
Arborite uring-uringan. Ia bahkan tak mau mengubah penampilannya menjadi enak dilihat sedikitpun. Sambil terus memuntahkan berbagai makian, yang kefasihan pengucapannya benar-benar membuka cakrawala baru tata bahasa, ia terus berkeliling dan memeriksa lingkaran ornamen rajah yang menjebaknya meski nampaknya tanpa hasil yang jelas. Ia bahkan berusaha menghancurkan lantai linoleum itu dengan kemampuannya, tapi nampaknya ornamen itu bahkan meniadakan setiap kemampuan yang ia miliki. Butuh waktu hampir 2 hari untuk membuat ia terduduk lesu tak berdaya di lantai, tanpa ada kemampuan apapun, bahkan hanya untuk memaki.
Kay dan Rayna, yang lebih memilih untuk melanjutkan berbagai hal lain termasuk menata rumah, akhirnya mendekat ketika mereka melihat Arborite yang lesu tanpa daya itu.
"Huh, masih ingat kalau ada aku disini, kalian berdua? Bocah celaka tak tahu terima kasih!"
"Abo, kalau mulut tua dan wajah penuh kebijaksanaan yang kau pakai sekarang hanya akan kau gunakan untuk memaki, aku pilih belajar mindahin barang aja. Minimal bisa bantu Kay..." balas Rayna sengit.
Sosok dalam lingkaran itu hanya menghela nafas dan pilih membalikkan badannya, membelakangi Kay dan Rayna yang datang. Sosoknya nampak benar-benar tak berdaya, tapi entah kenapa, dalam bayangan Kay, Arborite justru terlihat seperti seorang bocah yang tengah ngambeg dan merajuk karena keinginannya tak dituruti. Yang lumayan menimbulkan rasa geli dalam hatinya...
"Kau sudah tenang, Bo?" desah Kay setelah ia mampu berjuang dan menekan gelitik tawa yang muncul akibat imajinasi liar pikiran sebelumnya.
"Bukan tenang sebenarnya. Aku kehabisan cara untuk keluar dari lingkaran terkutuk ini..." sahut Arborite geram tanpa menyembunyikan kelelahan dalam suaranya.
"Ayahmu ini benar-benar sesuatu yang lain jika kau tanya aku. Segel ini sama sekali berbeda dengan banyak jenis segel yang pernah aku tahu. Sepintas sebelumnya, kukira ini Cakra Magilingan, rajah pemanggilan dan penghancur kekuatan dimensi ke 10 yang akan mampu menghancurkan bahkan keberadaan terkutuk seperti aku ini. Tapi ternyata bukan. Ada beberapa hal yang hilang..."
"Dimensi ke 10 ini apa Bo?"
"Jangan panggil aku pake nama itu!" sergah Arborite sengit sambil membalikkan badannya dengan cepat dan memelototi Rayna.
"Hiks, Kay...." rajuknya sambil berusaha bersembunyi di balik bada Kay.
"Huh, aku bahkan merasa capek hanya untuk berteriak padamu, Ray... Ah, sudahlah, semoga tidak ada hal buruk lainnya." desah Arborite pelan. Nampaknya ia benar-benar lelah.
Kay hanya mampu menghela nafas berat. Ia pun tak memiliki kemampuan untuk melakukan apapun untuk membebaskannya. Usulnya untuk menghancurkan simbol dengan merusak lantaipun ditentang Arborite dengan keras.
"Kita tak tahu apa ini, Bocah, dan tanpa pengetahuan cukup, akan lebih baik membiarkannya tetap utuh sampai kita tahu apa ini sebenarnya. Minimal sejauh ini, yang bisa lingkaran terkutuk ini lakukan hanya mengurung dan meniadakan kemampuanku..."
Penjelasan masuk akal ini pula yang akhirnya menghentikan langkah Kay untuk menghancurkan lantai dengan palu besar yang ia temukan di lemari peralatan di belakang rumah.
"Mungkin akan lebih baik jika kau jelaskan lebih lanjut tentang dunia dalam pandanganmu, Rite. Aku benar-benar pemula bodoh yang butuh belajar untuk saat ini..." ujar Kay perlahan sambil menarik kursi dan berusaha mendekat ke lingkaran.
"Yah, kau bisa masuk ke lingkaran, Bocah, dan benar, kau pemula bodoh. Kau sudah masuk dan keluar dari simbol ini sebelumnya, jadi kau sudah tahu kalau ini tak berbahaya untukmu!" sergah Arborite sengit ketika ia melihat Kay duduk di luar lingkaran.
Kay tertawa kecut mendengar ini. Melihat apa yang terjadi pada Arborite sebelumnya, ia mengembangkan perasaan enggan untuk mendekati lingkaran itu.
