
Ealah, Kau tuntun aku ke dalam cerita model apa lagi ini, Gusti?, keluh batin Topan tanpa daya. Tangannya terangkat menutupi wajah ketika punggungnya menyender lemah ke sofa yang ia duduki.
Cerita yang mengalir dari pemuda yang duduk didepannya ini bahkan mampu membuat dirinya bergidik. Meski hidupnya sendiri bukanlah sebuah dongeng indah tempat para putri nongkrong seperti dalam cerita kartun, tapi jika dibandingkan dengan apa yang Kay hadapi, mau tak mau pemuda itu menyusut dalam doa penuh syukur. Bocah cantik di depannya ini sungguh-sungguh mengalami hidup yang mengerikan. Tak banyak orang yang akan mampu bertahan tanpa jadi gila jika menghadapi apa yang harus pemuda ini alami.
"... Dan menurutku, apa yang Andini katakan tadi, ada hubungannya dengan isi jurnal bapakku, Pan.". kata Kay, mengakhiri penjelasannya.
Topan terdiam. Ia hampir tak mampu berpikir. Ia hanya membayangkan, apakah kiranya ia akan mampu bertindak setenang Kay jika hidup mereka ditukar. Sementara di banyak waktu, ia sering mengeluh akan apa yang harus ia lakukan untuk bertahan hidup.
Sialan, jadi terlihat lemah banget aku. Bocah cantik ini sangat hebat...
Topan menghela nafas berat. Rasa malu hati menyebar tanpa mampu ia bendung.
"Aku minta maaf telah membuat Andin seperti ini, tapi dia cuma tertidur kok, Bro. Kalau kalian mau pergi, setelah dia bangun, tolong jangan ragu. Hanya saja, kumohon, simpan hal ini untuk dirimu saja..."
Topan tertawa kecil mendengar hal ini. Kilasan tekad nampak muncul di matanya ketika ia merapikan rambutnya yang panjang dan mengikatnya dengan erat.
"Kau pikir ada yang akan percaya kalau aku cerita ke orang-orang, kalau kericuhan besar di tahun 98 itu berhubungan dengan Setan, benda mistik dan perjanjian demit, Kay?" jawab Topan di tengah tawa geli.
Yah, bocah ini lucu meski hidupnya mengerikan. Tapi aku juga tak terlalu terburu-buru ada tujuan hidup juga. Mungkin ini yang dimaksud Sensei dulu. Lagipula, mungkin bakal seru deh, desis batin Topan penuh antisipasi.
"Ehm, iya juga sih. Bahkan aku, kalau ada yang cerita seperti ini, mungkin akan menganggap mereka penderita skizofrenia akut..." jawab Kay sambil mengangkat bahu saat senyum tanpa daya muncul di bibirnya, yang segera disambut oleh gelak tawa tanpa kendali.
"Tidak sepertimu, aku sebelumnya tidak pernah tahu kalau setan, demit, perewangan dan berbagai hal mistik itu ada, Kay."
"Konsentrasi energi astral, Pan, yang diberikan wujud..."
__ADS_1
"Ah, sesukamu sebutlah. Ini giliranku bercerita. Nggak sopan tau, main potong omongan orang. Kalau ada Emak, habis pahamu dicubitin!." sergah Topan sambil mendelik, meski sejenak kilas kesedihan sempat melintas sebelum menghilang dalam mata yang kembali riang.
"Maaf, maaf. Tak akan terjadi lagi." kikik Kay.
"Aku ditemukan dan dibesarkan Emakku, Kay. Orangtuaku nampaknya memutuskan kalau keberadaanku tak baik bagi mereka dan membuangku untuk mati. Untungnya, Tuhan mengirim malaikat-Nya untukku. Emak, menggunakan seluruh nafas yang ia punya untuk membesarkan bocah tolol tak berguna macam aku ini. Hanya saja, alih-alih aku belajar berbagai pelajaran sekolah, aku lebih memilih untuk memperkuat tinjuku." ujar Topan sambil tertawa kecil, meski matanya sudah meredup oleh kesedihan.
"Hal itu pula yang akhirnya membawa jalanku melenceng jauh dari apa yang kubayangkan."
Untuk sesaat, keheningan meruap tanpa batas ketika tampaknya, Topan terhanyut dalam sungai panjang memori. Sedangkan Kay lebih memilih untuk menunggu tanpa berusaha mengganggu.
"Sensei sudah wanti-wanti ketika aku berkeras ingin mempelajari ilmu pengobatan dari sebuah kitab kuno miliknya. Sekuat tenaga, ia berusaha melarang. Tapi dasar aku yang bebal, kitab itu kucuri dan nekat mempelajari isinya." lanjut Topan sambil tertawa lemah.
