangkan perasaan. Ayah dan Ibuku, berdiri di depan bangunan yang tak mampu kudatangi lagi, rumahku. Senyum mereka terkembang ketika mereka melambaikan tangan dan seakan sangat berharap aku datang menghampiri mereka. Hatiku bagai diremas melihatnya. Air mata semakin deras mengalir tanpa mampu kutahan.


"Aku tak tahu apa yang kau inginkan, Teman, tapi kau keterlaluan." ujarku tanpa mampu menahan getar perasaan yang muncul di tengah isak yang teredam.


Sosok itu tertawa, meski tak bisa kurasakan kegembiraan di dalam tawa itu.


"Kau bisa saja menikmati ini semua, Kay. Dengan kekuatanku, aku bisa membuatnya jadi kenyataan. Selama waktu yang kau inginkan"

__ADS_1


"Maaf, Kawan... Aku akan belajar untuk hidup dalam kesedihanku saja. Kenyataan palsu bukan kehidupan favoritku." jawabku pedas meski kerinduan akan senyum dan pelukan mereka berdua sungguh sangat menghancurkan hati.


Sosok itu tersenyum, dan kali ini, ketulusan muncul disana.


"Bukan kekuatan untuk menahan sakit yang utama, tapi kepasrahan dalam menerima rasa itu yang lebih penting, Kay."


Tak mampu berkata-kata, pengertian muncul dalam wujud penerimaan akan berbagai nasib buruk yang melanda hidupku. Air mata mengalir semakin deras ketika sebentuk pemikiran tentang kenapa roh kedua orangtuaku tak mampu pergi dan terus terikat pada dunia ini, melintas dengan keras dan menghantam pemahamanku. Isakku berkembang menjadi tangis yang kuat ketika menyadari kenapa Bapak selalu memandangku dengan kesedihan yang nyata terpetakan di matanya, atau Ibu yang selalu marah ketika bisikan-bisikannya tak mampu kuartikan dengan benar.


"Ketika kau bisa menerimanya, takdir yang harus kau jalani mungkin akan sedikit lebih tertanggungkan, Kay. Relakanlah mereka, seperti apa kata hatimu ini..."


"Bapak, Ibu, maafkan Kay..."


Aku tak mampu lagi berdiri. Dadaku seakan diikat dengan jutaan benang baja yang makin lama makin erat melilit. Sepoi angin mulai berderap dalam kecepatan yang semakin meningkat seiring dengan pemahaman. Tapi kesedihan, rasa bersalah dan keinginan untuk marah pada diri sendiri bergolak dahsyat di dalam dada ini melumpuhkan setiap inchi keberadaanku. Lolonganku bersaing dengan deru angin yang makin menggelora ketika sosok itu mendekati dan menyentuh bahuku.


"Namaku Aluamah, Kay. Kendalikan nafsumu untuk mendapatkan kekuatanku."


Tak kuhiraukan tekanan tangannya di bahuku, yang perlahan memudar bersamaan dengan menghilangnya wujud yang ia gunakan. Pengetahuan yang dibawa Aluamah sungguh menggiringku jauh ke jurang kehancuran. Aku masih ingin sendiri disini, sedikit menentramkan gejolak hati dan pikiranku atas semua pengertian ini.


Tak kuhiraukan angin yang seakan ingin membantu menentramkan gejolak kesedihanku dengan hembusannya yang kembali melambat. Aku masih ingin bertahan disini, dalam fajar pengertian dan pengetahuan yang harus kubayar mahal.


Aku masih ingin bersedih atas semua kebodohan yang kulakukan hingga menyebabkan roh kedua orangtuaku tak mampu pulang pada Sang Pencipta.

__ADS_1


__ADS_2