"Sudahlah, Bo. Cerita aja ah..." sahut Rayna.
Hantu centil itu cuma mengabaikan pelototan Arborite ketika ia memilih untuk duduk di lantai, bersandar pada kursi yang diduduki Kay.
__ADS_1
"Ah, sudahlah. Kayak aku bisa kemana-mana juga..." sahut Arborite pelan.
"Oke, aku akan jelaskan sedikit yang kutahu dengan bahasa yang bisa kau terima, Bocah.." ucapnya sambil merapikan rambut kusutnya sambil memandang Kay lembut.
"Kau sudah mengerti tentang sisa jiwa manusia yang tertahan dan terantai pada dunia karena keinginan dan perasaan kuat mereka sebelum mati. Kau juga sudah bertemu mereka yang berkembang menjadi entitas kuat dengan sifat yang berbahaya bahkan bagi manusia hidup." jelas Arborite ketika ia memilih untuk berdiri dan berjalan ke arah meja di tengah lingkaran. Dan entah untuk alasan apa, ia nampaknya mendapatkan sedikit kemampuannya kembali ketika ia semakin mendekat ke tengah simbol itu.
Udara di sekitarnya beriak dalam gelombang cahaya redup yang berfluktuasi dalam spektrum cahaya yang indah ketika tampilan tua Arborite bertransformasi menjadi sosok pemuda iblis mempesona, seperti wujudnya ketika awal mereka bertemu. Jika Kay tak mengetahui kalau lingkaran itu meniadakan kemampuan Arborite, Kay pasti akan mengira bahwa setan tua itu mencoba bertingkah misterius dan dramatis.
"Dan kenapa kau tersenyum dengan mata berkaca begitu, Hantu Bucin?!!" salaknya ketika ia akhirnya duduk bersandar di meja. Nampaknya ia bahkan tak menyadari perubahan fisiknya sendiri.
"Iiih, Abo itu apa sih?! Jelek tau! Sok keren!!!" balas Rayna sengit.
"Acuhkan, Bo. Lanjut!" sahut Kay tanpa berusaha memberikan kesempatan pertengkaran sedikitpun. Informasi ini terlalu berharga dan jarang Arborite mau memberikan informasi seperti ini dengan cuma-cuma.
Arborite hanya mendelik, dan ia meneruskan penjelasannya dan melepaskan kesempatan untuk mencerca ketika dilihatnya Rayna mulai menyandarkan kepalanya ke paha Kay di kursi.
"Arwah, hantu penasaran, atau kumpulan energi astral-menurut pendapatmu itu adalah penghuni dimensi ke 10. Ruang alternatif yang diciptakan oleh Sang Pencipta untuk entitas tak beraga ini"
"Sama seperti aku juga, Bo?"
"Bukan. Kau dan aku adalah penyimpangan dunia Tuhan, meski aku karena kutukanku dan kamu ada karena ketololan." sahut Arborite kejam membalas pertanyaan Rayna, yang dibalas dengan cibiran oleh hantu cantik itu.
"Tunggu, kalau kau bukan mahluk penghuni dimensi ke 10, lalu kenapa ini bisa menjebakmu, Rite?"
"Apa?"
"Mahluk asli penghuni dimensi ke 10 bukanlah arwah manusia, Kay. Mereka adalah mahluk yang diciptakan dari api dan berbagai unsur oleh Sang Pencipta, Nak. Mereka yang berusia setua penciptaan itu sendiri. Mereka yang memiliki berbagai kemampuan dan kebisaan dengan kekuatan yang mempesona dan mampu menghancurkan Manusia dengan berbagai macam cara tanpa usaha, dan meski aku tak setua penciptaan, aku memiliki kemampuan yang sama... Keadilan hukum-Nya tak terbantahkan, Kay..." jawab Arborite pelan.
"Aku tak tahu dengan Rayna, tapi potensi kekuatan yang ia miliki karena kesalahanmu, bahkan aku tak mampu melihat ujungnya. Ini mungkin bukan sesuatu yang kuketahui dengan pasti, tapi aku tak mau ambil resiko" lanjutnya pelan.
Mendengar ini semua, bahkan mulut bawel Rayna hanya bisa ternganga ketika desah nafas tajam tertarik dari Kay. Meski tak diucapkan dengan jelas, mereka berdua sadar, Arborite memberikan Rayna kesempatan untuk melanjutkan langkah, bahkan jika itu berarti kehancuran bagi dirinya sendiri.
"Aku lelah, Kay. Aku cuma pengen pulang..." desah Arborite berat.