"Hingga akhirnya, Sensei tahu. Tapi ia tak marah. Ia hanya menghela nafas berat dan akhirnya mengajariku seluruh isi kitab itu. Yah, beberapa saat kemudian, aku sadar kalau peringatan Sensei bukan main-main..."
Bagai bendungan jebol, Topan bercerita tentang bagaimana ia seringkali tersesat ke alam yang sama sekali asing, dengan berbagai tumbuhan dan landscape aneh. Atau tentang bagaimana ia sering berbicara pada orang yang tak terlihat di mata orang lain, atau mungkin aifat berangasan yang makin kuat ia rasakan.
"Hampir 3 tahun ini aku hidup dari kota ke kota, tanpa ada keberanian untuk menjenguk makam Emak, sungguh pengecut tak bertulamg belakang."
Kay menghela nafas berat. Ternyata memang cara Tuhan bercanda ini sungguh luar biasa garing...
"Tunggu, jika seperti itu, lalu Andini?"
"Kisah gadis itu tak kalah menyedihkan dari kita, Kay. Baru beberapa hari dia bareng aku. Sebelumnya, dia hidup bersama siluman pohon di sudut kota, sebuah lokasi menyedihkan yang akan merobek hatimu jadi serpihan kalau kau melihatnya sendiri." jawab Topan perlahan tanpa mampu menahan pandangan mata penuh iba pada gadis kecil yang masih terlelap di sofa itu.
"Maksudmu?"
__ADS_1
"Sama sepertiku, dia dibuang ketika masih bayi. Hanya saja, ketika Emak memungutku, Roh Pohon memilih jadi siluman untuk merawat dia."
Whaaat??!
Dongeng macam apa itu???
"Entah kenapa, siluman itu memilih untuk merawatnya, meski mahluk itu menutup penglihatan bocah itu supaya ia tak menyadari dimana ia hidup dan dengan siapa ia hidup selama ini, tapi memang ia merawat Andini. Meski aku yakin, demi melakukan itu, siluman itu pasti harus memakan jiwa manusia hidup untuk mempertahankan keadaannya."
Mendengar ini, Kay terkesiap. Apakah gadis ini berhubungan dengan si pemakan dendam??!
"Lalu, apa yang terjadi dengan siluman itu, Pan?"
"Aku menyempurnakan dia, atau dia menyempurnakan dirinya sendiri. Kurang begitu paham juga aku. Dia hanya mengatakan, sebelum ia melepaskan keinginannya, ada hantu kecil yang bertanya tentang segel yang kubuat untuk mengurung dia. Itu sebabnya aku masih bertahan di kota ini." sahut Topan sambil mengangkat bahunya. Sejujurnya memang ia sedikit bingung ketika berkenaan dengan Andini dan "Nenek"-nya itu. Meski dibilang ia kalah, tapi tampaknya Topan tidak merasa berusaha terlalu keras untuk mengalahkannya.
Tapi ucapan santai inj makin membuat Kay terperangah.
Apakah memang akan sesederhana ini?
Jika memang iya, sial, benar-benar cara bercanda Dia sangat jelek!
"Kau coba ikut aku sebentar, Pan. Aku ingin menunjukkan sesuatu padamu." potong Kay tanpa memberi Topan kesempatan untuk menolak. Langkahnya terburu ketika menuju ruang kerja Bapak, sementara Topan mengikutinya sambil mengomel panjang pendek.
Hanya saja, ketika pintu menuju ruang kerja itu terbuka, gantian Topan yang terpana. Badannya gemetar hebat ketika tatapan tak percaya muncul di wajahnya. Ornamen lantai yang membentuk formasi segi delapan, dalam tatanan simbol-simbol sakral yang lengkap, membentuk rajah khusus, segel yang yang memiliki kekuatan maha hebat untuk mengurung dan bahkan menghancurkan entitas jahat yang kuat, yang sayangnya, Topan sangat akrab dengan rajah segel ini.
"Sutra Makuta Rama!!! Siapa kamu ini sebenarnya, Kay???"
__ADS_1
Melihat Topan yang nampak terkejut seperti itu, membuat Kay jadi merasa semakin masam. Pemuda kumal ini benar-benar mengenali simbol-simbol itu. Ia bahkan menyebutkan nama yang bahkan tak dikenali dan tak ada dalam catatan Bapak.
Huft, Fix. Bercanda-Mu sangat fals, my Lord!!!