Kay menghela nafas berat ketika melihatnya nampak terbenam dalam berbagai perasaan negatif yang sangat menyiksa. Keseluruhan interaksinya dengan setan tua yang sok muda itu sedikit banyak memang membuat ikatan di antara mereka semakin kuat. Dan ketika melihat Arborite yang biasanya usil, bermulut tajam dan arogan itu bisa menjadi seputus harapan seperti saat ini, mau tak mau membuatnya bertanya-tanya, kesalahan macam apa yang bisa membuat Dia menghukum arwah kecil seberat ini??!
"Ah, sudahlah... Mengeluhpun tak berguna. Aku cuma perlu berbuat sebaik mungkin dan berharap, semoga akhirnya Dia mau dan berkenan memberikan jalan untukku pulang." ucapnya setelah beberapa waktu, memecah keheningan yang tercipta tanpa ada satupun di antara mereka yang berkeinginan untuk memecah keheningan itu.
"Eh?!"
__ADS_1
"Dan kenapa kau hantu bucin berleleran air mata begitu??!"
Tapi Rayna tak mampu menjawab. Air mata deras mengalir turun dari kedua mata yang bersinar mirip bintang pagi itu. Badannya bergetar menahan isak yang menyesak dalam dada. Ia tetap tak mampu berbicara ketika riak mulai bergelombang dan sosoknya yang terus bergetar mulai menipis dan menghilang menuju ketiadaan.
Dan sekarang ganti Arborite yang ternganga melihat adegan ini...
"Ada apa dengan wanita itu??!"
"Biarkan saja, Rite... Mungkin dia lagi PMS." sahut Kay kecut. Ia sendiri juga sedang berkutat dengan perasaannya sendiri dan sekuat tenaga berusaha menahan itu semua.
"PMS kepalamu itu, Bocah! Sehebat apapun, dia masih bukan manusia yang lengkap! Kau itu PMS." gelak Arborite.
"Hmmm? Bukan manusia yang lengkap? Maksudmu?"
"Aaaaa.. a. ahh, aku salah bicara!" sahut Arborite lagi sambil mulai berusaha menyibukkan diri dengan kembali melihat simbol di lantai. Sekuat tenaga mengacuhkan Kay yang melihatnya dengan pandangan bertanya.
"Rite??!"
"Nope. We done talking about it."
Dan nampaknya memang Arborite benar-benar tak ingin berbicara tentang hal itu sama sekali. Ia terus menghindar dan memilih mengalihkan pembicaraan ke berbagai hal tak perduli apapun yang Kay lakukan atau katakan.
"Urgh, kau setan tua tak terkendali!" rutuk Kay setelah hampir 4 jam pembicaraan mereka tak menyentuh apapun yang ingin ia perjelas dari pernyataan Arborite sebelumnya. Wajah penuh tawa Arborite yang tengah terus berpura-pura meneliti simbol di lantai itu benar-benar membuat frustasi.
"Anggap aku salah, Bocah. Lupakan apa perkataanku tadi. Kau masih punya banyak hal yang perlu kau selesaikan disini." balasnya ketika nampaknya wajah frustasi Kay berhasil menimbulkan rasa kasihan dalam hatinya.
Sialan, nampaknya aku jadi terlalu lembut hati gara-gara terlalu banyak bergaul dengan bocah bodoh ini, batin Arborite
"Aku cuma pengen tahu, Rite..."
"Dan kau akan tahu ketika waktunya tepat, Nak, tapi itu bukan sekarang. Jangan pergi ke arah tanpa jalan kembali, Kay. Soon, you will find out why..." balasnya pelan tanpa sepenuhnya mampu menyembunyikan rasa pedih yang terbalut samar dalam suaranya.
Kay memandangnya ketika kerlip rasa bersalah dan penyesalan yang kuat, nampak muncul di mata Arborite, meski secepat kilat, sosok pemuda itu segera memalingkan wajahnya. Dugaan liar bermain dalam pikiran ketika Kay mencoba mengkaitkan berbagai hal yang terjadi di sekitar Arborite, tapi mungkinkah...?
"Pergilah, Nak... Cari tahu di manapun terkait simbol ini. Semakin lama aku menjauh dari dimensiku, semakin lemah keberadaanku..."
Kay hanya mampu memandang sosok yang nampaknya enggan melihatnya lebih lama lagi saat ini. Berbagai dugaan dan pikiran yang terus berkelebatan dalam pikirannya tak mampu mendapat jawaban yang memuaskan. Tapi Arborite bahkan tak mau memandangnya.
Sialan, sialan, sialan!!!
__ADS_1
Kay beranjak dan keluar dari ruangan itu dengan beban pikiran yang bertambah berat tanpa ada jalan keluar.
Sial, andai saja Ray ada disini...